
Atar langsung menggenggam tangan Jani, sorot matanya yang penuh rasa kekhawatiran, khawatir Jani akan percaya begitu saja pada ucapan wanita itu, lalu dia meyakinkan Jani bahwa dirinya tak mempunyai hubungan apa pun dengan dia.
"Jani, tolong percaya sama aku, aku tidak mungkin mengkhianati kamu, cintaku hanya untuk kamu, Jani. Tolong jangan percayai ucapan dia, itu semua tidak benar, istriku cuma kamu seorang Jani, tolong percayalah sama aku, Jani" lirih Atar dengan memelas.
Tapi Jani terus bergeming dengan linangan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya. Raisa yang tak terima akan pernyataan Atar lalu meyakinkan Jani kalau dia adalah istri yang pernah dinikahi oleh Atar.
"Mas, kamu jahat! Setelah kamu menikahiku sepuluh bulan yang lalu, lalu kita sempat tidur satu kamar dimalam pertama pernikahan kita kemudian kamu meninggalkanku dan melupakan aku dan anakmu begitu saja, kamu jahat mas" lirih Raisa yang terus meneteskan air matanya.
Hati Jani makin sakit setelah wanita itu menceritakan semua pengkhianatan suaminya itu, Atar yang melihat ada kekecewaan dan kemarahan diwajah Jani, dia jadi makin kesal pada Raisa yang sekarang sedang mencoba menghancurkan rumah tangganya dengan Jani, Atar lalu mengecam karas Raisa dengan ucapannya yang tegas dan lugas.
"Raisa! Berhentilah memfitnahku, kamu bukalah istriku dan bayimu itu buka anakku, Istriku cuma Rinjani seorang dan anakku hanya anak yang dilahirkan oleh Jani"
"Hiks... hiks... hiks... kamu jahat mas, kamu tega, setelah menikahiku dan merampas sesuatu yang amat berharga dari hidupku lalu kamu mencampakan aku begitu saja. Kalau kamu memang tak menginginkan aku lalu kenapa kamu menikahiku saat itu, kenapa mas?" Raisa terus terisak.
Hati Raisa amat sakit saat dia tak diakui oleh Atar sebagai istrinya, wanita yang tengah meminta keadilan pada Atar itu atas status pernikahan dan bayinya itu, dia terus menangis histeris ketika Atar terus menolaknya hingga terjadi perdebatan hebat antara Atar dan Raisa dengan satu sama lain saling tak mau mengalah.
Mereka terus mempertahankan pernyataan masing-masing seolah pernyataan mereka masing-masing itu lah yang paling benar. Hingga akhirnya Atar yang sudah tak sabar menahan kemarahan yang bergemuruh didadanya lalu membentak Raisa dengan suara yang meninggi.
"Raisa! Berhentilah bicara yang tidak-tidak! Kalau tidak ingin ku robek mulutmu. Sekali lagi aku tegaskan, kamu bukanlah istriku dan bayimu bukan anakku, Aku tak pernah mengenal siapa dirimu yang sebenarnya. Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum kesabaranku habis"
Bentakan Atar yang keras itu telah membangunkan bayi Raisa yang semula tertidur hingga dia menangis karena mendengar suara yang keras menggelegar diudara. Wanita itu semakin ringkih dengan tangisan sendunya, Raisa benar-benar merasa amat sedih ketika dia jauh-jauh datang dari Banyuwangi untuk mencari suaminya di Bogor tapi ketika dia menemukan rumahnya bukannya dia disambut dengan baik, tapi Atar malah membentak dan mengusirnya tanpa belas kasihan sedikit pun.
Jani yang sudah tak tahan lagi menahan gejolak didadanya, dia mengepalkan kedua tangannya dengan amat kuat. Jani bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Raisa ketika dirinya membesarkan seorang bayi tanpa seorang suami dan itu terasa sangat menyakitkan baginya.
