Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Jelajah Malam


__ADS_3

Hari ini adalah pertama kalinya aku menginjakan kaki disekolah baruku yaitu disebuah SMA yang lokasinya tidak jauh dari kampung tempatku tinggal.


Ya, setelah lulus SMP aku dan tentunya keempat sahabat laki-lakiku memutuskan untuk tetap bersama dan kami telah memilih sekolah ini untuk kami menimba ilmu.


Terkadang aku berpikir mungkin takdir tak ingin memisahkan kami.Ya, itu karena setiap kali kami naik kelas atau pun pindah sekolah ke jenjang yang lebih tinggi kami selalu di satu guguskan dan di satu kelaskan tapi, tak apa. Justru kami merasa senang tetap bersama seperti ini.


Kali ini pun sama, ketika kami menjalani masa orientasi sekolah dan para kakak kelas membentuk kelompok untuk kami, lagi-lagi aku disatu kelompokan dengan ke empat sahabat laki-lakiku meski ada beberapa orang yang masuk kekelompok kami.


Setelah mengikuti serangkaian MOS (Masa orientasi siswa), diakhir pekan kami melakukan kegiatan persami. Meski hanya dilakukan dihari sabtu dan minggu tapi ini terasa seperti kami berkemah sungguhan di alam bebas karena tempatnya yang jauh dari perumahan yaitu dialun-alun yang terbuka.


Malam ini sepertinya alam sedang berpihak pada kami, langitnya bersinar cerah dengan taburan bintang yang tak terhitung jumlahnya yang terlamapu banyak, bulannya pun bersinar terang seperti sedang tersenyum pada kami seolah dia pun ikut bahagia atas keceriaan kami dimalam ini yang tengah berkumpul mengelilingi api unggung sambil mengikuti banyak kegiatan.


Pukul 22.00 kami semua disuruh tidur ditenda masing-masing karena pukul 01.00 kami akan melakukan kegiatan jelajah malam. Saat aku masuk ketenda anak perempuan seorang kakak kelas yang tengah berkeliling untuk memastikan kalau semua peserta MOS istirahat dan tidur, kakak kelas itu menegurku.


"Eh! Kamu! Tidur ditenda laki-laki jangan tidur ditenda perempuan"


"Emangnya kenapa kalau aku tidur disini kak?" tanyaku.


"Ya perempuan tidur ditenda perempuan dan laki-laki tidur ditenda laki-laki" jelas kakak kelas.


"Tapi kak, aku kan perempuan" kata Jani.


Kakak kelas itu terlihat memicingkan kedua netranya merasa tak percaya dengan pernyataanku sebab penampilanku yang seperti laki-laki, rambut potongan laki-laki dan aku juga mengenakan celana seperti laki-laki, dikala para siswi memakai rok untuk pasangan baju seragamnya.


"Kamu serius perempuan? Kenapa dandananmu seperti laki-laki?" tanya kakak kelas masih ragu.


"Benar kak, nama dia Rinjani dia satu sekolah denganku saat SMP, di SMP dia juga suka pake celana kak, bukan rok. Guru juga sering menegur dia tapi, dasar dianya yang tomboy dan bandel tetap aja dia pake celana ke sekolah" tutur teman setenda Jani.


"Ooh! Gitu, ya udah! Kalian boleh tidur bersama, buruan kalian tidur dulu ya, nanti jam satu dibangunkan lagi" titah kakak kelas.


"Iya kak" serempak mereka berkata.


Pukul 01.00 kemudian


Semua peserta MOS dibangunkan kembali dari tidur mereka dan dikumpulkan dilapangan.


"Selamat pagi semua!" sapa ketua Osis mengawali kegiatan malam ini.


"Pagi kak!" serempak peserta MOS membalas salam dari ketua Osis.


"Kakak tahu kalian pasti masih ngantukan?"


"Iya kak" sebagian calon siswa siswi menyahut.


"Tapi meski begitu seperti yang sudah kakak umumkan tadi malam, malam menjelang pagi ini kita akan melakukan jelajah malam yang tentunya juga akan ada permainan dan tugas disetiap posnya. Apa kalian semua sudah siap untuk melakukan jelajah malam?"


"Siap kak!" serempak mereka menjawab.


