
Di panti asuha Mutiara Bunda
Sabtu pagi yang cerah ini semua sudah bangun dan beraktifitas masing-masing, meski sekolah libur tapi tetap mereka semua selalu bangun pagi-pagi dan tak tidur kembali.
Pagi ini rencananya Ririn akan mengajak anak-anak untuk olah raga lari pagi.
"Bu, Shabira sama Jidan mana ya? Aku mau ajak mereka lari pagi sama anak-anak yang lain" tanya Ririn pada bu Retno.
"Ikut sama bapak ke warung makan, katanya mau bantuin bapak, sejak ada pembangunan tempat parawisata itu warung nasi kita jadi makin ramai karena para pekerjanya tiap hari makan diwarung kita, jadi bapak suka kerepotan melayani pembeli dari itu Shabira dan Jidan mau ikut buat bantuin bapak" jawab bu Retno
"Oh gitu ya bu, ya udah aku pergi dulu ya bu, mau bawa anak-anak lari pagi dulu" Ririn berpamitan pada bu Retno.
Ririn lalu membawa anak-anak itu untuk berolah raga lari pagi ke area perkebunan teh lalu ketika mereka melewati sebuah danau yang sangat indah, semua berhenti untuk beristirahat sejenak, sambil duduk selonjoran diatas rumput yang menghijau.
Ada pula beberapa anak yang asyik kejar-kejaran dipinggiran danau, sementara Riri hanya mengawasi mereka dari kejauhan. Tiba-tiba terjadi sebuah insiden yang tak terduga.
Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun tercebur ke danau saat bermain didermaga yang tak jauh dari tempat Ririn berada.
"Kak Ririn, Andra terpeleset dan jatuh ke danau" teriak Alsa.
"Apa! Jatuh ke danau?" Riri kaget.
Dia lalu segera berlari kearah dermaga, disana terlihat Andra terus melambaikan tangannya minta tolong karena dia tak bisa berenang sementara kepalanya terus naik dan timbul dipermukaan air, kalau tak segera ditolong mungkin Andra akan tenggelam.
Ririn segera menceburkan dirinya lalu berenang mendekati Andra yang semakin menjauh dari dermaga karena pergerakannya, setelah dekat Ririn lalu menarik tubuh anak kecil itu mendekati dermaga.
Di dermaga dia berusaha mendorong tubuh Andra yang sudah lemas untuk naik keatas dermaga dengan dibantu ditarik oleh anak-anak lain, ketika Andra berhasil naik ke atas tiba-tiba Ririn mengalami kram kaki yang membuatnya amat kesakitan.
"Aauhh! Kakiku, kakiku sakit banget" ringis Ririn didalam air.
Rasa sakit itu begitu menyiksanya hingga Ririn kesulitan untuk naik keatas dermaga.
"Kak Ririn, Ayo! Naik. Ulurkan tangan kakak" teriak Alsa, anak perempuan yang berusia 13 tahun.
Ririn lalu mengulurkan tangannya tapi dia malah semakin tenggelam dari yang tadinya masih terlihat kepala Ririn hingga yang terlihat hanya tangannya saja dan akhirnya Riri tak terlihat lagi.
"Ya Allah, apa aku akan tenggelam? Kenapa aku tidak bisa bergerak, kakiku mati rasa gimana ini" batin Ririn saat dia berada didalam air.
Sebenarnya Ririn ingin bergerak tapi n'tah kenapa tubuhnya terasa kaku.
Ditempat berbeda.
Atar sedang menatap gambarnya yang dijepit dialas papan sambil terus berjalan.
"Ah! Ini kurang sempurna aku masih belum puas, apa yang harus kutambahkan ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Samar-samar terdengar suara teriakan minta tolong dari kejauhan.
"Sepertinya aku mendengar suara teriakan minta tolong tapi dimana ya?" gumam Atar.
Awalnya Atar tak mau peduli karena sumber suaranya tidak jelas tapi lama-lama suara itu semakin jelas dan Atar bisa melihat kepanikan anak-anak didermaga. Dia lalu berlari mendekati anak-anak.
"Ada apa dek? Kenapa kalian berteriak minta tolong?" tanya Atar pada mereka.
__ADS_1
"Kak Ririn tenggelam, tolong selamatkan dia?" jawab salah satu dari mereka.
