
Siang kini telah berganti malam saatnya semua kembali kerumah masing-masing, keempat pria tampan itu pun kini telah berada di Vila, setelah selesai mandi dan berpakaian Atar segera turun ke bawah untuk bergabung dengan ketiga Sahabatnya.
Dibawah sana sudah terlihat Gio dan Azka sedang duduk disofa sambil nonton televisi, Atar lalu menghampiri mereka.
"Gio, Azka, Jho mana?" tanya Atar sambil menatap kedua sahabatnya.
"Dia lagi kedapur katanya mau bikin kopi" jawab Gio.
Atar kemudian pergi kedapur untuk menemui Jho, sesampainya didapur Jho nampak sedang mengaduk-aduk kopi di cangkirnya.
"Jho!"
Sontak Jho langsung melirik ke sumber suara.
"Ada apa, Atar?"
"Apa kamu ngomong ke Shabira tentang aku dan Jani?" tanya Atar tanpa basa basi.
"Maksudnya gimana aku gak ngerti?"
"Bagaimana Shabira tahu tentang fakta kelahirannya padahal aku tidak pernah menceritakannya. Apa kamu bilang ke dia kalau dia anak haram? Apa kamu bilang ke Shabira kalau dia anak yang menyebabkan aib bagi Jani dan aku?" tanya Atar.
Jho menggelengkan kepalanya karena tidak merasa mengatakan itu secara langsung pada Shabira.
"Kamu jangan bohong Jho, kalau kamu gak ngomong itu ke Shabira dia tidak akan sesedih ini, lagian Shabira ngomong langsung ke aku kalau dia dengar fakta kelahirannya dari kamu"
Jho benar-benar merasa bingung atas tuduhan yang dilayangkan oleh Atar tapi karena Atar terus mendesaknya terpaksa otaknya berpikir keras untuk mengingat kejadian tempo hari itu tapi kecurigaan dalam hatinya mulai muncul ketika dia mengingat, dia pernah mengatakan hal buruk pada Rinjani tentang Shabira.
"Astaga apa saat itu ada Shabira? Apa dia mendengarnya ketika aku bicara dengan Jani?" rutuk Jho penuh sesal tanpa dia sadari Atar mendengarnya meski volume suaranya dikecilkan.
Atar yang merasa kesal lalu mendorong dada Jho seraya berkata, "Kenapa kamu tega menyakiti Shabira dengan berkata seperti itu Jho?"
Jho yang saat itu tak sengaja keceplosan berkata hal buruk tentang gadis kecil itu jadi merasa bersalah akhirnya dia hanya terdiam sambil menunduk penuh penyesalan.
"Kenapa kamu diam aja Jho? Apa sebegitu bencinya kah kamu pada Shabira?"
Jho terus terdiam karena hatinya sedang berperang dengan rasa bersalah pada Shabira dan itu semakin memperkuat keyakinan Atar bahwa Jho amat membenci dirinya dan juga putrinya padahal prasangka Atar tidaklah benar karena Jho tidak membenci Shabira.
"Kenapa Jho, Kenapa kamu membenci Shabira? Apa karena dia anakku, apa karena dia darah dagingku? Apa karena dia anak pendosa seperti aku Jho? Katakan Jho kenapa kamu membenci Shabira?" bentak Atar karena merasa kesal sebab Jho terus bergeming.
"Kamu boleh marah padaku, kamu boleh menyalahkanku, kamu boleh membenciku Jho. Tapi kamu tidak boleh marah pada Shabira, kamu tidak berhak menyalahkan atas kelahirannya, kamu tidak boleh membenci Shabira karena dia hanyalah gadis kecil yang tak berdosa yang tak tahu apa-apa atas dosa besar yang sudah dilakukan oleh orang tuanya"
__ADS_1
"Aku tidak membenci Shabira, Atar! Saat itu aku hanya sedang kesal saja karena kamu Jani jadi menderita dan menanggung ini sendirian"
"Tapi tetap saja kamu tidak boleh menyakiti Shabira dengan menyebutnya anak haram atau aib bagi aku dan Jani, aku peringatkan sekali lagi sama kamu Jho, kalau sampai ada air mata yang keluar dari mata Shabira karena kamu maka aku tidak akan memaafkan kamu, Jho!
Atar lalu bergeming sambil terus menahan rasa sedih dan kemarahan didada yang sedang mendirih. Jho mengulurkan tangannya hendak meminta maaf tapi Atar menepis tangan Jho.
"Aku minta maaf Atar, itu benar-benar tidak sengaja, itu keluar begitu saja dari mulutku, aku minta maaf"
Atar tak menjawab ucapan Jho dia malah menatap Jho dengan tatapan sinis yang penuh kemarahan.
...****************...
Embun masih membasah di dedaunan pagi dan kabut masih menyelimuti bumi tapi cahaya mentari yang bersinar hangat terus menerobos kesetiap sela membukakan tabir putih yang menyelubungi bumi hingga membangunkan setiap mahluk dari tidur malamnya.
