Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Akhirnya dimaafkan juga


__ADS_3

Karena masih ada rasa gengsi dihati mereka, mereka tak langsung menyapa Atar, mereka hanya berdehem untuk mengalihkan perhatian Atar yang masih belum menyadari kedatangan mereka karena Atar terus melamun.


Ehem...Ehem...Ehem...!!


Atar yang mendengar lalu melirik kesumber suara, seketika matanya langsung berbinar-binar ketika melihat ketiga temannya mendatanginya, dia langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka.


"Gio, Azka, Jho, kalian..." Atar menggantung kalimatnya.


"Kami terpaksa menemuimu karena disuruh Shabira" ucap Gio tanpa melihat Atar karena masih merasa gengsi.


"Terserah apa pun alasan kalian menemuiku aku tidak peduli yang pasti aku sangat senang akhirnya kalian tak mengabaikan aku lagi" ucap Atar kegirangan.


Atar lalu menunduk dan berkata dengan sungguh-sungguh.


"Jho, Azka, Gio, aku minta maaf atas semua ini, tolong maafkan semua kesalahanku aku berjanji akan menebus semua kesalahanku jadi katakanlah padaku apa yang harus aku lakukan agar kalian bisa memaafkanku, aku akan melakukannya apa pun itu"


Sejenak Atar terdiam dan tak berapa lama dia melanjutkan kalimatnya.


"Semua itu terjadi begitu saja tanpa aku sadari, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya aku pun sangat kesal pada diriku sendiri kenapa bisa aku sejahat itu? Azka, Jho, Gio, aku tak ingin seperti ini aku ingin kita berteman lagi seperti dulu bersama Jani juga jadi tolong, aku mohon dengan amat teramat sangat maafkan semua kesalahanku"


Atar lalu menatap ketiga sahabatnya yang masih tak mau melihatnya.


"Aku sudah bicara soal ini sama Jani, aku juga sudah minta maaf sama dia, Jani juga sama seperti kalian dia sangat marah padaku, dia kecewa sama aku bahkan dia juga sempat membenciku tapi dia sudah melupakan semua itu dan Jani juga sudah memaafkan semua kesalahanku jadi tolong kalian juga maafkan aku" Atar memohon dengan sungguh-sungguh.


Gio, Azka, dan Jho lalu saling menatap satu sama lain, seolah mereka sedang bicara dengan bahasa isyarat netra mereka.


"Ya udah, aku mau kita berlima bicarain soal ini sama Jani" ucap Gio.


"Iya, iya, aku mau" kata Atar merasa senang.


Dia lalu merentangkan tangannya hendak memeluk ketiga temannya karena merasa senang tapi Azka, Gio dan Jho menepis tangan Atar karena mereka masih belum bisa benar-benar memaafkan Atar dengan sepenuh hati.


"Guys jam makan siang hampir habis ayo kita kembali ketempat kerja" ajak Azka.


Mereka lalu kembali ketempat kerja, Atar juga ikut pergi tapi sebelum pergi dia menemui Shabira dan Jidan yang masih ada ditempat itu.


"Shabira, Jidan, makasih ya kalian sudah membantu Om supaya bisa bicara sama ketiga teman Om" ucap Atar sambil tersenyum pada mereka.


Dengan penuh wibawa Shabira mengangguk lalu dia menyuruh Atar pergi mengikuti ketiga temannya.


"Iya, iya, Om akan mengikuti mereka sekali lagi Om ucapin terimakasih ya sama kalian" ucap Atar dengan senyuman yang terbingkai dibibirnya lalu dia pergi.


...****************...


Malam itu, Jho, Azka, Atar dan Gio pergi ke panti asuhan untuk menemui Jani. Gio lalu mengetuk pintu.


Tok...tok...tok...!!

__ADS_1


Tak berapa lama bu Retno membukankan pintu, mereka berempat lalu mengucap salam.


"Assalamualaikum"


"Waalaikummusalam, maaf ya kalian siapa? Dan ada perlu apa datang kesini?" tanya bu Retno.


