
Halo semua para readers dan author terkasih dapat surat undangan pernikahan nih dari Rinjani dan Rafatar, jangan lupa datang ya bawa hadiah pernikahan juga buat Rinjani dan Rafatar dengan meninggalkan jejak Like, komen, vote, hadiah, rate, follow authornya dan tonton iklannya ya๐ฅฐ๐๐ค๐
๐น๐น๐น๐นIni foto prewedding nya๐น๐น๐น๐น
๐น๐น๐น๐นIni surat undangannya๐น๐น๐น๐น
Ditunggu kehadirannya ๐๐๐
๐น
๐น
๐น
Sebuah mobil berhenti tepat di halaman sebuah rumah sederhana, tak lama kemudian mereka keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam. Didalam sudah ada keluarga Jani dan anak-anaknya, setelah memberi salam mereka lalu bergabung dengan keluarga Jani.
"Atar, Jani, Gimana akad nikahnya? Jam berapa penghulunya bisa datang?" tanya Hadi yang saat itu sedang duduk lesehan dilantai dengan beralaskan tikar bersama Shabira, Jidan dan Toriq.
Mereka tak menjawab Atar malah memberikan dua buku berwarna merah dan hijau tua pada Hadi. Hadi langsung membuka dan membaca nama yang tertera di buku nikah itu.
"Maksudnya apa ini, kenapa foto dan nama kalian ada dibuku akte nikah ini?" tanya Hadi kebingungan.
"Maafkan kami sebelumnya pak, ternyata aku sama Jani memang sudah menikah dan kami tidak pernah bercerai" jawab Atar semakin membuat Hadi bingung.
"Menikah? Kapan? Bagaimana bisa?" tanya Hadi makin bingung dan penasaran.
"Pernikahan itu terjadi ketika kami sedang menghadapi ujian sekolah SMA, kejadiannya sebelum Jani menghilang dari vila" jawab Atar.
Kemudian dia menceritakan soal penggerebekan dikontrakan milik si preman hingga mereka dipaksa menikah oleh satpolpp, karena saat itu Jani dan Atar belum siap menyandang status sebagai suami istri akhirnya mereka merahasiakan itu dan melupakannya hingga pernikahan itu baru terungkap sekarang.
Tentu saja cerita Atar ini membuat semua shock karena tidak menyangka.
"Jadi pak, kalau kita mengadakan acara pernikahan paling cuma resepsinya doang karena tidak akan ada ijab kabul sebab kami sudah melakukan itu 10 tahun lalu. Maafkan aku pak, karena tidak menceritakan ini pada bapak. Jadi menurut bapak soal rencana pernikahan kita gimana, karena penghulunya tidak akan datang kesini sebab nama kami sudah terdaftar di KUA" tanya Jani.
Sebenarnya hati Hadi amat sedih sebab dia tidak bisa menjadi wali dan tidak bisa menghadiri acara sakral pernikahan putrinya tapi mau apa lagi kalau kejadiannya sudah seperti ini, Hadi harus bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Hadi lalu menatap Atar dengan amat sedih dan menyesal kemudian Hadi memeluk Atar sambil terisak.
"Atar, maafin bapak ya, karena bapak sudah menyalahkan kamu atas apa yang terjadi sama Jani hingga mencekikmu karena bapak sangat marah putri kesayangan bapak harus mengandung anak kamu. Kalau bapak tahu kalian sudah menikah bapak tidak akan menyalahkan kamu. Kamu ini suaminya Jani jadi wajar kalau kamu punya anak dari Jani. Maafin bapak ya Atar, bapak sangat menyesal" lirih Hadi tak henti-hantinya terisak penuh sesal.
"Iya Pak, aku sudah memaafkan bapak lagian ini bukan salah bapak sebab aku tidak menceritakan pada semua kalau aku dan Jani pernah menikah" ucap Atar seraya mengulas senyuman ramah pada bapak mertuanya.
__ADS_1
Hadi lalu melepaskan Atar dan mengucapkan banyak terimakasih karena dia sudah memaafkan kesalahan Hadi. Atar lalu menatap putrinya lalu memegang kedua tangan Shabira.
