
Shabira dan Jidan lalu kembali pulang, disepanjang jalan mereka terus berbincang.
"Shabira, ternyata ayah kamu orangnya baik juga ya, aku senang banget om Atar mau pura-pura jadi ayahku besok. Tapi aku nggak ngerti sama bunda, kalau om Atar sangat baik kenapa bunda harus bercerai dengan om Atar?" ujar Jidan.
"Aku juga nggak tahu, aku sih berharapnya bunda sama ayah bisa bersama lagi, tinggal bersama lagi" ucap Shabira.
"Kita do'ain aja ya, semoga bunda dan om Atar bisa bersama lagi" kata Jidan.
"Aamiin" serempak Shabira dan Jidan mengaamiinkan.
Esok paginya Atar menjemput Shabira dan Jidan ke panti asuhan untuk berangkat kesekolah bersama. Ketika mereka sudah siap berangkat sekolah, tiba-tiba Jani keluar dari rumah dan menatap heran pada Atar yang pagi-pagi sudah ada di panti asuhan.
"Atar! Ada apa pagi-pagi begini kamu sudah ada disini?" tanya Rinjani.
"Eh! Jani, aku kesini buat jemput Shabira dan Jidan kita mau berangkat kesekolah bersama kan hari ini disekolah mereka diadain acara perayaan hari ayah. Kemarin Shabira dan Jidan datang kerumah dan memintaku untuk datang" jawab Atar sambil tersenyum.
"Emang kamu nggak kerja?"
"Harusnya kerja sih, tapi demi anak-anak nggak apa-apa lah aku izin gak kerja lagian kan yang punya proyek itu aku, Azka, Gio dan Jho. Mereka juga bakal ngizinin aku buat datang ke acara anak-anak"
Disela pembicaraan antara Atar dan Jani tiba-tiba Shabira memotong pembicaraannya. Dia menggandeng tangan Atar dan Jani agar segera berangkat kesekolah sementara Jidan hanya mengikuti dari belakang.
"Ayah, Bunda udah dulu ya ngobrolnya ini udah siang nih kita harus segera berangkat ke sekolah" ajak Shabira.
Dengan rasa canggung Atar dan Jani hanya mengikuti putri kecil mereka. Mereka lalu masuk ke mobil yang dibawa oleh Atar, setelah itu mereka berangkat kesekolah. Sementara anak-anak panti yang lain berangkat sama pak Husen dan bu Retno.
...****************...
Disekolah
Shabira dan Jidan turun duluan dari mobil lalu mereka diam menunggu Atar dan Jani keluar dari mobil. Tapi tiba-tiba tiga teman sekelasnya datang menghampiri mereka.
"Shabira, Jidan ngapain kalian masuk sekolah dihari ayah ini kalau ujung-ujungnya kalian akan bersembunyi di perpustakan karena tak ingin mengikuti acara ini sebab kalian kan anak-anak yang tak punya ayah. Hahahaha..." ledek Raja pada Shabira dan Jidan yang kemudian mereka ditertawakan oleh ketiga temannya yang nakal.
Shabira yang merasa emosi karena ledekan dari Raja, dia hendak memukul Raja tapi Atar yang mengetahui itu segera menghentikannya.
"Jangan melakukan kekerasan ya sayang" ucap Atar sambil tersenyum pada Shabira.
Walaupun masih kesal tapi Shabira tak jadi memukul Raja karena dilarang oleh ayahnya. Atar lalu merapihkan kerah baju Raja kemudian mengelus lembut rambutnya setelah itu dia berkata dengan tegas sambil tersenyum.
"Dek mulai sekarang kalian tidak boleh mengganggu Shabira dan Jidan lagi ya, kalau tidak om tidak akan kasih ampun kalian"
"Kami tidak takut dengan ancaman om. Emangnya om ini siapa berani mengancam kami?" tantang Raja.
Atar lalu tersenyum pada Raja kemudian dia menyingsingkan lengan panjang baju kemejanya hingga terlihatlah lengan Atar yang kekar dan berotot.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sih, kalian gak takut juga sama om tapi maaf aja ya kalau om gak sengaja kebablasan soalnya kemarin aja ada 10 preman yang malakin om dengan cara kasar ya om berusaha mempertahankan diri dong dengan melawannya eh! Tahunya mereka masuk rumah sakit semua padahal ya, mereka itu tubuhnya pada tinggi dan kekar loh kalau sama kalian yang masih kecil dan pendek udah jelas nggak ada apa-apanya, tapi mereka bisa kalah semua loh" ujar Atar sambil tersenyum
Raja dan teman-temannya merasa ngeri dan percaya dengan cerita Atar apa lagi mereka melihat langsung lengan Atar yang kekar dan berotot seperti kapten Amerika dalam film holywood.
