Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Kecewa


__ADS_3

Setelah menemui Shabira Jho pulang ke vila, disana sudah ada Atar, Azka dan Gio yang menunggu Jho.


"Jho gimana kamu berhasil dapatin rambutnya Shabira?" tanya Gio


Jho langsung tersenyum pada mereka sambil menunjukan tisu yang didalam lipatannya ada rambut Shabira.


"Berhasil dong" ucap Jho tersenyum girang.


"Oke kalau gitu besok pagi kita pergi kerumah sakit dikota untuk segera melakukan tes DNA" ujar Azka


Mereka semua mengangguk sambil tersenyum. Esok paginya mereka berempat pergi ke kota pagi-pagi sekali karena mereka sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil tes DNA nantinya.


Siang hari kemudian.


Jidan terus berjalan dengan tergesah-gesah, wajahnya terlihat manyun sementara dibelakangnya terlihat Shabira terus mengejar Jidan dengan langkah setengah berlari agar bisa mengejar Jidan.


"Jidan! Tungguin aku dong, jalannya ko cepet banget sih" teriak Shabira yang mulai kelelahan mengejar Jidan.


Anak laki-laki itu tak mempedulikan Shabira, dia terus berjalan tanpa menoleh kearah gadis kecil yang terus memanggilnya hingga akhirnya Shabira berhasil mengejar Jidan.Dia menarik tas sekolah Jidan agar Jidan berhenti berjalan.


"Kamu kenapa sih aku panggilin dari tadi nggak nyahut-nyahut? Kamu marah sama aku? Marah kenapa?" tanya Shabira kebingungan.


Jidan menepis tangan Shabira yang masih dipundaknya kemudian dia melengos pergi tanpa berkata apa pun, Shabira mengejar Jidan kembali. Ketika dia sudah dekat dengan Jidan,Shabira menjewer telinga Jidan.


"Aaaawww! Sakit Shabira!" protes Jidan sambil memegangi telinganya.


"Makannya kamu jawab pertanyaan aku dong, Kenapa dari tadi kamu nyuekin aku terus?" tanya Shabira.


"Mulai detik ini kita harus jaga jarak, tidak boleh ngobrol, tidak boleh main bareng, tidak boleh bareng-bareng terus" jawab Jidan mulai mau buka suara.


"Kenapa harus begitu?" tanya Shabira.


"Karena kamu akan pergi jauh, kamu tidak akan jadi saudaraku lagi" jawab Jidan.


"Siapa yang bilang aku akan pergi, lagian aku akan pergi kemana?" kata Shabira.


"Orang-orang bilang begitu padaku. Aku pasti sangat merindukan kamu saat kamu pergi makannya dari sekarang lebih baik kita jaga jarak saja agar aku tidak terlalu sedih saat kamu akan pergi" lirih Jidan dengan amat sedih.


"Dari tadi kamu bilang aku akan pergi, pergi, pergi, emangnya kamu pikir aku akan pergi kemana?"


"Aku dengar ayahmu datang untuk membawa kamu dan bunda pergi, bunda tidak mungkin membawaku meski aku anak angkatnya karena bisa saja ayahmu tidak bisa menerima kehadiranku, makannya saat kamu dan bunda pergi bersama ayahmu aku akan tetap tinggal dipanti" tutur Jidan sambil menunduk sedih.


"Owh... jadi kamu cuekin aku dari tadi gara-gara itu?"


Jidan mengangguk sambil terus manyun. Shabira lalu membuang nafas kasar sambil geleng-geleng kepala seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


"Tenang aja Jidan, aku dan bunda tidak akan pergi karena sepertinya bunda tak mau kembali pada ayah meski aku menginginkannya" lirih Shabira lalu menunduk sedih.


"Aku melihat bunda seperti tertekan saat kami membahas soal ayah, aku tak mau membuat bunda sedih jadi aku putuskan untuk tetap hidup seperti ini" tambah Shabira.


"Kamu serius tidak akan pergi meninggalkan aku?" tanya Jidan penuh harap.


