Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Belum ditemukan


__ADS_3

Pencarian Jani pun terus dilakukan disekitar vila dan kampung dengan berpencar tapi hingga hari mulai petang pun hasilnya nihil, gadis tomboy itu masih tak ditemukan juga mereka akhirnya kembali ke vila.


Semua orang nampak sedih akan kepergian gadis tomboy itu apa lagi Irwan yang diamanati untuk menjaga Jani oleh Hadi tapi Irwan tak bisa menjaga Jani dengan baik itu membuat Irwan diliputi oleh rasa bersalah yang amat sangat.


Irwan lalu duduk disofa dengan menunduk lesu wajahnya terlihat bingung dan tak tahu harus berbuat apa? Seno yang mengerti kegundah gulanaan Irwan lalu berkata.


"Wan, bang Hadi udah tahu belum soal hilangnya Jani?"


"Aku belum kasih tahu bang Hadi, aku juga nyuruh bang Toriq untuk tidak memberitahu dulu, soalnya bang Hadi pasti cemas dan khawatir pada Jani" jawab Irwan.


"Kita kan sudah mencari kemana-mana tapi masih belum ketemu juga mau tidak mau orang-orang dirumah harus tahu soal ini, mereka harus datang kesini buat bantu kita nyariin Jani atau kalau perlu kita laporkan saja kejadian ini pada polisi" saran Seno.


"Baiklah aku akan kasih tahu semua orang dirumahku. Eh! Tapi tunggu dulu. Gio, Azka, Atar, dan kamu Jho apa tadi malam kalian bertengkar dengan Jani hingga dia ngambek lalu pergi?" tanya Irwan mengintrogasi keempat pemuda itu.


Serempak mereka menggelengkan kepala dan berkata tidak. Irwan lalu bertanya lagi pada mereka.


"Apa ada hal yang mencurigakan tentang Jani yang kalian ketahui?"


Serempak mereka menjawab tidak, Irwan lalu bertanya lagi.


"Semalam siapa yang terakhir kali sama Jani?"


"Seingatku terakhir kali aku ngelihat Jani saat kita makan malam setelah itu aku sama Gio main catur dan aku nggak ngelihat dia lagi" tutur Atar.


"Iya aku juga sama kaya Atar, terakhir kali lihat dia saat kita makan malam bersama" sambung Gio.


"Kalau aku, terakhir kali lihat dia setelah aku ngambil minuman dimeja ruang tamu, aku minum minuman dibotol tapi tiba-tiba kepalaku pusing dan aku merasa mual akhirnya aku izin tidur duluan pada Jani dan Azka" tutur Jho.


"Jho, kamu juga ngerasa pusing setelah minum minuman dibotol itu?" tanya Gio.


"Iya emangnya kenapa?" jawab Jho.


"Sama, aku juga jadi pusing setelah minum, minuman itu aku langsung tidak sadarkan diri tahu" kata Gio.


"Aku juga sama Jho, Gio, aku langsung pusing dan gak inget apa-apa lagi" tegas Atar.


"Emang kalian minum apaan sih, sampai pusing gitu?" tanya Irwan heran.


"Nggak tahu, kami minum, minuman yang dibeli Azka" jawab Gio.


Semua mata menatap pada Azka dengan penuh tanda tanya.


"Azka kamu beli minuman apa?" tanya Irwan.

__ADS_1


Sebelum Azka menjawab dia lalu mengambil botol bekas minuman yang kemarin belum dibuang.


"Apa kalian minum, minuman ini?" tanya Azka pada Gio, Atar dan Jho.


Mereka semua mengangguk sebagai pertanda mengiyakan atas pertanyaan Azka.


"Aku dan Jani juga meminum minuman itu, setelah minum kami merasa pusing kemudian kami memutuskan untuk beristirahat dikamar setelah itu aku tidak inget apa-apa lagi" tutur Azka.


Irwan mengambil botol kosong bekas minuman yang bikin pusing ditangan Azka lalu dia mengendus baunya.


"Baunya kaya bau minuman beralkohol" ujarnya lalu menatap tajam pada Azka.


"Azka kenapa kamu beli minuman seperti ini?" tanya Irwan mengintimidasi Azka.


Azka sedikit gugup ditanya seperti itu oleh Irwan dengan terbata-bata Azka lalu menjawab.


"A-aku ti-tidak beli minuman itu Om, sepertinya minuman itu tertukar dengan punya preman yang tak sengaja aku tabrak saat itu hingga kantong plastik kami yang berwarna putih terjatuh. Preman itu sepertinya salah mengambil kantong plastiknya Om"


"Azka, kamu sedang tidak berbohongkan? Kamu tidak punya maksud apa pun kan sama Jani?" tanya Irwan sekali lagi dengan tatapan mengintimidasi.


"Su-sumpah Om aku tidak punya niat buruk apa pun pada Jani atau pun kalian semua tolong percayalah padaku" ucap Azka meyakinkan pada mereka semua.


Irwan lalu menenangkan dirinya dengan menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya dengan perlahan tapi tiba-tiba pikiran buruk itu terus merasukinya.


Irwan lalu berdiri hendak mencari Jani ke sungai atau jurang untuk memastikan barang kali terkaannya itu benar tapi Seno menghentikan langkah Irwan.


"Wan kamu mau kemana?" tanya Seno.


"Aku harus cari Jani kesungai atau pun jurang" jawab Irwan khawatir dan tak tenang.


