
Mendung masih terlihat didalam biduk rumah tangga Atar dan Jani. Ya, semenjak kehadiran Raisa dan bayinya dirumah tangga mereka, Jani masih bersikap dingin pada Atar sebab dia masih tak rela cintanya diduakan oleh suaminya itu.
Menyadari suasana hati sang istri yang sedang tidak baik-baik saja, Atar mati-matian meyakinkan Jani kalau dia tak mengkhianati Jani dan Atar juga terus bersikekeh bahwa hasil Tes DNA itu pasti keliru. Entah dimana letak kesalahannya tapi Atar yakin hasil Tes DNA itu pasti salah.
Malam itu ketika Jani dan Atar hendak tidur, Atar langsung mengajak Jani bicara dari hati ke hati karena dia ingin meluruskan masalah ini, Atar menatap nanar wajah istrinya seraya berkata.
"Jani, aku tahu kamu pasti sangat marah karena hasilnya itu positif. Tapi, demi Allah aku berani bersumpah kalau aku gak pernah melakukan hubungan itu dengan Raisa, kumohon percayalah sama aku... " kalimat Atar dipotong oleh Jani.
"Aku tidak percaya dengan sumpah seorang laki-laki" ucap Jani dengan wajah datarnya.
Atar menunduk frustasi mendengar ucapan Jani tapi meski begitu dia tetap membujuk Jani agar dia mempercayainya. Kemudian dia menatap wajah Jani lagi dengan raut wajah sedih.
"Harus dengan cara apa supaya kamu bisa percaya sama aku?" tanya Atar tapi Jani memilih bergeming.
"Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau Alif itu bukan anakku, aku janji akan menyelidiki letak kesalahan ini hingga kamu benar-benar yakin kalau Alif bukan anakku" Atar memohon dengan memelas.
Sebenarnya Jani tak rela jika suaminya berpaling kewanita lain meski sebenarnya dia amat marah pada Atar tapi hati kecil Jani masih ingin memberi kesempatan pada suaminya untuk membuktikan kalau Alif itu bukan anak kandung Atar, dari itu Jani lalu berkata.
"Aku masih marah sama kamu, tapi aku tak mau kalah dari Raisa, aku tak mau memberikan apa yang aku miliki padanya karena aku tak rela suamiku direbut olehnya. Jika kamu memang tidak berbohong padaku maka beri aku bukti kalau Alif bukan anak kamu dan kamu tak pernah melakukan hubungan terlarang itu dengan Raisa, buktikanlah ucapanmu itu padaku"
"Kamu serius akan memberiku kesempatan lagi?" tanya Atar meragu.
"Iya, aku serius akan memberi kamu kesempatan lagi untuk membuktikan semuanya"
Seketika mata Atar langsung berbinar-binar karena senang sebab Jani memberinya kesempatan lagi untuk membuktikan semuanya.
"Baiklah aku akan segera menyelidiki ayah biologisnya Alif itu siapa?" kata Atar penuh semangat, tak lama kemudian dia mendadak murung.
"Tapi, kalau aku tidak bisa membuktikannya gimana? Apa kamu akan tetap menerima aku sebagai suamimu?" tanya Atar mendadak pesimis.
Tentu saja pertanyaan Atar ini sangat berat bagi Jani, jika Atar sendiri mendadak ragu pada dirinya lalu bagaimana dengan Jani? Apakah dia bisa percaya pada suaminya hanya dengan ucapan semata? Sementara hasil Tes DNA itu menyatakan Alif adalah anak kandungnya Atar. Haruskah Jani percaya begitu saja pada Atar padahal dia tak pernah tahu apa yang dilakukan oleh Atar dibelakangnya.
Dengan berat hati Jani lalu berkata, "Aku percaya sama kamu, kalau kamu tak berniat untuk selingkuh dariku tapi bisa saja kamu tak sengaja melakukan kesalahan dengan Raisa seperti yang terjadi antara aku dan kamu hingga lahirlah Shabira dan jika Alif terbukti benar anak kandungmu maka sayangilah dia sepenuh hatimu sama halnya seperti Shabira dan Jidan, karena aku tahu gimana rasanya hidup harus membesarkan anak sendirian..."