Shabira lalu menggaet leher Jidan sambil berkata "Tentu saja aku tidak akan meninggalkan kamu saudaraku, jadi kamu jangan sedih, jangan cuekin aku lagi ya"


Jidan lalu tersenyum pada Shabira sambil mengangguk bahagia, mereka lalu pulang ke panti.


Dirumah sakit


Keempat pria itu sudah menyerahkan sempel mereka beserta sempel milik Shabira kini tinggal pihak rumah sakit yang sedang mencocokan DNA mereka.


Jho, Azka, Atar dan Gio kini sedang menunggu hasil tes DNA mereka dengan harap-harap cemas,itu terlihat jelas diraut wajah mereka yang terlihat tak tenang.


Hingga akhirnya dokter yang menangani tes DNA mereka keluar sambil membawa hasilnya, keempat pria itu langsung berhamburan memburu sang dokter.


"Dok gimana hasil tes DNAnya?" tanya Gio mewakili rasa penasaran semuanya.


"kalian bisa membaca hasilnya sendiri disurat ini, ini suratnya" kata dokter sambil membagikan amplop berwarna putih pada keempat pria itu.


Semua menatap lekat amplop ditangan mereka masing-masing. Karena tak sabar Gio langsung membuka isinya dan membaca hasilnya.


"Hasilku negatif jadi Shabira bukanlah anakku" ucap Gio dengan perasaan lega karena sudah mengetahui hasilnya.


"Hasil tes DNAku..." Jho menggantung kalimatnya sejenak.


"Aku juga negatif jadi Shabira bukan anakku" lanjut Jho merasa bahagia karena bukan dia yang sudah menyebabkan semua masalah ini terjadi.


Kini tinggal Atar dan Azka yang belum membuka amplopnya dan itu artinya kemungkinannya semakin mengerucut kalau bukan Atar berarti Azkalah ayah kandungnya Shabira.


Azka dan Atar makin gugup, keringat dingin terlihat diwajah mereka, rasa takut itu semakin menyeruak dihati mereka. Dengan tangan bergetar hebat dan lutut yang terasa lemas Atar menatap amplop ditangannya.


Tangannya terlalu sulit untuk digerakan agar segera membuka amplop itu, belum hilang rasa tegang yang menderanya tiba-tiba Azka bersujud sambil menangis sesegukan.


Hiks...hiks...hiks...hiks...hiks..


Seketika kedua bola mata Atar langsung membulat sempurna antara kaget,sedikit lega dan bingung.


"Ke-kenapa Azka menangis? Apa hasil tes Azka itu positif? Apa dia ayahnya Shabira?" batin Atar terbata-bata.


Jho yang penasaran lalu berjongkok dan bertanya pada Azka yang terus menangis sesegukan.


"Azka, kamu kenapa menangis?"

__ADS_1


"Aku sangat sedih saat tahu Jani kabur gara-gara sudah melakukan hubungan terlarang itu dengan salah satu dari kita dan akhirnya dia punya anak, aku sangat sedih saat melihat om Hadi yang merasa sedih dan kehilangan putri kesayangannya itu saat Jani menghilang tanpa jejak, tak bisa kubayangkan gimana hancurnya perasaan om Hadi dan Jani saat itu, itu sangat membuatku merasa amat bersalah karena..." Azka menggantung kalimatnya sesaat.


"Karena aku pikir akulah yang sudah menyebabkan Jani menderita sebab, sebab akulah yang terakhir kali melihat dan mabuk bersama Jani dari situ aku pikir akulah ayah kandungnya Shabira tapi saat kubaca hasil tes DNAku dengan Shabira hasilnya itu negatif aku bukan ayah kandung Shabira, itu membuat hatiku lega" tutur Azka masih sesegukan.


Suasana menjadi hening untuk sejenak hingga keenam mata itu mulai menatap Atar dengan tatapan mendakwai, Atar langsung tercengang kaget mendengar hasil tes DNA Azka yang juga negatif itu artinya yang positif pastilah hasil tes DNA miliknya. Perasaan tegang yang luar biasa dirasakannya itu sudah tak bisa dia kuasai lagi.


