
Mereka semua lalu masuk kedalam dan duduk diruang tamu. Istrinya Irwan lalu menyiapkan minuman untuk semua. Setelah minuman datang Irwan baru memperkenalkan istrinya pada Jani dan Shabira sementara Atar sudah mengenal Azizah sebab saat Irwan menikah dengan Azizah, Atar datang ke acara pernikahan Irwan.
Sebenarnya Azizah pernah hamil beberapa kali tapi dia selalu keguguran karena kandungan Azizah lemah hingga akhirnya sekarang mereka belum dikaruniai seorang anak. Sementara Toriq dan Hadi masih betah menduda hingga detik ini setelah berpisah dari istrinya karena bercerai dan istrinya meninggal dunia.
Hadi yang merasa senang akan kehadiran cucunya, mengajak cucunya untuk duduk disampingnya karena Hadi ingin menanyakan banyak hal pada Shabira. Rupanya dia ingin lebih mengenal lagi cucunya yang kini sudah berumur 9 tahun.
Selain itu Hadi juga menanyakan bagaimana Jani hidup selama ini dan dia tinggal dimana. Jani lalu menceritakan semuanya dari awal hingga akhirnya dia bertemu kembali dengan Atar dan Atar akhirnya membawa Jani kembali pulang. Tak lupa Jani juga menceritakan soal anak angkatnya dan dia berharap keluarganya bisa menerima kehadiran mereka sebab pada akhirnya nanti Jani juga akan membawa mereka kerumahnya.
Setelah cukup lama mereka bercerita hingga menghabiskan waktu beberapa jam akhirnya Atar yang sudah mengantongi restu dari Hadi untuk menikahi Jani berniat untuk pulang dulu karena keluarga Atar pun harus tahu permasalahan mereka dan mereka juga harus tahu tentang Shabira yang belum sempat Atar ceritakan pada keluarganya.
"Terimakasih om sudah memberiku kesempatan untuk bertanggung jawab dan menikahi Jani. Tapi keluargaku belum tahu soal Shabira, aku akan segera menceritakan semuanya pada keluargaku jadi aku mohon beri aku waktu dulu hingga aku bisa menikah dengan Jani karena walau bagaimana juga aku harus mendapat restu dari keluargaku dan mereka harus tahu soal Shabira" tutur Atar.
"Baiklah, om akan memberimu waktu tapi tolong beri kami kabar secepatnya ya" ujar Hadi.
"Baik om kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, karena kami baru kembali dari luar kota dan aku juga belum sempat pulang kerumah jadi sekarang aku mau pulang dulu"
Atar lalu bersalaman pada semua. Jani dan Shabira lalu mengantar Atar sampai kedepan rumah.
"Shabira, sekarang ayah pulang dulu ya, nanti ayah akan kembali lagi dan kita akan tinggal bersama sesuai janji ayah" Atar berpamitan pada putrinya seraya mengelus lembut rambut Shabira.
"Baik ayah, hati-hati dijalannya"
"Iya sayang" ucap Atar sambil tersenyum pada Shabira.
"Jani, aku pulang dulu ya, tolong kamu bersabar dulu ya, aku harus menyelesaikan masalah ini dengan keluargaku dulu tapi aku akan usahakan ini tidak akan lama. Setelah semuanya beres aku akan segera datang kerumahmu bersama keluargaku"
"Iya aku akan menunggu kamu"
"Kalau gitu aku pulang dulu ya"
"Iya. Kamu mau pake mobil panti buat pulang, ini kuncinya" kata Jani sambil menyodorkan kunci pada Atar.
"Nggak perlu, aku jalan kaki aja lagian rumah kita tidak jauh-jauh amat"
"Tapi kan kamu bawa koper dan Barang-barangmu"
"Udah itu gak masalah ko, aku jalan kaki aja. Assalamu'alaikum istri dan anakku" ucap Atar sambil mengasongkan tangannya agar Shabira dan Jani mencium tangannya.
