Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Kejutan untuk Raisa


__ADS_3

Meski pun tak ingin tapi Gio terpaksa membawa Ayla kerumahnya karena gadis itu keras kepala dan tak mudah menyerah hanya karena mendapat satu kali penolakan dari pujaan hatinya.


Kini gadis berambut pirang itu sudah sampai didepan rumah keluarga Gio, Gio menatap Ayla sejenak kemudian mengangkat kedua alisnya sambil menghela nafas kasar. Akhirnya Gio membawa pulang juga seorang gadis kedalam keluarganya. Gio pun segera menekan bel rumahnya.


Ting... tong... ting... tong...


Tak berapa lama pintu pun terbuka dan muncullah sosok Yuni yang merupakan ibu kandung Gio. Yuni menatap heran pada putranya yang datang dengan membawa seorang gadis bule yang kala itu membawa sebuah koper.


"Assalamu'alaikum bu" Gio memberi salam sambil mencium punggung tangan ibunya.


Ayla pun mengikuti cara memberi salam seperti yang Gio lakukan seraya mengulas senyuman ramah dan hangat. Yuni hanya mengikuti masih dengan tatapan keheranan.


"Siapa gadis ini Gio? Lalu kenapa dia bawa koper segala?"


"Eee... itu dia itu temanku saat aku di Australia, dia baru datang ke Indonesia, disini dia tak punya kenalan siapa pun, hanya aku yang dikenalnya dan dia juga masih belum punya tempat tinggal jadi bolehkah dia menginap dirumah kita untuk sementara sampai dia mendapatkan tempat tinggal? Aku pastikan tidak akan lama ko bu, jadi boleh ya bu, dia tinggal disini sementara?" bujuk Gio pada ibunya.


Sejenak Yuni berpikir seraya menatap Ayla dari ujung kaki hingga ujung rambut, gadis bule itu hanya terus mengulas senyuman sebab dia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Gio dan ibunya.


"Hhmmm... ya udah, tapi tidak lama kan soalnya ibu tidak enak sama tetangga kalau kamu bawa anak gadis orang kerumah kita" ujar Yuni.


"Iya bu aku paham soal itu ko, oh iya, dia itu tak pandai berbahasa Indonesia, jadi mungkin ibu akan kesulitan berbicara dengannya"


"Oh begitu ya, ya udah ayo ajak dia masuk, lalu kamu anterin dia ke kamar khusus buat tamu ya"


"Iya bu"


Mereka akhirnya masuk kedalam rumah. Setelah Gio mengantar Ayla, Gio lalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat demikian pula dengan Ayla sebab dia pun yang baru sampai diIndonesia merasa lelah dan ingin segera beristirahat.


Esok pagi kemudian.


Gio kini sudah siap untuk berangkat kerja, dia lalu pergi kemeja makan untuk sarapan pagi. Tapi kali ini ada yang berbeda, dia mendengar gelak tawa didapur padahal hal ini tak pernah terjadi sebelumnya, suara tawa yang begitu riang gembira itu mengundang rasa penasaran Gio akhirnya dia pergi kedapur untuk melihat apa yang terjadi.


Saat berada diambang pintu dia menghentikan langkahnya dan menatap heran pada ibunya dan Ayla yang terlihat begitu akrab hingga mereka bersenda gurau sampai tertawa terbahak-bahak. Gio merasa heran pada mereka pasalnya karena kedua wanita itu saling tak memahami bahasa satu sama lain, lalu bagaimana caranya mereka berkomunikasi dan bisa sampai tertawa seperti itu.


Ini diluar pemahaman pemikirannya sebab kalau pun mereka bisa berkomunikasi paling seadanya karena keterbatasan bahasa, Gio yang penasaran lalu bertanya pada ibunya.


"Bu ngomongin apaan sih ko seru banget kelihatannya sampai ibu ketawa-ketawa gitu? Emang ibu ngerti dengan bahasa yang diucapkan oleh Ayla?"


Yuni langsung menggelengkan kepalanya karena jujur saja wanita setengah abad itu tak memahami apa yang diucapkan oleh Ayla demikian pula dengan Ayla yang tak mengerti bahasa Indonesia.

__ADS_1


"Kalau ibu tak mengerti bahasa Ayla lalu bagaimana bisa ibu sampai ketawa-ketawa gitu?" tanya Gio masih kebingungan.


