
Di balai desa sudah nampak banyak orang yang akan mengikuti acara nikah masal, disana mereka datang bersama keluarga dan kerabat dekat. Setelah menyerahkan Jani dan Atar ke panitia nikah masal, petugas satpolpp itu kembali ke tugas mereka.
Disana Jani dan Atar terus menolak untuk dinikahkan dengan banyak alasan. Tapi sesuai titah petugas satpolpp untuk menikahkan mereka, mereka tak menggubris Jani dan Atar. Atar malah disuruh menghapalkan ucapan ijab kabul.
Jani dan Atar memang tak seperti yang lainnya yang datang ketempat itu dengan berdandan ala pengantin, mereka juga tidak datang bersama keluarga atau kerabat sebab mereka bisa sampai ditempat ini karena digiring satpolpp.
Jani dan Atar juga tidak bisa menghadirkan wali di pernikahan mereka karena mereka takut dimarahin oleh orang tua mereka sebab mereka digerebek sedang berduaan dikontrakan lalu satpolpp itu menyuruh mereka untuk menikah jika mereka tidak mau maka mereka akan dijebloskan ke penjara, meski faktanya ini hanya kesalah pahaman semata dan mereka tak membuat kesalahan apa pun.
Sebelum dinikahkan penghulu itu menanyakan wali untuk Jani, tapi karena mereka tak mau orang tua mereka datang kesini akhirnya Jani terpaksa berbohong kalau bapaknya sudah meninggal. Kemudian penghulunya menyarankan mereka untuk menikah dengan wali hakim.
Setelah proses yang begitu alot karena banyak kendala akhirnya Atar dan Jani sah dinyatakan sebagai sepasang suami istri dengan wali hakim, meski pernikahan mereka diadakan di acara nikah masal tapi nama mereka sudah terdaftar di KUA.
Ketika acara nikah masal itu selesai dan mereka mengantongi buku nikah mereka lalu pergi dengan tak semangat. Jani mau pun Atar masih tak mau kembali pulang karena merasa bingung dengan buku nikah dan status mereka, mereka lalu pergi ke danau yang ada dikampung itu.
Keduanya tengah duduk di rerumputan yang menghijau seraya memegang buku nikah itu. Rasa frustasi terlihat amat jelas diwajah mereka. Atar benar-benar merasa bingung harus bagaimana menjelaskan soal pernikahan ini pada keluarganya dia lalu mengacak rambutnya dengan amat frustasi.
"Aakkhhh! Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan dengan buku akte nikah ini? Kamu juga sih, Jani. Kalau saja kita tidak menemui preman itu mungkin kita tidak akan terjebak di pernikahan ini" gerutu Atar kesal.
"Eh! Atar, maksudku itu mau belain kamu. Tapi kamu ko malah nyalahin aku sih, aku juga tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini, lain kali aku tidak akan belain dan tidak akan bantu kamu lagi kalau kamu ada masalah" Jani jadi sewot.
"Iya, iya, aku minta maaf, aku tidak akan menyalahkan kamu lagi. Aku hanya bingung dengan buku nikah ini, kalau ibuku tahu kita menikah dengan cara seperti ini, leherku bisa digorok sama ibu, aku bisa-bisa diceramahin dua hari dua malam gak berhenti-henti sama Ibu"
"Ya sama aja Atar! Aku bisa-bisa digantung sama bapakku kalau bapak tahu anaknya nikah dengan cara seperti ini. Entar bapakku mikir kita emang beneran ngapa-ngapain lagi hingga terpaksa dinikahkan dengan cara seperti ini"
"Terus sekarang kita harus gimana? Aku tuh masih belum lulus sekolah, Jani. Uang jajan pun aku masih minta sama orang tuaku, kalau begini aku nafkahi kamunya gimana?" tanya Atar amat frustasi.
Jani yang sama-sama bingung hanya bisa bergeming untuk sesaat tak lama kemudian dia lalu berkata.
"Kita bakar aja buku akte nikah ini biar gak ada orang yang tahu kalau kita sudah menikah, terus nanti kita bersikaf biasa saja seperti tak terjadi apa pun. Mendingan sekarang kita fokus menghadapi ujian sekolah saja, kita lupain kejadian hari ini"
__ADS_1
"Mau menghilangkan bukti pernikahan kita? Tetap aja, Jani! Nama kita sudah terdaftar di KUA. Terus jika nanti kita sudah dewasa dan ingin menikah lalu bagaimana dengan status pernikaha kita ini?"
"Kamu jangan mikirin yang jauh-jauh dulu deh, kita pikirin yang sekarang aja dulu, kita rahasiakan soal pernikahan ini terus kita fokus belajar agar kita lulus di ujian sekolah"
"Tapi aku rasa buku ini jangan dibakar dulu soalnya takut kita membutuhkan ini dikemudian hari" saran Atar.
"Buat apa buku ini? Kamu tidak sedang berpikir untuk benar-benar menikah denganku kan Atar?"
"Ya nggaklah, Jani. Aku itu masih normal karena aku mau menikah dengan cewek normal bukan cewek jadi-jadian" ucap Atar seraya menahan tawanya karena dia sedang meledek Jani.
"Jadi kamu pikir aku tidak normal?" pekik Jani dengan ngegas.
"Ko kamu baper sih, aku gak bilang kamu gak normal loh"
"Sialan kamu, kamu pikir aku bodoh? Ucapan kamu itu menjurus ngeledek aku RAFATAR!" kata Jani penuh penekanan sambil menggaet leher Atar dan menjitaki kepalanya berkali-kali untuk melampiaskan kekesalan Jani.