"Shabira, maafin ayah dan bunda ya, karena kami, kamu pasti bingung. Maafin ayah karena sudah membuatmu seperti anak yang tak diharapkan padahal semua itu tidak benar, sekarang kamu jangan sedih lagi ya, karena apa yang diucapkan orang tentangmu yang katanya kamu ini anak haram itu tidaklah benar, kamu bukanlah anak yang lahir diluar nikah karena ayah dan bunda sudah menikah saat kamu ada. Kamu jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya"
Gadis kecil itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Atar juga menceritakan soal pernikahannya yang terjadi 10 tahun lalu pada keluarganya, sama halnya seperti keluarga Jani, keluarga Atar pun sangat kaget dengan kenyataan ini. Ketika Atar bercerita soal ini pada orang tuanya diam-diam Dion mendengar pembicaraan mereka.
Ada perasaan bersalah dihati Dion pada Atar karena dia menyalahkan Atar dan menganggapnya sebagai pencoreng nama baik keluarga tapi dia enggan untuk meminta maaf sebab Dion belum berdamai dengan Atar meski sikapnya kini lebih legowo pada Atar.
...****************...
Hari yang telah dinantikan kini telah tiba, meski Atar dan Jani tidak akan melakukan ijab kabul tapi mereka akan tetap melaksanakan resepsi pernikahan karena undangan sudah disebar dan persiapan pestanya pun sudah disiapkan.
Dari subuh Jani sudah di make up oleh MUA, meski Jani dan Atar sudah resmi menjadi sepasang suami istri tapi Jani merasa amat gugup untuk menghadapi hari ini padahal dia hanya akan duduk dipelaminan bak ratu dan raja bukan untuk melakukan akad nikah yang selalu berhasil membuat sepasang insan merasa gugup dan tegang saat ikrar suci itu dilafazkan.
Ditempat berbeda.
Azka masih menatap surat undangan pernikahan Atar dan Jani, hatinya merasa ragu untuk datang ke acara itu karena hati Azka pasti sakit melihat wanita yang dicintainya bersanding dengan pria lain diatas pelaminan ditambah dirinya belum berdamai dengan Atar.
Tapi disisi lain Azka penasaran apakah acara ijab kabulnya akan berjalan lancar atau tidak. Sebenarnya sekarang Azka sudah berpakaian rapih dengan setelan jasnya untuk datang menghadiri pesta pernikahan Atar dan Jani tapi hati dan pikiran Azka masih saja berperang untuk mempertahankan ego masing-masing.
"Ah! Aku tak bisa diam terus disini aku penasaran pengen datang ke acara pernikahannya Atar dan Jani" gumam Azka.
Saat Azka sedang mindik-mindik karena dia tak mau kedatangannya ke acara pernikahan itu diketahui oleh Atar dan Jani sebab dia hanya ingin melihat acaranya saja tanpa akan menemui kedua mempelai, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang mendarat di bahunya, sontak Azka jadi kaget. Dia lalu menoleh kebelakang untuk melihat si pemilik tangan itu, rupanya tangan itu milik Jho yang saat itu diikuti oleh Gio.
"Kamu lagi apa disini katanya kamu gak akan datang ke acara pernikahan Atar dan Jani?" tanya Jho.
"Se-sebenarnya aku malas datang kesini tapi kan sebagai seorang muslim yang baik jika mendapat surat undangan kita wajib datang tapi meski begitu aku tidak akan mengucapkan selamat pada mereka karena aku tidak akan menemuinya. Kalau kalian sendiri ngapain kesini? " alibi Azka yang masih merasa gengsi.
"Ya sama, aku juga kaya kamu karena aku juga mendapatkan undangan pernikahan dari Atar dan Jani, tapi aku juga tidak akan mengucapkan selamat pada mereka" jawab Jho yang juga masih merasa gengsi untuk mengakui kalau dia ingin hadir di acara pernikahan Atar dan Jani.
"Iya aku juga sama seperti kalian" tambah Gio.
Mereka bertiga masih merasa gengsi padahal dalam hati sudah ada keinginan untuk memaafkan Atar tapi mereka mencoba menepisnya karena perasaan gengsi yang lebih mendominan dihati mereka.
