Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Krisis kepercayaan


__ADS_3

Sesuai pada rencana awal Atar berniat pergi ke Banyuwangi untuk mencari informasi tentang Raisa dan bayinya. Setelah mengantongi izin dari Jani untuk pergi ke Banyuwangi selama beberapa hari, dia pun berpamitan pada keluarganya dengan alasan ada pekerjaan diluar kota untuk beberapa hari.


Tanpa Atar dan Jani tahu Raisa sudah mengetahui rencana mereka kemudian dia bersikaf tak tahu apa-apa karena dia sendiri sudah mempunyai rencana untuk menghalangi Atar agar bisa mengungkap kebenaran.


Setelah Atar pergi, Raisa yang menggendong bayinya lalu pergi ke kamarnya untuk segera menelepon orang suruhannya agar menghalangi niat Atar untuk mengungkap kebenaran. Sementara Jani yang tak mau tinggal dirumah bertiga dengan Raisa dan bayinya, lebih memilih pergi mengunjungi orang-orang panti. Dan ketika malam hari dia akan membawa kedua anaknya untuk menginap dirumah Hadi.


DiBanyuwangi


Meski perjalanan yang amat jauh dia tempuh dan tak mempedulikan rasa lelahnya karena dia ingin segera masalah ini berakhir dengan hasil yang memuaskan hatinya, sesampainya di Banyuwangi Atar segera mendatangi kediaman orang tua Raisa.


Sesuai permintaan Raisa, orang tua Raisa berpura-pura kaget aku kedatangan Atar kerumahnya. Mereka juga berpura-pura tidak tahu maksud kedatangan Atar kemari untuk apa? Mereka lalu mempersilahkan Atar untuk masuk dan menyuruhnya untuk duduk di Sofa.


Tanpa berlama-lama Atar segera membahas soal Raisa dan bayinya. Ketika orang tua Raisa ditanya soal keguguran itu mereka menjawab bahwa Raisa memang pernah keguguran.


Jawaban itu tentu saja membuat Atar kecewa tapi dia tak putus asa sampai disitu dia lalu mendesak orang tua Raisa untuk berkata jujur tentang ayah kandungnya Alif dan sesuai kesepakatan ibunya Raisa dengan Raisa tanpa ragu lagi ibu Raisa langsung menjawab bahwa Alif itu benar-benar anak kandungnya Atar.


Merasa tak puas dengan jawaban yang mereka berikan akhirnya Atar menghentikan menginterogasi orang tua Raisa dan memilih berpamitan pada mereka sebab Atar akan mencari informasi lain dari para tetangganya Raisa dengan berharap jawaban dari mereka tidaklah sama seperti jawaban orang tua Raisa.


Disekitar rumah Raisa Atar mencari orang yang sekiranya bisa ditanyai soal Raisa dan bayinya. Orang suruhan Raisa langsung bergerak, dia berpura-pura lewat didepan Atar. Tentu saja Atar yang tak menaruh curiga apa pun pada orang itu langsung mengorek informasi darinya.


Tapi yang didapat tak sesuai ekpetasinya, orang itu juga memberi jawaban yang sama seperti orang tua Raisa. Setelah berbincang cukup lama orang itu lalu pergi dan dari kejauhan dia terus memperhatikan gerak-gerik Atar.


Tapi nampaknya pria tampan itu sudah putus asa untuk mencari kebenaran di Banyuwangi. Dia terduduk dibangku yang ada dipinggir jalan dengan lemas sambil menunduk penuh kekecewaan.


"Ya Allah, aku harus bagaimana lagi untuk membuktikan kalau aku tak bersalah? Semua yang kubisa sudah kulakukan untuk mencari bukti kalau Alif bukan anak kandungku karena aku yakin aku memang tidak pernah tidur sama Raisa" batin Atar kecewa.


Atar lalu menarik nafas dalam-dalam agar dia bisa lebih tegar lagi menghadapi fitnah yang sedang menjerumuskannya pada kehancuran rumah tangganya dengan Jani. Diedarkannya pandangan matanya ke sekeliling tempat itu, semua seakan membisu dan tak mau memberi Atar secercah harapan yang bisa meloloskannya dari fitnah ini.


"Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku harus mengatakan apa pada Jani kalau disini aku tak mendapat bukti apa pun? Apa aku menyerah saja dan mengakui kalau Alif itu anak kandungku? Ah! Tapi aku tak bisa melakukan itu karena aku sangat yakin aku tak pernah melakukan hubungan itu dengan Raisa dan Alif bukan anak kandungku" batin Atar terus berperang untuk menolak kenyataan yang terpampang nyata dihadapannya.


Dengan berat hati akhirnya Atar memutuskan untuk kembali pulang ke Bogor.