Ketika Atar dan Raisa terus berdebat dengan mempertahankan pernyataan mereka masing-masing, Jani lalu melerai mereka dengan membentaknya, "Berhenti...!" ucapan Jani itu sukses membuat Atar dan Raisa bergeming dan langsung mengalihkan atensi mereka pada Jani.
Dengan nafas yang tak beraturan karena menahan gemuruh didadanya Jani lalu berkata dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes, "Berhentilah berdebat, semua sudah jelas bagiku tak perlu kalian mempertahankan pendapat masing-masing lagi seolah kalian yang paling benar" Jani lalu menunduk sambil terus menangis.
Atar lalu menyentuh bahu Jani untuk menenangkannya, tapi Jani menepis tangan Atar seolah dia merasa jijik pada suaminya sendiri yang sudah mengkhianatinya dan sudah bercinta dengan wanita lain hingga dia hamil dan melahirkan anak mereka.
"Jani, kumohon percayalah sama aku" Atar memelas pada Jani dengan raut wajah amat frustasi.
__ADS_1
"Jangan dekati aku, aku tak mau kamu menyentuhku" tolak Jani.
Mendapat penolakan dari Jani, Atar semakin yakin kalau Jani sudah terhasut oleh ucapan Raisa, dia jadi makin kesal pada Raisa dan mendesak Raisa agar meyakinkan Jani bahwa dirinya tak ada hubungan apa pun dengan Raisa.
Tapi wanita itu tak mau menuruti keinginan Atar, dia malah memberikan beberapa foto yang semakin meyakinkan Jani kalau Raisa dan Atar memang pernah menikah.
"Mbak Jani, aku dan mas Atar memang benar-benar pernah menikah dan ini adalah foto-foto pernikahan kami, ini foto saat mas Atar melafazkan ijab kabul denganku" ucap Raisa.
Jani lalu menerima foto-foto yang diberikan oleh Raisa padanya kemudian dia melihat foto-foto itu dengan seksama, Jani makin marah, kecewa, sedih dan sakit ketika melihat foto itu, Jani lalu melemparkan semua foto-foto itu ker arah Atar. Bagi Jani foto itu sudah cukup jelas sebagai bukti kalau Atar dan Raisa memang pernah menikah sepuluh bulan yang lalu.
"Jani, ini semua tidak benar, ini fitnah, aku tidak mengenali dia"
"Berhentilah menyangkal semua ini, Atar! Semua sudah cukup jelas bagiku. Kalau kamu tidak mengenali dia dan dia tak mengenali kamu lalu kenapa dia bisa tahu namamu? Kalau memang dia bukan istrimu lalu kenapa kamu begitu hafal namanya?" desak Jani.
Tentu saja Atar jadi bergeming karena tanpa sadar dia sudah keceplosan menyebutkan nama Raisa padahal saat Raisa memperkenalkan dirinya pada Jani saat itu Atar belum datang dan Jika Atar memang tak mengenali Raisa tidak mungkin dia bisa menyebutkan nama wanita yang membawa bayinya itu karena Atar tak mengenalinya.
Atar yang terus bergeming dan Jani yang tak tahan lagi melihat suami dan selingkuhannya itu, Jani lalu pergi kekamar untuk menenangkan dirinya yang sudah tak karuan lagi, Atar segera mengejar Jani untuk menjelaskan semuanya, sementara Raisa tetap menunggu mereka diruang tamu sambil menenangkan bayinya yang terus menangis.
Didepan pintu kamar Atar mengetuk pintu berkali-kali karena Jani mengunci pintu kamarnya dari dalam.
"Jani, aku mohon buka pintunya, tolong dengarkan penjelaskanku Jani" teriak Atar.
Tapi tak ada sahutan dari dalam karena Jani terus menangis sambil meringkuk di tempat tidurnya. Atar yang makin panik dan cemas akan keadaan Jani lalu dia mendobrak pintu kamar hingga kuncinya rusak dan akhirnya pintu terbuka.