Mereka lalu memperkenalkan diri satu persatu nama mereka, setelah itu Jho sebagai juru bicara menjelaskan maksud kedatangan mereka ke panti.


"Kami ini adalah Arsitek yang sedang melakukan pembangunan tempat parawisata dikampung ini"


"Apa kalian ke sini untuk membicarakan soal menjual rumah makan kami?" tanya bu Retno.


"Bukan bu ada hal lain yang ingin kami bicarakan pada Jani maksud kami Ririn, jadi Ririnnya ada nggak ya?" jawab Jho.


"Eee.. Ririn ada tapi ada hubungan apa kalian sama Ririn ya?" tanya bu Retno lagi.


"Kami ini adalah teman masa kecilnya Ririn, Ririn menghilang tiba-tiba selama 10 tahun, kami mencari dia dan kebetulan kami menemukan dia dikampung ini" jawab Jho.


Bu Retno yang tahu sejarah hidup Jani kenapa dia bisa sampai tinggal dipanti dan melahirkan Shabira, lalu tercengang kaget.


"Apa salah satu dari mereka ini adalah ayah kandungnya Shabira? Apa mereka kesini untuk mencari tahu soal Shabira? Apa Ririn sudah tahu tentang mereka yang ada dikampung ini?" batin bu Retno sambil menatap mereka.


"Tunggu sebentar ya, ibu panggilin Ririn dulu, kalian duduk saja dulu" ucap bu Retno.


Mereka mengangguk lalu mereka duduk. Bu Retno segera menemui Jani yang saat itu sedang membantu anak-anak belajar.


"Ririn didepan ada tamu yang nyariin kamu"


"Kamu lihat aja kedepan nanti juga kamu bakal tahu siapa tamunya"


"Oh iya bu, aku temuin tamunya dulu"


Jani lalu berdiri dan menemui tamunya, bu Retno yang penasaran lalu mengikuti Jani. Betapa kagetnya Jani saat melihat keempat temannya yang datang kerumah.


"Kalian ngapain malam-malam begini datang kesini?" tanya Jani.


"Jani, kami kesini mau bicarain soal kejadian 10 tahun lalu dan juga soal Shabira" jawab Jho.


Sebenarnya Jani sudah malas mengungkit-ngungkit lagi soal masa lalunya tapi kini mereka semua sudah tahu kalau Shabira itu anak kandungnya Atar jadi Jani tak mungkin bisa berbohong lagi untuk menutupi masa lalunya itu karena keempat pria itu pasti mendesaknya untuk menceritakan semua.


"Kalian kan sudah tahu semuanya lalu buat apa lagi membahas soal ini?" tanya Jani.


"Kita harus selesaikan masalah ini, tidak bisa si brengsek itu tak bertanggung jawab sama kamu" ucap sinis Jho dengan ekor matanya yang sekilas menatap kearah Atar.


Seketika Atar yang mendengar langsung tertunduk sedih.


"Terserah kalianlah, jangan bicara disini ayo! Ikut aku" ajak Jani.

__ADS_1


Dia mengajak keempat pria itu untuk bicara ditaman panti yang ada tempat duduknya agar orang-orang panti tak ada yang mendengar pembicaraan mereka termasuk bu Retno.


Mereka semua duduk. Sejenak suasana menjadi hening hingga Gio membuka pembicaran yang terlihat serius itu.


"To the point aja karena kami sudah tahu tentang kamu dan Shabira. Jadi apa benar Atar sudah minta maaf sama kamu dan kamu memaafkannya?"


"Iya itu benar"


"Bagaimana bisa Jani, kamu memaafkan dia dengan begitu mudahnya?" tanya Jho penuh emosi.


"Nasi sudah jadi bubur, kaca yang pecah tak bisa dibuat utuh lagi lalu apa lagi yang bisa kulakukan? Aku tak ingin menyimpan dendam didalam hatiku, aku coba memaafkan semuanya dan berusaha menerima takdirku" jawab Jani.


"Ya tidak bisa begitu dong Jani, Atar harus dihukum atas perbuatannya" desak Gio.


