Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Pergi


__ADS_3

Mentari siang ini bersinar begitu terang dan hangat beda halnya dengan suasana hati Atar yang terus mendung hingga dia tak bisa konsentrasi membuat desain bangunan.


Sudah banyak kertas yang dicoret-coretnya karena menurutnya kurang menarik, dia lalu membuang dan menggantinya dengan yang baru hingga kertas-kertas itu berserakan disekitar Atar.


"Akh! Kenapa tak ada ide bagus sih diotakku" keluhnya mulai putus asa.


Atar lalu melempar alat menggambarnya karena kesal. Tiba-tiba Shabiara datang dan langsung memungut alat-alat menggambar milik Atar. Gadis kecil itu lalu duduk disamping Atar kemudian memberikan papan alas untuk menjepit kertas gambar Atar pada ayahnya.


"Kalau ayah sedang tidak punya ide untuk menggambar, ayah jangan marah-marah. Sepertinya ayah butuh istirahat makannya pikiran ayah buntu. Berhentilah sejenak lalu cari suasana segar untuk menyegarkan pikiran" saran Shabira.


Atar yang baru menyadari kehadiran Shabira lalu melirik kearahnya, dia sunggingkan senyuman simpul dibibirnya pada gadis kecil itu untuk menutupi beban pikiran yang tengah dipundaknya sendirian.


"Kamu mau apa datang kesini?" tanya Atar.


"Emang ada larangannya aku tidak boleh datang kesini?" ucapnya dengan cuek.


Atar tersenyum sambil mengelus pucuk kepala putrinya batinnya berkata "Kenapa anak ini malah mengikuti gaya bicaraku?"


Lalu mereka saling diam untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya Atar berkata.


"Tumben kamu nggak sama Jidan, dia kemana?"


"Gak tahu" jawabnya singkat.


"Gimana sekolah kamu? Apa kamu memerlukan sesuatu? Kata kan saja pada ayah kalau ayah bisa ayah akan memberikannya"


"Semuanya lancar. Aku sedang tak memerlukan apa-apa" jawab Shabira.


Tanpa mereka sadari Jidan datang dari belakang mereka tapi dia tak langsung menyapa dan bergabung dengan mereka karena Jidan tak mau mengganggu waktu kebersamaan Shabira dan ayahnya. Dia hanya mengintip dibalik semak-semak sambil menguping pembicaraan mereka.


"Ayah apa aku boleh bertanya?" tanya Shabira dengan wajah datar.


"Ya tentu saja boleh, emang kamu mau nanya apa?"


"Jika proyek pembangunan ini sudah selesai apa ayah akan tetap tinggal disini?"


Atar lalu menjawab sambil melontarkan senyuman pada putrinya.


"Tidak sayang, ayah harus kembali pulang disini bukan rumah ayah. Ditempat yang jauh sana masih ada keluarga ayah yang menanti ayah. Ada kedua orang tua ayah dan satu kakak ayah"


Seketika Shabira jadi murung dia lalu menunduk sedih dengan lirih dia kemudian bertanya.


"Apa itu artinya kita tidak akan pernah bertemu lagi?"


Melihat ada kegundah gulanaan di wajah polos itu Atar segera berdiri lalu dia merogoh dompet disaku celananya setelah itu dia melempar jauh dompetnya kebawah undakan tanah dikebun teh itu. Shabira hanya menatap heran prilaku ayahnya.


"Kenapa dompetnya dibuang?" tanya Shabira kebingungan.

__ADS_1


"Nanti ayah akan ambil kembali"


"Kalau mau diambil lagi kenapa dibuang" Shabira masih tak mengerti.


"Teman-teman ayah iseng banget, masang penyadap didompet ayah biar pembicaraan ayah didengar oleh mereka" jawab Atar lalu kembali duduk disamping Shabira.


"Sudah ya kamu jangan pikirkan soal dompet lagi. Ayah cuma ingin kamu tahu, ayah tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, ayah akan selalu ada untuk kamu tapi karena nanti ayah harus kembali pulang, Apa kamu bersedia ikut pulang bersama ayah? Ayah ingin memperkenalkan kamu pada nenek, kakek dan om kamu?"


"Apa bunda juga akan ayah ajak?"


Mendengar pertanyaan Shabira, Atar langsung menunduk sedih. Bukannya dia tak ingin mengajak Jani pulang dan tinggal bersama tapi kalau dia melakukan itu lalu apa nanti kata Jho, Gio dan Azka? Tapi karena dia tak ingin putrinya dibebani oleh masalahnya jadi Atar mengiyakan pertanyaan Shabira.


"Tentu saja bunda kamu akan ayah ajak hanya saja saat ini ayah belum bisa melakukannya karena ada hal yang harus ayah selesaikan dulu jadi ayah mohon pengertian kamu ya"


"Iya ayah, kalau ayah mau mengajak bunda juga aku mau ikut pulang dengan ayah" ucap Shabira sambil tersenyum senang.


Atar lalu memeluk putrinya. Disisi lain Jidan masih setia menguping pembicaraan mereka. Tiba-tiba dia mengepalkan kedua tangannya dengan kesal.


"Shabira pembohong! Aku kecewa sama kamu Shabira!" batin Jidan amat kesal kemudian dia pergi.


...****************...


