
Gio masih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pandangan matanya terus fokus pada jalan sampai ketika dia hampir melewati sebuah sekolah tiba-tiba mobilnya sedikit oleng karena ban mobilnya kempes.
"Ini mobil kenapa ko tiba-tiba kaya gini?" tanya Gio pada dirinya sendiri.
Dia lalu menepikan mobilnya untuk mengecek keadaan mobilnya. Gio keluar dari mobil kemudian dicek keempat ban mobil itu.
"Ko kempes sih! Bannya" gerutunya agak kecewa.
Gio lalu membuka bagasi mobilnya untuk mengambil ban serep. Diambilnya ban itu lalu digelindingkan menuju kearah ban depan mobil yang kempes. Tujuannya dia mau mengganti sendiri ban kempes itu dengan ban serep tapi Gio mendadak kebingungan ketika dongkrak dan alat pembuka ban mobilnya tidak ada.
"Ya elah! Percuma saja bawa ban serep kalau dongkrak dan alat pembuka bannya nggak ada" ucap Gio sambil menepuk jidatnya.
"Gimana ini?" ucapnya lagi sambil mengedarkan pandangannya kesegala arah berharap dia akan mendapat bantuan mengingat didaerah ini dia belum hapal betul dimana bengkel mobil berada.
Alhasil Gio hanya berdiam diri sambil memikirkan jalan keluar permasalahan. Dia lalu berjongkok untuk melihat seberapa parah kondisi kempes bannya itu.
Dari sebrang jalan sana ternyata diam-diam ada seseorang yang sedang memperhatikan Gio. Dia lalu menghampiri Gio dan menyapanya.
"Permisi mas, sepertinya mas sedang ada masalah? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita berusia kira-kira sekitar 28 tahunan.
Gio lalu berdiri dan menoleh kesumber suara seketika kedua netranya langsung membelalak kagum akan ciptaan tuhan yang sangat indah itu.
"Masya Allah, cantik bener ini perempuan" batin Gio tak bisa mengedipkan matanya barang sejenak saking terpesonanya dia pada sipemilik suara lembut yang tadi bicara padanya
"Halooo... mas, mas ko malah melamun sih?" tanya si perempuan itu sambil melambaikan tangannya dihadapan wajah Gio.
"Eee.. iya mbak ada apa?" tanya balik Gio sedikit gugup.
"Saya lihat mas sedang punya masalah kalau boleh tahu, mas nya punya masalah apa ya? Apa bisa saya bantu?" perempuan itu menawarkan diri untuk membatu Gio.
"Oh iya, ini ban mobil saya kempes, ada sih ban serepnya tapi saya lupa bawa dongkrak sama alat buat buka pasang bannya" jawab Gio.
"Oh itu. Kebetulan saya bawa dongkrak sama alatnya. Apa mas mau pinjam?"
"Eee.. iya, boleh. Saya pinjam ya"
"Baiklah, saya ambilkan dulu ya, ada dimobil saya tuh! Disebrang jalan"
"Oh iya, silahkan ambil dulu, terimakasih sebelumnya"
"Sama-sama mas"
Perempuan itu lalu mengambil dongkrak dan alat untuk membuka dan memasang ban mobil dimobilnya. Sementara Gio hanya menunggu sambil menatap punggung si perempuan cantik itu.
"Masya Allah, sungguh indah ciptaanmu tuhan, sudah dia cantik baik hati pula jarang-jarang ada yang kaya gini, perempuan baik nan cantik itu cocok nih! Dijadikan calon istri" tiba-tiba saja kalimat itu meluncur bebas begitu saja dari mulut Gio.
Sepertinya pandangan pertama ini telah turun kehati Gio. Ya, kebaikan dan kecantikan perempuan itu sudah membuat Gio mengaguminya meski pun mereka tak saling kenal.
__ADS_1
Tak berapa lama perempuan itu memberikan dongkrak dan alat pembuka ban, Gio segera mengganti bannya yang bocor dengan ban serep. Setelah selesai dia kemudian mengembalikan dongkrak dan alat pembuka ban pada si perempuan.
"Terimakasih ya mbak, kalau tidak ada mbak saya tidak tahu akan seperti apa? Karena tempat ini masih baru bagi saya" ucap Gio sambil tersenyum pada perempuan itu.
"Iya sama-sama mas" kata si perempuan sambil tersenyum manis
"Masya Allah, sungguh manis senyumannya" batin Gio yang tak berhenti mengagumi perempuan itu.
Tiba-tiba ada seorang anak sekolah dasar yang menghampiri mereka.
"Kak Ririn, anak-anak sudah pada kumpul semua ayo kita pulang" ucap anak SD itu.
"Oh iya, kamu duluan masuk kemobil nanti kakak nyusul ya, sebentar ko" kata perempuan itu yang dipanggil Ririn oleh anak SD yang menghampirinya
"Oh jadi namanya Ririn" batin Gio.
Anak itu lalu pergi, Ririn lalu berpamitan pada Gio.
"Mas, saya pulang duluan ya, adik-adik saya sudah menunggu dimobil" ucap Ririn.
"Eeee... iya mbak, hati-hati dijalannya ya, dan sekali lagi saya ucapkan terimakasih" ucap Gio.
"Iya mas, sama-sama" Ririn pun lalu pergi menyusul anak-anak.
Didalam mobil Ririn mengabsen anak-anak panti asuhan yang dijemputnya.
