Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Gadis cantik didalam bus part 2


__ADS_3

Azka baru saja keluar dari bank yang ada dikota itu, dia baru mengurus keuangan untuk pembayaran gaji pekerja bangunan yang dibayarnya masih dengan uang cash karena mereka menggunakan pekerja dari kampung itu sendiri.


Dia tak memakai mobil yang ada divila karena sedang dipakai oleh Gio yang hari ini akan belanja bahan-bahan matrial keberbagai tempat sementara tujuan Azka hanya kesatu tempat saja jadi dia mengalah untuk menggunakan kendaraan umum untuk sampai ke bank.


Azka lalu berjalan ditrotoar untuk mencari tempat yang agak teduh sambil menunggu bus. Cukup lama dia menunggu akhirnya datang juga sebuah bus yang berhenti tepat dihadapannya. Dia pun segera naik dan bus kembali melaju.


Tapi baru saja bus akan melaju tiba-tiba ada penumpang yang berlari mengejar minta si bus berhenti, si kenek yang melihat lalu menyuruh sopir bus untuk berhenti, Sementara Azka masih berjalan kebelakang bus untuk mencari tempat duduk.


Penumpang itu lalu naik lewat pintu belakang bus, dia segera mencari tempat duduk sementara sang kenek menyuruh sopir untuk melajukan kembali busnya. Tiba-tiba sopir bus melajukan busnya dengan kecepatan tinggi karena mobilnya disalib bus lain.


Sontak para penumpang yang berdiri jadi oleng kedepan, Azka pun hampir saja terjengkang kebelakang tapi dengan sigap tangannya meraih pegangan hingga dia tak terjatuh. Namun, si penumpang yang baru naik ke bus itu tak bisa menyeimbangkan tubuhnya karena itu secara tiba-tiba alhasil si penumpang itu terdorong kedepan dan menubruk Azka.


Azka yang sudah berpegangan kuat pada alat pegang bisa menahan diri meski dirinya ditabrak. Namun, tak bisa dihindari si penumpang itu malah memeluk Azka. Dia jadi kaget lalu menatap si penumpang itu.


"Eh! Mas, maaf, maaf saya tidak sengaja tadi saya terdorong dan tak sengaja menabrak mas nya" ucap gadis itu masih memeluk Azka sambil mendongakan wajahnya untuk menatap Azka yang jauh lebih tinggi darinya.


Azka hanya manggut-manggut keheranan sambil dalam hatinya berkata.


"Katanya nggak sengaja ko dia masih nggak mau melepaskan pelukannya sih?"


Seolah bisa mendengar apa kata hati Azka akhirnya gadis itu melepaskan pelukannya dengan canggung dan malu. Tiba-tiba kenek bus menyapa mereka.


"Apa kalian akan tetap berdiri? Kursi yang kosong cuma ini doang loh, nanti keburu ditempati orang"


Gadis itu segera duduk dikursi dekat Jendela, Azka terpaksa duduk disampingnya karena tak ada tempat lain lagi.


"Tujuan kalian kemana?" tanya kenek hendak meminta ongkos.


"Ke xxxxx" Serempak Azka dan gadis itu, rupanya tujuan pemberhentian mereka itu sama.


Kenek itu menyebutkan ongkosnya dan meminta ongkosnya pada mereka. Mereka pun segera membayar. Si kenek lalu pergi untuk meminta ongkos kepenumpang lain.


Awalnya Azka dan gadis itu masih saling diam karena masih merasa canggung tapi diam-diam Azka memperhatikan gadis itu dengan mencuri pandangannya.


"Cantik juga nih! Dia" batin Azka tiba-tiba.


"Ehem...ehem... ehem" Azka berdehem untuk mendapatkan perhatian si gadis itu.


Tapi dia terlalu sibuk dengan map dan kertas-kertas didalam map itu yang n'tah apa isinya, Azka berpikir mungkin dia sedang mencari pekerjaan hingga membawa map itu.


"Maaf, mbak lagi cari pekerjaan ya?" tanya Azka mengawali pembicaraan.


"Tidak mas, saya hanya sudah menemui donatur saja" jawabnya sambil tersenyum canggung.


"Kirain nyari kerja, ngomong-ngomong kita boleh kenalan gak? Kan kita tinggal dikampung yang sama, kali aja nanti kita ketemu lagi"


"Boleh, nama saya Ririn" jawab Ririn sambil tersenyum.


