Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Kejelasan status


__ADS_3

Sepoi-sepoi angin itu begitu menusuk kepori-pori kulit yang terasa begitu sejuk, hempasan anginnya mampu menggoyangkan ilalang dan rumput yang basah akibat hujan tadi malam, bunga-bunga yang mekar dan menebarkan bau wangi beserta burung-burung yang berkicau kini menjadi saksi bisu akan kegundahan hati gadis kecil itu.


Gadis yang kini tengah duduk di kursi roda seorang diri dengan tatapannya yang terlihat begitu sendu, menggambarkan jelas betapa berkabut nya hati yang kini dirasakannya. Bukan tanpa sebab, dia merasa amat sedih karena kakinya tak bisa berjalan seperti dulu lagi ditambah dia masih terngiang-ngiang akan fakta kelahiran yang kemarin didengarnya.


Sebuah fakta yang begitu amat menusuk hatinya hingga menjadikan itu sebuah tamparan keras direlung hatinya, menyadarkannya ternyata benar apa yang dikatakan oleh banyak orang bahwa panti asuhan itu tempatnya pembuangan anak dan itu membuat Shabira makin sedih atas statusnya sebagai anak.


Seperti dunia akan berakhir detik ini juga begitulah yang dirasakannya, rasa putus asa dan kesedihan yang amat mendalam itu acap kali menggerogoti hati kecilnya yang rapuh, rasa iri yang kadang menguasai jiwanya akan kesempurnaan anak-anak lain yang dianugrahkan sepasang kaki yang sempurna untuk beraktifitas dan sepasang orang tua yang masih lengkap itu membuatnya jadi iri.


"Apakah ini hukuman untuk anak yang sudah menjadi aib bagi orang tuanya seperti aku ini? Apakah aku tidak akan sembuh? Apakah aku akan tetap seperti ini? Kenapa kakiku harus patah? Apakah aku tak bisa lagi memiliki sepasang kaki yang sempurna seperti yang lainnya? Apa aku tak bisa memiliki orang tua yang lengkap? " keluh gadis itu dalam kesendiriannya.


Tanpa dia sadari sudah ada seorang pria yang sedari tadi berdiri di belakangnya tengah menatapnya dengan perasaan iba dan sedih.


"Shabira!" seru Atar.


Suara yang memecah keheningan itu membuat Shabira tercekat kaget, sontak dia langsung melirik ke sumber suara.


"Ayah! Sejak kapan ayah ada disini?" tanyanya dengan sedikit rasa takut karena takut ucapannya tadi didengar oleh sang ayah.


Atar lalu menghampiri putrinya, dia berlutut didepan putrinya disentuhnya dengan lembut kedua pipi gadis kecil itu dengan nada suara pelan Atar berkata sambil terus menatap getir putri semata wayangnya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, sayang? Kata siapa kamu ini aib bagi ayah dan bunda ?"


Shabira yang tadi menatap netral ayahnya kini jadi menunduk murung, gadis kecil itu enggan untuk menjawab pertanyaan sang ayah hingga dia memilih untuk tetap bergeming. Atar mengangkat wajah Shabira agar dia menatap wajahnya.


"Dengarkan ayah! Mulai sekarang kamu tidak boleh mendengarkan apa pun kata orang lain yang akan membuatmu terluka karena ayah tak mau putri cantik ayah ini merasa sedih, berjanjilah pada ayah kamu akan menuruti kata ayah"


Bukannya mengiyakan ucapan Atar, Shabira malah menatap Atar dengan tatapan gusar kemudian dia memalingkan wajahnya dari Atar sebagai bentuk penolakannya yang tak tersirat dengan lisan.


"Baiklah kalau kamu tidak mau menuruti apa kata ayah, satu hal yang harus kamu tahu ayah dan bunda sangat menyayangi kamu, seperti apa pun kamu jangan pernah berpikir kalau kamu ini aib bagi kami, itu tidak benar Shabira karena kamu adalah anugrah terindah bagi ayah dan bunda" ucap Atar penuh keyakinan.


Atar lalu menunduk dengan penuh penyesalan karena sedih melihat putrinya terluka sebab kesalahan yang sudah dibuatnya sepuluh tahu lalu itu.