Atar malah terkekeh membuat Jani makin kesal.
Jani lalu menghentikan aksinya kemudian dia kembali duduk masih dengan mulut manyun.
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Jani mulai mereda emosinya.
"Seperti kata kamu tadi kita rahasiakan soal pernikahan ini terus kita fokus belajar untuk menghadapi ujian sekolah, soal buku ini lebih baik kita kubur aja ditanah dan melupakan kejadian hari ini"
Jani akhirnya menyetujui saran dari Atar. Mereka lalu mengubur buku nikah itu di tanah dekat batu besar dengan dimasukan kebekas kaleng biskuit yang mereka temui dijalan. Atar akhirnya bisa mengikuti ujian sekolah setelah Dion memberinya uang, saat itu Dion telat memberikan uang karena bosnya sedang pergi keluar kota, setelah pulang barulah Dion meminjam uang dari bosnya.
Setelah hari itu Jani dan Atar merahasiakan pernikahan mereka dan mereka benar-benar melupakan pernikahan itu hingga insiden di vila yang membuat Jani menghilang tanpa jejak dan semua baru terungkap ketika cinta menemukan radarnya sendiri.
Flash back off
__ADS_1
Sekarang Jani mengingat semuanya setelah Atar menceritakan kejadian 10 tahun lalu itu. Kini ada perasaan yang bercampur aduk dihati mereka antara marah, menyesal, kecewa dan tak terima. Setelah begitu banyak hal yang dilewati oleh Atar untuk bisa menikahi Jani, Atar Jadi kesal karena merasa perjuangannya seperti sedang dipermainkan oleh takdir.
Begitu pula dengan Jani dia amat menyesal karena malah kabur setelah tahu kalau dirinya melakukan hubungan intim dengan Atar, padahal mereka sudah resmi menjadi suami istri jadi wajar kalau mereka melakukan hubungan itu. Atar dan Jani lalu tertawa namun mata mereka memancarkan kesedihan dan kemarahan.
"Kamu kenapa tertawa?" tanya Atar.
"Lucu aja karena aku merasa amat bodoh. Kenapa aku malah kabur dan menyiksa diri sendiri dengan menanggung aib sendirian padahal kalau dulu kita menyadari bahwa kita pernah menikah aku tak seharusnya kabur hanya karena kita melakukan hubungan itu. Wajar kan kalau kita melakukannya karena kita sepasang suami istri, aku minta maaf ya atas kebodohanku ini" jawab Jani dengan amat menyesali perbuatannya dulu.
Atar lalu tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu Jani dengan lembut. "Iya tidak apa-apa aku sudah memaafkan kamu"
"Lalu kenapa tadi kamu tertawa?" kini Jani yang balik bertanya.
"Ya, aku juga merasa ini lucu tapi aku marah saat semua orang menyalahkanku, aku sedih saat Azka, Jho dan Gio mengusir dan memusuhiku, aku sakit saat bapakmu mencekikku karena bapakmu marah sebab aku sudah menghamili anaknya. Hatiku terluka saat bang Dion mencaci makiku, menghinaku dengan ucapan kasarnya, menganggapku amat hina dan rendah, bang Dion juga menghajarku karena menganggap aku sudah mencoreng nama baik keluarga ini, ingin rasanya aku marah, ingin rasanya aku menyalahkan seseorang tapi siapa yang harus ku salahkan? Mereka juga tidak akan begitu kalau aku jujur aku pernah menikah sama kamu" tutur Atar sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya padahal matanya berkaca-kaca karena amat sedih.
Jani makin merasa amat bersalah dengan apa yang sudah menimpa Atar selama ini hanya karena ingin mendapatkan cinta dari Jani dan putri mereka, Atar harus banyak melewati cobaan yang membuat hatinya amat nelangsa.
Tanpa terduga Jani tiba-tiba memeluk Atar seraya terisak. Atar jadi kaget karena ini adalah pelukan hangat pertamanya setelah mereka melewati banyak cobaan, pelukan dari wanita yang katanya ibu dari anaknya Atar, wanita yang katanya istri sah Atar yang tak pernah disadari oleh dirinya. Awalnya Atar ragu tapi pada akhirnya dia membalas pelukan hangat dari Jani.
...****************...
Setelah semua rahasia terbongkar Atar dan Jani kembali ke mobil karena mereka akan pulang dan menceritakan semua ini pada keluarga mereka. Disepanjang jalan mereka terus ngobrol untuk saling meyakinkan dan menguatkan kalau pernikahan mereka itu sah dimata agama dan hukum.
"Atar, aku masih ragu. Apa pernikahan kita dulu itu emang sah ya kan bapak aku gak jadi wali di pernikahan kita?" Jani meragu.
"Kan walinya diganti jadi wali hakim, lagian ya di Indonesia ini udah kebiasaan kebanyakan bapaknya gak nikahin anaknya secara langsung, biasanya bapaknya nyuruh penghulunya yang menikahkan pengantinnya. Banyak orang juga yang kawin lari tanpa diwaliin sama bapaknya karena tidak merestui pernikahan mereka, tapi pernikahan mereka sah, sah aja tuh"
"Tapi dulu aku juga pernah nikah sama Azka karena disuruh kakak kelas" ujar Jani dengan wajah datar tapi ekor matanya melirik kearah Atar yang sedang menyetir mobil.
"Itu nikahnya bohongan gak sah karena syarat nikahnya tidak terpenuhi, tidak ada saksi, tidak ada wali dan tidak terdaftar di KUA" ucap Atar jadi posesif.
__ADS_1
Akhirnya Jani hanya bergeming hingga mereka sampai dirumah.
Bersambung