Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Kecurigaan Atar


__ADS_3

Semakin hari kandungan Jani pun akan semakin membesar tapi hingga detik ini Atar masih belum punya cara untuk menyingkirkan Raisa dari kehidupan mereka padahal Atar tak mau gara-gara adanya Raisa dirumah tangganya membuat Jani terus kepikiran hingga itu akan berpengaruh buruk pada janin yang dikandungnya.


Atar memutar dan menarik kursi kerjanya mendekati meja kemudian dia bersedekah diatas meja sambil membenturkan kepalanya kemeja dengan pelan, wajah tampannya benar-benar amat frustasi untuk memikirkan jalan keluar dari permasalahnnya ini.


Dia lalu duduk tegap kembali, dibukanya laci meja lalu dia mengambil sempel bekas Tes DNA tempo itu yang masih dia simpan dilaci meja kerjanya. Didalam sebuah wadah transparan berbentuk bulat dan kecil yang terbagi menjadi dua wadah yang satu atas nama Atar dan yang satunya lagi atas nama bayinya Raisa.


Didalam wadah transparan ada rambut milik Atar dan juga rambut milik bayi Raisa. Atar memperhatikan kedua wadah itu dengan seksama namun tiba-tiba dia memicingkan kedua netranya saat dia melihat ada kejanggalan di bekas sempel DNA milik Alif.


Karena rasa penasarannya kian menggebu Atar lalu membuka penutup wadah itu kemudian mengambil rambut Alif yang terdapat di wadah.


"Alif kan masih bayi rambutnya belum panjang dan masih halus kalau sempel yang ini rambutnya panjang dan tidak sehalus rambut bayi, Apa benar ini rambut bayinya Raisa?" batin Atar mulai curiga saat melihat rambut itu.


Dia mulai ragu akan keaslian sempel yang diberikan oleh Raisa itu, berbekal rasa curiga dengan sempel milik Alif itu akhirnya Atar memutuskan untuk menyelidiki masalah ini lebih dalam lagi. Dia pergi kerumah sakit untuk bisa mengidentifikasi soal usia yang tepat dari si pemilik rambut yang dijadikan sempel oleh Raisa atas nama bayinya.


Cukup lama Atar menunggu hasil penyelidikan itu, dia merasa tak tenang sebelum pada akhirnya bisa mengetahui hasil pemeriksaan tim Dokter itu. Saat dirinya sedang harap-harap cemas tak berapa lama Dokter pun memberikan hasil pemeriksaan pada Atar.


"Jadi bagaimana dok, Kira-kira berapa usia si pemilik rambut itu?" tanya Atar tanpa basa basi lagi.


"Dari hasil pemeriksaan kami ini sudah jelas kalau si pemilik rambut itu usianya sekitar 9 tahunan" jawab Dokter.


Ternyata kecurigaan Atar selama ini benar adanya, Raisa memberikan sempel palsu padanya agar hasil Tes DNAnya positif dengan mengambil rambut milik Shabira secara diam-diam yang jelas-jelas adalah anak kandungnya.


"Sialan! Ternyata kecurigaanku selama ini benar adanya, Raisa benar-benar menipu kami, dia pasti mengambil rambut Shabira agar hasil Tes DNAnya positif secara diam-diam. Kalau begini seribu kali pun aku melakukan Tes DNA hasilnya pasti selalu positif karena dia memberikan sempel milik Shabira yang jelas-jelas dia itu anak kandungku. Ah! Tapi bagaimana caranya dia mengambil rambut Shabira padahal dia baru masuk kedalam kehidupan kami lalu langsung meminta melakukan Tes DNA?" batin Atar kesal dan penuh tanya.


Atar lalu bergegas pulang kerumahnya. Dia berencana untuk segera memberitahukan soal penemuannya ini pada Jani. Tapi saat dijalan hendak pulang tiba-tiba Jani menelepon dia minta dibelikan mangga muda sebab orang hamil biasanya kalau lagi ngidam suka makan rujak.


