Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Gen Rinjani


__ADS_3

Kaki Jani terus menapaki jalanan aspal, ditelusurinya setiap gank dengan berharap bisa menemukan keberadaan kedua anaknya. Kepalanya sudah terlalu pening untuk terus menyelesaikan semua permasalahan kedua anaknya, jadi dia mau mereka bertanggung jawab sendiri untuk menyelesaikan semua masalah mereka atas kekacauan yang sudah diperbuat.


Sementara dari kejauhan terdengar suara bising kenalpot motor dari sekumpulan anak remaja yang nampaknya hendak mengadakan balapan liar disekitar tempat itu. Kedua mata jeli Jani langsung bisa menangkap sosok anaknya yang berada di barisan pembalap itu.


Jani segera berlari mendekati anaknya yang tidak lain adalah Shabira. Gadis remaja itu terlalu asyik memainkan gas motor trailnya yang menimbulkan suara bising yang memekikan telinga hingga dia tak menyadari kedatangan bundanya.


Jani menggelengkan kepalanya seraya menatap anak gadis itu yang masih belum menyadari kehadiran bundanya, padahal teman-temannya sudah memberi kode pada Shabira tapi tetap saja dia terus asyik mempermainkan suara kenalpot motor trailnya.


Akhirnya Jani menjewer telinga Shabira hingga gadis remaja itu meringis sambil minta ampun ketika dia baru menyadari yang menjewer telinganya itu adalah bundanya.


"Aaawww! Sakit bun, lepasin bun ampun bun!"


"Kamu ketahuan mau balapan liar lagi ya? Bunda kan udah larang kamu buat gak balapan lagi nanti kalau kamu jatuh dari motor gimana? Bunda juga yang repot" omel Jani.


"Ya bunda jangan nyumpahin dong" sahut Shabira sambil manyun.


"Kalau dibilangin nyaut aja ya. Kenapa sih kamu jadi kaya gini? Kamu nurutin siapa kaya gini?"


"Kata ayah aku mirip bunda saat bunda remaja, jadi bunda jangan nyalahin aku kalau aku kaya gini, kan gen bunda ada pada tubuhku jadi sifatku juga keturunan dari bunda" jawab Shabira dengan wajah tanpa dosa sambil megangin telinganya yang masih dijewer oleh Jani.


"Apa! Mirip aku? Si Atar benar-bener ya, menjatuhkan derajat aku aja, kalau udah gini aku jadi bingungkan kalau mau ngomelin Shabira, aku jadi malu sendiri kalau terus ngomel-ngomel karena aku merasa dulu saat aku masih remaja aku juga kaya Shabira" batin Jani.


Jani terpaksa berhenti mengomel meski kekesalannya atas kenakalan remaja itu masih belum terluapkan seluruhnya, Jani lalu berhenti menjewer telinga Shabira dan menyuruh anak gadis itu untuk turun dari motor.


"Ayo! Turun, bantu bunda cari Jidan" ajak Jani.


Shabira terpaksa menurut karena dia tak mau bundanya terus ngomel-ngomel. Menurut informasi dari Shabira sekarang Jidan sedang main dirumah temannya yang bernama Mario, karena tadi sepulang sekolah Jidan pernah berkata kalau dia akan pergi kerumah Mario.


"Mario? Anaknya pak Darius?" tanya Jani.


"Iya bun, dia teman sekelas kami" jawab Shabira.


"Ya udah! Anterin bunda kerumahnya Mario"


"Iya bun. Emang mau ngapain sih nyariin Jidan ampe harus di susulin segala, dia kan udah gede, pasti tahu jalan pulang bun, jadi entar dia pulang sendiri"


Jani menghela nafas kasar dengan masih sambil menahan kekesalannya pada Shabira dan Jidan.


"Nggak usah banyak nanya entar dirumah kamu juga bakal tahu"


Shabira akhirnya bergeming, mereka terus berjalan menuju rumah Mario karena motor trail tadi bukan milik Shabira, dia tadi hanya meminjam punya temannya. Sesampainya didepan rumah milik Mario. Anak laki-laki itu nampak sedang mengelap kaca mobilnya dengan kanebo. Jani lalu memberi salam.


"Assalamu'alaikum"

__ADS_1


Mario menghentikan aktivitasnya lalu menjawab salam sambil menatap siapa yang datang.


"Wa'alaikumussalam"


"Mario, apa disini ada Jidan?"


