
Azka yang tahu Atar tak masuk kerja selama beberapa hari tanpa ada kabar apa pun akhirnya mencari tahu kabar tentang Atar. Dan ketika kabar sakit Atar hingga dia harus dirawat dirumah sakit telah sampai ditelinga Azka kemudian dia mengajak Jho untuk menjenguk Atar.
Jho pun mengiyakan hari ini untuk menjenguk Atar. Kedua pria itu yang sudah mengetahui kepulangan Gio dari Australia dan sudah bertemu dengannya, tak lupa mereka pun mengajak Gio untuk menjenguk Atar dengan mengabari Gio lewat via telepon. Saat sambungan telepon tersambung tanpa basa basi lagi Azka langsung berbicara pada intinya.
📞Gio, Atar sakit dan dia dirawat dirumah sakit sudah beberapa hari, aku dan Jho berencana untuk menjenguknya. Apa kamu akan ikut bareng kami untuk menjenguk Atar?
Sebenarnya Gio sudah tahu kalau Atar dirawat dirumah sakit, dia juga tahu sebelum Atar dirawat dirumah sakit Jani dan Atar sempat bertengkar lagi tapi karena Gio masih marah pada Atar jadi dia enggan untuk menjenguk Atar. Ditambah lagi Gio tahu saat ini Jani tak pulang kerumah bapaknya dan tak ada satu orang pun yang tahu keberadaan Jani dimana sekarang.
Dari itu Gio lebih memilih mencari keberadaan Jani dari pada harus menjenguk Atar dirumah sakit. Tapi, dia tak bisa menolak langsung ajakan Azka akhirnya Gio berdalih.
📞Kalian saja duluan, aku masih ada urusan nanti aku akan menyusul kalian kalau urusanku sudah selesai' tolak Gio dengan lembut.
Sambungan telepon pun terputus. Azka dan Jho yang datang bersama istri mereka kerumah sakit lalu langsung mencari kamar dimana Atar dirawat. Semenjak kedatangan mereka, mereka tak melihat Jani dan itu menimbulkan rasa penasaran dibenak Jho dan Azka.
Rumi lalu menceritakan kalau rumah tangga Atar dan Jani sedang tidak baik-baik saja, semua permasalahan dimulai dari kedatangan Raisa dan bayinya hingga membuat pertengkaran antara Jani dan Atar makin intens, bahkan hingga sekarang Atar dirawat dirumah sakit, Jani tak sedikit pun menampakan batang hidungnya sama sekali.
Dari kunjungan itu barulah Jho dan Azka mulai mengetahui permasalahan yang selama ini ditutupi oleh Atar. Jho dan Azka merasa marah pada Atar tapi saat mereka melihat wajah pucat yang masih tergolek lemah dipembaringannya itu membuat mereka iba juga terhadap Atar.
Sebenarnya Jho dan Azka ingin mendengarkan langsung cerita permasalahan rumah tangga mereka versi cerita menurut Atar dan Jani. Tapi kedua insan itu tak bisa dimintai untuk bercerita sebab yang satu sedang sakit dan yang satunya lagi tak ada entah dia pergi kemana. Akhirnya mereka hanya bisa menarik kesimpulan berdasarkan cerita dari Rumi saja.
Tiba-tiba Atar mulai menggerakan jari jemarinya, dengan perlahan kemudian dia mulai membuka matanya.
"Alhamdulillah, Atar akhirnya kamu sadar juga"
Samar-samar suara itu bisa didengar oleh Atar meski dia tak tahu siapa yang sedang bicara, hingga kesadaran Atar kembali sepenuhnya. Dia langsung bangun saat mengingat Jani kembali.
"Jani, mana Jani? Aku harus cari Jani, aku harus minta maaf padanya" kata Atar panik ketika mengingat Jani sudah salah paham lagi padanya.
Tapi Rumi melarang Atar yang hendak bangun dan pergi dari tempat tidurnya karena kondisi Atar masih lemah pasca tak sadarkan diri selama dua hari.
"Jangan pergi Atar! Kondisi kamu belum sepenuhnya pulih" larang Rumi sambil menahan Atar bangun dari tidurnya.
"Jani salah paham padaku, aku harus menjelaskan semua dan meminta maaf padanya karena aku tahu Jani sangat marah padaku"
__ADS_1
"Atar, kondisi kamu masih lemah. Sudahlah kamu jangan pikirin Jani, dia sendiri tidak peduli sama kamu bahkan saat kamu dirawat dirumah sakit selama dua hari pun dia tak ada disampingmu untuk menjaga kamu, hanya Raisa yang selalu ada buat kamu" Rumi mempengaruhi pikiran Atar agar Atar membenci Jani sebab Rumi merasa kesal pada Jani, disaat suaminya sakit dia malah kabur entah kemana.
Atar hanya bisa menelan sendiri kekecewaannya sebab dia tak bisa bertemu dengan Jani karena ibunya yang melarang dia mencari Jani meski dia sangat ingin bertemu dengan Jani.
...****************...
Didekat jendela kaca di sebuah bangunan berdirilah seorang wanita cantik berambut panjang dan terurai, wanita itu terus menerawang jauh dibalik kaca yang terlihat ada banyak bangunan pencakar langin dekat bangunan yang kini dipijaknya. Dibawah sana ada pula jalanan beraspal yang terlihat kecil jika dilihat diatas gedung,
Wanita itu terus melamun dengan pikiran yang terus berkelana entah ada dimana. Dia masih tak habis pikir bagaimana suaminya tak mengejarnya saat itu untuk meminta maaf, suaminya juga tak mencari dirinya padahal dikabur dan tak pulang kerumah bapaknya.
