Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Bayi besar


__ADS_3

Mentari pagi ini sudah menyapa bumi namun Atar dan Jani masih terlelap tidur dalam selimutnya hingga cahaya mentari yang hangat berhasil menerobos masuk kesela-sela jendela kamar dan membangunkan Atar karena silau akan cahayanya yang terang.


Atar lalu terbangun dengan kesadaran yang belum sepenuhnya utuh, dia menggeliatkan tubuhnya kemudian duduk sambil mengucek matanya. Tak berapa lama Jani pun bangun, dia langsung duduk dengan rambut panjangnya yang acak-acakan dan menutupi sebagian wajahnya. Atar menoleh kesamping, saat netranya menatap Jani dengan rambut acak-acakan sontak Atar langsung berteriak kaget.


"Aaaaaaa...!" pekik Atar.


Kemudian dia menutupi tubuh mungil itu dengan selimut seraya terus melafazkan ayat kursi. Jani jadi kesal dengan perbuatan Atar, dia menarik selimutnya hingga rambutnya tertarik dan makin acak-acakan.


"Ataaaaarrr...!" geram Jani sambil mengadu gigi seri atas dan bawahnya.


Tapi Atar terus menengadahkan kedua tangannya dengan mata terpejam dan tak henti-hentinya melafazkan ayat kursi. Jani lalu menjewer telinga Atar untuk menyadarkannya bahwa seseorang yang ada di hadapannya itu adalah istrinya bukan setan yang sedang menghantuinya.


"Aaaawwww! Sakit tahu" ringis Atar sambil membuka matanya kembali.


"Kamu benar-benar keterlaluan ya. Apa maksudnya mukaku ditutupi selimut? Apa mukaku seseram itu? Terus kenapa kamu bacain ayat kursi, kamu pikir aku setan? Brengsek kamu ya, setelah melakukan itu padaku tadi malam sekarang kamu nganggap aku kaya setan?" ceroscos Jani dengan amat kesal tanpa berhenti menjewer telinga Atar.


Atar lalu merangkul Jani hingga Jani menelusup kedada bidangnya, kemudian dia memeluk erat tubuh mungil yang terus berontak itu.


"Aku minta maaf Jani, aku benar-benar kaget tiba-tiba kamu tidur bersamaku. Biasanya kan aku tidur sendiri, tiba-tiba sekarang ada kamu jadi aku kaget"


"Nggak mau tahu, aku kesal sama kamu. Awas aja kalau kamu minta yang semalam aku tidak akan kasih" ketus Jani sambil mendongakan wajahnya sebab tubuhnya dikunci oleh pelukan Atar.


"Jangan gitu dong, aku bisa sekarat kalau kamu gak ngasih, aku minta maaf ya, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Gini aja deh, kamu mau apa aku janji akan memenuhi semua keinginanmu. Ayo! Katakan padaku?" Atar memelas.


"Lepasin dulu!" ketua Jani.


Atar akhirnya melepaskan Jani setelah itu Jani tak berkata apa-apa lagi dia malah pergi kekamar mandi untuk membersihkan badannya.


Dua jam kemudian.


Jani sedang menyiapkan sarapan didapur, sementara Atar sedang menunggu Jani selesai menyiapkan sarapannya untuk mereka sambil duduk di kursi meja makan. Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Atar lalu membukakan pintu dan ternyata yang datang itu Dion. Dia lalu mempersilahkan Dion masuk dan mengajaknya untuk sarapan pagi.


"Eh! Bang Dion, sarapan bareng kita yuk" ajak Jani. Atar, Dion dan Jani lalu duduk.


"Boleh deh, abang mau nyobain masakan kamu, Jani"


Jani lalu menyiapkan piring untuk suami dan kakak iparnya kemudian dia mengambilkan nasi dan lauknya. Setelah itu dia juga mengambil untuk dirinya sarapan pagi. Mereka bertiga mulai makan.


"Bang Shabira sama Jidan mana?" tanya Jani.


"Mereka sudah abang antar kesekolah, mereka kan harus sekolah. Abang kesini tadinya cuma mau mengembalikan kunci mobil bekas tadi malam. Eh! Tahunya kesini malah diajak sarapan. Ya udah! Abang ikut sarapan aja soalnya pengen ngerasain masakan buatan istrinya adik abang ini. Ternyata kamu pintar masak juga ya, Jani. Masakan kamu enak tadinya abang ragu soalnya kamu mantan gadis tomboy" ucap Dion sambil tersenyum.


"Siapa dulu dong, Bang. Istriku!" ucap Atar dengan penuh kebanggaan.


Dion tersenyum pada mereka setelah itu dia kembali makan sambil berkata tanpa melihat Jani dan Atar, "Sepertinya tadi malam ada hujan besar ya hingga kalian kebasahan lalu keramas bersama. Didepan rumah juga ada jemuran seprai, sepertinya seprai juga ikut kehujanan ya"

__ADS_1


Serempak Jani dan Atar jadi keselek, seketika wajah mereka berubah jadi memerah saat Dion berusaha menggoda pengantin baru itu karena tadi malam tak benar-benar ada turun hujan itu hanya istilah yang digunakan Dion untuk menggoda mereka.