Jani hanya melongo sambil menyernyitkan kedua alisnya tak mengerti dengan kode yang diberikan oleh Atar. Shabira yang paham langsung mencium punggung tangan ayahnya kemudian Atar mengibas-ngibaskan tangannya agar Jani juga melakukan hal yang sama seperti Shabira.
Jani merasa aneh kalau harus menghormati Atar layaknya seperti rasa hormat seorang istri pada suaminya pasalnya dulu saat mereka masih kecil Jani sering membuat Atar menangis karena dulu dia sangat cengeng dan sering dijailin oleh Jani dan Jho.
"Aku masih tak percaya kalau Atar akan menjadi suamiku padahal dulu dia itu seorang yang cengeng dan penakut, aku selalu bisa mengalahkan dia dalam hal apa pun dan aku juga suka bikin dia menangis tapi sebentar lagi dia akan menjadi suamiku, dia bahkan bisa jadi ayah dari anakku, ini adalah hal yang tak pernah terduga olehku. Rasanya aku sangat canggung dan aneh dengan semua ini, aku juga merasa aneh kalau tiba-tiba sekarang aku harus menghormati dan patuh padanya padahal dulu kalau kami bercanda selalu main jitak-jitakan. Ah! Ini benar-benar terasa aneh bagiku" batin Jani masih asyik dengan dunianya sendiri seraya menatap Atar dengan tatapan datar.
Sementara Atar masih mengibas-ngibaskan tangannya tapi karena Jani tak kunjung mengerti dengan kode yang diberikan oleh Atar akhirnya Atar menarik tangan Jani agar dia memegangi tangan Atar setelah itu tangan Atar yang dipegang Jani didorong ke bibir berwarna merah muda milik Jani hingga kepala Jani sedikit terdorong kebelakang.
"Biasa aja kaliiii... kamu kaya yang sensi gitu nyuruh aku buat nyium tanganmu" protes Jani.
"Habisnya kamu gak ngerti-ngerti kode dari aku. Shabira aja ngerti kenapa kamu nggak. Udah ah! Aku pulang dulu assalamu'alaikum" ucap Atar agak ketus lalu melengos pergi.
__ADS_1
Jani lalu mencibir karena tingkahnya Atar setelah itu mereka masuk kembali ke dalam rumah.
Dirumah keluarga Atar
Atar baru sampai didepan pintu rumahnya. Dia menekan bel namun tak ada respon dari dalam. Mungkin tak ada orang didalam pikir Atar tapi anehnya ketika dia memegang handle pintu dan mencoba membukanya, pintu itu tidak dikunci, Atar pun langsung masuk kedalam rumah.
Diruang tamu dia melihat ada kakaknya sedang rebahan disofa panjang dengan malasnya. Atar lalu duduk disofa sambil membuka sepatu dan kaos kakinya.
"Assalamu'alaikum, bang aku pulang" sapa Atar.
Dion tak menjawab dia malah menggeliatkan tubuhnya dengan malas, aroma minuman masih melekat ditubuh Dion.
"Eh! Kapan lo pulang, ko gue gak tahu" tanya Dion padahal tadi Atar sudah memberi salam padanya.
"Barusan bang, ibu sama bapak mana?" tanya Atar seraya berdiri dan menyimpan sepatunya dirak sepatu yang terdapat diruang tamu.
"Gue gak tahu. Atar bagi gue duit dong, gue mau beli minuman" pinta Dion sambil duduk dan seraya menggaruk perutnya.
"Nggak ada bang"
"Elo gak usah pelit-pelit buruan kasih gue duit, mulut gue sepet pengen minum vodka"
Atar yang saat itu hendak pergi ke kamarnya lalu menghentikan langkahnya. Dia membuang nafas kasar lalu menoleh kearah kakaknya.
"Berhentilah minum minuman haram itu bang, itu nggak baik buat tubuh abang" ucap Atar merasa kesal karena kerjaan kakaknya hanya mabuk-mabukan terus.