"Ayah minta maaf karena semua ini adalah kesalahan ayah hingga membuatmu merasa sedih, kalau saja waktu bisa terulang lagi ayah ingin memperbaiki semua ini hingga kamu dan bunda tak merasakan penderitaan ini, jika kamu ingin menghukum ayah karena kesalahan ini. Silahkan hukum lah ayah" lirih Atar dengan penyesalan yang amat dalam.


Melihat kesungguhan sang ayah Shabira merasa iba meski sebenarnya hatinya marah tapi apalah yang bisa dilakukan bagi anak kecil sepertinya untuk mengubah suratan takdir yang sudah digariskan untuknya.


Shabira lalu memasang wajah terjuteknya dan dengan arogannya dia berkata meski sikaf dan hatinya tak sejalan karena dibalik kesalahan orang tuanya ini sebenarnya Shabira masih menyayangi ayah dan bundanya.


"Aku sangat marah pada ayah atas kesalahan bodoh yang sudah ayah lakukan padaku dan bunda, dari itu aku ingin menghukum ayah"


Tentu saja Atar merasa terkejut dengan ucapan Shabira, dia tak menyangka putri kecilnya begitu ingin menghukum dia atas kesalahan yang sudah dibuatnya meski dengan berat hati akhirnya Atar terpaksa menuruti gadis kecil itu.


"Ka.. ka.. lau itu mau kamu... silahkan... silahkan lakukanlah ayah siap menerima hukuman darimu. Hukuman apa yang akan kamu berikan pada ayah?" tanya Atar meragu dengan suara terbata-bata.


Gadis kecil itu melemparkan senyuman smirk pada Atar.


"Kalau begitu aku ingin ayah menikah dengan bunda dan kita tinggal bersama"


Sontak Atar langsung terperanjat kaget dengan apa yang didengarnya, dia pikir putrinya itu akan menghukum dia dengan hukuman apa lah itu, tapi nyatanya Shabira hanya menginginkan kejelasan hubungan antara ayah dan anak.


Dengan adanya pernikahan itu tentu saja akan memperjelas status Shabira sebagai anaknya Rinjani dan Rafatar tapi Atar terus terdiam. Sementara netral Shabira masih menatap Atar, dia masih menunggu jawaban dari ayahnya tentang permintaanya itu. Namun, Atar yang merasa dilema untuk menjelaskan semua ini pada Shabira hanya bisa bergeming sambil menatap sedih putrinya.


Yang bisa terpikir oleh Shabira atas sikaf diamnya Atar adalah Atar menolak permintaannya tanpa Shabira ketahui Atar tak bisa menikahi Jani karena ketiga sahabatnya itu dan bukan karena dia tak ingin menikah dengan Jani.


"Apa ayah menolak permintaanku?" tanya Shabira yang sudah tak sabar mendengar jawaban dari ayahnya karena dia masih setia dalam diamnya.

__ADS_1


Bibir Atar terasa begitu kelu, dia tak tahu harus berkata apa pada putrinya hingga akhirnya Atar hanya bisa menjawab pertanyaan putrinya dengan mimik kegelisahan yang terbingkai diwajahnya.


"Ya sudah kalau ayah tidak mau aku... " kalimat Shabira yang terdengar tidak semangat itu lalu dipotong oleh Atar dengan segera karena Atar bisa menangkap ada kekecewaan besar yang tersirat diwajah polos yang tengah cemberut itu.


"Bu... bukan seperti itu Shabira ayah... " kalimat Atar terhenti karena dia masih ragu akan kalimat yang akan diucapkan pada putrinya itu.


"Ayah kenapa?" Shabira bertanya lagi.


"Ayah... ayah..."


"Ayah apa?" desak Shabira merasa tak sabar dengan kelanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh Atar.


Atar menunduk ragu kemudian dia mengangkat kembali wajahnya sambil menarik nafas panjang.


"Ayah berjanji akan menikah dengan bundamu dan kita akan tinggal bersama"


Akhirnya kalimat itu berhasil lolos dari mulutnya meski tadi sempat dilanda keraguan. Seketika Shabira langsung mengulas senyuman dibibirnya, matanya berbinar-binar karena senang. Gadis kecil itu lalu mengacungkan jari kelingkingnya pada Atar.


