Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Pilih Ibu atau Shabira?


__ADS_3

Dokter lalu pergi setelah memberi tahu kan keadaan Shabira. Semua terdiam dalam rasa kekhawatirannya.


"Guys! Atar harus tahu soal Shabira, dia kan ayahnya Shabira. Siapa tahu golongan darah Atar sama kaya Shabira" celetuk Azka tiba-tiba membuat semua mata menatapnya.


Jho setuju dengan ucapan Azka tanpa basa-basi lagi dia segera menekan nomor dial milik Atar.


Di tempat berbeda


Pak Arya sedang menyuapi istrinya yang masih terbaring lemah sementara Atar hanya melihat sambil berdiri berhadapan dengan pak Arya yang sedang duduk disamping istrinya berbaring.


"Ibu harus makan yang banyak biar cepat pulih, biar Atar cepat kembali ke tempat kerjanya, kasihan kan kalau dia harus meninggalkan tempat kerjanya begitu lama" ujar pak Arya.


"Nggak apa-apa pak, bu, aku disini aja sampai ibu sembuh soal pekerjaan aku kan bisa mengirim hasil desainku lewat email" ucap Atar.


Rumi tak ikut berkomentar dia hanya menurut apa saja kata suaminya.


"Ya bapak sama ibu nggak mau merepotkan kamu, sebenarnya kalau kamu mau kembali juga dalam waktu dekat ini, itu juga tidak apa-apa ko, ibu biar bapak yang ngerawat lagian kan sekarang ibu tinggal pemulihan aja"


"Iya nanti pak, aku juga kan masih kangen sama ibu sama bapak juga, jadi jangan usir aku ya" kata Atar sambil memeluk manja ibunya yang masih berbaring.


Rumi hanya melebarkan senyuman di bibirnya yang masih terlihat pucat sambil mengelus lembut pucuk kepala Atar. Tiba‐tiba ponsel genggam milik Atar bergetar.


Drrreeetttt...Drrreeettttt...Drreeetttt...!!


Atar segera merogoh ponsel genggamnya dari saku celana, di lihatnya layar pipih itu tertera nama Jhosua. Dia segera minta izin untuk mengangkat panggilan telepon dari Jho setelah itu Atar keluar ruangan untuk segera mengangkat panggilan teleponnya.


📞Halo Jho. Ada apa nelepon aku?


Tanpa Atar sadari Dion terus berjalan mendekati ruangan ibunya dirawat dimana didepan ruangan itu ada Atar yang sedang menerima panggilan telepon dari Jho.


Dengan santainya Dion melangkahkan kaki sambil memasukan kedua tangannya di saku celana. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Atar celingukan mengundang kecurigaan bagi Dion, dia semakin penasaran saat Atar bicara dengan memperkecil volume suaranya akhirnya dia menguping pembicaraan Atar di telepon meski dia tak bisa mendengar ucapan Jhosua.


📞Ada kabar tidak mengenakan dari Shabira, Atar' ujar Jho diujung telepon.


📞Shabira?! Ada apa dengan dia?


📞Shabira di tabrak mobil sekarang kondisinya kritis.


Sontak berita itu membuat Atar jadi kaget setengah mati hingga dia mengulang kembali kalimat Jho dengan meninggikan suaranya secara tidak sadar.

__ADS_1


📞Apa! Shabira di tabrak mobil? Bagaimana bisa Jho?


Air muka Atar seketika berubah jadi panik, cemas dan Khawatir. Hatinya benar-benar merasa tak tenang dengan berita ini.


📞Iya Atar, Shabira sekarang kritis aku harap kamu segera kembali ke sini.


📞Ba-baiklah Jho, aku akan segera kembali ke sana sekarang juga tapi aku akan minta izin sama ibu dan bapak dulu untuk kembali ke sana.


Panggilan telepon pun terputus, Atar segera memasukan telepon genggangnya ke saku celana kemudian dia hendak masuk ke ruangan lagi untuk minta izin pada orang tuanya. Tapi sebelum dia berhasil masuk ke ruanga rawat inap ibunya langkahnya tertahan karena Dion menarik kerah baju Atar dari belakang hingga dia beringsut mundur. Dia lalu melirik ke belakang.