Atar pun mencari mangga muda sesuai pesanan istrinya. Dijalan dia tak sengaja bertemu dengan Gio yang saat itu entah dia habis dari mana. Atar menyapa Gio tapi pria itu hanya menatap sinis padanya.


"Mungkin Gio masih marah karena ada Raisa dikehidupan rumah tangga aku dan Jani" pikir Atar dalam hati.


Akhirnya Atar tak banyak bicara lagi pada Gio karena dia pikir percuma saja bicara dengan orang yang sedang marah pada dirinya jadi dia membiarkan saja Gio berlalu begitu saja tanpa menghiraukannya lagi. Tapi saat Gio hendak pergi dia memutar balik tubuhnya kearah Atar kemudian berkata.


"Tolong jaga baik-baik bayiku"

__ADS_1


Atar yang saat itu sedang memilih buah-buahan langsung mendelik dan menghentikan aktifitasnya.


"Apa maksudnya Gio berkata seperti itu?" batin Atar penasaran.


Kemudian dia menarik pundak Gio yang saat itu dia kembali melanjutkan perjalanannya.


"Maksud kamu berkata seperti itu apa Gio?" tanya Atar masih memegangi pundak Gio dari belakang.


Gio menyunggingkan senyuman sinis lalu menepis tangan Atar di pundaknya dan mengibas-ngibaskan bahunya yang bekas disentuh oleh Atar, seolah dia merasa jijik sudah dipegang Atar.


"Apa ucapanku tadi kurang jelas?" tanya Gio dengan tatapan sinis pada Atar.


Atar hanya bergeming sambil menatap tajam sahabatnya itu, Gio lalu mencibir sambil berkata dengan tegas dan lugas, "Kalau kupingmu kurang jelas mendengar ucapanku, baiklah akan aku ucapkan sekali lagi, dengarkan baik-baik ucapanku ini Rafatar!"


Gio sejenak menghentikan ucapannya kemudian dia menatap Atar dengan penuh kebencian "Aku tak bisa memiliki Jani, tapi tolong jaga bayiku dan ibunya"


Atar mendelikan bola matanya mendengar perkataan Gio, hatinya mulai bergemuruh kesal dan tak tenang.


"Apa maksudnya kamu ngomong seperti itu padaku Gio?" tanya Atar masih menahan kemarahannya.


"Ternyata kamu ini selain bodoh, gampang ditipu kamu juga ternyata budeg juga ya. Sudah aku bilang karena aku tak bisa memiliki Jani maka tolong jaga Jani dan bayiku didalam kandungan Jani"


Bug!


Satu tinjuan mendarat di pipi Gio karena Atar sudah tak bisa menahan kemarahannya lalu dia memegangi kerah baju Gio dengan kedua tangannya.


"Brengsek kamu Gio! Berani sekali kamu mengakui kalau janin yang ada didalam kandungan Jani itu adalah bayimu, jangan sembarangan bicara kamu Gio bayi dalam kandungan Jani itu bayiku" bentak Atar dengan kemarahan yang amat jelas terlihat disorot matanya.


Gio lalu tersenyum kecut sambil menoyor kepala Atar, "Dari dulu kamu memang tidak berubah, kamu masih saja gampang percayaan sama orang lain hingga kamu gampang ditipu oleh orang lain. Jani itu sangat marah padamu karena perselingkuhanmu dengan Raisa, dia lalu mencari pelampiasan kekesalannya dengan membalas perselingkuhanmu, dia kabur dari rumah dan berselingkuh dengan aku, meski aku hanya dijadikan pelampiasannya tapi aku sudah cukup senang karena aku sudah berhasil menanamkan benihku di rahim Jani. Pikir saja pake logikamu Atar, jika usia kandungan Jani 2 bulan lalu kapan kalian melakukan hubungan itu sementara saat itu Jani kabur dari rumah, Lalu bagaimana Jani bisa hamil jika tak bertemu denganmu? Sudah jelaskan Jani bisa hamil karena melakukan hubungan itu denganku"


Bug!