Atar lalu menyimpan tas selempang kerjanya, papan alas kemudian dia membuka sepatu dan kaos kakinya. Tanpa menunggu lama-lama lagi dia langsung menceburkan dirinya kedalam air.
Byur!
Atar terus berenang kedalam danau untuk mencari seseorang yang tenggelam. Ririn melambaikan tangannya berharap ada seseorang yang menolongnya, tak berapa lama Atar bisa meraih tangan Ririn tapi sudah kehilangan kesadarannya karena terlalu lama didalam air hingga dia hampir kehabisan nafas.
Atar buru-buru membawa Ririn kepermukaan air, dia membopong Ririn untuk bisa naik kedarat. Anak-anak yang merasa khawatir pada Ririn lalu memburu Atar yang sudah menyelamatkan Ririn.
"Kak Ririn bangun, bangun kak" kata Alsa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ririn yang sudah dibaringkan diatas rerumputan yang menghijau.
"Dek, tekan dada bagian atasnya biar air yang diminum keluar, kakak kalian sepertinya meminum banyak air" titah Atar.
Alsa mencoba melakukan yang diperintahkan oleh Atar. Tapi tenaga anak itu tak cukup kuat untuk menekan dada Ririn hingga tak perubahan apa pun darinya.
"Tekannya kurang kencang dek. Ayo! Lebih kuat lagi nekannya" titah Atar
"Ini juga udah sekuat tenagaku Om"
"Coba usahakan lebih keras lagi nekannya biar air yang di minumnya keluar"
"Kenapa tidak Om saja sendiri yang melakukannya, jangan bisanya cuma nyuruh-nyuruh doang" protes Alsa.
"Hah! Om?" tanya Atar kebingungan sambil menunjukan telunjuknya ke arah dirinya sendiri.
"Iyalah, orang dewasa disini kan cuma Om doang" kata Alsa.
Bukannya langsung menolong Atar hanya garuk-garuk kepala tak gatal.
"Eee... Iya, Iya" ucap Atar dengan ragu.
Atar lalu melakukannya, dia menekan bagian atas dada Ririn berkali-kali hingga akhirnya air yang diminum Ririn keluar.
Uhuk... uhuk... uhuk...!!
Ririn sempat terbatuk-batuk tapi dia masih belum membuka matanya.
"Om gimana ini kak Ririn ko belum sadarkan diri juga?" tanya Bayu.
"Aduh! Gimana ya, Om juga tidak tahu, Om kan bukan dokter" jawab Atar kebingungan.
Hening!
Mereka lalu berpikir untuk sejenak tentang apa yang harus dilakukan, tak berapa lama Chika berseru mengagetkan semua dikala suasana sedang hening.
"Kasih nafas buatan aja Om"
Atar sempat membelalakan matanya karena kaget tapi saran dari Chika mungkin bisa dicoba lalu dia menyuruh anak-anak itu untuk mencobanya.
"Kami nggak ngerti caranya Om, Om aja yang ngelakuinnya kan Om sudah dewasa masa Om tidak bisa melakukannya" ujar Bayu.
"Lagi-lagi anak-anak ini bawa kata sudah dewasa, emang mereka pikir semua orang dewasa bisa melakukan segalanya" batin Atar sambil terus bengong.
__ADS_1
"Ih! Dari tadi si Om nya lola melulu, cepat tolong kak Ririn Om" kata Alsa merasa kesal karena Atar kebayakan bengong.
"Aduh! Gimana ini, cara ngasih nafas buatannya gimana? Ya ampun, apa yang selama ini aku lakukan? Apa aku tak pernah punya teman dekat perempuan selain Jani selama hidupku? Apa aku tak punya pengalaman apa pun soal ini? Aku bisa stres kalau gini ceritanya, kalau aku bilang pada anak-anak itu, aku gak pernah ngasih nafas buatan pada seorang cewek, bisa-bisa harga diriku diinjank-injak sama mereka" batin Atar galau luar biasa.
Malum saja dia seperti itu karena selama hidupnya dan masa remajanya hanya dihabiskan dengan bergaul dengan orang-orang yang sama-sama jomblo akut. Sebenarnya ke empat pria tampan itu kurang berpengalaman soal cinta dan wanita tapi mereka termasuk orang-orang hebat dan sukses dimasa mudanya.