"Bang Dion!"


"Lo mau kemana? Ibu masih sakit, apa lo akan tetap balik lagi ke tempat kerja lo?" tanya Dion belum melepaskan tangannya dari Atar.


"Lepasin dulu bang, biar aku jelasin" pinta Atar.


Dion lalu melepaskan Atar, dia lalu menatap tajam pada adiknya itu sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Atar tak mungkin jujur dan menceritakan soal Shabira pada keluarganya saat ini karena ibunya masih dalam pemulihan pasca serangan jantung.


Kalau dia menceritankan soal anaknya sekarang, Atar takut ibunya akan shock dan kena serangan jantung lagi akhirnya dia terpaksa berbohong pada Dion demi kesehatan ibunya.


"Ada urusan mendadak di tempat kerja dan aku harus segera kembali karena Jho, Azka dan Gio tak bisa menangani masalah ini jadi terpakasa sekarang juga aku harus segera kembali" tutur Atar sambil menunduk karena dia tak berani menatap mata kakaknya takut kebohongannya ketahuan.


"Alah bulsit lo! Lo pikir gue gak tahu, lo pengen cepat kembali ke tempat kerja lo karena Shabira kecelakaan kan?"


Sontak Atar langsung mengangkat wajahnya menatap Dion dengan kaget.


"Sial! Bang Dion denger lagi ucapanku tadi. Aduh! Bisa runyam ini" Atar merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Atar kembali menunduk dan memilih bergeming karena takut salah ngomong hingga urusannya makin panjang lagi. Meski pun Dion itu seorang pria kasar dan suka nyusahin orang tapi sebenarnya dia sangat menyayangi ibunya melebihi apa pun.


Dan itu membuat dia kesal pada adiknya ketika Atar ingin kembali ke tempat kerjanya demi gadis yang bernama Shabira padahal ibunya masih dirawat di rumah sakit. Kemudian Dion kembali menoyor Atar yang terus menunduk tanpa perlawanan dengan berkali-kali menoyornya sambil terus mengumpat kesal.


"Brengsek lo, lo lebih mentingin gadis pujaan hati lo yang bernama Shabira itu dari pada ibu lo sendiri yang sudah susah payah melahirkan dan membesarkan lo"


Mendengar ucapan Dion, Atar kembali mengangkat wajahnya batinnya lalu berkata.


"Bang Dion sudah salah paham, Shabira bukanlah gadis pujaan hatiku tapi Shabira itu putri kesayanganku, dia darah dagingku. Tapi tidak apa-apalah lebih baik bang Dion salah paham dari pada tahu fakta yang sebenarnya itu akan membuat suasana makin kacau"


Atar kembali menunduk. Dion yang masih kesal terus mencercah Atar dengan bahasa binatangnya yang keluar semua dari mulutnya karena tak mendapat respon apa pun dari adiknya.

__ADS_1


Mendengar kegaduhan dari luar, Arya lalu ke luar untuk melihatnya karena penasaran. Dan ternyata yang bergaduh itu kedua putranya.


"Dion! Hentikan! Kamu tuh kenapa sih marahin adikmu sendiri?" tanya Arya sambil melerai Dion yang terus menoyor Atar.


Dion akhirnya berhenti dengan tatapan mata berapi-api dia lalu menjawab pertanyaan bapaknya sambil mengarahkan telunjuknya ke muka Atar yang kala itu tetap konsisten menundukkan pandangannya dan tak mau melakukan perlawanan pada Dion meski itu sekedar untuk membela diri.


"Ini nih pak, anak kebanggaannya bapak sama ibu. Dia memilih balik ke tempat kerjanya karena gadis pujaan hatinya yang bernama Shabira itu kecelakaan padahal kan ibu masih dirawat di rumah sakit, tapi apa si Atar lebih bela-belain perempuan itu dari pada ibunya sendiri"


Dion lalu mengarahkan telunjuknya lagi berkali‐kali ke kepala Atar hingga menempel sampil terus membentak Atar.