Ketika acara akad nikah tak kunjung dilaksanakan, ketiga pria itu yang penasaran lalu menanyakan soal akan nikahnya dimulai pukul berapa pada salah satu tamu undangan.
"Mas, mas saya mau nanya dong?" ucap Gio.
"Iya ada apa mas?"
"Ini acara ijab kabulnya kapan ya ko gak mulai-mulai?"
__ADS_1
"Yang saya denger sih mereka tidak akan melakukan ijab kabul karena mereka sudah menikah 10 tahun lalu dan ini cuma acara resepsinya doang"
"Apa! Sudah menikah 10 tahun lalu?" serempak ketiga pria itu tercengang kaget.
"Sudah menikah gimana maksudnya mas?" tanya Gio.
"Entahlah, lebih baik kalian tanya saja kepada mempelai pengantinya langsung"
Karena merasa penasaran akhirnya ketiga pria tampan itu yang tadinya tak berniat untuk menemui pengantin, akhirnya mereka menemui Atar dan Jani juga. Atar dan Jani merasa amat senang ketika melihat kedatangan mereka.
"Jho, Azka, Gio, aku senang banget kalian mau datang ke acara pernikahan kami" ucap Atar dengan mata yang berbinar-binar seraya menyambut mereka.
Tapi ketiga pria itu tak merespon Atar, mereka hanya menatap Atar dengan penuh tanda tanya.
"Ada yang bilang kalau hari ini kalian tidak melakukan ijab kabul karena kalian sudah menikah 10 tahun lalu. Maksudnya apa itu? Kenapa kami tidak pernah tahu kalau kalian pernah menikah?" tanya Gio tanpa basa basi lagi.
Atar menunduk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum dia menjawab pertanyaan Gio.
"Itu benar aku dan Jani memang pernah menikah saat kita masih SMA lebih tepatnya saat kita menghadapi ujian kelulusan SMA. Tapi, aku dan Jani merahasiakan itu dan melupakannya sebab saat itu kami tak siap menyandang status sepasang suami istri" tutur Atar.
Kemudian dia menceritakan bagaimana dia bisa menikah Jani hingga Jani menjadi istri sahnya Atar. Seketika lutut ketiga pria itu jadi lemas setelah mendengar penuturan dari Atar. Mereka mulai merenung apa yang selama ini terjadi.
"Jadi selama ini kami malah mencintai istri kamu?" tanya Azka yang kemudian diberi anggukan oleh Atar.
"Jadi selama ini kami malah membenci dan menyalahkan seorang suami yang sudah menghamili istrinya?" tanya Jho.
Kali ini Atar tak menjawab dia malah menunduk murung sambil menelan salivanya. Gio lalu menyentuh bahu Atar hingga dia mengangkat kembali wajahnya untuk menatap Gio.
"Atar, kami minta maaf karena malah mencintai istrimu, kami minta maaf karena sudah menyalahkanmu atas semua yang terjadi" ucap Gio dengan tulus.
Atar lalu tertawa sambil berkata, "Hahaha...iya, tidak apa-apa aku sudah memaafkan kalian ko. Aku tahu istriku memang sangat cantik makannya kalian naksir dia kan"
Ucapan Atar itu membuat Jani langsung menatapnya dengan tatapan datar, seolah wanita cantik itu sedang berbicara dalam hatinya.
"Apa kamu pikir ini lucu?" tanya Gio yang tak ingin tersenyum pada Atar karena ucapannya itu.
"Apa aku salah menjawab?" tanya Atar dengan wajah polosnya.
Tiba-tiba ketiga pria itu memeluk Atar sambil terisak. "Atar, maafkan atas semua kesalahan kami padamu, kami tahu kamu pasti amat terluka dengan sikaf kami padamu, kamu pasti merasa sakit dan sedih atas semua cobaan yang menimpamu, kami minta maaf Atar" Jho terisak karena merasa amat bersalah pada Atar.
Kemudian Atar merentangkan tangannya lalu memeluk ketiga sahabatnya. Dia sudah memaafkan ketiga sahabatnya itu dan Atar ingin hubungan mereka kembali seperti dulu lagi, tentu saja mereka semua ingin kembali bersahabat seperti dulu lagi.
Bersambung
__ADS_1