Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Masuk rumah sakit


__ADS_3

Setelah beberapa hari Jidan dan Shabira disekap di rumah itu, mereka hanya bisa pasrah karena si penculik tak sedikit pun memberi cela pada mereka untuk bisa kabur dari rumah itu.


Di suatu ketika komplotan penculik anak itu berencan untuk mengirim Shabira, Jidan dan Azhar ke kota besar karena mereka akan dijual pada orang yang akan membeli mereka. Mereka dibawa ke mobil dengan keadaan tangan diikat didepan agar mereka tidak bisa kabur.


Dari situ Shabira terus mencari cara agar bisa kabur tentunya dia mencari momen yang tepat saat si para penculik itu lengah. Ekor mata Shabira yang jeli terus mengawasi si penculik yang duduk didepan dengan si pengemudi mobil, gerak-gerik dan keadaan sekitar terus diawasi oleh Shabira.


Beda halnya dengan kedua anak laki-laki itu mereka hanya murung karena sedih, apa lagi Jidan hatinya amat sedih kalau saja mereka tak kabur dari panti mungkin mereka tak perlu mengalami hal sulit ini, Jidan jadi merasa bersalah pada Shabira.


Tiba-tiba ekor mata Shabira menangkap sosok Gio yang sedang berbincang disisi jalan dengan pemilik toko matrial sontak gadis kecil itu langsung berteriak sekeras mungkin sambil menggedor-gedor jendela kaca mobil.


"Om Gio! Om Gio tolong aku!" pekik Shabira.


Melihat kegaduhan itu seketika Jidan dan Azhar ikut berteriak agar Gio bisa mendengar mereka. Tentu saja para penculik itu tak tinggal diam si penculik satu bertindak mengurus mereka agar ketiga bocah itu diam, sementara yang satunya terus fokus dikemudi dikala jalanan saat itu cukup padat merayap.


Shabira yang saat itu duduk dekat pintu mobil lalu membuka jendelanya dengan perlahan saat mobil yang ditumpangi sudah melintasi Gio tapi dia belum masih menyadari di dalam mobil itu ada anak-anak yang sedang minta tolong padanya.


"Om Gioooo...!! Om Gioooo...!! Tolong kamiiiii...!!" teriak Shabira yang menyembulkan kepalanya keluar jendela mobil membuat Gio melirik ke sumber suara.


"Kaya ada yang berteriak memanggil namaku" batin Gio.


Saat pandangan matanya tertuju pada Shabira Gio tercekat kaget.


"Shabira...!!" pekik Gio sambil membelalakan kedua netranya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Menyadari ada ancaman takut terbongkar atas penculikan anak yang dilakukannya karena pria yang dipanggil Shabira sempat melihat gadis kecil itu, si penculik lalu menarik tubuh Shabira agar masuk lagi kedalam mobil.


Kemudian tubuh kecil itu dibanting agar dia duduk kembali, si penculik lalu menutup kembali jendela mobilnya, Shabira yang melihat tak tinggal dia, gadis kecil itu lalu menendang daerah intim si penculik hingga dia meringis kesakitan.


Jidan pun tak tinggal diam, dari belakang dia segera menutup mata si pengemudi mobil agar pengemudi itu tak fokus menyalib kendaraan didepannya. Alhasil mobil pun sedikit oleng dan hampir menabrak mobil disampingnya.


"Azhar, Ayo! Buka pintu mobilnya, tombol penguncinya ada didepan!" teriak Jidan.


"Yang mana, yang mana tombolnya aku tak tahu" sahut Azhar sambil memajukan badannya kedepan kursi mobil.


"Tekan yang mana aja, buruan karena aku tak bisa berlama-lama menahan penjahat ini" pekik Jidan.


Azhar segera menekan tombol apa saja yang dilihatnya, Shabira mencoba membuka pintu hingga akhirnya pintu mobil tak terkunci lagi, penculik yang kesakitan itu mulai mendorong tubuh Azhar agar dia duduk kembali sementara Shabira yang memcoba membuka pintu mobil langsung dicekik oleh si penculik.