"Tapi Jani, Bagaimana dengan hati kamu jika aku menerima Raisa sebagai ibu yang sudah melahirkan anakku?"
"Mau bagaimana lagi kalau sudah begini? Kita tak boleh egois pada wanita yang sedang mencari keadilan untuk anaknya. Ini adalah konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan atas kesalahan yang sudah kamu buat, meski aku harus kena imbasnya, aku akan berusaha untuk ikhlas. Tapi meski begitu kamu tidak boleh sesuka hatimu"
"Maksudnya sesuka hati itu, gimana?"
"Kamu tidak boleh meniduri wanita itu, kamu tidak boleh menganggap dia sebagai istrimu sebelum kamu bisa membawa bukti padaku kalau Raisa itu seorang penipu" titah Jani.
"Tentu saja aku tidak akan melakukan itu, tapi bagaimana jika dia meminta haknya sebagai seorang istri, misalnya minta nafkah dariku?"
"Turuti saja permainannya dulu, tapi ingat kamu tidak boleh tidur sama dia"
"Baiklah aku akan menuruti apa kata kamu dan aku akan segera mencari tahu tentang ayah biologis Alif tapi kamu janji ya jangan ceritakan soal ini pada siapa pun, kita berpura-pura menerima saja hasil Tes DNA itu karena aku mau menyelidiki ini secara diam-diam agar Raisa tak tahu sebab dia itu orang yang licik dan punya banyak cara untuk menghancurkan rumah tangga kita"
"Iya aku akan merahasiakan soal ini"
__ADS_1
Setelah berbincang cukup lama Atar dan Jani lalu tidur karena malam pun semakin larut.
...****************...
Pukul 04.00 pagi Jani sudah bangun untuk mengerjakan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga yang harus menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak-anaknya serta dia juga harus membersihkan dan membereskan rumah.
Pukul 05.00 pagi dia baru kedapur untuk masak tapi hingga matahari sudah menampakan dirinya, dia masih belum melihat Raisa keluar dari kamarnya.
"Raisa ko masih belum kelihatan juga ya, apa dia masih tidur? Istri macam apa jam segini masih tidur, bukannya bantuin aku ngerjakan pekerjaan rumah. Eh! Ini malah masih terbuai dalam mimpinya" gerutu Jani sendirian.
"Ah! Tapi bodo amatlah, aku kan udah biasa ngerjain ini sendirian, meski tanpa bantuan Raisa aku bisa ngerjain semuanya ko, lagian aku juga males lihat mukanya dia" monolog Jani sambil menyiapkan sarapan pagi.
Setelah sarapan siap dia kembali kedapur untuk membereskan dan membersihkan dapur. Tak berapa lama Raisa baru keluar dari kamarnya dan langsung mendekati meja makan.
"Mmmm... baunya enak banget, mbak Jani masak apa ya pagi ini" ucap Raisa sambil mengendus bau masakan Jani.
Dia lalu mencicipi masakannya, "Mmmm... enak juga masakan mbak Jani"
Tak berapa lama Atar juga baru keluar dari kamar dan hendak sarapan pagi, Raisa yang menyadari kehadiran Atar, dia langsung menyambutnya dengan senyuman.
"Eh! Mas, udah mau sarapan ya sebelum berangkat kerja, aku udah masakin makanan yang spesial buat kamu. Ayo! Cobain ya" kata Raisa berbohong padahal yang masak itu Jani bukan Raisa. Dia lalu menarik kursi untuk Atar.
Atar lalu duduk tanpa berkomentar apa pun kemudian Raisa menyiapkan piring untuk Atar tak lupa dia mengambilkan nasi dan lauknya. Saat Raisa sedang menuangkan air putih ke gelas Atar, Jani baru datang setelah membereskan dapur.