Bug!
"Gak usah banyak cingcong lo, anak bau kencur aja lo masih berani nasehatin gue, buruan kasih duit lo ke gue" bentak Dion.
Atar hanya bisa mengelus dada seraya meraup wajahnya dengan kasar karena sifat kakaknya yang masih tak berubah.
"Maaf bang, kali ini abang tidak boleh meminta uang terus padaku karena aku juga tidak akan memberikannya lagi pada abang. Mulai sekarang abang harus cari uang sendiri dengan bekerja jangan hanya maunya minta terus"
Dion semakin tersulut emosinya, dia lalu berdiri dan menarik kerah kemeja Atar.
"Heh! Udah berani ya lo ngelawan gue, kesambet setan apaan lo jadi pelit kaya gini"
"Bukannya aku pelit sama abang tapi sekarang aku sudah punya tanggung jawab bang, aku tidak bisa terus memberikan uangku pada abang"
"Alah alesan aja lo, bilang aja lo pelit. Pake alesan tanggung jawab segala lagi, buruan kasih gue duit" bentak Dion masih menarik kerah baju Atar.
"Beneran bang, aku akan segera menikah dan nantinya aku akan menafkahi keluargaku"
Dion sempat kaget mendengar pernyataan Atar tapi pada akhirnya dia malah mencibir dan meledek Atar.
"Hahaha... elo mau nikah?" tanya Dion.
"Iya bang, dalam waktu dekat ini aku akan segera menikah" jawab Atar dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Buat apa lo nikah, gue yakin hidup lo akan sengsara karena pernikahan, semua cewek itu sama kalau cowok sukses pasti dideketin tapi kalau cowoknya mendadak bangkrut ujung-ujungnya lo akan ditendang juga Atar"
"Tidak semua perempuan seperti itu bang, aku yakin calon istriku sangat baik karena aku sangat mengenal baik dirinya, jadi maaf bang, aku akan tetap menikah meski abang melarangku"
Dion jadi makin kesal karena dia tak berhasil menggoyahkan niat Atar untuk segera menikah. Dia lalu menoyor kepala Atar berkali-kali tapi tak ada perlawanan dari Atar karena dia tak mau kakaknya semakin murka.
"Jadi lo berani ngelangkah ini gue, hah? Udah kebelet banget lo pengen cepat nikah hingga lo mau ngelangkahin kakak lo sendiri, hah?" tanya Dion dengan nada tinggi karena Dion sendiri belum menikah jadi dia merasa kesal.
Atar lalu menunduk sambil berkata, "Maafin aku bang aku terpaksa harus segera melangkahi abang"
"Terpaksa ngelangkahi gue lo bilang?! Emangnya kenapa? Apa lo udah buntingin anak orang?" tanya Dion dengan asal tapi tanpa terduga Atar malah mengiyakan perkataan Dion.
"Iya bang" lilir Atar tanpa berani menatap kakaknya.
Dan itu telah sukses membuat kedua mata Dion membulat sempurna karena kaget setengah mati. Dia benar-benar tidak mengangkat adiknya yang dikenal baik dan alim bahkan dia sangat menghormati seorang wanita tapi bagaimana bisa adiknya malah menghamili anak gadis orang.
Dion benar-benar tak habis pikir, dia merasa shock mendengar pengakuan Atar. Adik yang selama ini selalu dibanggakan oleh kedua orang tuanya ternyata tak lebih dari seorang pecundang biadab yang berani menghamili anak gadis orang.
Dion yang merasa kesal akan perbuatan biadab adiknya lalu meninju dan menghajar Atar habis-habisan hingga hidung Atar mengeluarkan dahar segar. Atar sudah sedemikian pasrahnya. Lagi dan lagi dia tak melawan karena Atar menganggap ini adalah hukuman yang setimpal baginya atas penderitaan yang selama ini dirasakan oleh Rinjani, meski dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya tapi Atar tetap pasrah.