"Ma-maaf om tadi aku cuma bercanda, kami janji tidak akan mengganggu Shabira dan Jidan lagi" ucap Raja tubuh bergetar karena ketakutan.
"Beneran ya Janji kalian tidak akan mengganggu lagi Shabira dan Jidan" Atar yang kurang yakin mengulang kembali kalimatnya.
Raja dan teman-temannya lalu mengangguk mengiyakan ucapan Atar.
"Shabira, Jidan kalau mereka bohong bilang ya sama ayah nanti ayah akan datangin mereka" kata Atar.
"Siap ayah!" serempak Shabira dan Jidan berkata sambil tersenyum.
Akhirnya Raja dan teman-temannya lari kocar kacir karena ketakutan.
...****************...
Waktu menunjukan pukul 08.30 Semua wali murid sudah berkumpul di aula sekolah, mereka semua duduk dikursi yang sudah disediakan, acara pun kini sudah dimulai. Acara demi acara terus berlangsung dari sambutan demi sambutan dari pihak sekolah hingga ucapan terimakasih dari anak-anak pada sosok ayah mereka yang dituangkan dalam bentuk puisi yang dibawakan oleh Shabira dan Jidan.
Puisi yang dibawakan Shabira dan Jidan itu membuat hati Atar terenyuh. Ada perasaan sedih dan bersalah karena belum bisa jadi sosok ayah yang baik buat putri semata wayangnya. Dia tak bisa berhenti menatap putrinya yang begitu menghayati saat membacakan puisi.
Ternyata bukan cuma Atar yang tersentuh akan isi dan penghayatan puisi yang dibawakan kedua bocah itu, para orang tua lain juga ikut merasa sedih bahkan mereka ada yang meneteskan air mata saat mendengarkan puisi dengan backsound yang begitu menyedihkan.
Hingga akhirnya kesedihan itu berakhir ketika MC mengakhiri acara diatas panggung dan berganti ke acara pokok yang akan mengadakan game dilapangan terbuka yang ada disekolah itu, game yang tentunya akan semakin mengeratkan hubungan antara anak,keluarga lain dan ayahnya yang akan menguji seberapa kompak mereka dan banyak hal lagi.
Setelah itu koin dari gigitan sang ayah dioper atau distapetkan kesang ibu dengan cara digigit setelah itu ibunya berlari sejauh satu meter untuk mengumpulkan koin di mangkuk yang dipegang oleh anaknya. Dengan catatan tangan ibu dan ayah tidak boleh menyentuh koin atau pun semangkanya, kedua tangannya harus berada dibelakang badan.
Game ini akan dinilai dari kekompakan semua anggota keluarga dan berapa banyak koin yang berhasil dikumpulkan, yang paling banyak merekalah pemenangnya. Saat game dimulai Atar segera mengambil koin dari semangka dengan digigit, dia nampak kesulitan karena semangkanya terus berputar seperti lomba makan kerupuk diacara tujuh belasan Agustus.
Tapi pada akhirnya dia berhasil menarik koin dari semangka. Atar segera memberikan koin itu pada Jani yang sedari tadi sudah ada dibelakang Atar. Bukannya menerima koin itu Jani malah bengong sambil menatap wajahnya Atar yang kala itu menampakan deretan giginya yang putih dan rapih sambil menggigit koin, dia memberi isyarat pada Jani agar segera mengambil koin dari gigitan giginya.
"Ah! Ko gamenya kaya gini sih? Masa aku harus menerima koin dari mulutnya Atar yang bener aja" batin Jani merasa canggung.
Karena Jani terus bengong sambil terus menatap Atar akhirnya Atar menggeram sebagai isyarat agar Jani segera mengambil koinnya, sebab kalau dia bicara langsung koinnya bisa jatuh ke tanah.
"Hhmmm... Hhmmm...!!" geram Atar.
"Bunda! Cepat gigit koin dari mulut ayah terus bawa kesini" teriak Shabira yang melihat Jani terus bengong.
Jani segera menggigit koin dari mulut Atar. Tiba-tiba ada perasaan berbeda dikedua insan itu, perasaan canggung yang amat luar biasa tentu saja dirasakan oleh Jani, sebenarnya Atar juga merasa sedikit canggung tapi karena dia tak punya niatan lain pada Jani selain hanya ingin ikut berpartisifasi dalam acar itu, perasaan canggungnya pun bisa segera ditepis olehnya.
Setelah mengambil koin dari mulut ke mulut tanpa bersentuhan lalu dia segera berlari ke arah Shabira dan Jidan untuk menyimpan koin di mangkuk yang dipegang oleh Jidan. Setelah itu Atar segera mengambil koin berikutnya tapi ketika akan memberikan koin berikutnya sikaf Jani kembali seperti tadi.