"Nama saya Azka, senang berkenalan denganmu" ucap Azka sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya.


Mereka akhirnya ngobrol panjang lebar,semakin akrab dan akrab hingga rasa canggung yang tadi mendera hati mereka kini perlahan memudar dan sirna.

__ADS_1


Tak terasa tempat pemberhentian bus mereka sudah sampai, mereka akhirnya turun dan berpisah disana karena tujuan mereka berbeda. Untuk sampai ke vila Azka harus berjalan kaki beberapa kilo meter, dia lalu berjalan dengan hati yang riang gembira karena sudah bertemu dengan Ririn, si gadis bus yang ramah, baik hati dan cantik.


Senyuman manis itu terus melekat dalam pikiran Azka hingga tanpa dia sadari dia pun ikut tersenyum sendirian, mungkin jika ada yang melihat itu Azka akan dikira seperti orang gila yang suka senyam senyum sendiri.


Ya, seperti itulah awal mulanya cinta bekerja merasuki setiap insan yang tengah dibuai oleh indahnya cinta.


Ditempat berbeda


Saat itu Jidan baru membeli minuman, dia hendak pulang sambil berjalan Jidan menghabiskan minumannya tapi tiba-tiba ada tiga anak laki-laki yang menghadangnya.


"Hey! Jidan berhenti kamu!" sergah salah satu dari mereka.


Jidan langsung menghentikan langkahnya, tangannya terlihat bergetar melihat ketiga anak-anak berbadan lebih besar darinya itu yang sering mengganggunya. Ketiga anak bandel itu tak pernah suka dengan adanya anak-anak panti dikampung mereka, karena mereka pikir semua anak-anak dipanti itu adalah anak-anak haram yang dibuang oleh orang tua mereka.


Dari itu mereka sangat membenci anak-anak panti, jika mereka bertemu maka mereka akan mengganggu semua anak-anak panti yang ditemuinya. Salah satu dari mereka lalu merebut minuman dari tangan Jidan kemudian menumpahkannya ke baju Jidan. Mereka pun tertawa dengan renyahnya.


"Hahahahaha.... rasain kamu Jidan" ucap salah satu dari mereka.


Kemudian yang dua anak lain ikut tertawa, Jidan hanya bisa beringsut mundur karena takut. Tapi, salah satu dari mereka menarik kerah baju Jidan kemudian mendorongnya hingga Jidan terjatuh.


"Dasar anak pembawa sial, dasar anak haram kenapa kalian harus ada dikampung kami, harusnya kalian enyah dari sini" bentak salah satu dari mereka.


"Emang kalian pikir kami mau kehidupan yang seperti ini? Hidup tanpa adanya kedua orang tua kandung kami sendiri? Kami hanyalah orang-orang yang kurang beruntung yang diberi kesempatan hidup seperti ini, lalu kenapa kalian harus mengganggu kami, padahal kami tak pernah mengganggu kalian?" Sergah Shabira yang baru saja datang.


Jidan melirik kebelakang hatinya sedikit lega karena ada Shabira, setidaknya dia tidak akan melawan ketiga anak itu sendirian karena ada saudaranya yang akan membantu.


Shabira lalu mengulurkan tangannya pada Jidan agar dia segera bangun. Jidan pun meraih tangan Shabira lalu bangun, sementara ketiga anak itu hanya menyaksikan untuk sesaat.


Mereka hanya tertawa meledek si gadis kecil yang sedang mengancam mereka. Dengan beraninya Shabira lalu mendekati mereka, dan dalam hitungna ke tiga.


1....2....3....


Tiba-tiba Shabira mendorong ke tiga anak itu satu persatu hingga mereka terjengkang jatuh.


"Jidan! Ayo! Lari!" seru Shabira langsung menarik tangan Jidan.


Kedua anak yang seumuran itu lalu berlari sekencang mungkin agar ketiga anak itu tak bisa mengejar mereka. Merasa tak terima akan perbuatan Shabira, mereka segera bangun lalu mengejar Jidan dan Shabira.


"Mereka mengejar kita, Bagaimana ini?" tanya Jidan.


"Terus lari aja, jangan melirik kebelakang" jawab Shabira.