"Tolol lo! Bego lo! Dasar biadab! Mau ditaruh dimana muka keluarga kita Atar! Berani sekali lo buntingin anak orang. Dimana akal sehat lo? Gue emang sampah tapi gue gak sehina lo, perbuatan lo benar-benar hina, elo udah bikin menderita anak orang, elo udah mempermalukan keluarga kita, dimana otak lo hanya karena hasrat gila lo yang ingin disalurkan lo tega menghamili anak orang, gue emang benci perempuan tapi otak gue masih waras gue gak akan ngelakuin hal sehina itu tapi lo benar-benar biadab" umpat Dion dengan penuh caki maki yang terdengar amat kasar pada Atar, itu terus keluar dari mulutnya dengan tanpa henti sambil terus menghajar Atar.
Batin Atar terasa sakit mendengar umpatan kasar itu, Atar tahu dia salah tapi kesalahan ini diluar kendalinya, ini bukanlah sesuatu yang diinginkan Atar, ini hanya sebuah kecelakaan yang tak bisa dihindarinya.
Tapi apakah harus Dion semarah itu padanya? Haruskan Atar terus disalahkan seperti ini? Sekuat-kuatnya hati seorang pria tapi perkataan kasar Dion ini sudah amat menusuk batin Atar hingga butir bening itu berhasil menggelincir dikedua pipi Atar.
Kekesalan Dion pada Atar terus dilampiaskannya dengan menghajar Atar tanpa ampun hingga dia babak belur untungnya kedua orang tua mereka cepat datang dan menghentikan aksi Dion hingga Atar bisa diselamatkan dari hajaran kakaknya.
"Dion, hentikan! Kamu tidak boleh memukuli adikmu seperti ini, Atar bisa mati kalau kamu terus-terusan seperti ini" bentak Arya seraya menarik tubuh putra sulungnya itu.
Sementara Rumi menarik tubuh Atar yang sudah kelimpungan karena banyak luka memar ditubuhnya.
"Jangan hentikan aku pak si biadab ini pantas diperlakukan seperti ini karena dia lebih hina dari pada bangkai dan sampah" bentak Dion sambil terus meronta-ronta sebab tangannya masih gatal pengen menghajar Atar.
"Hentikan Dion! Hentikan! Kenapa kamu harus semarah itu pada Atar?" tanya Arya masih mencoba menarik tubuh Dion yang terus meronta-ronta.
"Aku malu punya adik seperti dia pak, dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita, Atar sudah menghamili anak orang pak"
Arya langsung kaget setengah mati, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dion. Demikian juga dengan Rumi, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dion. Rumi yang saat itu memangku putranya yang terkulai lemah akibat banyak luka memar ditubuhnya langsung menanyakan hal itu pada Atar.
"Atar, apa benar apa yang dikatakan oleh kakakmu?" tanya Rumi.
Dadanya mulai terasa sesak dan sakit sebelum Atar menjawabnya. Dengan perasaan bersalah dan amat sedih Atar lalu menjawab "Apa yang dikatakan oleh bang Dion itu benar adanya bu, aku minta maaf Bu, Bapak karena sudah mempermalukan keluarga ini"
Seketika dada Rumi makin sakit dan teras sesak, sepertinya penyakit jantung Rumi kambuh lagi karena kaget mendengar berita ini. Arya yang panik mulai memburu istrinya yang kelimpungan karena menahan sakit didadanya.
"Dion, cepat ambilkan obat ibumu dikamar, cepat ambil Dion" titah Arya sambil memangku istrinya.
Dion segera berlari kekamar untuk mengambil obat jantung untuk ibunya.
__ADS_1
"Ibu, tolong ibu bertahan bu, jangan buat aku semakin merasa bersalah bu" lirih Atar lemah dengan mata yang berkaca-kaca.
Bersambung