"Kamu abis dari mana, Jani?" tanya Atar.
"Aku baru selesai beresin dapur, aku kira kamu masih dikamar" jawab Jani.
Jani lalu duduk disamping Atar, Raisa yang kesal akan perlakuan manis Atar pada Jani hanya bisa mendengus kesal dalam hatinya karena dia yang tadi berusaha cari perhatian dari Atar tapi pria itu malah mengacuhkannya sementara Jani yang baru datang langsung diperlakukan dengan manis oleh Atar. Dia lalu duduk disebelah Atar.
"Anak-anak mana ko belum gabung sama kita?" tanya Atar.
"Mereka nginep dirumah neneknya, mungkin berangkat sekolah juga akan langsung dari sana" jawab Jani.
Atar dan Jani lalu terhanyut dalam obrolan berdua sambil sarapan pagi tanpa mempedulikan kehadiran Raisa dan lagi-lagi wanita itu dibuat gigit jari oleh mereka.
"Mas! Aku ini juga istri kamu jadi kamu harus adil padaku kamu juga harus memberi nafkah lahir batin padaku, kamu juga harus memperlakukan aku seperti perlakuanmu pada mbak Jani" protes Raisa dengan suara lantang hingga atensi Atar dan Jani langsung tertuju padanya.
Beberapa detik kemudian Atar mengambil sebuah amplop dari tas kerjanya lalu memberikannya pada Raisa.
"Jani sudah aku beri jatah dan ini nafkah untukmu" ucap Atar.
Raisa mengambil amplop itu dan melihat isinya setelah itu dia protes lagi sambil manyun, "Aku juga kan istrimu jadi mas juga harus tidur di kamarku, mas jangan tidur dikamar mbak Jani terus dong"
Atar menyernyitkan kedua alisnya sambil menatap Raisa setelah itu dia melirik kearah Jani yang kala itu nampak terlihat tenang dan tak peduli dengan omongan Raisa, meski begitu Atar tahu hati kecil Jani sedang memberontak karena ingin dirinya tak tidur dengan Raisa.
"Aku sudah selesai sarapannya, sekarang aku mau berangkat kerja" ucap Atar lalu berdiri.
Kemudian dia mengambil tasnya dan pergi keluar rumah yang kemudian diikuti oleh Jani dan Raisa.
__ADS_1
"Aku berangkat kerja dulu ya" ucap Atar sambil menatap Jani yang ada di hadapannya.
"Iya, Hati-hati ya di jalannya suamiku" ucap Jani sambil tersenyum pada Atar.
Atar pun membalas senyuman Jani seraya mengelus lembut pucuk kepala Jani.
"Mbak! Mas Atar juga suamiku, dia buka cuma suami mbak" protes Raisa sambil menampakan wajah tak senangnya.
Jani hanya melirik sekilas pada wanita yang tak tahu malu itu setelah itu dia mencium punggung tangan Atar, Raisa pun hendak melakukan yang sama seperti Jani tapi pria tampan itu malah berlalu pergi tanpa menghiraukan Raisa.
"Ih! Aku dicuekin mas Atar lagi" gerutu Raisa sambil manyun.
Diam-diam Jani tersenyum senang atas kekesalan Raisa, setelah itu dia pun pergi meninggalkan Raisa sendirian.
"Aku sudah berhasil masuk ke keluarga ini, sekarang saatnya aku harus meluluhkan hati mas Atar agar dia tidak mengacuhkan aku lagi" batin Raisa.
...****************...
Dikantor
Atar sedang termangu, pikirannya masih berkelana jauh dari raganya menjelajahi setiap detail memori ingatan yang tersimpan di otaknya, mengingat kembali akan pertemuannya dengan Raisa, namun selalu kebuntuan yang diingatnya hingga dia merasa bingung harus dimulai dari mana untuk menyelidiki kebenaran tentang bayinya Raisa.
