Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Terlantar


__ADS_3

Suara adzan disurau-surau telah berkumandang menandakan telah datangnya waktu shalat isya, para muslim pun berdatangan untuk melaksanakan shalat berjama'ah dimasjid, tak terkecuali bagi kedua anak kecil itu Shabira dan Jidan pun melaksanakan shalat isya.


Setelah selesai kedua bocah itu pergi ke meja makan karena mereka ingin makan malam. Tapi, dimeja makan tak ada makanan yang tersaji, kedua bocah itu nampak kecewa sebab perut mereka sudah amat lapar tapi tak ada makanan yang bisa mereka makan.


"Yaaa... gak ada makanan lagi" keluh Jidan lalu duduk lemas di kursi.


"Tante Raisa pasti tidak masak lagi ini? Apa tante Raisa tidak lapar hingga dia tak pernah masak?" tanya Shabira kesal lalu dia duduk di kursi.


"Mama Raisa suka delivery makanan, dia itu mama Shabiraaaa...bukan tante Raisa" Jidan meralat ucapan Shabira.


"Ibuku cuma bunda Jani tidak ada yang lain lagi" tegas Shabira dengan wajah dinginnya.


"Nanti mama Raisa marah kalau dipanggil tante"


"Bodo amat! Tetap saja dia bukan siapa-siapa aku. Eh! Ko malah bahasa dia sih. Aku tuh! Lagi lapar tahu"


"Ya sama, aku juga lapar tapi kan tidak ada yang bisa kita makan"


"Eh! Jidan! Ayah sudah pulang belum ya?"


"Aku nggak tahu, sepertinya ayah belum pulang deh" jawab Jidan.


Krucuk... krucuk... krucuk...!!


Suara perut keroncongan mereka semakin keras ketika rasa lapar itu semakin lekat dirasakan oleh kedua bocah itu. Mereka berdua saling pandang dan diam-diam tersipu malu.


"Pasti itu suara perut kamu?" tuduh Shabira.


"Yeeh! Gak nyadar apa, perut kamu juga keroncongan" Jidan pun tak mau kalah oleh Shabira.


"Hehehe" gadis kecil itu lalu nyengir kuda.


Mereka berdua lalu saling terdiam sejenak, tak lama kemudian Shabira mengajak Jidan untuk membuat nasi goreng.


"Buat nasi goreng aja yuk, semoga aja nasinya masih ada di rice cooker" ajak Shabira.


"Emang kamu bisa masak?"


"Ya dari pada kita gak makan"


"Aku ko ragu ya" Jidan meragu.


"Ayo! Kedapur" ajak Shabira.


Meski pun Jidan ragu tapi pada akhirnya dia mengikuti Shabira juga ke dapur. Untungnya di rice cooker masih ada sisa nasi bekas tadi pagi jadi mereka bisa membuat nasi goreng. Shabira lalu membuka kulkas untuk mencari bahan-bahan yang lainnya tapi kulkas itu kosong, benar-benar bersih dan tak ada isinya, Shabira lalu mendengus sambil menggerutu.


"Huuh! Bunda tak ada kulkas pun terasa sepi"


"Shabira, aku menemukan bawang merah dan kecap nih" pekik Jidan sambil mengangkat kecap dan bawang merah.


Shabira lalu mendekati anak laki-laki itu lalu berkata, "Ya udah deh, kita buat nasi gorengnya dengan bahan seadanya saja"


Shabira dan Jidan lalu mulai memasak kedua bocah itu saling membantu dari menyiapkan bahan, merajang bawang merah dan lain-lainnya hingga nasi goreng itu matang. Saat nasi gorengnya siap dimakan mereka lalu duduk di kursi dan akan segera mulai makan.

__ADS_1


"Akhirnya kita makan juga. Ayo! Berdoa dulu" ajak Jidan.


Setelah berdoa mereka lalu mulai makan. Tapi, ketika nasi goreng itu sudah di mulutnya mereka malah berhenti mengunyah dan menyimpan kembali sendok di piring makan mereka.


"Ko asin banget sih, ini nuangin garamnya kebanyakan, nasi gorengnya jadi gak enak" protes Jidan.


"Ya udah, nasi gorengnya jangan dimakan kita minta makan saja sama nenek Rumi" ajak Shabira.


"Jangan nanti ayah dan bunda dimarahin sama nenek gara-gara nggak ngurusin kita, kamu tahu sendirikan ayah sama bunda lagi marahan kita tidak boleh semakin membuat ayah dan bunda makin buruk dimata nenek, lebih baik kita makan nasi goreng ini aja, mubadzirkan kalau gak dimakan, anggap aja ini rasanya enak" tolak Jidan lalu memakan kembali nasi gorengnya meski rasanya tak enak.