"Ada tante, dia di dalam rumah"


Tak lama Mario berkata Jidan pun keluar dari rumah, rambutnya terlihat basah dan anak laki-laki itu hanya mengenakan kaos putih dan boxer selutut.


"Jidan kamu habis ngapain? Bukannya tadi pakainmu bukan pakai yang ini?" tanya Jani sambil menatap Jidan dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Jidan yang agak kaget atas kedatangan bundanya dan Shabira lalu menjawab dengan wajah polosnya, "Aku habis mandi basah bun"


"Hah! Mandi basah? Aduh jangan-jangan apa yang kupikirkan bener, gimana ini?" batin Jani mendadak panik.


"Emangnya kenapa kamu harus mandi basah?" tanya Jani.


"Keringatan bun tadi aku habis..." belum sempat Jidan menyelesaikan kalimatnya Jani keburu menjewer telinga Jidan dan membawanya pulang.


Tentu saja Jidan jadi kebingungan apa lagi ketika melihat wajah bundanya yang merah padam seperti menahan amarah yang membuncah didadanya.


"Sakit bun, kenapa telingaku dijewer?" keluh Jidan terpaksa mengikuti Jani sebab telinganya dijewer oleh bundanya.


Sementara Shabira hanya mengikuti bundanya dan Jidan dari belakang.


Sesampainya dirumah ibu-ibu tadi sudah pergi dari rumah mereka. Didepan rumah, Atar terlihat duduk di lantai sambil menunduk.


"Ayah, ibu-ibu tadi pada kemana?" tanya Jani.


Atar menunjukan tangannya kebelakang masih sambil menunduk, "Mereka pulang" jawab singkat Atar.


Jani yang penasaran kenapa Atar terus menunduk dari tadi akhirnya dia jongkok dan menarik kedua pipi Atar kesamping agar menatap Jani yang ada disampingnya.


"Ya ampun, ayah! Kenapa muka ayah babak belur begini?" Jani kaget dan merasa cemas akan kondisi suaminya yang sebelum ditinggalkan baik-baik saja lalu kenapa sekarang jadi babak belur begini?.


"Mereka marah atas perbuatan anak-anak kita bun, ayah tak mau melawan karena mereka perempuan"


"Ya ampun, ini pasti sakit ya. Ayo! Bunda obatin ayah dulu" ucap Jani sambil membantu Atar bangun dari duduknya.


"Eh! Kalian berdua, awas ya kalau berani kabur! Lihat nih ayah kalian jadi tumbal atas perbuatan kalian. Ayo! Ikut bunda masuk kedalam, kita selesaikan masalah setelah ayah kalian diobati" ancam Jani pada Jidan dan Shabira.


Jidan dan Shabira saling menatap kebingungan karena mereka masih tak paham kesalahan apa yang sudah dibuat hingga bundanya sangat murka dan ayahnya jadi korban pengeroyokan ibu-ibu hingga dia jadi babak belur.

__ADS_1


Didalam rumah Jani segera mengobati luka lebam Atar dengan sangat hati-hati karena Atar akan meringis jika terlalu keras saat mengoleskan obat luka padanya.


Jidan dan Shabira hanya menunggu Jani selesai mengobati Atar sambil duduk di lantai di hadapan ayah dan bundanya yang duduk di sofa. Setelah Atar selesai diobati barulah Jani ngomel-ngomel tanpa jeda, kedua anaknya hanya memperhatikan mulut bundanya yang terus komat-kamit meski ucapan Jani masuk ditelinga kanan dan keluar di telinga kiri mereka.


"Paham kalian atas kesalahan kalian?" ucap Jani dengan nada suara meninggi.


Serempak Jidan dan Shabira menggelengkan kepalanya dengan wajah tanpa dosa mereka. Itu membuat Jani makin kesal karena sudah panjang lebar dia ngomong dengan tanpa jeda tapi kedua anaknya tidak paham juga.


"Sudah bun, mereka jangan dimarahin lagi, namanya juga anak-anak jadi wajar kalau nakal, bukankah bunda juga waktu seumuran mereka sangat nakal" bela Atar pada kedua anaknya.


"Ayah gak usah belain anak-anaknya deh, bunda tuh pusing tahu menghadapi kenakalan mereka, pokoknya kalian berdua akan bunda hukum" omel Jani sambil melototin suami dan kedua anaknya yang membuat semuanya menciut.