"Uhuk... uhuk... uhuk... "


Atar dan Jani lalu minum, wajah mereka masih nampak memerah karena malu.


"Bang Dion, apaan sih" ujar Atar. Dion malah terkekeh geli, sementara Jani hanya bisa tertunduk malu dan tak berani menatap semua.


"Bang, Abang sama mbak Tari gimana? Kapan abang mau menikahi mbak Tari?" tanya Atar.


"Maunya sih secepatnya tapi kan abang butuh biaya buat acara nikahannya, abang tidak mau merepotkan ibu dan bapak. Besok abang sudah mulai kerja ko dapat tawaran kerja dari teman abang jadi nanti abang mau ngumpulin uang dulu buat biaya nikahannya" jawab Dion.


"Alhamdulillah ya bang, sekarang abang sudah dapat kerjaan. Bang, kalau abang mau aku bisa pinjamkan uang buat acara nikahan abang sama mbak Tari, kebetulan aku masih punya tabungan" Atar menawari Dion.


"Tidak usah Atar, abang tidak mau merepotkan kamu, lebih baik uang kamu simpan saja dulu buat keperluan dan pendidikan anak-anak kalian" tolak Dion secara halus karena dia tak mau merepotkan adiknya.


"Abang tidak usah khawatir kalau soal itu aku juga akan mempersiapkannya. Aku kan kerja bang jadi aku masih bisa nabung"


"Iya bang Dion, niat baik itu harus disegerakan loh, kasihan mbak Tari nya juga, jangan biarkan mbak Tari menunggu lama-lama ya" tambah Jani.


"Tidak ah! Aku tidak mau merepotkan kalian" tolak Dion lagi dengan halus.


Tapi Atar dan Jani terus membujuk Dion agar dia mau menerima tawaran dari mereka hingga Dion terus berpikir dengan dibulak balik dan akhirnya dia mau menerima tawaran Atar.


Akhirnya kini Dion dan Tari resmi menjadi sepasang suami istri, acara pernikahan mereka digelar dengan sederhana karena Dion tak mau membobol tabungan Atar dan Tari pun menerima serta mema'lumi acara pernikahannya tak semegah pernikahan Jani dan Atar sebab Tari mema'lumi kondisi keuangan Dion.


Setelah menikah, menjalani kehidupan baru dan bekerja untuk menafkahi istrinya Dion juga tak lupa menyisihkan sebagian rezekinya untuk membayar hutang pada Atar untuk biaya pernikahannya dulu dengan cara dicicil. Sebenarnya Atar tidak mau menerima uang Dion sebab dia merasa ikhlas untuk membiayai pernikahan kakaknya dan Jani juga mengizinkan suaminya membiaya pernikahan kakaknya.


Tapi Dion yang sekarang sudah berubah dia tak mau meminta-minta lagi pada Atar, dia juga tak mau merepotkan Atar, Dion tetap bersikukuh untuk membayar hutang bekas biaya pernikahannya dengan Tari, pada akhirnya Atar menerima juga uang itu.


Sejak Jani resmi dinyatakan sebagai istrinya Atar, kehidupan mereka dipenuhi dengan cinta dan kebahagian. Si gadis tomboy yang kini sudah bertransformasi itu kini sudah menjelma menjadi seorang ibu yang baik dan seorang istri yang selalu melayani suaminya dengan baik, semua keperluan Atar selalu disiapkan oleh Jani dari makannya, pakaiannya dan Jani juga mengurus rumah sendirian sebab Jani tak mau menyewa asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaannya. Jani lebih senang mengerjakan semuanya sendirian.


Saking telaten dan perhatiannya Jani pada anak-anak mereka dan juga suaminya itu membuat Atar jadi menggantungkan hidupnya pada Jani. Di suatu hari Atar baru selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya.


Netranya langsung mencari pakaian diatas tempat tidur karena biasanya Jani akan menyiapkan pakaian untuk dipakainya diatas tempat tidur, tapi kali ini dia tak menemukan pakaian diatas tempat tidur. Bukannya Atar mencari pakaian ke lemari pakaian tapi Atar malah mencari Jani yang masih sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dan suaminya.


"Jani! Jani! Jani!" teriak Atar.


Wanita cantik bertubuh mungil itu masih sibuk menyiapkan sarapan didapur ketika suaminya mendatangi dia kedapur.


"Apa?" sahut Jani tanpa menoleh ke sumber suara.


Atar yang saat itu berdiri diambang pintu dapur lalu bertanya, "Pakaian aku mana ko kamu belum siapin sih?"


"Astaghfirullahaladzim, aku lupa nyiapin soalnya aku sibuk didapur buat nyiapin sarapan. Kali ini kamu ambil sendiri aja ya dilemari aku lagi repot banget ini, ini udah siang sebentar lagi anak-anak pasti keluar dari kamarnya buat sarapan sedangkan aku belum selesai nyiapin sarapannya" ucap Jani sambil menepuk jidatnya karena lupa menyiapkan pakaian untuk suaminya.