...****************...


DiBogor


Satu harian penuh dia berada di perjalanan dan Atar baru sampai dirumahnya pada malam hari dimana semua orang sudah terlelap tidur. Satu jam sebelum Atar pulang, Raisa masih terjaga dari tidurnya dia mendapat kabar dari orang suruhannya kalau Atar akan pulang malam ini.

__ADS_1


"Ah! Kebetulan sekali mbak Jani nginep dirumah bapaknya dan mas Atar akan pulang malam ini. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan tidur dikamar dia agar bisa tidur sama mas Atar" ucap Raisa kegirangan.


Untungnya bayinya sudah tidur dan dia jarang terbangun dimalam hari jadi Raisa bisa dengan leluasa melancarkan rencana liciknya, dia pun segera tidur dikamar Jani dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut kemudian dia mematikan lampu kamarnya.


Atar yang baru sampai dirumahnya lalu segera masuk kekamar tanpa membangunkan orang rumah karena dia tak mau mengganggu tidur mereka. Saat melihat seseorang tertidur ditempat tidur dengan lampu kamar yang sudah dimatikan dia berpikir itu adalah Jani padahal dia adalah Raisa.


"Sepertinya Jani sudah tertidur pulas, aku tak mau membangunkannya. Sebaiknya aku segera mandi lalu pergi tidur karena badan ini sudah terlalu lelah setelah menempuh perjalanan amat jauh" gumam Atar.


Dia segera mengambil pakaian kemudian pergi mandi. Beberapa menit kemudian dia baru selesai mandi dan Atar langsung pergi tidur. Dia meringkuk menghadapi tubuh yang ditutupi selimut itu. Matanya masih belum terpejam, dia menatap tubuh dibalik selimut yang bayangan siluetnya terlihat meringkuk membelakangi Atar.


"Jani, maafkan aku karena selalu membuatmu terluka, maafkan aku yang tak bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Tapi, sungguh aku sangat menyayangimu dan anak-anak kita, aku tak mau kita berpisah karena masalah ini, semoga hati kamu tetap kuat untuk tetap menerima segala kekurangan dan kesalahanku ya, Jani. Aku sangat mencintai kamu, Jani" batin Atar sedih.


Dia lalu mulai memejamkan matanya dengan memeluk tubuh dibalik selimut yang dikiranya dia itu adalah Jani padahal dia adalah Raisa. Raisa yang saat itu belum tertidur tentu amat senang karena dia bisa tidur dengan Atar dengan posisi tubuhnya dipeluk oleh Atar dari belakang.


Pagi hari kemudian.


Jani dan anak-anak kembali pulang setelah menginap dirumah Hadi karena hari ini Atar akan pulang jadi Jani pun kembali pulang kerumahnya. Dirumah Shabira dan Jidan yang hari ini libur sekolah karena hari ini hari minggu lalu mereka pergi kekamar masing-masing. Sementara Jani pun pergi kekamarnya, wanita cantik itu lalu membuka handle pintu kamar.


Ceklek!


"Atar!" seru Jani langsung bergetar hebat.


Atar yang baru terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Jani langsung membuka mata dan melihat istrinya sedang berdiri diambang pintu kamar sambil menatapnya dengan penuh kemarahan.


"Jani?! Kamu udah bangun? Kalau kamu disana lalu yang tidur bersamaku siapa?" tanya Atar, perasaannya mulai tak enak.


Atar lalu melirik ke seseorang yang semalam tidur dengannya.


"Ra... Raisa? Ba.. bagaimana bisa kamu ada disini?" Atar mendelik kaget ketika melihat seseorang yang tidur dengannya itu adalah Raisa.


Sementara Raisa yang mendengar kegaduhan baru terbangun. Dengan santainya dia lalu duduk dan menyapa Atar sambil tersenyum.


"Eh! Mas Atar, sudah bangun ya. Gimana apa tidurmu nyenyak setelah semalam kita bermain permainan yang amat panas?" tanya Raisa dengan senyuman ganjennya.


Jani yang sudah tak tahan melihat pemandangan itu tak terasa meneteskan air matanya karena pemandangan ini amat menusuk hatinya. Seketika Atar jadi panik dan dia takut Jani akan marah padanya padahal semalam Atar hanya tidur saja tanpa melakukan apa pun dengan Raisa.


Jani lalu pergi meninggalkan mereka karena sudah tak kuat melihat suaminya tidur dengan Raisa. Atar segera membuka selimut dan berlari mengejar Jani. Sementara Raisa tersenyum senang melihat pertengkaran mereka yang sebentar lagi akan terjadi.