"Ah! Aku yakin aku memang tidak pernah berhubungan badan dengan Raisa, tapi kenapa hasil Tes DNA nya positif" gerutu Atar sambil mengacak rambutnya karena merasa frustasi akan masalahnya itu.
"Aku tak bisa membiarkan belama-lama wanita yang kucinta tinggal serumah bersama madunya, aku harus segera menyingkirkan Raisa dari hidup kami. Tapi, bagaimana caranya?" gumam Atar.
"Sepertinya aku harus menemui Dokter itu lagi untuk mengulang Tes DNA dengan sempel yang kemarin diberikan. Iya, aku harus segera menemui dokter itu, nanti dijam istirahat aku akan menemui dokter itu"
Jarum jam terus berputar seiring dengan perputarannya waktu, ketika jam sudah menunjukan jam istirahat Atar segera pergi kerumah sakit untuk menginterogasi dan melakukan Tes DNA ulang tanpa mempedulikan perutnya yang keroncongan karena ini sudah saatnya makan siang.
Demi menyelesaikan segera masalahnya dengan Raisa, Atar sampai mengacuhkan pangilan perutnya itu. Dirumah sakit dia segera menemui Dokter yang tempo hati itu melakukan Tes DNA nya. Setelah berhasil menemui sang Dokter dia mulai mengintrogasi Dokter itu karena Atar masih curiga dia bersekongkol dengan Raisa untuk memalsukan hasil Tes DNA nya.
Atar terus mendesak Dokter itu berkali-kali untuk mengakui persekongkolannya dengan Raisa tapi Dokter itu terus menyangkal tuduhan Atar sebab dia benar-benar tidak bersekongkol dengan Raisa. Akhirnya Atar menyerah dan mulai mempercayai perkataan Dokter itu karena Dokter itu terlihat amat jujur jadi rasanya prasangka Atar padanya itu tidaklah benar.
Atar lalu meminta Dokter itu untuk melakukan Tes ulang pada sempel yang tempo hari itu diberikan pada rumah sakit dan kebetulan sempelnya masih ada dengan catatan dia harus menyaksikan sendiri proses pencocokan DNA pada sempel itu. Mereka langsung melakukan Tes DNA ulang pada sempel itu hingga ditemukanlah hasilnya.
"Lihatlah hasilnya masih sama seperti sebelumnya, kedua sempel ini sangat cocok dan hasilnya masih positif" ujar Dokter itu semakin mengecilkan hati Atar.
"Ya Allah, Bagaimana bisa seperti ini meski aku melakukan tes ulang tapi hasilnya tetap positif" batin Atar merasa frustasi.
Setelah itu dia meninggalkan rumah sakit, Atar masih tak percaya dengan hasil tes itu dia lalu memutuskan untuk melakukan tes ulang dirumah sakit lain, semoga kali ini hasilnya jadi negatif.
Sebelum kerumah sakit lain dia minta izin pulang duluan pada Jho dan Azka karena dia tak bisa kembali ke kantor sebelum rasa penasaran dan tak yakinnya akan hasil Tes DNA itu terpuaskan, tapi dia tak menceritakan soal Tes DNA itu pada Jho dan Azka sebab mereka belum tahu tentang masalahnya dengan Raisa.
Dirumah sakit berbeda dia segera menyerahkan sempel untuk Tes DNA, sempel yang sama saat dia melakukan Tes DNA dirumah sakit sebelumnya. Cukup lama Atar menunggu dan akhirnya hasil tes keluar juga.
Dan ternyata hasil Tes DNA kali ini juga masih sama seperti sebelumnya yaitu hasilnya positif kalau Alif itu anak kandungnya Atar.
"Ya Allah, hasilnya masih tetap sama meski sudah tiga kali di tes ulang. Apa Alif itu memang benar-benar anak kandungku? Bagaimana bisa? Apa mungkin malam setelah pernikahan itu terjadi aku dan Raisa melakukan hubungan itu?" batin Atar makin frustasi.
__ADS_1
Bersambung