Satu bogeman mentah mendarat lagi dipipi Gio karena Atar benar-benar merasa marah dengan pengakuan Gio pada dirinya.

__ADS_1


"Brengsek kamu Gio! Kenapa kamu tega ngelakuin ini padaku" bentak Atar lalu melayangkan lagi bogeman mentah ditubuh Gio.


Awalnya Gio tak membalas, dia hanya tersenyum kecut karena sudah berhasil menyulut emosi Atar tapi lama-lama Atar semakin menjadi-jadi, dia amat marah dan kesal pada Gio hingga Atar tak mau berhenti menghajar Gio.


Kali ini Gio tak mau kalah dia lalu membalas menghajar Atar hingga terjadilah perkelahian yang cukup sengit diantara mereka hingga mereka babak belur baraulah perkelahian mereka bisa dihentikan oleh orang-orang yang kebetulan ada disekitar tempat itu.


Mereka masih saja mau berkelahi ketika orang-orang yang melerai mereka menyuruh Atar dan Gio untuk kembali pulang dan tak membuat kekacau ditempat itu. Akhirnya Atar kembali pulang dengan emosi yang masih meledak-ledak didadanya.


Sesampainya dirumah dia langsung masuk kedalam rumah, Jani langsung menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman manja tapi sikaf Atar berubah Jadi dingin padanya.


"Atar, kamu sudah pulang, kamu tidak lupa dengan pesananku kan?" tanya Jani sambil menghampiri Atar.


Atar lalu memberikan kantong plastik yang berisi mangga muda pada Jani, Jani yang merasa senang hendak memeluk suaminya tapi Atar menolaknya dan langsung pergi kekamar.


"Kamu kenapa ko kaya gini ke aku?" teriak Jani sambil mematung di tempatnya.


Tapi Atar tak menggubris Jani dia terus berjalan menuju kamarnya. Jani lalu mengejar Atar.


"Kamu marah sama aku? Kenapa? Apa salahku padamu? Wajahmu, kenapa wajahmu memar?" tanya Jani hendak menyentuh memar diwajah Atar ketika dia baru menyadari wajah Atar terlihat memar.


Tapi lagi dan lagi pria yang hatinya masih dibakar emosi itu tak mau bicara dengan Jani dia menepis tangan Jani.


"Jangan ganggu aku, aku tak mau bicara denganmu" ketus Atar lalu pergi kekamar mandi setelah membawa pakaian gantinya.


Brak!


Suara pintu kamar mandi yang ditutup dengan cukup keras itu membuat Jani kaget dan terus bertanya-tanya.


"Atar kenapa? Sepertinya dia sangat marah?" batin Jani mulai gelisah dan tak tenang.


Atar lalu mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower, kekecewaan di hatinya terhadap Jani masih meracuni pikirannya hingga dia tak bisa berpikir dengan jernih padahal tadinya Atar mau memberi tahu kan soal Raisa yang sudah memalsukan sempel DNA yang baru diketahuinya. Tapi karena masalah baru ini Atar lalu mengurungkan niatnya untuk memberi tahukan Jani soal ini sebab dia terlalu marah dengan berita yang didengarnya itu.


Bersambung.

__ADS_1


*Hai semuanya yang masih setia stay tuned buat mantengin terus ceritanya Jani dan Atar, aku ucapin terimakasih banyak buat kalian semua tapi maaf ya kali ini cerita Jani dan Atar tidak akan up date setiap hari jadi mohon ditunggu kelanjutannya🙏 tapi sambil nungguin kelanjutan cerita Atar dan Jani, mampir dulu yuk dicerita terbaruku judulnya NOVELLA yang menceritakan kisah dendam jadi cinta mohon dukungannya juga ya biar aku tetap ber**karya*. Terimakasih semuanya semoga semua selalu bahagia dan penuh cinta🥰😘


__ADS_2