"Janji ya ayah tidak akan membohongiku?"


Meski Atar tak yakin akan janjinya tapi dia terpaksa mengiyakan agar putrinya merasa senang. Akhirnya Shabira mengulas senyuman senang karena impiannya yang ingin memiliki keluarga yang lengkap bisa terwujud. Setelah itu mereka berbincang kembali. Tapi tiba-tiba Shabira menunjukan mimik wajah yang tak semangat kembali.


"Ko kamu murung lagi, kenapa? Apa ada lagi keinginanmu yang belum terwujud?" tanya Atar sambil terus menatap lekat putrinya.


Dia tak mengucapkan secara lisan apa lagi keinginannya yang belum terkabul, dia hanya menatap kakinya yang tak bisa berjalan. Cukup lama Atar bisa memahami maksud keinginan putrinya, dia yang terus bergelud dalam kebingungannya sendiri mencoba menerka dalam kegelisahannya hingga Atar mulai menebak.


"Apa karena kakimu kamu jadi murung?"


Shabira lalu menatap Atar kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan mimik wajah sedih. Atar menarik garis lengkung disudut bibirnya.


"Tapi kapan aku bosen duduk terus dikursi roda?"


Sejenak Atar berpikir lalu dia mengacungkan jari telunjuknya sambil berkata "Ahaa...! Ayah tahu, agar putri cantik ayah tidak sedih lagi bagaimana kalau...."


Atar sengaja menggantung kalimatnya agar gadis kecil itu penasaran.


"Kalau apa?"


"Bagaimana kalau ayah jadi kaki buat kamu"


"Maksudnya gimana aku tidak mengerti"


Atar lalu menjelaskan maksudnya dengan jelas bahwa dia bersedia jadi kaki buat Shabira agar putri kesayangannya itu tidak sedih lagi, jadi kemana pun Shabira ingin pergi Atar akan siap mengantarnya pergi tanpa harus menggunakan kursi roda karena Atar akan menggendong putrinya.


"Nah! Gimana apa kamu setuju jika ayah jadi kaki buat kamu?"


Shabira yang merasa ragu lalu meyakinkan dirinya dengan bertanya pada Atar.


"Kemana pun aku mau pergi ayah bersedia mengantarku?"


Atar tersenyum sambil mengangguk pertanda mengiyakan pertanyaan Shabira.


"Kapan pun aku mau pergi"


"Iya ayah bersedia, kamu mau jalan-jalan ayah bersedia mengantarkanmu pergi, mengantarmu kesekolah, menunggumu hingga pulang sekolah dan masih banyak lagi pokoknya ayah akan selalu ada untukmu?"

__ADS_1


"Kalau begitu bagaimana dengan pekerjaan ayah kalau ayah terus mengantarkan kemana pun aku pergi?"


"Itu tidak masalah karena ayah bisa melakukannya dimana pun dan diwaktu yang senggang jadi kamu mengizinkan ayah kan buat jadi kaki buatmu?"


Shabira lalu mengangguk sambil tersenyum setelah itu Atar mengajak Shabira jalan-jalan berkeliling dikebun teh mumpung suasananya masih pagi sekalian mencari udara segar sambil memanjakan mata dengan memandang lukisan alam yang terbentang luas dengan indahnya.


Ayah dan anak itu terlihat sangat amat bahagia menikmati kebersamaan mereka, kebahagian itu terlihat diwajah mereka yang terus berseri-seri dengan gelak tawa renyah yang terdengar begitu senangnya mereka.


Ditempat lain.


Rinjani tengah berjalan sendirian menuju rumah makan milik Pak Husen karena Jani akan membantu Pak Husen melayani pembeli dirumah makan itu, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Azka yang sedang lari pagi untuk kebugaran jasmaninya.


"Janiiii...!" sapa Azka setengah berteriak agar wanita itu menghentikan langkah kakinya.


Jani menoleh kebelakang dilihatnya Azka tengah mendekatinya sambil berlari.


"Hi Jani, selamat pagi" sapa Azka lagi dengan senyuman termanisnya.