Perkataan Jidan memang ada benarnya akhirnya Shabira pun terpaksa memakan nasi goreng itu meski rasanya tak enak agar ada pengganjal perut bagi mereka.


...****************...


Siang itu Jidan baru keluar dari kamarnya setelah mengganti baju seragam sekolahnya dengan kaos dan celana pendek selutut. Ketika dia akan menemui Shabira tiba-tiba Raisa menjegalnya.


"Jidan kamu mau kemana?"


"Mau main sama Shabira ma" jawab anak itu menciut ketika di tatap tajam oleh Raisa.


"Dia sudah pergi katanya dia mau main kepanti, lebih baik sekarang kamu cuci piring sana! Bekas makan tadi pagi" titah Raisa.


Sebenarnya Jidan tidak mau tapi dia takut untuk menolak perintah Raisa sebab semenjak jatah uang jajannya dipalakin oleh Raisa setiap hari dengan paksa dan kasar, anak laki-laki itu jadi takut pada Raisa.


"Ba.. baik ma" ucap Jidan terbata-bata.


Dia lalu pergi kedapur dan langsung mencuci piring hingga tak ada lagi peralatan dapur yang kotor.


Tanpa dia sadari Raisa sudah ada dibelakangnya sambil menggendong bayinya.


"Heh! Enak aja kamu mau nyusulin Shabira, tidak boleh! Hari ini kamu harus mengerjakan pekerjaan rumah biar mama tidak dimarahin sama ayah kamu. Kamu harus nyuci baju, ngepel lantai, nyapu halaman rumah, dan nyetrika baju yang kemarin dicuci" titah Raisa.


"Tapi ma aku tidak bisa menyetrika baju, biasanya bunda Jani yang melakukan itu, aku mau main sama Shabira ma"


"Gimana kamu mau bisa nyetrika kalau gak belajar dari sekarang, kamu itu jangan main terus ya, mulai sekarang kamu harus membersihkan dan membereskan rumah ini, inget Jidan! Kamu itu cuma anak pungut, harusnya kamu tahu diri dan bersyukur karena udah dikasih tempat tinggal, dikasih makan, disekolahin jadi kamu harus balas budi pada ayahmu dengan tidak malas-malasan dan tidak main terus" ceroscos Raisa.


"Iya ma aku tahu aku cuma anak pungut mama selalu bilang itu padaku. Baiklah aku akan kerjakan semua yang mama suruh" ucap Jidan sambil murung karena dia merasa sedih dengan perlakuan Raisa padanya yang selalu memanggilnya dengan sebutan 'Anak pungut' seolah dia seperti anak kucing yang di pungut dijalanan.


Jidan pun mengerjakan semua pekerjaan yang di suruh oleh Raisa. Saat anak laki-laki itu sedang mengepel lantai, Raisa yang baru keluar kamarnya setelah menidurkan Alif, dia hendak pergi kedapur untuk mengambil air putih karena kerongkongannya terasa kering. Tiba-tiba Raisa terpeleset hingga terjatuh dan duduk di lantai karena lantai yang diinjak nya masih basah setelah dipel oleh Jidan.


"Aawww!" pekik Raisa kaget bercampur kesakitan karena terjatuh.


Jidan yang melihat Raisa jatuh, dia segera lari untuk menghampiri Raisa dan membantunya untuk berdiri kembali. Bukannya berterimakasih Raisa malah ngomel-ngomel dan memukul Jidan.


Plak


Plak


"Dasar anak pungut berani kamu bikin mama jatuh kaya gini, kamu harus diberi pelajaran Jidan!" bentak Raisa sambil memukuli Jidan.


"Ampun ma! Ampun! Aku tidak sengaja, kan tadi mama nyuruh aku ngepel, lantainya masih basah tapi mama malah nginjak lantainya" Jidan memegangi kedua telinganya dengan kedua tangannya sambil meringis karena dipukuli oleh Raisa.


"Oh jadi kamu nyalahin mama? Jadi menurut kamu ini salah mama? Tidak tahu diri kamu ya, dasar anak pungut" Raisa yang terlampau marah pada Jidan akhirnya dia menarik paksa tubuh kecil itu dengan menyeretnya masuk kekamar Jidan.

__ADS_1


Bug!


Anak laki-laki itu lalu didorong masuk kekamar mandi hingga dia terpental ke dinding, Jidan terus menangis sambil menahan rasa sakit akibat benturan itu, belum cukup puas sampai disana Raisa masuk kekamar mandi dan menarik tubuh Jidan.


"Ampun mama! Ampun!" jeritan Jidan yang minta maaf tak digubris oleh Raisa.


Wanita itu terlanjur gelap mata hingga tega menyakiti Jidan. Raisa lalu membungkukan tubuh Jidan dekat bak mandi kemudian dia memasukan kepala Jidan dan menahannya didalam bak yang terisi penuh dengan air.


