
Tap
Tap
Tap
Derap langkah Dion terdengar amat tergesa-gesa karena dia ingin segera memberikan obat jantung pada ibunya. Setelah mengambil obat dan segelas air putih Dion segera memberikan itu pada ibunya.
Tak berapa lama Rumi segera meminum obatnya. Perlahan rasa sakit didadanya mulai berkurang tapi Rumi masih merasakan sesak. Dalam keadaan masih sakit ditatapnya wajah putra bungsunya itu dengan tatapan nanar.
Luka lebam dan bercak darah di hidungnya masih belum kering diwajah Atar. Rumi yang tak kuasa menahan sedihnya atas perbuatan bejad sang anak bungsu, kemudian dia meneteskan air matanya tanpa bersuara, batinnya benar-benar merasa sakit dan dia meras gagal jadi seorang ibu yang mendidik anak-anaknya agar jadi anak yang baik dan soleh.
Harapan dan rasa bangga kepada kedua putranya itu seketika menjadi sirna karena Dion seorang pemabuk dan Atar sudah berbuat zina hingga wanita yang berhubungan intim dengannya hamil. Hati seorang ibu ini makin sedih dan terluka tapi dia tak bisa apa-apa setelah semuanya sudah terjadi akhirnya Rumi hanya bisa menangis atas kesalahan anak-anaknya.
"Bu, aku minta maaf" lirih Atar sambil hendak menyentuh tangan ibunya tapi Rumi menepis tangan Atar karena dia masih marah pada putra bungsunya itu.
Batin Atar semakin sedih, dia merasa menjadi orang yang paling hina yang tak bisa dimaafkan lagi akhirnya Atar hanya bisa menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Rumi yang ingin menenangkan diri lalu meminta suaminya untuk memapah dia menuju ke kamar dengan meninggalkan kedua putranya.
Setelah Rumi dan Arya pergi ke kamar, Dion kembali menyalahkan Atar dengan mengumpat, "Ini semua gara-gara lo, ibu tidak akan sesedih ini kalau lo tak berbuat zina!"
Dion lalu pergi, Atar pun memilih pergi kekamarnya dengan hati berkecambuk perih. Di kamar dia langsung meringkuk diatas tempat tidurnya dengan tak semangat, umpatan Dion tadi masih terngiang-ngiang di benaknya dan itu semakin mengecilkan hati Atar. Hingga tak terasa dia malah ketiduran dengan posisi meringkuk tanpa selimut.
Sejak kejadian itu Atar tak pernah keluar dari kamarnya bahkan dia juga tak mengubah posisi tidurnya, walah dia ketiduran atau terjaga dari tidurnya dia tetap meringkuk tanpa bergerak sedikit pun.
Dia sudah seperti mayat hidup yang hanya bisa memejamkan matanya dan membuka matanya, tak ada kegiatan atau aktifitas apa pun yang dia lakukan selama dua hari ini selain rebahan diatas tempat tidurnya.
Bahkan Atar tak keluar kamar untuk sekedar makan atau minum ini semua dilakukannya karena Atar merasa tak bersemangat sebab semua orang terus menyalahkannya atas kesalahan yang sudah dibuatnya dengan jani.
...****************...
Setelah rutin mengkonsumsi obat kondisi Rumi kembali stabil tapi meski begitu Rumi masih merasa marah pada kesalahan yang dibuat Atar, namun hati kecilnya sebagai seorang ibu, dia juga merasa tak tega saat anaknya sedang menghukum dirinya sendiri dengan mengurung diri dikamar dan melakukan mogok makan.
Untuk menjernihkan kembali pikirannya sebelum dia mengajak ngobrol putra bungsunya itu Rumi pergi jalan-jalan disekitar rumahnya. Kakinya terus melangkah tanpa tujuan yang jelas sedangkan pikirannya terus berkelana hingga dia tidak fokus pada keadaan sekitar.
"Atar, ibu masih tak percaya kamu bisa melakukan perbuatan dosa besar seperti itu. Bagaimana bisa kamu melakukan itu nak? Ibu benar-benar merasa gagal jadi ibu yang baik, Kenapa kamu jadi berubah seperti ini Atar" batin Rumit sambil menangis.