"Baiklah, permainan ini akan dilakukan secara kelompok, satu kelompok terdiri dari dua orang dari pihak perempuan dan pihak laki-laki dari itu kami selaku panitia yang akan membagi kelompok kalian" jelas ketua Osis.


Setelah itu panitia Ospek membagi kelompok para peserta MOS dan ternyata aku sekelompok sama Azka. Pembagian kelompok pun selesai dan kami disuruh baris dengan anggota kelompok masing-masing. Tapi lagi-lagi aku ditegur sama kakak kelas.

__ADS_1


"Eh! Kalian berdua kan kami sudah bilang aturan kelompoknya harus laki-laki dan perempuan kenapa kalian malah pisang semua?"


"Kak, dia itu perempuan namanya Rinjani" ujar Azka.


Kakak kelas itu menatapku dengan tatapan tajam.


"Perempuan apa kamu, Kenapa rambutmu kaya laki-laki dan kenapa juga kamu pakai celana?" tanya kakak kelas.


"Dia perempuan jadi-jadian kak" ledek Azka sembari terkekeh.


"Sialan! Kamu Azka" umpatku sambil melototi Azka.


Bukannya takut justru Azka malah makin terkekeh dan kakak kelas itu juga malah ikut-ikutan ketawa.


"Ya udah, kalian semua duduk aja dulu ya sambil nunggu giliran pergi setelah kelompok sebelumnya berangkat" titah kakak kelas.


Karena waktu keberangkatan setiap kelompok harus ada jeda makannya kelompok lainnya harus menunggu giliran untuk berangkat untuk melakukan jelajah malam.


Kini tibalah saatnya aku dan Azka untuk berangkat tanpa dibekali lampu senter untuk menerangi jalan, kami hanya mengandalkan penerangan dari terangnya bulan dan lampu yang terpasang dipinggir jalan tapi kami juga harus melewati jalan yang gelap gulita karena tak adanya penerangan dan itu sedikit membuat bulu kudukku berdiri karena yang ada dipikiranku tiba-tiba saja ada hantu yang muncul dibalik kegelapan tapi aku mencoba memberanikan diri untuk bisa sampai ke pos terakhir.


Kami pun mulai berjalan untuk mencari pos pertama dengan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh panitia disekitar jalan yang harus kami lalui. Dari raut wajahnya sepertinya Azka juga sedikit takut dengan kegelapan malam.


Krek!


"Jani apaan tuh?" tanya Azka sambil memepetkan tubuhnya padaku.


"Ih! Apaan sih! Kamu Azka? Tadi itu suara ranting ke injak sama kamu" jawabku.


"Hehe... ternyata kamu benar Jani" Azka cengengesan.


Kami pun kembali melanjutkan perjalanan sambil terus ngobrol untuk mengusir rasa takut yang mendera.


"Pos pertamanya mana ya ko jauh banget?" tanya Azka sambil celingukan.


Tak berapa lama mereka menemukan pos pertama. Dipos pertama mereka diberi game tebak-tebakan karena salah menjawab akhirnya kami dihukum dengan melakukan squat jump sebanyak 100 kali.


Squat jump sebanyak 100 kali dipagi buta seperti ini lumayan membuat kami berkeringat dan nafas ngos-ngosan juga karena kelelahan. Setelah itu kami melanjutkan jelajah malam sambil mencari pos berikutnya.


Beberapa pos sudah kami lewati hingga tibalah kami dipos empat. Disana sudah terlihat kakak kelas yang sedang menunggu kami. Raut wajah kakak kelas itu nampak serius tapi lebih tepatnya lagi terlihat galak. Ada sedikit kengerian dibenak kami karena kami takut mereka mengerjai kami.


"Siapa nama kalian?" tanya salah satu dari mereka.


"Nama saya Azkara Prayogi panggil saja saya Azka" jawab Azka.


"Nama saya Rinjani Maharani panggil saja saya Jani" ucapku.


"Kalian tahu pos ini pos berapa?" tanya kakak kelas lagi.


"Tahu kak, ini pos empat" jawab serempak Azka dan Aku.


"Jani siapa nama bapak kamu?" tanya kakak kelas.