Bulatan gelembung udara dari nafas Jidan meletup-letup disekitar area kepala Jidan, kedua tangannya memegang erat bak mandi dan merusaha mengangkat kepalanya yang terendam air dengan terus meronta-ronta karena dia kesulitan bernafas. Namun, Raisa tak membiarkan anak itu berhasil mengangkat kepalanya, meski pun sempat berhasil mengangkat kepalanya dari air tapi pada akhirnya Raisa akan mencelupkan kembali kepala Jidan kedalam air hingga beberapa kali.


Lama kelamaan Jidan mulai lemas karena kekurangan suplay oksigen kedalam tubuhnya hingga dia menghentikan perlawanannya terhadap Raisa. Raisa yang hanya ingin memberi pelajaran pada anak itu lalu menghentikan aksinya sebab dia tak mau Jidan mati ditangannya.


Jidan langsung terduduk lemas dengan cucuran air yang mengalir dari rambutnya hingga membasahi bajunya, sambil bersender ke dinding kamar mandi. Dia lalu menghirup nafas dalam-dalam dan mulai mengatur ritme pernapasannya yang tadi tak teratur.


"Jidan! Awas ya kalau kamu berani mengadukan soal kejadian ini pada orang-orang, kalau itu sampai terjadi maka kamu bersiap-siaplah terusir dari keluarga ini" ancam Raisa sebelum dia meninggalkan Jidan.


Setelah Raisa pergi, anak laki-laki itu langsung menangis karena ketidak berdayaannya melawan wanita kejam itu.


...****************...


Sudah satu bulan Jani bersembunyi ditempat persembunyiannya, dimana tak ada satu orang pun yang tahu keberadaannya, siapa pun tak bisa menghubungi Jani karena dia tak pernah mengaktifkan ponselnya sebab Jani benar-benar ingin mendinginkan pikirannya agar lebih jernih


Tapi kali ini ada perasaan rindu yang menyelusup dalam hati Jani terhadap kedua anaknya karena sudah satu bulan dia tak bertemu dengan mereka. Jani juga merasa bersalah pada mereka sebab sudah meninggalkan kedua anaknya selama ini.


"Bagaimana kabar anak-anak ya? Apa Atar mengurus mereka dengan baik? Aku kangen sama mereka, aku ingin bertemu dengan mereka, aku temui mereka saja disekolah kali ya" monolog Jani.


Akhirnya Jani memutuskan untuk menemui kedua anaknya disekolah tepat setelah jam pulang mereka. Wanita cantik itu berdiri didekat gerbang sekolah sambil celingukan dan memperhatikan satu persatu anak-anak yang keluar dari gerbang, hingga sosok yang dicarinya mulai kelihatan.


"Shabira! Jidan!" panggil Jani ketika mereka keluar dari gerbang.


Kedua anak itu langsung melirik ke seseorang yang memanggilnya. Betapa senangnya mereka ketika mengetahui yang memanggil itu adalah Jani. Kedua anak itu lalu berlari berhamburan menghampiri Jani dan langsung memeluknya.


"Bunda aku kangen sama bunda" ucap Jidan.


"Bunda aku juga kangen sama bunda, bunda kemana aja sih?" ucap Shabira dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu sebab dia bisa melihat kembali sosok wanita yang sudah melahirkannya.


Jani membalas pelukan mereka dan mencium pucuk kepala kedua anak itu dengan lembut dan penuh kasih sayang setelah itu barulah dia menjawab pertanyaan mereka, "Maafin bunda ya, sayang. Bunda juga kangen sama kalian"


"Bunda jangan pergi lagi ya, rumah sepi tanpa adanya bunda, kalau nggak ada bunda kulkas juga ikut-ikutan sepi bunda, nggak ada yang mengisi kulkas hingga kami juga tak bisa makan" ucap Jidan terlampau jujur dan polos.


Jani sempat menyernyitkan dahinya barang sejenak, setelah itu dia mulai tersenyum sekaligus sedih melihat kepolosan Jidan.


"Maafin bunda ya, Jidan, Shabira. Apa tadi pagi kalian bisa sarapan?" tanya Jani sambil mengelus lembut pucuk kepala kedua anaknya.


"Tadi pagi ayah masak jadi kami bisa sarapa" jawab Shabira.


"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana kalau sekarang kita makan siang dilestoran soalnya bunda pengen makan bareng kalian dilestoran" ajak Jani sambil tersenyum.


"Mau bunda, mau bunda. Ayo! Kita makan siang dilestoran" pekik serempak Shabira dan Jidan sambil jingkrak-jingkrak kegirangan.


"Kalau begitu ayo kita pergi" ajak Jani lalu mereka bertiga pergi kelestoran tanpa pulang dulu kerumah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2