"Tadi waktu disekolah Shabira sama Jidan bertengkar lagi kak, Shabira marah lalu dia pulang duluan dan nggak mau nungguin kami. Eh! Jidan juga malah nyusul Shabira" jawab Alsa.
"Ya ampun, kedua anak itu kenapa bertengkar lagi sih? Udah kaya Tom and Jerry aja" gumam Ririn mencemaskan kedua anak itu. Ririn lalu melajukan mobilnya.
Sementara Gio masih mematung ditempatnya dengan tak berhenti memandang berlalunya Ririn hingga mobil yang dikendarainya menghilang dari pandangan mata.
"Ya elah! Kenapa aku biarin dia pergi begitu aja sih, bukannya diajak kenalan dulu, nanyain dimana dia tinggal biar aku bisa bertemu lagi dengannya" Gio menyesali sikafnya karena gagal mencari tahu tentang wanita itu.
"Dia kan kesini ngejemput anak-anak itu artinya dia bakal kembali lagi kesini karena anak-anak itu sekolah disini. Ah! Nanti aku kesini lagi deh" gumamnya merasa sedikit senang karena dia masih punya harapan untuk bisa bertemu lagi dengan perempuan cantik yang baik hati itu.
Gio lalu memasukan ban bocor kebagasi mobilnya setelah itu dia masuk kemobil kemudian dia segera menyalakan mesin mobil dan kembali pulang ke vila.
Di Vila
Azka dan Jho sudah kembali duluan ke vila. Mereka langsung duduk santai disofa sambil ngobrol. Tak berapa lama Atar pulang, dia masuk ke vila dengan berjalan lemas, pikirannya masih belum kumpul. Atar masih kepikiran sama gadis kecil itu.
Setelah masuk dia tak langsung masuk kekamarnya tapi dia malah duduk ditengah-tengah Azka dan Jho yang asyik ngemil sambil ngobrol.
"Atar, kamu kesambet apaan datang-datang jadi aneh kaya gini?" tanya Azka keheranan.
"Azka, Jho coba cubit pipiku" pinta Atar sambil menoleh kearah Azka dan Jho yang saat itu duduk disamping kiri dan kanannya Atar.
__ADS_1
Dengan senang hati mereka lalu mencubit pipi Atar tanpa perasaan hingga membuat Atar menjerit kesakitan.
"Aaaauuuww! Nyubitnya kira-kira dong, kalian kaya punya dendam pribadi aja sama aku, sakit tahu" protes Atar sedikit membentak mereka.
"Katanya suruh dicubit, giliran udah dicubit malah marah mau kamu apaan sih?" tanya Jho sambil cengengesan.
"Ya gak sekencang ini juga kali, kalian tuh! Gak punya perasaan banget sih sama aku" ujar Atar.
"Aduh! Sorry ya, Atar. Aku masih normal ya jadi aku nggak cinta sama kamu" kata Azka dengan senyuman yang tertahan.
"Ih! Ngomong apa kamu, nggak jelas deh" cibir Atar.
"Itu tadi kamu bilang nggak punya perasaan banget sih sama aku" ujar Azka menirukan bicaranya Atar.
"Au ah! gaje banget sih!" ujar Atar kesal lalu pergi kekamarnya.
Tak berapa lama Gio kembali pulang. Dengan wajah yang ceria dan hati berbunga-bunga dia menyapa kedua sahabatnya.
"Selamat siang teman-temanku. Wah! Makan enak nih! Bagi dong" ucap Gio langsung duduk ditengah-tengah kedua sahabatnya sambil mencomot makanan yang lagi dimakan sama Azka dan Jho dengan terus tersenyum.
Azka dan Jho yang merasa ada yang aneh dengan tingkah Gio akhirnya Jho bertanya.
"Gio, kamu kenapa senyam senyum melulu?"
"Hari ini aku lagi senang banget" jawab Gio sambil tersenyum.
"Senang kenapa?" tanya Azka.
"Hari ini aku bertemu bidadari bersayap dongkrak" jawab Gio sambil membayangkan wajah Ririn yang amat cantik.
Sontak jawaban Gio itu membuat Azka dan Jho tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan wanita cantik seperti bidadari dengan sayap dongkraknya. Jho lalu menempelkan telapak tangannya dijidat Gio.
"Hahahaha...!!" serempak Jho dan Azka tertawa.
"Wah! Kayanya teman kita ini tidak waras Azka" ucap Jho.
"Kamu aneh-aneh aja, mana ada bidadari bersayap dongkrak" ujar Azka.
"Tapi nyatanya ada ko, tadi dijalan aku bertemu dengannya dia sangat cantik, baik hati dan senyumannya itu manis banget" jawab Gio yang pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan wajah cantik Ririn.
"Udah dulu ah! Aku mau ke kamar" kata Gio terus tersenyum lalu pergi ke kamarnya.
"Jho, Apa yang terjadi dengan Gio dan Atar kenapa mereka aneh banget hari ini?" tanya Azka kebingungan.
"Aku juga bingung, Kalau si Gio kayanya lagi jatuh cinta deh, sama cewek yang baru ditemuinya kalau si Atar aku gak tahu apa yang terjadi dengannya hari ini?" terka Jho.
Akhirnya Azka dan Jho hanya bisa bergeming tanpa bisa berkomentar apa pun lagi.
__ADS_1
Bersambung