__ADS_1


Aku sedikit tercekat mendengar pertanyaan kakak kelas itu, Kenapa dia harus menanyakan bapakku, seribu pertanyaan pun sontak bergelayutan dibenakku akhirnya aku jawab pertanyaan kakak kelasku.


"Nama bapakku Hadi Himawan"


Kali ini giliran Azka yang ditanya oleh kakak kelas dan pertanyaannya sama-sama membuat Azka tercekat kaget sama sepertiku.


"Azka apa kamu hapal kalimat ijab kobul?"


"Hah! Ijab kabul?" ucap Azka mengulang kata kakak kelas wajah Azka terlihat kebingungan.


"Saya lupa kak" ujar Azka.


Kakak kelas itu lalu memberikan satu butir telur padaku dan satu butir untuk Azka.


"Apa maksudnya ini kak?" tanya Azka.


"Ini adalah sikembar Upin dan Ipin sekarang kalian akan menjadi orang tua Upin dan Ipin jadi selama melakukan jelajah malam kalian harus menjaga mereka baik-baik jangan sampai pecah kalau pecah maka nanti setelah kita berkumpul kembali diperkemahan kalian akan dihukum"


"Baik kak, kami akan menjaga Upin dan Ipin" serempak kami berucap.


"Tapi sebelum kalian diresmikan jadi orang tua kalian harus menikah dulu saya yang akan menjadi penghulu kalian, Azka apa kamu sudah siap menikahi Jani" tanya kakak kelas.


Sontak Azka langsung membelalakan kedua netranya kaget. Seolah-olah pertanyaan itu menjadi kenyataan yang wajib dijawab oleh Azka dan bukan hanya sekedar permainan belaka.Tiba-tiba ada perasaan bingung dan rasa canggung yang mendera perasaan Azka. Dia lalu menatapku dengan tatapan canggung.


"Ayo! Jawab jangan diam aja, kalau kalian menolak kalian akan dapat hukuman" bentak kakak kelas membuat kami kaget.


"Si-si-siap kak" jawab Azka terbata-bata


"Saya kasih waktu lima menit buat kamu menghapalkan ijab kobulnya"


"Kalimatnya gimana kak"


"Kalimatnya gini Saya terima nikahnya Rinjani Maharani binti Hadi Himawan dengan mas kawin tersebut dibayar kontan"


"Azka ini mas kawin buat Jani pegang ya jangan sampai hilang kalau hilang kamu akan dihukum, anggap aja ini sebongkah berlian" ucap kakak kelas satunya lagi sambil memberikan sebuah batu kecil yang dipungutnya dijalanan.


Azka pun mengangguk, setelah 5 menit berlalu pelapazan ijab kobul pun dimulai. Azka terlihat gerogi bahkan telapak tangannya terasa amat dingin saat kakak kelas menjabat tangan Azka seolah dia sedang menghadapi pernikahan yang sesungguhnya seperti itulah yang sedang dirasakan oleh Azka.


Sontak itu membuat beberapa kakak kelas lain diam-diam menahan tawa mereka.


"Kamu nggak usah grogi gitu ini cuma bohongan" kata kakak kelas yang menjabat tangan Azka.


Sontak itu makin membuat Azka makin grogi tapi aku tahu Azka berusaha untuk menahan dirinya agar tetap tenang atas permainan dari kakak kelas, sebenarnya aku kasihan pada Azka tapi apalah dayaku aku hanya seorang junior yang tak berkuasa untuk melawan senior-seniorku.


Karena ini mendadak dan Azka tak punya persiapan apa pun akhirnya ijab kobul itu sempat beberapa kali gagal sebab Azka selalu salah menyebut namaku dia malah menyebut namanya sendiri.


"Azka apa kamu mau menikahi dirimu sendiri?"


Lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan kakak kelas itu pada Azka membuat nyali Azka semakin menciut, seperti ingin berlari sejauh mungkin lalu bersembunyi dilubang semut itulah yang dirasakan oleh Azka, dia jadi bahan lelucon yang terasa garing dan aneh bagi kami.


Tapi pada akhirnya Azka bisa mengucapkan ijab kobul juga dengan lancar hingga kami pun selesai menyelesaikan misi kami dipos 4. Kami pun melanjutkan jelajah malam dengan mencari pos berikutnya hingga akhirnya selesai juga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2