Dia tetap merasa canggung hingga koin yang mereka kumpulkan hanya sedikit, beda halnya dengan peserta lain yang cekatan dan cepat hingga mereka sudah mendapatkan koin yang banyak. Setelah koin dari mulut Atar digigit oleh Jani, Atar lalu berbisik ditelinga Jani.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, ini kan cuma lomba nggak ada maksud lain, kamu baper ya?"
Jani merasa kesal dengan ucapan Atar dia lalu meninjak kaki Atar sekuat tenaga sambil memelototinya setelah itu dia berlari kearah Shabira dan Jidan.
"Aawww! Janiii! Sakit tahu" protes Atar sambil meringis dan mengangkat kakinya yang kesakitan.
Jani menoleh kebelakang sambil melototinya, dia lalu menyimpan koin di mangkuk. Gamenya terus berlanjut hingga batas waktu permainan selesai. Panitia segera membunyikan peluit pertanda game berakhir.
"Prriiiiittt!! Game berakhir!" teriak panitia.
Semua peserta lalu berhenti kemudian mereka menghitung koin yang didapat hingga ditemukanlah pemenangnya. Karena koin yang didapatkan oleh timnya Shabira hanya sedikit mereka jadi kalah. Shabira dan Jidan nampak kecewa tapi Atar segera menyemangati mereka.
"Kalian jangan sedih ya, kan masih ada lomba yang lain nggak apa-apa lomba yang ini kita kalah tapi lomba yang lain kita harus menang ok!" ucap Atar sambil mengelus lembut pundak Jidan dan Shabira.
Shabira dan Jidan lalu mengangguk.
"Kalau begitu, Ayo! Semangat, kita pasti bisa!" ucap Atar.
Lomba selanjutnya adalah lomba balap bakiak. Mereka semua bersiap digaris awal dengan Atar yang berada didepan sebagai komando dibaris kedua ada Jani lalu Jidan dan baris terakih ada Shabira. Mereka semua saling berpegangan, saat pluit dibunyikan pertanda lomba dimulai semua peserta mulai bergerak dengan menyamakan langkah kaki mereka dan menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh sebab kalau terjatuh mereka akan dinyatakan gugur.
"Semangat! Semangat! Kita pasti bisa, ayo samakan gerakan kakinya agar kita tidak jatuh!" ucap Atar penuh semangat.
"Garis finish tinggal sedikit lagi ayo lebih cepat agar tak ada yang bisa menyusul kita" kata Atar lagi lebih semangat.
Jani, Shabira, Atar dan Jidan sangat antusias untuk segera mencapai garis finish dengan ekstra menjaga keseimbangan dan mempercepat langkau kaki mereka dan akhirnya mereka bisa sampai digaris finish.
"Yeeyyy!!! Kita menang!!" seru serempak Jani, Atar, Jidan dan Shabira dengan riang gembira.
Saking gembiranya mereka, setelah berhasil melewati garis finish dengan posisi masih memakai bakiak tiba-tiba Atar oleng dan tersungkur jatuh dengan posisi tengkurap otomatis Jani, Jidan dan Shabira ikut jatuh dengan saling bertubrukan. Bukannya meringis kesakitan Jidan dan Shabira malah tertawa gembira.
Atar dan Jani merasa senang setiap kali Putrinya merasa bahagia mereka pun tersenyum masih sambil bertubrukan.
"Shabira apa kita akan tetap seperti ini, ayah tidak bisa bangun kalau kalian semua masih menindih ayah" ucap Atar pada Shabira karena dia yang berada diposisi paling atas.
" Eh! Iya yah, maaf aku akan seger bangun" kata Shabira segera bangun.
Setelah Shabira bangun semua juga segera bangun. Setelah mendapat kalung penghargaa sebagai juara pertama lomba selanjutnya segera dimulai lagi hingga waktu terus berlalu dan acara pun segera berakhir semua kembali pulang.
Disepanjang jalan Jidan dan Shabira yang duduk dibelakang sementara Atar dan Jani duduk didepan, mereka terus berceloteh membicarakan keseruan dan kebahagian hari ini. Sementara Atar terus pokus nyetir mobil sambil sesekali melihat anak-anak dikaca spion yang ada didepan, ditengah mobil.
Tak terasa dia menyunggingkan senyuman senang melihat kebahagiaan yang tersirat diwajah polos anak-anak itu. Diam-diam Jani mencuri pandangan Atar dalam hati Jani juga merasa senang ketika melihat Atar, Shabira dan Jidan merasa senang.
"Atar, makasih ya untuk hari ini. Anak-anak sepertinya sangat senang hari ini" lirih Jani kembali menatap kedepan jalan.
Atar melirik kearah Jani sambil tersenyum lalu dia berkata "Aku juga senang kalau melihat anak-anak senang"
__ADS_1
Jani lalu tersenyum pada Atar.
Bersambung