Kini musim penghujan telah tiba hingga tanah menjadi basah dan meninggalkan banyak jejak kaki menandakan di pagi ini sudah banyak orang-orang yang sudah keluar dari rumahnya untuk mencari penghidupan.
Begitu pula suasana yang terlihat di sebuah Vila yang terletak diatas bukit. Para penghuninya sudah sedari tadi pagi pergi untuk kembali bekerja menyelesaikan proyek pembangunan parawisata yang pengerjaannya sudah mencapai enam puluh persen.
Dikala Jho, Gio dan Azka sudah pergi ke tempat kontruksi lain halnya dengan Atar, sepagi ini dia sudah ada didepan panti asuhan karena sesuai janjinya pada Shabira, mulai hari ini dia akan menjadi kaki bagi putri kesayangannya itu, meski dia harus tetap bekerja tapi Atar akan tetap menepati janjinya karena dia bisa mengerjakan pekerjaannya dimana pun dan disela-sela waktu senggangnya.
Dari itu tas selempeng yang berisi peralatan bekerjanya tak pernah absen dari menempel di pundaknya. Semua anak-anak sudah bersiap untuk berangkat kesekolah, mereka keluar dari rumah dan langsung disapa oleh Atar dengan senyuman hangatnya melebihi hangatnya mentari.
"Pagi semua! Apa kalian sudah siap berangkat sekolah?" sapa Atar penuh semangat.
Jani yang tak menyangka sepagi ini Atar sudah ada didepan pintu lalu bertanya, "Sepagi ini kamu udah ada di panti mau ngapain?"
Atar melebarkan senyum dibibirnya pada Jani, tanpa menjawab dia langsung jingkok membelakangi Shabira yang saat itu duduk di kursi roda.
"Mulai hari ini Shabira tidak akan membutuhkan kursi roda lagi karena ada ayah yang akan menjadi kaki buat kamu, iya kan Shabira" ujar Atar lalu menggendong Shabira, membawanya pergi ke mobil milik panti.
Jani hanya menatap mereka dengan kebingungan akhirnya dia dan anak-anak nyusul kedalam mobil. Atar dan Shabira memilih duduk dibelakang kursi kemudi, setelah semua masuk dan Jani yang saat itu duduk di kursi kemudian lalu menoleh kebelakang.
"Atar maksudnya semua ini apa?" tanya Jani yang masih kebingungan akan ulah sahabatnya itu.
"Apa ucapanku tadi masih kurang jelas Jani?" Atar malah balik bertanya sementara Jani masih menatapnya dengan kebingungan.
"Oke, biar aku perjelas lagi ya, mulai hari ini Shabira tidak akan membutuhkan kursi roda lagi karena ada aku yang akan siap mengantarkannya kemana pun dia mau pergi" tutur Atar sambil tersenyum.
"Bukankah kamu datang ke kampung ini untuk bekerja, lalu kenapa kamu harus melakukan ini?"
"Ini takut didalamnya ada peralatan kerja jadi aku bisa bekerja dimana pun dan kapan pun" jawab Atar sambil menunjukan tasnya.
__ADS_1
Masih ada raut kebingungan yang tergambar diwajah cantik milik Jani tapi Atar segera membuyarkan kebingungan Jani dengan menyuruhnya segera mengemudikan mobil agar anak-anak tidak kesiangan kesekolah.
Begitulah hari-hari yang dilewati oleh Atar, setiap hari dia akan pergi ke panti untuk mengantar dan menunggui Shabira disekolah, jika waktunya belajar Atar akan menunggu di taman sekolah Shabira, disana barulah dia akan mengerjakan pekerjaannya dan jika waktu istirahat tiba dia akan menemui Shabira untuk jajan atau makan hingga waktu istirahat selesai.
Sebenarnya hal ini sedikit memalukan bagi Shabira pasalnya karena kini dia bukan anak TK yang masih suka diantar-antar kesekolah tapi karena kakinya yang tak bisa berjalan dan Shabira hanya ingin menikmati waktu kebersamaan ayahnya yang dulu telah hilang akhirnya dia mengesampungkan rasa malunya walaupun hal ini membuat geger seisi sekolah karena Shabira seperti anak manja yang selalu ingin diantar-antar oleh ayahnya.
Tapi dibalik semua ini ada yang memandang kagum pada ayah dan anak ini atas kedekatan dan kekompakan mereka dan ada juga yang mencibir atas tingkah mereka. Tapi Atar tak peduli dengan semua ini karena hatinya terus bertekad bahwa dia hanya ingin menjadi ayah yang baik bagi putri semata wayangnya.
Meski kadang Atar harus banyak menerima pertanyaan dari pihak sekolah mau pun para orang tua yang melihat keberadaan Atar disekolah, pasalnya yang mereka tahu walinya Shabira itu Pak Husen dan Bu Retno jadi mereka pikir Pak Husen dan Bu Retno lah orang tua kandung Shabira karena di dalam akte kelahiran Shabira masih atas nama mereka.