"Jidan, Shabira, bunda kalian kalau lagi marah cantik ya" goda Atar sambil tersenyum genit pada Jani setelah Jani sedikit tenang.


"Ayah nggak usah godain, bunda lagi marah ini" ketus Jani.


Setelah menjelaskan kembali kesalahan Jidan dan Shabira kedua remaja itu baru paham, Jidan langsung menjelaskan kesalahan pahaman bundanya terhadap dia dan Nafisa, sebenarnya Nafisa merasa amat malu itu karena cintanya ditolak oleh Jidan.


Soal mandi basah itu tadi Jidan habis mendorong mobil punya ayahnya Mario yang dipake oleh Mario dan Jidan saat pergi tapi dijalan mobilnya terjebak dilumpur saat mereka pergi ke kampung sebelah, Jidan lalu mendorongnya hingga keringetan dan bajunya kotor karena kena cipratan lumpur yang bercampur air dari ban mobil yang berputar tak mau maju.


Lalu Jidan mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian milik Mario. Meski sudah dijelaskan tetap saja mereka tak bisa lepas dari hukuman, Jidan dan Shabira dihukum menguras dan membersihkan kolam renang di belakang rumah mereka. Jidan dan Shabira pun membersihkan kolam renang.


"Bunda kejam banget sih masa kita disuruh gosokin lantai kolam renang ini pake sikat gigi, kalau gini kapan kelarnya?" keluh Jidan sambil mengerjakan hukumannya.


"Nggak usah ngeluh, entar bunda nambah hukuman buat kita loh" ucap Shabira yang juga sedang menggosok lantai kolam renang yang sudah tak ada airnya karena mereka akan menyikat lantainya dengan sikat gigi.


"Ah! Cewek-cewek itu benar-benar ngerepotin, aku jadi kena hukuman dari bunda kan" keluh Jidan lagi.


"Eh! Salah sendiri, itu wajah jangan diganteng-gantengin cewek-cewek jadi kepincutkan sama kamu dan aku lagi yang dijadiin tumbal, aku udah pernah dilabarak cewek yang suka sama kamu gara-gara kamu ngaku-ngaku jadi pacarku"


"Ya maaf, tapi bagus kan kamu pura-pura jadi pacar aku biar nanti kamu bisa ketularan jadi banyak yang suka seperti aku"


Shabira lalu menatap Jidan dengan tatapan tajam, "Eitz! Sorry gak perlu ya, aku udah cantik, keren, modis lagi, kalau soal yang suka adalah beberapa cowok yang naksir aku. Yang ada itu ya, hati-hati kamu, karena keseringan ngaku-ngaku jadi pacar aku entar kamu jatuh cinta sama aku beneran lagi" ucap Shabira dengan menyombongkan dirinya.


"Hahaha... kamu kalau ngomong jangan asal bunyi macam kentut aja ya, mana mungkin aku jatuh cinta sama kamu, kamu kan adik aku" ucap Jidan sambil tertawa terbahak-bahak.


Shabira hanya mencibir lalu dia melanjutkan menggosok lantai kolam renang. Jidan pun ikut melanjutkan hukumannya tapi sambil diam-diam menatap wajah gadis remaja yang cantik itu.


"Shabira, mana berani aku jatuh cinta sama kamu, biar pun kita bukan saudara sedarah dan aku boleh jatuh cinta sama kamu tetap saja aku tak berani mencintaimu karena kamu, Eril, bunda dan ayah sudah banyak memberikan cinta padaku dan memberikanku kehangatan keluarga ini padahal aku bukan siapa-siapa" batin Jidan.


"Semenjak adanya mama Raisa, aku jadi sadar tentang siapa diriku sebenarnya, aku hanyalah anak pungut yang berharap bisa mendapatkan cinta dan kehangatan dari keluargamu, Shabira. Karena aku sudah tak memiliki keluarga lagi didunia ini" lanjut Jidan dalam hati, dia mendadak jadi murung saat mengingat setiap kata celaan dan hinaan serta penganiayaan yang pernah dialaminya saat dia masih anak-anak.


Memori ingatan dimasa lalu itu menjadi luka yang membekas dihati Jidan hingga kini, dia masih tak bisa melupakan itu.

__ADS_1


TAMAT


Akhirnya tamat juga cerita ini, terimakasih untuk semua yang sudah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir, semoga Allah membalas kalian semua karena dukungan semua sudah membuat authornya senang. 😍🤗🥰😘


__ADS_2