Atar lalu duduk disamping Jani yang terus meringkuk membelakanginya sambil terus menangis kemudian dia memeluk erat tubuh mungil itu sambil menyenderkan kepala Atar dikepala Jani hingga pipi Jani dan Atar menempel tanpa ada jarak sedikit pun.
"Jani, tolong percayalah sama aku, bagiku kamu adalah seorang istri yang sempurna, rasa sayang dan cintaku hanya untuk kamu, tolong kamu jangan percaya sama ucapannya Raisa, dia itu pembohong" bujuk Atar.
Tapi Jani yang masih marah dan kecewa pada Atar tak mau mendengarkan penjelasan apa pun lagi dari dirinya, kemudian Jani mendorong Atar agar menjauh darinya. Setelah itu Jani pergi kekamar Shabira yang kemudian diikuti oleh Atar dari belakang.
"Jani, tolong percaya sama aku Jani" bujuk Atar sambil terus mengekori Jani dari belakang.
__ADS_1
Saat sudah masuk kedalam kamar Shabira Jani lalu menutup pintunya.
"Jani, jangan tutup pintunya aku mau bicara sama kamu, kalau kamu menguncinya lagi aku akan dobrak pintunya" teriak Atar masih tak putus asa untuk meyakinkan Jani.
Tak berapa lama Jani membuka sedikit pintunya dan menyembulkan kepalanya dibalik pintu.
"Jani... "
"Apa kamu akan merusak semua pintu yang ada dirumah ini? Berhentilah menggangguku, Atar! Aku butuh waktu untuk sendiri" Jani lalu menutup kembali pintunya dan menguncinya.
Kemudian dia menyenderkan tubuhnya dipintu sambil terus turun kebawah hingga dia terduduk di lantai masih sambil menyenderkan tubuhnya dipintu kamar. Atar langung menunduk sedih, dia benar-benar bingung harus meyakinkan Jani dengan cara apa lagi, wajahnya pun amat frustasi memikirkan cara agar Jani yakin kalau dia tak mengkhianati Jani.
Atar lalu duduk di lantai sambil bersender dipintu kamar Shabira. Dia lalu membenamkan kepalanya diatas kedua tangannya yang berada diatas lututnya. Sementara itu, didepan rumah Shabira dan Jidan baru kembali pulang setelah mengantar rantang makanan untuk kakek Hadi dan keluarganya yang lain.
Shabira dan Jidan terkejut saat melihat pintu rumahnya terbuka dan didalam ruang tamu ada seorang wanita yang sedang memberi susu formula pada bayinya.
"Siapa tante ini Jidan?" bisik Shabira pada Jidan dengan memelankan langkah kaki mereka.
Jidan lalu memunguti foto yang berserakan di lantai kemudian dia menunjukan pada Shabira.
"Shabiara, bukan kan ini foto tante itu?" tanya Jidan yang meragu melihat foto pengantin perempuan didalam foto itu.
"Iya sepertinya begitu, tapi kenapa pengantin laki-lakinya itu ayah?" tanya Shabira yang mulai melihat kejanggalan difoto itu.
Hatinya mulai tidak enak dan tidak tenang melihat foto itu, kemudian dia segera berlari mencari ayahnya untuk meminta penjelasan dari foto itu. Raisa yang baru menyadari kehadiran dua bocah itu hanya melirik untuk sejenak setelah itu dia fokus kembali pada bayinya dan dia tak peduli dengan kehadiran kedua bocah itu.
Tak berapa lama Shabira dan Jidan menemukan Atar yang masih terduduk di lantai sambil menundukkan dan bersandar dipintu kamar Shabira.
"Ayah! Tolong jelaskan padaku apa maksud dengan foto ini dan siapa tante yang membawa bayinya diruang tamu itu" tanya Shabira yang saat itu sudah berdiri tepat di hadapan Atar.
Sontak Atar langsung mendongakan wajahnya untuk melihat si pemilik suara yang tengah bertanya padanya. Atar langsung menatap nanar wajah putrinya yang menampakan rasa tak suka akan foto yang dipegangnya itu.
__ADS_1
Bersambung