Bukan karena mereka tak ada yang suka tapi karena mereka terlalu fokus pada belajar dan karier mereka hingga mereka mengesampingkan urusan cinta dan wanita.
Merasa tak sabar karena Atar terus bengong dengan dunianya sendiri akhirnya anak-anak itu mendesak Atar untuk segera memberikan nafas buatan untuk Ririn. Akhirnya dengan terpaksa dia harus melakukannya juga.
Atar semakin mendekati wajah cantik Ririn yang masih belum sadarkan diri, semakin dekat dan semakin dekat dengan wajah cantik itu. Semakin ditatapnya semakin membuat hati Atar berdebar-debar, jantungnya semakin berdetak lebih kencang saking kencangnya mungkin bisa didengar oleh orang yang berada didekatnya.
Tiba-tiba Ririn mulai membuka matanya dengan perlahan, samar-samar dia melihat bayangan wajah seseorang hingga Ririn benar-benar membuka matanya dan betapa kagetnya dia ketika Jarak mereka hanya tinggal 1 CM.
"Aaaaaaaaa!" teriak Ririn.
Plak!
Satu tamparan mendarat mulus dipipi Atar membuat dia double kaget setelah mendengar teriakan Ririn ditambah tamparan yang tiba-tiba mendarat dipipinya, hingga dia terjengkang dan duduk sambil memegangi pipinya yang terasa sakit.
"Kamu mau ngapain? Mau macam-macam ya?" tanya Ririn sambil duduk dan melototin Atar.
"Kamu jangan salah paham dulu, aku tak punya niat macam-macam ko" Atar membela diri.
"Jangan bohong kamu, tadi ngapain wajahmu dekat bangat sama wajahku?" sergah Ririn.
"Om ini sudah nolongin kakak saat kakak tenggelam. Tuh! Lihat bajunya basah, tadi kakak nggak sadar-sadar kami takut kakak kenapa-kenapa makannya kami nyuruh Om ini ngasih nafas buatan buat kakak" tutur Alsa sambil menunjuk kepakaian Atar yang juga masih basah kuyup.
Ririn lalu memperhatikan Atar, ternyata memang benar pakain Atar basah dia jadi merasa tidak enak hati pada pria yang sudah menolongnya itu apa lagi Ririn sudah berprasangka buruk padanya, rasa tidak enak hatinya semakin menyeruak hingga dia merasa benar-benar tak punya muka.
Ririn lalu meminta maaf sambil hendak menyentuh pipinya Atar yang tadi ditamparnya karena ingin mengecek kondisi Atar. Tapi Atar mencegah tangan Ririn menyentuhnya dengan memegangi tangan Ririn.
Seketika Ririn jadi menatap Atar tanpa bisa terhindarkan lagi kedua mata mereka saling bertautan satu sama lain dan saling menatap untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya Atar membuyarkan semuanya.
"Aku tidak apa-apa ko, kamu sendiri gimana?" tanya Atar.
"Sekarang aku tidak apa-apa, makasih ya udah nolongin aku" ucap Ririn.
"Iya sama-sama"
Setelah itu Atar menyuruh Ririn dan anak-anak untuk kembali pulang karena kejadian ini sepertinya Ririn butuh istirahat jadi Atar mencari kendaraan umum untuk mengantar mereka karena dia sendiri jarang bawa mobil sebab Atar jarang bepergian kecuali kalau dia ada meeting sama investor maka dia yang akan memakai mobil di vila.
"Pak tolong anterin mereka kerumahnya ya, dan ini ongkosnya" kata Atar.
"Iya mas, terimakasih mas" ucap tukang angkot.
"Iya sama-sama bang"
"Kalian hati-hati dijalannya ya" ucap Atar.
"Makasih ya, kamu udah baik banget, aku jadi berhutang budi sama...." Ririn menggantung kalimatnya karena dia tak tahu nama pria yang sudah menolongnya itu.
Atar lalu tersenyum pada Ririn sambil berkata "Iya sama-sama, Rafatar itulah namaku...bang silahkan jalan"
__ADS_1
Tukang angkot itu lalu mulai mengemudikan angkotnya. Dan mereka pun berpisah.
Bersambung