__ADS_1


Atar lalu kembali ke kamar dengan mulut yang manyun. Dibukanya lemari pakaian miliknya, ekor matanya menjelajah ke setiap tumpukan baju yang tertata rapi sesuai jenisnya, baju dengan baju, celana dengan celana, kemeja dengan kemeja dan yang lainnya.


Tapi Atar tak bisa menemukan pakaian kerjanya, dia menutup kembali lemari pakaian itu lalu Atar pergi kedapur.


"Jani, aku cari-cari pakaian kerjaku tapi gak ada, kamu nyimpennya dimana?" tanya Atar yang sukses membuat Jani menoleh padanya dan menghentikan aktifitasnya.


"Masa nggak ada sih, pakaiannya udah aku cuci, dijemur lalu distrika udah itu aku simpan dilemari seperti biasa" ujar Jani keheranan.


"Beneran Jani, itu gak ada. Aku udah cari kemana-mana tapi gak ada"


Jani yang penasaran akhirnya pergi kekamar untuk mencari pakaian kerja Atar setelah mematikan kompornya yang kemudian diikuti oleh Atar dari belakang. Di kamar dia langsung membuka lemari dan mencari pakaian yang akan dipakai oleh Atar. Dan tak butuh waktu lama untuk menemukan pakaian yang akan dipakai oleh Atar.


"Katanya gak ada. Nah! Ini ko ada, nyari pakaian sendiri dilemari aja ko gak bisa, coba aja kalau kamu bener nyarinya pasti ketemu, orang aku simpannya dengan tertata dan rapih tapi ko gak ketemu sama kamu. Kamu itu ya, gak bisa lihat istrimu lagi sibuk nyiapin sarapan buat anak-anak, ini udah siang sebentar lagi mereka pergi ke sekolah mana sarapannya belum selesai disiapin kamu cuma ngambil bajumu sendiri dilemari aja gak bisa, semuanya harus disiapin sama istrimu, sekali-kali kamu ambil sendiri pakaianmu kenapa, aku kan kalau gak sibuk juga suka nyiapin, ini ko kamu gak pengertian banget sih sama aku" omel Jani tanpa jeda.


Atar yang menyadari istrinya sedang kesal karena masalah pakaian dia tak mau istrinya terus ngomel, saat Jani memberikan pakaian Atar ketangannya, sebelumnya Atar mengambil segepok uang berwarna merah di tas miliknya lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya dan tanpa sepengetahuan Jani Atar menyelipkan uang itu di pakaianya.


"Kamu marah ya, aku minta maaf. Tadinya aku mau ngasih suprise sama kamu dengan menyelipkan ini dipakaianku biar kamu menemukannya, lalu dikasihin ini ke kamu tapi kalau kamu tidak suka, ya udah gak jadi deh" lirih Atar yang mulai menunjukan uang itu pada Jani agar istrinya berhenti ngomelin dia.


Melihat segepok uang berwarna merah mata Jani berubah jadi hijau, dia segera merebut uang itu dari tangan Atar. Dan muka masam Jani karena marah dan kesal pada Atar kini berubah jadi ramah dan penuh cinta. Jani lalu mengendus bau uang itu dan menciumnya.


"Mmmhh... mau dong aku juga kaya gitu" ucap Atar sambil tersenyum dan menunjukan bibirnya.


Jani yang sudah terbeli hatinya oleh Atar lalu mengecup bibir suaminya setelah mengantongi uang pemberian Atar.


"Sekarang kamu mau apa lagi, biar aku siapin sekarang" tanya Jani dengan ramah dan penuh cinta.


"Ambilin jas sama dasi aku dong" titah Atar.


"Baik suamiku" ucap Jani dengan penuh semangat.


Atar lalu berpakaian, Jani lalu membantu Atar memakai kan jas dan dasinya kemudian dia merapihkan rambut suaminya.


"Nah! Sekarang suamiku sudah ganteng. Ayo! Kita sarapan sebelum pergi kerja"


"Iya istriku, yang tercantik, tersayang ter-ter segalanya buat aku" ucap Atar seraya mengecup kening Jani.


Mereka lalu pergi keluar. Diruang makan sudah ada Shabira dan Jidan yang sudah menunggu untuk sarapan.


"Bunda, sarapannya mana ko belum disiapin?" tanya Shabira karena meja makannya masih kosong.


"Aduh! Shabira, Jidan, maafin bunda ya sarapannya belum sempat bunda siapin soalnya bunda habis ngurusin bayi besar dulu" ucap Jani seraya mengelus kedua anaknya.


Atar malah tersenyum mendengar sentilan ucapan dari istrinya. Jani kemudian pergi kedapur untuk membawa makanan ke meja makan. Atar lalu membantu Jani menyiapkan sarapan untuk semua karena dia tahu Jani telat menyiapkan sarapan karena dirinya. Setelah sarapan siap mereka semua lalu sarapan pagi bersama.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2