Disisi lain Jani berpamitan pulang pada Bu Retno karena dia, Shabira dan jidan akan pulang kerumah bapaknya dengan berjalan kaki. Disepanjang jalan kedua bocah itu terus berceloteh membicarakan dunia mereka sambil berjalan dengan sedikit melompat zigzag dari satu titik ke titik yang lain. Sementara Jani hanya melihat kecerian mereka sambil terus berjalan mengikuti mereka.
Diarah yang berlawanan ada seseorang yang tengah berjalan dengan gontai seraya terus menunduk. Shabira yang waktu itu sedang berbicara pada Jidan sambil berjalan mundur menghadap kearah Jidan dan Jani tiba-tiba menabrak seseorang itu karena mereka sama-sama saling tidak melihat jalan.
Alhasil mereka jadi bertabrakan dan membuat Shabira terjengkang hingga terduduk diaspal jalanan. Jidan dan Jani jadi panik.
"Tuh! Kan bunda bilang juga apa tadi, kamu jalannya jangan mundur-mundur jadi jatuhkan" kata Jani seraya membungkuk dan membantu Shabira untuk bangun kembali.
"Iya bun aku minta maaf" lirih Shabira seraya menepuk-nepuk kedua tangannya yang kotor karena menyentuh aspal jalanan.
"Nak, kamu tidak apa-apa? Maafkan ibu ya kamu jadi jatuh" ucap ibu itu sambil membantu Shabira untuk bangun.
"Tidak apa-apa bu ini putri saya saja yang susah di bi...langin" kalimat Jani tercekat ketika dia baru menyadari siapa yang sudah menabrak putrinya itu.
"Tante Rumi" seru Jani dengan memelankan suaranya tapi Rumi masih sempat mendengar.
"Kamu siapa ko bisa tahu nama ibu?" tanya Rumi dengan tatapan datar.
Jani sedikit gugup mendapat pertanyaan dari ibunya Atar itu pasalnya karena mungkin sebentar lagi dia akan jadi ibu mertuanya tapi Jani tak mau banyak bicara takutnya Atar belum menceritakan apa pun pada ibunya tentang Shabira.
"A-aku Rinjani, ta-tante" jawab Jani dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Rinjani mana? Rinjani siapa?" Rumi masih tak mengenali Jani karena perubahan Jani yang sudah bertransformasi dari gadis tomboy hingga menjadi wanita yang feminim.
"Aku Rinjani putrinya bapak Hadi"
"Oh Rinjani temannya Atar ya?"
"Iya tante"
"Kamu kemana aja kenapa baru pulang?"
"Panjang ceritanya tante, aku tidak bisa cerita disini"
"Oh kalau begitu kapan-kapan kamu main kerumah tante ya buat cerita. Tante harus segera pulang jadi tante duluan ya. Anak cantik maafin ibu ya sudah nabrak kamu" ucap Rumi sambil mengelus lembut pucuk kepala Shabira, setelah itu Rumi pergi.
Jani lalu menatap nanar punggung wanita itu berlalu, hatinya merasa sedih karena dia tak begitu memperhatikan kehadiran Shabira padahal dia adalah cucunya Rumi.
"Bun, Bunda, siapa ibu tadi? Kenapa ibu itu menyebut nama ayah? Dan kenapa bunda terus menatapnya seperti itu?" tanya Shabira penasaran dengan membuyarkan lamunan Jani.
Jani lalu menatap sendu putrinya kemudian menjawab pertanyaan Shabira, "Ibu tadi itu... ibu itu... ibunya ayah kamu, Shabira"
"Maksud bunda, ibu tadi itu nenek aku?"
Jani kemudian menganggukan kepalanya.
"Kenapa sikaf nenek biasa saja apa nenek tidak mau menerima aku, bunda?" tanya gadis kecil itu lalu mendadak murung.
"Sepertinya bukan seperti itu sayang. Nenek kamu sangat baik mungkin sikafnya seperti itu karena mungkin ayahmu belum menceritakan soal kamu" terka Jani seraya membelai lembut sebelah pipi Shabira.