Sementara pihak sekolah yang mengetahui bahwa Pak Husen dan Bu Retno memiliki panti asuhan jadi mereka memalumi itu, tapi yang jadi pertanyaan kalau memang Shabira itu anak kandung Atar, Kenapa Atar baru mengakui Shabira sebagai anaknya itu sekarang, bukannya dari dulu? Dan kenapa juga Atar malah memberikan anaknya ke panti asuhan.
Karena Atar tak ingin semua orang mengetahui aibnya dan tak mau mempermalukan putrinya atas kesalahan yang sudah dilakukannya akhirnya dia terpaksa berbohong bahwa Shabira hilang saat masih bayi karena ulah penculik.
...****************...
Melihat putri kesayangannya semakin akrab dengan ayahnya, hati Jani merasa senang apa lagi saat melihat ada senyum kebahagian yang terbingkai diwajah putrinya dan tak ingin merusak kebahagian putrinya jadi Jani membiarkan Atar memberikan perhatian lebih pada putrinya, membiarkan Atar mencurahkan seluruh cinta dan kasih sayangnya pada Shabira.
Dan dari itu Jani bisa melihat kalau anak dan ayah itu saling membutuhkan hingga Jani merasa tak tega jika mereka harus terpisah, apa lagi belakangan ini Jani sering melihat Shabira mengigo menyebut-nyebut ayahnya, selain itu Shabira juga sering mengigo sambil tertawa didalam mimpinya.
Pada akhirnya Jani dilanda dilema yang berkepanjangan pasalnya, putrinya itu sering memberi kode terselubung pada Jani yang menyatakan bahwa Shabira ingin tinggal bersama ayahnya dan hidup bahagia dalam satu keluarga.
Tapi lagi-lagi kesepakatan perjanjian itu yang membuat langkah Jani tertahan, jika ia ingin hidup menua bersama Atar demi putrinya lalu bagaimana dengan ketiga sahabatnya itu?
"Ah! Aku benar-benar bingung harus bagaimana? Aku ingin Shabira bahagia dengan ayahnya tapi disisi lain pasti ada hati yang terluka. Lalu aku harus bagaimana?" keluh Jani.
"Kenapa keempat sahabatku itu harus menyukaiku sih, emang gak ada cewek lain lagi apa dimuka bumi ini? Apakah aku harus menikah dengan salah satu dari sahabat masa kecilku? Ah! Kenapa harus Atar sih yang jadi ayah dari anakku?" rutuk Jani begitu amat frustasi.
Jani lalu mendengus kesal karena dilema, kemudian dia mengacak-acak rambutnya karena frustasi setelah itu dia merebahkan badannya ditempat tidurnya dengan kaki menjuntai ke lantai.
Bayangan wajah Shabira dan Atar yang tengah tersenyum bahagia sambil meliriknya terus menghantui pikiran Jani, disisi lain wajah penuh kemarahan yang terlihat diraut wajah Gio, Azka dan Jho terus menatap Jani hingga dia merasa kikuk.
Tentu saja dilema ini terus menekan batinnya, membuat pengap didada dan membuat kepala Jani jadi pusing tujuh keliling. Tapi tiba-tiba Jani teringat akan tawaran Atar tentang hubungan mereka.
Pov Rafatar
Bagaimana kalau kita pergi sejauh mungkin, menikah dan hidup bersama demi Shabira, kita tingalkan tempat ini sejauh mungkin agar tak ada yang menghalangi hubungan kita, biar saja kita menjadi pengkhianat di persahabatan ini demi Shabira karena Gio, Azka dan Jho sendiri egois terhadap kita, cinta mereka padamu tumbuh sebelum hubungan terlarang kita terjadi jadi jangan salahkan aku jika aku yang lebih berhak memiliki kamu.
Hubungan terlarang itu bukanlah sesuatu yang disengaja atau ini bukan kenginginanku, ini hanyalah kecelakaan yang terjadi begitu saja. Dan takdir punya ceritanya sendiri jadi jika kamu digariskan untukku maka mereka harus menerimanya karena tak akan ada satu orang pun yang bisa melawan kehendaknya.
Kata-kata Atar itu terus terngiang-ngiang dibenak Jani membuatnya semakin yakin untuk bertindak tapi masalahnya tak ada cinta dihati Jani untuk Atar dan Jani masih merasa canggung kalau tiba-tiba dia harus menjadi istri sahabat masa kecilnya sendiri.
__ADS_1
Membayangkannya saja sudah membuat wajahnya merah merona apa lagi kalau menjalankannya langsung, sepertinya wajah kaku akan tergambar jelas diwajah Jani. Lalu apakah Jani akan menerima tawaran Atar untuk jadi istrinya atau Jani akan tetap betah dengan status singlenya seperti sekarang ini?
Bersambung.