Di liriknya handphone yang di genggamnya. Dia berharap ada panggilan masuk ke handphonenya dari seseorang yang diharapkan dan ditunggunya beberapa hari terakhir ini. Tapi lagi-lagi harapannya kandas ketika dia tak melihat ada tanda-tanda suaminya menghubungi dirinya.
"Apa sekarang Atar sudah tak mencintaiku lagi, hingga detik ini dia belum juga menghubungiku, untuk meminta maaf padaku?" monolog Jani amat galau dan sedih.
"Apa sekarang dia sudah benar-benar melupakanku dan memilih untuk hidup dengan Raisa lalu mencampakan aku begitu saja?" batin Jani tiba-tiba saja hatinya sakit seolah seperti ditusuk-tusuk oleh jarum.
Tak terasa butir bening itu menetes kembali, hatinya kini bergemuruh karena marah dan kecewa saat rumah tangganya berada di ujung tanduk tapi Atar tak menunjukan itikad untuk memperbaiki semua. Kini hanya air mata yang bisa menjadi pelampiasan akan semua rasa dihatinya. Dia lalu mennonaktifkan handphonenya kemudian handphone itu dilempar keatas tempat tidur.
...****************...
Kini sudah satu pekan Atar tak melihat istrinya, dia sudah mencari kepanti asuhan, kerumah mertuanya dan kebeberapa tempat yang mungkin dikunjungi oleh Jani, tapi istrinya itu tak bisa ditemukan.
Jani juga tak mengaktifkan handphonenya hingga Atar tak bisa menghubunginya, pikiran Atar sudah amat semerawut akibat masalahnya dengan Jani ditambah lagi sekarang Jani hilang lagi tanpa ada kabar apa pun, itu sudah semakin membuat hidup Atar makin kacau. Bahkan dia sering tak bisa fokus pada pekerjaan dan juga kedua anaknya.
Saat Atar berpikir ke tempat mana lagi dia harus mencari Jani tiba-tiba terlintas dipikiran Atar akan ancaman dari Gio tempo hari yang akan membawa lari istrinya, mengingat semenjak kejadian itu Gio selalu bersikaf dingin pada Atar, dia jadi berspekulasi terhadap Gio.
"Apa mungkin Gio benar-benar membawa Jani lari?" pikir Atar.
"Aku harus mencari Gio untuk menanyakan soal Jani" gumamnya lalu dia pergi hendak menemui Gio.
...****************...
Ting... Tong
__ADS_1
Suara bel rumah Gio terdengar pertanda ada tamu didepan rumahnya. Dia lalu membuka pintu dan muncullah sosok Atar, Gio yang malas meladeni kedatangannya lalu menutup kembali pintu rumahnya tapi Atar segera menggajal pintu dengan kakinya kemudian Atar mendorong paksa pintu itu agar Dio tak menutupnya.
"Gio, aku mau bicara padamu"
"Sorry, aku gak bisa aku lagi sibuk"
"Gio! Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab pertanyaanku"
"Kamu denger gak sih? Sudah kubilang aku lagi sibuk jadi jangan ganggu aku" ketus Gio.
"Katakan padaku apa kamu tahu sekarang Jani ada dimana?" desak Atar sambil terus mendorong pintu karena Gio pun masih bersusah payah menutup pintu itu.
"Aku tidak tahu, kamu kan suaminya kenapa malah nanya ke aku"
"Sudahlah Gio, katakan saja sekarang Jani ada dimana? Jangan kamu membuang-buang waktuku" desak Atar lagi.
"Eh! Atar! Sudah aku bilang aku tidak tahu kalau pun aku tahu aku tidak akan memberi tahu kan padamu Atar! Karena hidup Jani akan lebih tenang tanpa adanya kamu"
"Brengsek, kamu Gio! Cepat katakan padaku, Jani dimana? Aku tahu kamu pasti sengaja menyembunyikan Jani dariku" tuduh Atar pada Gio.
"Aku tidak tahu. Cepat pergi dari rumahku aku tak mau diganggu olehmu" usir Gio.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu mengatakan padaku Jani ada dimana? Jadi cepat katakan padaku dia ada dimana?"
Gio yang kesal karena Atar terus mendesaknya untuk mengatakan keberadaan Jani padahal dia sendiri tak tahu Jani ada dimana, kemudian Gio menginjak kaki Atar hingga dia meringis kesakitan sambil menjinjit sebelah kakinya.
"Aaawww!!" ringis Atar.
Tak menyiapkan-nyiakan kesempatan Gio lalu menutup pintu dan menguncinya agar Atar tak bisa masuk kedalam rumahnya setelah itu dia pergi dan mengabaikan Atar yang terus menggedor-gedor pintu sambil berteriak memanggil Gio agar membuka pintunya.
Tapi Gio tak mau membuka pintu hingga Atar jadi kesal lalu dia mengumpat dengan berteriak agar Gio mendengarnya, "Brengsek kamu Gio! Aku tahu kamu pasti bawa lari istriku tapi kamu berpura-pura tidak tahu dimana keberadaan Jani, aku tidak akan melepaskan kamu jika kamu terbukti membawa lari istriku!"
Meski pun Atar terus berteriak hingga dia cape sendiri, didalam tak ada tanda-tanda kalau si empunya rumah akan kembali membuka pintu, pada akhirnya Atar kembali pulang dengan membawa rasa kecewa lagi.
__ADS_1
Bersambung