__ADS_1


Jani terus menangis disepanjang jalan yang dilaluinya tanpa menoleh kebelakang, padahal Atar terus mengejar dan memanggil namanya agar Jani menghentikan langkahnya. Tapi Jani tak menggubrisnya. Karena Jani tak menggubrisnya, Atar segera mempercepat langkahnya untuk menghentikan Jani hingga dia berhasil menyusul langkah Jani dan menghentikannya.


"Jani, kamu harus mendengar penjelasanku apa yang kamu lihat tak seperti yang kamu pikirkan" ucap Atar sambil menahan tubuh Jani untuk tidak pergi.


"Penjelasan apa lagi, semua itu sudah sangat jelas bagiku, kamu sudah melanggar perjanjian kita, kamu meniduri wanita itu"


"Iya aku memang tidur sama Raisa semalam tapi aku berani bersumpah apa yang Raisa katakan itu tidak benar kami tidak melakukan hubungan itu, aku hanya tidur dengannya karena aku pikir dia adalah kamu sebab dia tidur dikamar kita" ucap Atar meyakinkan Jani sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari manisnya membentuk huruf V(✌).


"Oh! Jadi sekarang matamu sudah buta hingga kamu tak bisa membedakan mana aku dan mana Raisa? Dan aku harus percaya begitu saja dengan ucapanmu ketika aku melihat sendiri dengan mata kepalaku kamu tidur dengan wanita itu sambil memeluknya. Sudahlah! Berhenti kamu membohongi aku akui saja kalau Alif itu memang anak kandung kamu, jangan lagi kamu menyangkalnya"


"Aku berani bersumpah demi apa pun, Jani. Aku tidak pernah melakukan hubungan itu dengan Raisa. Ini semua hanya fitnah tolong percayalah padaku, Jani" Atar memelas.


"Oke aku akan percaya sama kamu tapi apa kamu bisa membuktikan kalau Alif bukan anak kandungmu? Mana bukti yang kamu temukan di Banyuwangi agar aku bisa percaya padamu" pinta Jani.


Tapi Atar hanya diam membisu sambil menunduk karena kepergiannya ke Banyuwangi tak membuahkan hasil apa pun, dia jadi bingung harus berkata apa pada Jani ditambah krisis kepercayaan Jani pada Atar sedang di uji gara-gara kecerobohan Atar yang malah tidur bersama Raisa semalam, meski dia tak melakukan apa pun tapi itu tak bisa membuat Jani percaya begitu saja pada dirinya setelah Jani melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Atar tidur dengan Raisa sambil memeluknya.


"Sudahlah Atar! Aku sudah cape hidup seperti ini. Kamu pikir mudah bagiku untuk bisa hidup dengan tinggal satu rumah dengan maduku? Sakit hatiku Atar, hatiku amat sakit. Apa kamu tahu itu? Apa kamu bisa memahami perasaanku? Aku sudah tidak kuat lagi lebih baik kita sudahi saja semua" ucap Jani sambil meneteskan air matanya.


"Maksud kamu apa menyudahi semua ini?"


"Bapakku ingin aku bercerai dari kamu karena bapak tak mau melihat aku terluka. Awalnya aku ingin bertahan karena aku percaya sama kamu tapi sekarang kamu membuatku berhenti untuk percaya lagi sama kamu, jadi kita akhiri saja semua ini"


Atar benar-benar tak bisa menerima dengan ucapan Jani, tentu saja dia terus menolak keinginan Jani untuk mengakhiri semua ini tapi Jani pun tetap pada pendiriannya hingga perdebatan itu kembali mencuat.


"Berhenti! Aku tak mau berdebat lagi dengan kamu, aku cape. Sebaiknya kamu kembali pulang aku butuh waktu untuk sendiri, aku tidak mau diganggu oleh kamu jadi kamu jangan mengikuti aku lagi" tegas Jani.


Atar pun tak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Jani lalu dia membiarkan Jani untuk pergi agar pikiran dia mendinginkan pikirannya supaya tak salah mengambil keputusan dalam masalah mereka.


"Oke aku juga tak mau kita terus berdebat, aku akan membiarkan kamu sendiri tapi kamu akan pergi kemana? Aku tak mau kamu lama-lama menghindariku jadi aku harus tahu kamu akan pergi kemana agar jika kamu tak pulang-pulang kerumah, aku bisa menyusul kamu"


Jani tak langsung menjawab dia lalu menyeka air matanya kemudian berkata, "Aku akan pergi kerumah bapak, aku akan menyendiri disana"


"Baiklah, aku berharap kamu tak pergi jauh dan benar-benar pergi kerumah bapak"


Jani tak berkata apa pun lagi setelah itu dia pergi dan Atar tak menghalanginya lagi, dia membiarkan Jani pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2