"Heh! Bocah tengik, mending lo dengerin apa kata gue. Yang namanya perempuan itu ya, cuma bisa nyakitin perasaan cowok, mulutnya aja manis tapi hatinya busuk! Jadi buat apa lo bela-belain si Shabira. Gue yakin hati lo nih hati lo bakal disakitin juga, jadi lebih baik lo abaikan si Shabira" bentak Dion sambil menunjuk ke dada Atar tepat mengarah di hatinya.


Atar lalu menatap Dion dengan tetapan amat sedih. Kemudian dia berkata dalam hati.


"Bagaimana bisa aku mengabaikan lagi anakku yang tak pernah aku perhatikan selama sembilan tahun ini? Bagaimana aku bisa mengabaikan anakku yang tak pernah menerima kasih sayang dariku selama sembilan tahun ini?" Atar lalu kembali menunduk.


"Kalau abang memintaku seperti itu aku tidak akan bisa menurutinya. Jika ini adalah kesalahanku yang harus aku tebus atas kelahirannya Shabira, meski sekali pun aku harus dibenci oleh abang, ibu dan juga bapak aku akan menerimanya, aku akan tetap menyayangi putriku yang tidak berdosa atas kesalahanku ini" batin Atar.


Kali ini giliran Arya yang menatap lekat putra bungsunya itu. Arya merasa kasihan pada Atar, karena kegagalan Dion untuk menikahi wanita pujaan hatinya jadi Atar di tekan oleh Dion untuk tidak menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan yang di sukai olehnya karena takut dicampakan lagi seperti Dion.


"Atar, Apa yang kakak kamu katakan itu benar? Apa kamu sedang dekat dengan seorang gadis? Apa gadis itu amat berarti buat hidup kamu hingga hatimu bisa luluh olehnya?"


Atar tak bisa menjawab mulutnya terlalu kelu untuk berucap tapi matanya tak bisa berbohong atas hatinya yang amat sedih. Dan Arya yang mengira Shabira itu bukan cucunya tapi dia gadis pujaan hati Atar, bisa memahami kesedihan yang melanda hati putra bungsunya karena ulah putra sulungnya itu akhirnya membelai lembut bahu Atar sambil berkata.


"Jika Shabira itu gadis yang kamu sukai dan menurutmu dia yang terbaik untuk teman hidupmu maka temuilah dia, bantu masalahnya, kejarlah dia sampai dapat jangan hiraukan apa pun termasuk kakakmu, Bapak akan mendukung setiap keputusan yang kamu buat Atar karena bapak percaya itu lah yang terbaik buat kamu"


Hati Atar semakin sedih atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan padanya tapi tetap saja dia masih belum bisa jujur tentang Shabira bahwa gadis kecil itu adalah darah dagingnya.


"Maafkan aku pak, karena belum bisa mengatakan kalau Shabira itu cucu bapak. Bapak, ibu dan bang Dion pasti shock mendengar ini apa lagi yang bapak, ibu dan bang Dion tahu aku ini belum menikah tapi sekarang aku sudah punya anak yang berusia sembilan tahun, maafkan aku pak, aku janji kalau waktunya sudah tepat suatu hari nanti aku akan perkenalkan Shabira sebagai cucu bapak" batin Atar dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah, sekarang pergilah temui Shabira, ibu biar bapak yang ngerawat" lirih Arya dengan tatapan hangat dan lembut sambil mengelus lembut bahu Atar.


"Apa bapak serius aku boleh pergi" tanya Atar meragu.


"Iya Atar, bapak serius kamu ini sudah dewasa saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri jadi kejarlah cintamu"


Atar lalu mengangguk dengan sedih lalu dia segera bergegas pergi yang tentunya semakin membuat hati Dion gondok tapi dia tak bisa menentang perintah bapaknya karena Dion masih menjunjung tinggi dan menghormati kedua orang tuanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2