"Hari sudah mulai malam wan, percuma saja pergi juga nggak akan kelihat. Sebaiknya pencarian Jani kita lanjutkan besok sekarang lebih baik kita hubungi keluarga kita agar datang kesini untuk bantu mencari Jani" saran Seno.


"Kata Om Seno ada benarnya Om Irwan, lebih baik kita tunda pencarian dan dilanjut besok pagi, ini bukan karena kita tidak peduli sama Jani tapi hari sudah malam penglihatan kita pun akan terbatas, kita tidak akan bisa lihat apa pun dikegelapan jadi sebaiknya pencarian Jani kita lanjutkan besok pagi" bujuk Jho.


Pada awalnya Irwan tetap bersikukuh ingin mencari Jani tapi setelah di yakinkan berkali-kali akhirnya dia menurut juga.


Esok pagi kemudian


Hadi, keluarganya dan keluarga para pemuda yang ikut berlibur itu akhirnya datang ke vila milik keluarga Azka untuk membantu mencari Jani. Polisi dan warga sekitar pun ikut dikerahkan membantu dalam pencarian Jani.


Namun, hingga beberapa hari pencarian Jani masih tak ditemukan juga, sungguh amat teramat sedih hati Hadi harus kehilangan putri kesayangannya itu.


Hadi terduduk dikursi taman sambil menunduk sedih, netranya nampak berbinar-binar seolah air mata yang ingin menjatuh itu tetap dia pertahankan dalam lautan air matanya. Sesekali dia edarkan pandangan kesekitar dengan tatapan geram karena kesal seolah bumi telah menyembunyikan putrinya dan enggan untuk mengembalikannya kesisi Hadi.

__ADS_1


"Janiiii... kamu dimana nak? Kenapa kamu menghilang begitu saja tanpa jejak apa pun, bapak merindukan kamu nak, bapak tak ingin kehilangan kamu seperti kehilangan ibumu" batin Hadi meraung-raung sedih.


Ditempat berbeda. Jho yang kala itu masih mencari keberadaan Jani lalu menghentikan langkahnya kemudian duduk disisi jalan.


"Kemana lagi aku harus mencari kamu Jani? Kamu sudah seperti adik kandungku tapi sekarang kamu malah meninggalkan kami, Sebenarnya kamu ada dimana Jani?" lirih Jho dengan perasaan amat sedih.


Azka pun masih mencari Jani ketempat lain tapi ketika keputus asaan mulai menghinggapi hatinya dia menghentikan langkahnya sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling yang banyak ditumbuhi pohon teh yang siap dipanen.


"Janiiiiiii... kamu dimana Janiiii...!" teriak Azka dengan perasaan sedih.


"Kenapa sampai detik ini kamu masih belum kembali Jani, aku sangat merasa bersalah akan kepergianmu ini. Apa kamu pergi karena salahku, Jani? Atau karena apa tolong beri jawabannya padaku, tolong jangan biarkan perasaanku dihantui oleh rasa bersalah, kembalilah pulang Jani" lirih Azka sambil berlutut dengan butir bening yang berhasil lolos dari kedua netranya.


Sama halnya seperti Jho dan Azka, Atar pun mencari Jani ketempat lain. Kesedihan dan rasa kehilangan dirasakan oleh hati Atar. Ya, walau bagaimana pun Jani adalah sahabat terbaik bagi Atar, Jani terkadang sedikit usil padanya tapi Jani pulalah yang sering menolongnya dikala dia dalam kesusahan.


Makannya saat Jani tiba-tiba hilang tanpa jejak membuat Atar merasa ada yang hilang dari separuh hidupnya.


"Jani apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu? Kenapa kamu tiba-tiba hilang tanpa jejak? Sekarang kamu ada dimana Jani? Bagaimana keadaanmu saat ini Jani? Aku ingin kamu kembali, aku merindukan kamu Jani" batin Atar sambil menatap langit karena dia sedang berusaha untuk tegar agar air matanya tak jatuh.


Bukan hanya Jho, Azka, dan Atar yang sedih akan kehilangan Jani tapi Gio juga merasakan hal yang sama. Dia pun merasa sedih apa lagi dari mereka masih duduk dibangku SMP Gio sudah memendam perasaan pada Jani dan hingga sekarang rasa itu masih tersimpan rapih direlung hatinya yang terdalam.


"Jani kenapa kamu harus tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, aku sangat menyesali kepergianmu yang secara tiba-tiba ini karena aku belum sempat mengungkapkan perasaanku padamu, meski aku tak berharap kamu membalas dan menjawabnya aku tak apa karena setelah kamu tahu perasaanku padamu aku tak ingin kehilanganmu, aku ingin tetap ada disamping kamu walau jika aku tak bisa memilikimu itu tidak apa jadi tolong kembalilah pada kami Jani" isak tangis Gio pecah seketika.


Begitu banyak hati yang sedih dan kehilangan si gadis tomboy itu. Lalu sebenarnya Jani pergi kemana? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Kenapa tak ada satu pun jejak yang dia tinggalkan atas kepergiannya itu? Kenapa dan apa penyebab menghilangnya gadis tomboy itu? Tak ada satu pun yang tahu, mungkinkah waktu akan segera menjawab semuanya atau mungkinkah dia akan menghilang selamanya?


Setalah ini Gio, Azka, Atar dan Jho akan tumbuh menjadi pria dewasa dan inilah visualnya.



Visual Jhosua (Jho)



Visual Azkara (Azka)



Visual Gionino (Gio)



Visual Rafatar (Atar)


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2