"Ya udah, aku tahu aku memang salah tapi demi nama Allah aku benar-benar tak sengaja melakukannya, ini semua diluar kendaliku. Aku minta maaf pada kalian semua, kalian boleh menghukum aku jika ini bisa membuat kalian memaafkan aku, kalau kalian ingin menuntutku kejalur hukum silahkan aku akan menerima semuanya" ucap Atar sambil menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak akan menuntut apa pun padamu, Atar. Sudahlah, hentikan semua kemarahan kalian, aku ucapin terimakasih karena kalian sudah sangat peduli padaku bahkan kalian ingin menghukum orang yang sudah menghancurkan hidupku tapi... " Jani menggantung kalimatnya.


Sebenarnya netra Jani sudah tak kuat menahan bendungan air matanya tapi dia tak mau suasana kacau ini semakin kacau gara-gara air matanya jadi dia menunduk untuk mengusap air matanya kemudian menatap mereka semua, dengan berusaha untuk tetap tegar lalu dia berkata.


"Aku sudah ikhlas menerima semuanya, aku ikhlas menerima takdirku, aku tak ingin apa pun dari kalian semua, aku sudah cukup bahagia dengan adanya Shabira dihidupku jadi kalian jangan memperkeruh suasana lagi, kembalilah berteman seperti dulu jangan bertengkar lagi, maafkanlah Atar" lirih Jani.


Mereka semua lalu bergeming sambil merenungkan semuanya.


"Jani apa kejadian itu terjadi ketika kita semua ada di vila aku?" tanya Azka.


Jani lalu mengangguk, Azka lalu bertanya lagi.


"Apa kejadiannya terjadi dimalam ketika kita tak sengaja meminum minuman yang tertukar dengan minuman beralkohol milik si pereman?"


"Mungkin, aku tidak tahu yang pasti kesadaranku hilang karena minuman itu" jawab Jani.


"Bagaimana bisa itu terjadi saat Gio dan Atar tepar Jho kan yang mengantar mereka ke kamar yang sama, lalu bagaimana bisa Atar tiba-tiba sama kamu malam itu Jani? Padahal kan yang terakhir mabuk itu aku sama kamu" tanya Azka.


"Aku tidak tahu, aku juga tidak ingat apa pun karena mungkin kita melakukannya saat aku tidak sadarkan diri" jawab Jani.


"Aku rasa Atar pergi keluar dari kamar saat dia mabuk lalu dia malah masuk kekamar dimana Jani tidur. Aku baru ingat saat pagi kita semua nyari Jani, Atar yang masih tidur aku bangunkan dan saat itu dia berada dikamar yang beda dengan kamar Gio. Harusnyakan kalau si Atar tidak pergi dari kamar dia harus berada dikamar tempat Gio tidur" terka Jho.


"Kan kata om Irwan dia mencari Jani ke kamarnya tapi disana tak ada siapa pun" imbuh Azka.


Jho lalu menatap Atar dan Jani sambil berkata dengan mengintimidasi mereka.


"Bukan kah di vila itu banyak kamar? Bisa jadi Jani salah masuk ke kamar lalu tidur di kamar yang bukan kamarnya terus dalam keadaan mabuk Atar juga masuk kekamar yang sama dengan Jani hingga terjadilah hubungan itu"


Mendengar ucapan Jho, Jani jadi tertunduk malu begitu juga dengan Atar dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil menunduk malu.


"Bisa jadi perkiraan Jho itu benar. Jadi semua sudah jelaskan. Sekarang lebih baik kita semua memaafkan Atar karena dia juga sudah minta maaf dan menyesali semua ini ditambah lagi, aku rasa ini juga salah aku kalau saja aku tak membawa minuman haram itu ke vila mungkin kejadian ini tidak akan terjadi, aku minta maaf pada kalian semua" ucap sesal Azka.

__ADS_1


Setelah bicara panjang lebar akhirnya mereka mau memaafkan Atar juga dan berjanji akan bersikaf seperti semula, tidak akan mengabaikan dan menjauhinya lagi.


Bersambung


__ADS_2