Jani hanya membalas dengan melempar senyuman pada Azka.


"Kamu mau kemana?" tanya Azka.


"Aku mau kerumah makan mau bantuin bapak, kamu sendiri habis dari mana mau kemana?"


"Aku abis jogging sambil cari udara seger, kita bareng yuk kerumah makannya soalnya aku mau sekalian sarapan, tadi di Vila nggak ada yang masak soalnya bahan makanannya udah habis belum belanja lagi jadi aku, Jho, Gio dan Atar nyari sarapan diluar masing-masing"


"Owh...mau sarapan ya udah. Ayo! Kita pergi bersama"


Jani dan Azka lalu pergi bersama, ditengah perjalanan mereka tak sengaja melihat Atar yang lagi gendong Shabira sedang asyik berjalan-jalan.


"Eh! Jani, bukan itu Atar sama Shabira" tunjuk Azka keatas undakan tanah yang ditanami teh yang letaknya ada diatas jalan tempat Jani dan Azka berjalan.


"Lah iya ya, ku pikir Shabira sama Jidan karena tadi tidak ada dirumah ternyata dia pergi sama Atar. Kapan Atar ke panti ya ko aku nggak tahu sih?" kata Jani sambil menatap Atar dan Shabira yang terlihat sangat riang gembira.


Azka dan Jani lalu menatap lekat kebahagian ayah dan anak itu dibawah sana tanpa sepengetahuan Shabira dan Atar.


"Sepertinya Shabira sangat bahagia bersama si Atar ya" celetuk Azka tanpa mengalihkan pandangannya dari Atar dan Shabira.


Jani tak menjawab dia hanya melirik kearah Azka sebentar kemudian dia kembali menatap Atar dan Shabira. Ada perasaan senang dihati Jani melihat putrinya bisa tersenyum bahagia akan kedekatannya dengan sang ayah.


"Syukurlah akhirnya si Atar bisa juga jadi ayah yang baik buat Shabira meski tanpa harus menikah dengan kamu, Jani" ujar Azka sambil menatap Jani.


Wanita itu tak memberi komentar apa pun meski entah kenapa ada rasa ketidak relaan dihatinya atas perkataan dari Azka. Tiba-tiba pria itu tersenyum simpul pada Jani sambil berkata.


"Aku kira Atar gak akan bisa jadi ayah yang baik bagi Shabira karena dia itu sangat payah, tidak mengerti apa pun soal mengurus dan memperlakukan anak gadisnya yang agak sensitif"


Jani terus menjadi pendengar setia Azka tanpa mau berkata apa pun karena dia tahu dia tidak boleh sembarangan berucap hingga membuat hati Azka terluka, bahkan Jani lebih memilih mengikuti garisan takdirnya dari pada menuruti keinginan hatinya yang akan membuat banyak hati terluka.


"Kamu tahu gak Jan, si Atar itu ya kalau di Vila cerewetnya minta ampun, dia suka nanyain ini itu soal mengurus anak, soal jadi ayah yang baik untuk Shabira pada aku, Jho dan Gio padahalkan kami juga belum berpengalaman jadi seorang ayah. Tapi meski begitu kami gak bego-bego amat kaya si Atar yang benar-benar polos" sejenak Azka mengambil jeda di ucapannya dan tak berapa lama dia kembali melanjutkan kalimatnya.


"Coba bayangin aja sama kamu, si Atar nanya kira-kira anak umur sembilan tahun itu kalau sekolah kelas berapa ya? Masa kaya gitu aja harus ditanyain, pikir aja pake logika biasanya kan anak kelas satu itu umurnya tujuh tahun berarti kalau umur sembilan tahun itu tinggal ngitung aja sendiri gak usah pake ditanyain segala" tutur Azka menceritakan soal Atar.


Mendengar itu membuat Jani jadi tepuk jidat. Sebenarnya Jani sudah tahu Atar itu tak bisa peka terhadap anaknya sendiri hingga Jani pernah merasa bingung otaknya Atar di penuhi apaan hingga hal sepele pun dia tidak bisa tahu. Dan pada akhirnya Jani hanya bisa geleng-geleng kepala.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2