"Ya kami berbicara dengan bahasa isyarat tubuh, meski agak lama untuk bisa memahami apa yang diucapkannya tapi ibu dan Ayla bisa mengerti juga, ternyata dia itu orang yang ramah dan lucu" jawab Yuni yang merasa senang bisa berkomunikasi dengan gadis bule yang berwajah komika itu.


Gio hanya mengangguk sambil menyeringai, dia tak menyangka dengan keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi bisa membuat ibunya tertawa, kali ini Gio akui gadis bule itu sudah berhasil memikat hati ibunya.


...****************...


Ditempat berbeda Atar sedang memeriksa rekaman CCTV yang ada dirumahnya melalui laptopnya, kegiatan apa pun yang terekam di CCTV itu terus diperhatikan dari beberapa waktu yang telah berlalu dengan harapan dia bisa menemukan bukti kejahatan yang sudah dibuat oleh Raisa.


Hingga suatu detik waktu dia akhirnya menemukan adegan dimana wanita yang selalu ingin Atar singkirkan dari hidupnya sedang menyeret Jidan sambil ngomel-ngomel penuh emosi, entah disebabkan karena apa yang pasti adegan yang terekam CCTV itu membuat hati Atar terenyuh apa lagi saat dia melihat Jidan meringis kesakitan sambil minta ampun, tapi wanita kejam itu tak menggubrisnya.


Atar menggebrak meja dengan tangan yang dikepalkan karena dia marah atas perlakuan Raisa pada Jidan.


"Raisa! Dia benar-benar tak bisa diampuni, sudah dia membuat rumah tangga ku dengan Jani jadi renggang sekarang dia menyiksa anakku pulu, lihat saja Raisa aku akan segera menghukum kamu" gerutu Atar amat kesal.


Dia lalu menutup laptopnya dan segera pergi kerja. Rencananya setelah Jidan pulang dari rumah sakit disore ini, dia akan segera mengungkap kejahatan Raisa dan segera mengusirnya dari kehidupan rumah tangga dia dan Jani.


...****************...


Sore harinya Atar datang kerumah sakit untuk menjemput Jidan yang saat itu hanya ditemani oleh Jani, sementara Shabira dia titipkan di kakek Hadi. Diruang rawat Jidan, Jani nampak sedang membereskan pakaian Jidan karena sore ini Jidan akan pulang.


Setelah memberi salam dia pun masuk keruangan itu dan Jani langsung menyambut suaminya dengan mencium punggung tangan Atar. Sebelum mereka pulang Atar menceritakan niatnya untuk segera mengungkap kejahatan Raisa dengan bukti rekaman CCTV dan foto bekas luka memar yang ada ditubuh Jidan.


Jani yang merasa kesal karena Raisa sudah memalsukan sempel DNA anaknya agar hasilnya positif lalu dia mendengus kesal apa lagi dengan ditambah kejahatan Raisa yang sudah menganiyaya Jidan itu semakin membuat Jani makin kesal pada wanita itu. Tapi hatinya mendadak menjadi berat ketika mengingat bayi Raisa yang tak berdosa dan tak mengerti akan kejahatan ibunya.


"Kalau Raisa dipenjara lalu bagaimana dengan Alif? Apa dia pun akan ikut dipenjara dengan ibunya?" tanya Jani pada Atar.


"Aku juga merasa kasihan sama Alif tapi ibunya harus tetap dihukum atas perbuatannya itu dari itu akan menyuruh orang untuk menjemput ibunya Raisa di Banyuwangi agar mengurus bayi Raisa, Alif tak seharusnya ikut dipenjara dengan ibunya karena dia tidak bersalah"


Jani lalu mengangguk dan menyetujui rencana Atar sementara Jidan hanya menyimak tanpa berkomentar apa pun. Mereka lalu pulang kerumah.


...****************...


Beberapa hari kemudian.


Minggu pagi ini Atar dan Jani sengaja tak pergi kemana-mana karena mereka akan menyelesaikan misi mereka, sebelum memulai aksinya Atar dan Jani menunggu kedatangan ibunya Raisa kerumah ini tapi agar Raisa tak curiga Jani dan Atar bekerja sama untuk bersikaf biasa seolah-olah mereka sedang tidak merencanakan apa-apa.