Gadis kecil itu lalu mengangguk pamah, mereka lalu kembali pulang. Dirumah Jani langsung menelepon Atar karena ingin menanyakan apakah Atar sudah menceritakan semuanya ke keluarganya atau belum. Setelah beberapa kali melakukan panggilan akhirnya Atar mengangkat telepon dari Jani. Suara Atar terdengar lemah dan parau diujung telepon sana dan itu membuat Jani khawatir.
📞Atar, kamu sekarang dimana? Kenapa tidak ada kabar? Kamu sekarang sedang apa?
Atar terpaksa berbohong pada Jani karena dia tak mau Jani mengetahui kondisinya saat ini.
📞Kenapa suaramu terdengar parau, apa kamu sakit?
📞Tidak Jani, aku baik-baik saja ko, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku ya.
📞Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Oh Iya, Apa kamu sudah menceritakan semuanya pada keluargamu?
📞Iya, keluargaku sudah tahu tapi mereka belum tahu siapa yang jadi ibu dari anakku karena penyakit ibu kambuh lagi jadi aku terpaksa tak mengungkapkan dulu semuanya.
📞Maafkan aku Atar, gara-gara aku ibumu jadi sakit lagi.
📞Kamu jangan merasa bersalah seperti itu, karena ini semua salahku, bukan salah kamu. Aku minta maaf Jani.
Meski Atar berkata seperti itu tetap saja hati Jani tak tenang karena penyakit jantung ibunya Atar jadi kambuh lagi. Tapi Jani sedikit lega karena tadi dia sempat berpapasan dengan ibunya Atar dalam keadaan baik-baik saja. Setelah cukup lama berbincang lewat telepon akhirnya mereka mengakhiri panggilan teleponnya.
...****************...
Dirumah keluarga Atar
Rumi sudah kembali ke rumahnya bahkan dia sudah menyiapkan makan siang untuk suaminya. Karena Dion entah ada dimana? Sementara Atar masih belum keluar juga dari kamarnya. Rumi menuangkan nasi beserta lauknya kepiring suaminya.
"Pak, Apa Atar sudah keluar dari kamarnya?"
"Belum bu mungkin dia masih merenungkan kesalahannya"
__ADS_1
"Apa dia sudah makan pak?"
"Dia mogok makan bu, karena ibu belum memaafkan kesalahannya, dari kemarin bapak bawa makanan kekamarnya tapi tidak pernah disentuh oleh Atar"
"Anak itu, Apa dia mau mati sebelum bertanggung jawab pada perempuan yang dihamilinya" gumam Rumi.
Sebenarnya Rumi sangat penyayang pada anak-anaknya tapi dia selalu bersikaf tegas jika kedua anaknya melakukan kesalahan. Dan seperti biasa dia akan membuat anak-anaknya menyesal atas kesalahannya setelah itu baru dinasehati dan dirangkulnya kembali.
Rumi kemudian berdiri lalu pergi kekamar Atar. Saat Rumi masuk kekamar Atar, Atar masih meringkuk ditempat tidurnya meski dia sedang tidak tidur.
"Atar! Apa kamu mau mati sebelum bertanggung jawab atas perbuatanmu pada perempuan yang sudah kau hamili" pekik Rumi diambang pintu.
Suara keras Rumi yang menggema dikamar itu berhasil mengalihkan atensi Atar, dia lalu duduk seraya menyahut ibunya, "Ibu! Apa ibu sudah mau memaafkanku?"
"Ibu baru akan memaafkanmu jika kamu mau makan, lihatlah wajahmu sudah sangat pucat. Apa kamu akan terus menyiksa dirimu dengan mogok makan?"
Meski pun Atar tak berselera untuk makan tapi memang perutnya sudah terasa melintir karena belum diisi apa pun. Dan demi mendapat maaf dari ibunya dia lalu beranjak dari duduknya untuk pergi ke meja makan.
Rumi dan Atar lalu duduk di kursi mengikuti Arya yang sudah dari tadi duduk. Rumi lalu menuangkan nasi kepiring baru kemudian menambahkan lauk pauknya setelah itu menyuruh Atar untuk makan. Sesaat Atar hanya menatap piring berisi nasi beserta lauk pauk yang tersaji di hadapannya.