Sore hari kini telah tiba, keempat pria itu baru sampai di vila setelah bekerja seharian. Ketika hendak pergi kekamar masing-masing tiba-tiba handphone Atar bergetar.


Drrrreeetttttt...Drrrreeeetttt...Drrreeeetttt...


"Ada apa Atar?" tanya Azka ketika Atar menutup teleponnya.


"Pak Wilyam nanyain soal pembangunan castil itu" jawab Atar.


"Kan kita masih ada masalah dengan lahannya lalu gimana dong?"


"Aku juga nggak mungkin tega kalau harus ngegusur paksa mata pencarian orang-orang panti makannya dari itu aku mau mencoba membujuk pak Wilyam dengan memberi alternatif lain, tapi untuk membahas soal itu aku harus ketemu sama pak Wilyamnya langsung biar ngobrolnya enak. Sedangkan beliau tidak bisa menemuiku disini jadi terpaksa aku harus pulang dulu ke Bogor buat meeting sama pak Wilyam" tutur Atar.


"Ya udah, kamu pulang aja dulu kita bertiga bisa handle ko pekerjaan disini" ujar Gio.


"Terus kapan kamu akan pulang dulu ke Bogor?" tanya Jho.


"Sepertinya besok pagi aku akan kembali ke Bogor" jawab Atar.


Jho pun mengangguk. Setelah itu mereka pergi ke kamar tapi ketika menaiki anak tangga handphone Atar bergetar lagi dia segera mengangkat teleponnya.


📞Halo Assalamualaikum. Ada apa bang Dion menelepon aku?


📞Sebenarnya gue malas nelepon lo tapi bapak nyuruh gue terus buat ngasih kabar ke lo


Ini sudah biasa bagi Atar jadi dia tak pernah mengambil hati atas sikaf kakaknya yang ketus dan sering uring-uringan tidak jelas.

__ADS_1


📞Ada apa bang? Abang mau ngasih kabar apa ke aku?


📞Ibu kena serangan jantung sekarang lagi diruangan ICU bapak nyuruh lo buat pulang dulu ke Bogor takutnya ibu kenapa-kenapa


Sontak Atar jadi kaget.


📞Apa ibu kena serangan jantung!


Pekikan Atar itu membuat Jho, Azka dan Gio menghentikan langkahnya kemudian mereka balik lagi menuruni anak tangga untuk menghampiri Atar.


"Siapa yang kena serangan jantung Atar?" tanya Azka setelah Atar selesai teleponan.


Atar menatap Azka dengan tatapan sedih dia lalu menjawab "Ibuku kena serangan jantung"


"Maksud kamu tante Rumi kena serangan jantung" tanya Jho merasa tak percaya.


Atar lalu mengangguk pilu. Ketiga pria itu ikut merasa sedih mendengar kabar duka dari keluarga Atar.


"Sepertinya sore ini juga aku akan pulang ke Bogor" ucap Atar.


"Ya udah, kamu siap-siap dulu aku akan antar kamu ke bandara" Kata Gio.


"Aku juga ikut nganterin kamu Atar" ucap Jho.


"Aku juga akan ikut tapi cuma bisa nganter sampai bandara aja soalnya kan kita tidak bisa ninggalin pekerjaan disini" ujar Azka.


"Ya udah nggak apa-apa. Terimakasih ya kalian semua sudah baik sama aku" ucap Atar.


Mereka bertiga lalu tersenyum pada Atar. Butuh waktu satu jam untuk sampai dibandara. Tanpa sempat berpamitan pada Jani atau pun Shabira akhirnya Atar pergi ke kota tempatnya dilahirkan. Kemudian ketiga pria itu kembali pulang ke vila.


...****************...


Siang itu Shabira sedang berada dikamarnya tanpa sengaja kedua netranya menangkap sosok Jidan dibalik kaca jendela kamarnya yang kala itu Jidan membawa tas ransel sambil berjalan mindik-mindik dengan pandangan mata yang terus diedarkan kesegala penjuru.Merasa curiga dengan tingkah Jidan, Shabira lalu membuka jendela kamarnya lalu memanggil anak laki-laki itu dengan berteriak.


"Jidaaaann!! Kamu lagi apa? Kenapa mindik-mindik gitu?"


Sontak Jidan yang kaget karena aksinya ketahuan oleh Shabira lalu anak laki-laki itu menoleh ke belakang dilihatnya Shabira yang menyembulkan kepalanya dijendela kamarnya.


"Ah! Ketahuan deh. Tapi mending aku melanjutkan niatku" umpat Jidan kesal.


Lalu dia mengambil langkah seribu. Shabira yang menangkap ada yang tidak beres dari Jidan, dia kemudian mengambil tas selempang dan jaketnya yang tergantung dibalik pintu setelah itu dia segera berlari untuk mengejar Jidan.


Jidan terus berlari tanpa menoleh kebelakang dengan menerobos apa saja yang dilaluinya demi agar dirinya tak sampai dikejar oleh Shabaira. Namun, gadis kecil itu tak putus arang dia terus mengejar Jidan yang berlari kearah perkebunan teh.


"Ih! Jidan kemana sih? Kenapa dia pergi dengan membawa ransel?" tanya Shabira pada dirinya sendiri ketika dia kehilangan jejak sosok yang dikejarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2