Gugup, keringat dingin, lutut lemas dan tangan bergetar hebat sudah pasti dirasakan oleh Atar apa lagi ketiga temannya terus menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Atar hasil tes DNA kamu pasti positif iya kan?"


Pertanyaan dari Gio itu seakan mencambuk tubuhnya yang lemah, Atar tak bisa bicara bibirnya terlalu kelu untuk berucap, tangannya pun tak bisa membuka amplop putih yang masih ada ditangannya saking ketakutannya dia untuk melihat hasilnya.


Karena Atar tak kunjung membuka amplop itu Jho lalu merebut amplop ditangannya kemudian dibuka dan dibaca hasilnya oleh Jho. Kedua netra Jho menelisik dengan seksama dan cermat agar tak ada satu kata pun yang dia lewati hingga netranya membaca hasil yang tertera dikertas itu.


Setelah mengetahui hasilnya Jho langsung menatap nanar wajah Atar, dia lalu memberikan hasil tes DNA itu kedada Atar dengan sedikit mendorongnya hingga Atar sedikit beringsut mundur.


"Brengsek kamu Atar, aku tidak menyangka aku berteman dengan pria bajingan seperti kamu, aku kecewa sama kamu Atar" umpat Jho dengan penuh kemarahan.


"Jho!" lirih Atar sambil menatap Jho dengan sedih


Karena dia kesal melihat Atar, Jho lalu melengos pergi. Atar tak membalas umpatan Jho dia hanya menelan salivanya dengan perasaan tak karuan, masih dengan tangan bergetar dia melihat hasilnya dan membacanya.


Dengan ini sodara Rafatar Alfarasya dinyatakan sebagai ayah biologis dari ananda Shabira Nur Arafah


Atar langsung tercengang tak habis pikir, Bagaimana bisa dirinya dinyatakan sebagai ayah biologis Shabira sementara Atar tak pernah ingat kalau dia pernah melakukan hubungan itu dengan Jani? Kepalanya mendadak pusing dan dadanya terasa sesak.


Rasa kecewa terhadap dirinya sendiri membuat Atar tak bisa memaafkan dirinya atas kesalahan besar ini. Dia lalu menunduk lesu, Gio yang penasaran kemudian merebut kertas dari tangan Atar.


Dibacanya kertas itu, Azka ikut membaca karena penasaran. Setelah mereka mengetahui hasilnya Gio langsung memberikan kertas itu pada Atar.


"Kenapa kamu tega ngelakuin ini pada Jani, Atar? Kenapa kamu membuatnya menderita? Aku benar-benar kecewa sama kamu, aku tak mau jadi temanmu lagi Atar" ketus Gio sambil menatap sinis pada Atar lalu dia pergi.


"Gio!" lirih Atar sedih sambil menatap kepergian Gio


"Aku juga sangat kecewa sama kamu, aku tak mau melihatmu lagi Atar" ucap Azka amat kecewa sama Atar.


"Azka!" ucap Atar saat Azka juga ikut pergi menyusul kedua temannya.


Atar meraup wajahnya karena bingung dia harus apa dan bagaimana? Dia lalu mengejar ketiga temannya. Diparkiran mobil, Azka, Jho dan Gio sudah masuk kemobil.


Ketika Atar hendak membuka handle pintu mobil, mobil yang ditumpangi ketiga sahabatnya tiba-tiba melaju tanpa Atar sempat masuk kedalamnya. Atar hanya bisa melongo ketika mobil itu terus berlalu pergi menjauh darinya. Dengan tangan yang masih menggantung diudara karena hendak membuka handle pintu mobil tapi mobil keburu melaju, Atar pun bergumam dengan perasaan sedih.


"Apa mereka serius meninggalkanku sendiri disini? Apa mereka sebegitu marahnya kah padaku hingga tega ninggalin aku disini?"


Atar lalu tertunduk lesu, hatinya benar-benar kecewa dan hancur atas semua ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2