Ketika mereka semua akan sarapan pagi tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi, Atar sengaja menyuruh Raisa untuk membuka pintu karena akan memberinya kejutan. Raisa yang tak menaruh curiga sedikit pun lalu pergi membuka pintu dengan tanpa dia sadari Jani, Atar, Shabira dan Jidan mengikutinya dari belakang. Pintu rumah pun dibuka berapa terkejutnya Raisa ketika dia melihat ibunya yang datang bertamu.

__ADS_1


"Ibu bagaimana bisa ibu datang ke sini?" tanya Raisa.


"Ada orang yang datang kerumah dan mengabarkan ke ibu kalau kamu lagi sakit keras, ibu takut kamu dan bayimu kenapa-kenapa lalu ibu mencarimu ke alamat yang diberikan oleh orang itu. Apa kamu baik-baik saja disini?" tanya ibu Raisa cemas.


"Aku baik-baik saja bu, tapi siapa yang memberi tahu ibu kalau disini aku sedang sakit?"


Atar yang ada dibelakang Raisa sambil merangkul pundak Jani lalu berkata dengan lantang, "Aku yang menyuruh orang untuk membawa ibumu datang kesini, Raisa!"


Sontak atensi Raisa dan ibunya langsung tertuju pada Atar. Atar lalu memperkenalkan Jani, Shabira dan Jidan pada ibunya Raisa.


"Perkenalkan bu ini adalah istri saya Rinjani dan ini adalah kedua anak saya namanya Shabira dan Jidan"


Ibu Raisa hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Maksud kamu apa mas, menyuruh ibuku datang kesini?" tanya Raisa.


Atar lalu tersenyum kecut kemudian barulah dia menjawab, "Karena aku ingin ibumu merawat Alif"


"Kenapa harus ibu, aku juga kan masih sanggup untuk merawat dan mengurus Alif" Raisa masih kebingungan.


"Iya ada untuk sekarang tapi untuk kedepannya tidak" jawab Atar dengan tersenyum simpul.


"Maksudnya apa aku tak mengerti mas?"


Tak berapa lama datanglah dua orang polisi, Atar segera menyuruh polisi itu untuk menangkap Raisa.


"Apa-apa ini kenapa aku ditangkap polisi?" tanya Raisa sambil berontak ketika polisi hendak memborgolnya.


"Aku melaporkan kamu, Raisa! Dengan tuduhan penganiayaan terhadap Jidan, rencana pembunuhan terhadap Jani dan bayi yang dikandungnya serta penipuan karena kamu memalsukan sempel DNA atas nama Alif karena itu hungunganku dengan Jani jadi renggang tapi itu tidak terjadi lagi setelah aku menemukan semua bukti kejahatan mulai, Raisa!" tutur Atar.


"Itu semua tidak benar, aku tidak melakukan itu semua, aku difitnah tolong jangan tangkap aku pak polisi" Raisa terus memberontak ketika polisi hendak menggiringnya ke kantor polisi.


"Anda bisa menjelaskan semua dan memberi bukti jika memang terbukti tidak bersalah maka kami akan membebaskan anda" ucap pak polisi.


"Sudah pak, cepat bawa saja dia dan hukum dia sesuai perbuatannya" titah Atar.


Raisa yang terus berteriak minta dilepaskan lalu dibawa oleh polisi. Ibu Raisa jadi sedih melihat semua itu tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena dia tak tahu duduk permasalahan yang lebih jelasnya seperti apa dan dia juga tak punya bukti untuk meloloskan Raisa dari jeratan hukum.


"Bu maaf saya terpaksa melakukan ini karena Raisa sudah keterlaluan dia sudah menghancurkan dan mencelakai keluarga saya jadi saya mau dia dihukum atas perbuatannya" ucap Atar.

__ADS_1


Ibu Raisa hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa lagi setelah itu Atar segera mengajak ibu Raisa untuk masuk kedalam untuk menemui cucunya yang masih tertidur dikamar. Karena hari ini ibu Raisa baru datang dari Banyuwangi ke Bogor, Atar mengizinkan ibu Raisa untuk menginap semalam sebelum dia kembali pulang ke Banyuwangi.


Bersambung.


__ADS_2