"Kenapa dilihati aja, ayo cepat makan" titah Rumi.
Akhirnya Atar mulai memakan nasi dan lauknya itu. Suasana menjadi hening ketika mereka semua sedang makan siang hingga makanan di piring mereka habis.
"Apa kamu mau nambah?"
"Tidak bu, aku sudah kenyang. Apa sekarang ibu sudah memaafkanku?"
"Ibu masih marah dan kecewa sama kamu tapi ibu akan memaafkan kamu, ibu berharap kamu segera bertanggung jawab pada perempuan itu" titah ibunya membuat netral Atar berbinar-binar karena ibunya sudah merestui Atar untuk menikahi Jani.
"Terimakasih bu, aku akan segera menikahi wanita itu" ucap Atar penuh syukur.
"Bagaimana kamu bisa melakukan kesalahan itu Atar?" tanya Rumi dengan tatapan mengintimidasi membuat Atar jadi menunduk.
"Kejadianya sudah sangat lama Bu, Pak. Bahkan anak yang dilahirkan wanita itu sudah berusia 9 tahun" tutur Atar mengawali ceritanya.
"Apa! Bagaimana kamu bisa merahasiakan soal ini selama bertahun-tahun Atar?" Rumi jadi kaget ketika dia tahu kalau cucunya sudah berusia 9 tahun.
"Aku tidak merahasiakan soal ini dari ibu dan bapak, hanya saja aku sendiri baru tahu sekarang ini, kalau aku memiliki seorang anak dari wanita yang pernah berhubungan denganku, aku bahkan tidak ingat kalau aku pernah melakukan hubungan terlarang itu karena saat kami melakukannya kami dalam keadaan tidak sadar, kami dipengaruhi minuman beralkohol bu" tutur Atar.
Dada Rumi terasa sesak lagi mendengar cerita Atar tapi dia harus kuat demi untuk meluruskan semua masalah yang ada.
"Kamu bukanlah seorang pemabuk Atar, lalu kenapa kamu malah meminum minuman haram itu?"
"Aku tidak sengaja meminum itu bu, saat itu aku dan Gio sedang bermain catur tapi Gio selalu kalah dariku lalu dia ingin mengganti permainan karena bosen kalah terus. Kami lalu memikirkan sebuah permainan, saat itu kami melihat ada kantong plastik berisi minuman tanpa kami tahu minuman itu adalah minuman beralkohol yang tak sengaja tertukar oleh Azka yang waktu itu bertabrakan dengan seorang preman akhirnya Aku, Gio, Jho, Azka dan Jani minum sampai kami mabuk dan saat itulah terjadi hubungan terlarang itu" tutur Atar menyesali dengan apa yang terjadi saat itu.
"Tunggu! Lalu siapa gadis yang sudah melakukan hubungan terlarang denganmu, Atar?" pirasat Rumi mulai tak enak dan dia sudah bisa sedikit menebak gadis yang sudah melakukan hubungan terlarang dengan putra bungsunya itu.
Atar menatap nanar kedua orang tuanya, dia merasa sedikit takut dan ragu untuk menyebut nama gadis itu tapi kebenaran harus segera diungkapkannya, Atar menarik nafas dalam-dalam sebelum menyebut nama gadis itu setelah itu dia mengeluarkannya dengan perlahan.
"Namanya..." Atar menggantung kalimatnya sejenak.
"Namanya Rinjani Bu, Pak, gadis yang mengandung dan melahirkan anakku itu bernama Rinjani Maharani"
"Ma... maksud kamu Rinjani anaknya Hadi? Teman masa kecilmu itu, Atar?" tanya Rumi meragu.
"Iya Bu, ternyata selama ini Jani menghilang karena dia takut pada bapaknya sebab dia gagal mempertahankan kesuciannya yang sudah direnggut olehku hingga Jani hamil" sesak dada Atar semakin menyeruak saat mengenang masa lalunya yang kelam bersama Jani.
__ADS_1
Arya mau pun Rumi tentu amat shock saat mengetahui gadis yang telah direnggut kesuciannya oleh putra bungsunya itu, mereka benar-benar tak mengangkat gadis yang tomboy yang malang itu yang akan mengandung cucu mereka.
Bersambung