Diarah yang berlawanan, Azka terus berjalan sambil memainkan ranting yang dipungutnya dijalanan dengan hati yang berbunga‐bunga, hingga kedua anak itu berlari semakin mendekati Azka.


Bugh!


"Wow! wow! Kalian berdua kenapa menabrak Om? Kalian dikejar apaan sih?" tanya Azka.


Kedua anak itu tak menggubris ucapan Azka, mereka malah sibuk bersembunyi dibalik pria itu sambil memegang baju Azka dengan kuat. Itu membuat Azka merasa heran dengan hari ini, pasalnya n'tah hari ini sedang sial atau apa? Sebab sudah dua kali hari ini dia ditabrak dengan tidak sengaja.


"Om tolongin kita dong, ada anak-anak nakal yang lagi ngejar kita" kata Jidan.

__ADS_1


Azka lalu celingukan melihat anak-anak nakal yang dimaksud oleh Jidan.


"Hey! Kalian, mau kemana lagi hah?" tanya si anak nakal itu.


"Om tolongin kami" pinta Jidan memelas.


"Iya, iya, kalian tenang dulu ya" Azka menenangkan kedua bocah itu.


"Kalian bertiga, jangan ganggu,,," Azka menggantung kalimatnya karena tak tahu nama kedua bocah itu.


Dia melirik kearah Jidan dan Shabira dengan wajah penuh tanda tanya.


"Namaku Jidan Om, dan ini Shabira" ujar Jidan.


"Ya, itu. Maksud Om kalian tidak boleh mengganggu Jidan dan Shabira kalau tidak Om akan laporkan kalian ke polisi. Jidan, Shabira kalian tahu kan dimana rumah mereka nanti Om telepon polisi supaya mendatangi rumah mereka" ancam Azka untuk menakut-nakuti ketiga anak bandel itu.


"Tahu Om tahu" jawab Jidan.


"Tapi kami tidak suka karena mereka itu anak-anak haram yang dibuang oleh orang tua kandung mereka" sergah salah satu dari mereka.


Shabira langsung maju kedepan dengan suara lantang dan berani dia berkata.


"Heh! Siapa yang bilang kami tidak punya orang tua? Siapa yang bilang kami dibuang oleh orang tua kami? Itu semua tidak benar. Kami punya bapak, kami punya ibu, kami juga punya bunda apa itu tidak cukup?"


"Tapi kan mereka hanya orang tua angkat kalian bukan orang tua kandung kalian"


Kalimat anak nakal itu membuat emosi Shabira tersulut, gadis kecil itu hendak mendekat karena ingin menjambak si mulut besar yang tak punya hati. Tapi Azka menghentikan langkah gadis kecil itu.


"Sudah biar Om yang tangani ini" ucap Azka pada Shabira.


Shabira lalu mundur lagi kebelakang. Kini giliran Azka yang menangani ketiga anak nakal itu tanpa kekerasan, setelah dinasehati dan diberi sedikit penjelasan tentang anak-anak panti, Azka lalu menyuruh anak-anak itu pergi sambil memberikan selembar uang berwarna biru pada masing-masing anak.


Akhirnya mereka pergi setelah diberikan uang karena merasa senang mendapatkan uang. Shabira dan Jidan lalu mengucapkan terimakasih pada Azka karena sudah menolong mereka.


Ketika mereka berpamitan pulang Azka juga memberikan uang jajan untuk mereka meski diawal Shabira sempat menolak karena menurut Shabira, meski mereka anak-anak panti tapi mereka tak diajarkan untuk meminta-minta pada orang lain.


"Om paham maksud kamu, tapi apa kamu pernah diajarkan untuk selalu berbagi dengan orang lain?" tanya Azka saat mendapat penolakan dari gadis kecil itu.


Shabira lalu mengangguk setelah itu Azka berkata lagi.


"Nah! Dari itu Om ingin berbagi dengan kalian mumpung Om lagi dapat rezeki banyak nih, dan kebetulan disini cuma ada kalian jadi Om mau berbagi dengan kalian, kan menurut agama juga kita harus rajin bersodaqoh" alibi Azka agar si gadis kecil itu mau menerima uangnya.


Setelah membujuk cukup lama akhirnya Shabira dan Jidan mau menerima uang dari Azka. Akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing.



Visual Jidan



Visual Shabira

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2