Tentu saja gadis kecil itu terus berontak dengan mengerahkan seluruh tenaganya melawan si penculik, karena kekuatan gadis kecil itu tak sebanding dengan kekuatan si penculik hingga Shabira tak bisa melepaskan tangan si pencilik yang terus mencengkram dengan kuat leher Shabira akhirnya dia berusaha menggigit tangan si penculik.


"Aaaawww! Brengsek kau bocah nakal" pekik si penculik sambil membanting tubuh kecil gadis kecil itu hingga terlempar keluar mobil dan berguling-guling diaspal jalanan.


Jidan dan Azhar segera keluar dari mobil ketika si pengemudi mengerem mendadak mobil yang dikemudikannya. Gio yang berusaha mengejar dengan meminjam motor matic si pemilik toko sempat tertinggal jauh dan kehilangan jejak tapi pada akhirnya dia bisa melihat anak-anak itu ketika mobil yang dikejarnya berhenti.

__ADS_1


"Brengsek! Bocah-bocah itu kabur" umpat si penculik ketika melihat ketiga bocah itu bangun lalu berlari ke arah Gio.


"Mereka sudah tahu rahasia kita, habisi saja mereka. Ayo! Puter balik mobilnya tabrak anak-anak itu sampai mati" titah si pencilik pada si pengemudi mobil.


"Baik bos" ucap si pengemudi yang langsung memutar balik arah mobilnya.


Setelah mobil itu putar balik arah si pengemudi melihat anak-anak itu masih berusaha kabur dari mereka. Mata tajam si pengemudi membidik tepat kearah ketiga bocah itu dan dengan kecepatan tinggi dia mulai mengemudikan mobil hingga hampir mendekati ketiga bocah itu.


Shabira melirik kebelakang, mobil milik si penculik itu melesat dengan kecepatan amat tinggi Shabira yang melihat langsung mendorong Azhar dan Jidan kesisi jalan dan tanpa sempat menghindar tubuh kecil gadis itu tertabrak hingga terpental ke kaca depan mobil lalu jatuh berguling-guling diatas aspal jalanan.


Sontak Jidan, Azhar dan Gio yang melihat langsung berteriak "Shabiraaaaa...!!"


Setelah berhasil menabrak Shabira penjahat itu langsung kabur. Gio langsung turun dari motor lalu lari berhamburan menghampiri Shabira demikian pula dengan Azhar dan Jidan mereka langsung menyerbu Shabira.


Seketika Jidan langsung menangis meraung-raung saat melihat saudaranya berlumuran darah disekujur tubuhnya.


"Shabiraaa...hiks...hiks...hiks..."


Gadis kecil itu terlihat sekarat, ekor matanya semakin mengecil dan hampir menutup mata tapi dia masih mencoba melawan rasa sakitnya dengan sedikit membuka matanya meski kini sekujur tubuhnya terasa sakit dan Shabira hampir kehilangan kesadarannya.


Gio langsung membopong tubuh kecil yang terlihat lemah itu, lalu menghentikan kendaraan umum yang melintas. Tak lama mobil pun berhenti mereka langsung masuk ke mobil begitu juga dengan Jidan dan Azhar, mereka juga ikut serta mengantar Shabira kerumah sakit.


Si pemilik toko yang tadi mengikuti Gio dari belakang bersama pegawainya memilih mengejar orang yang sudah menabrak lari gadis kecil itu.


Dirumah sakit


Shabira segera dibawa keruang UGD dengan menggunakan brankar yang didorong oleh para perawat dan juga Gio. Sementara kedua bocah itu terus mengikuti kemana Shabira dibawa. Disepanjang lorong menuju UGD, bibir kecil yang pucat milik Shabira akibat banyak kehilangan darah ditubuhnya, terus bergumam dengan lemah dan terbata-bata.


"A-yah...a-yah...bun-da...a-yah...a-yah...bun-da..!!"


"Iya Shabira, Om janji akan segera membawa ayah dan bundamu kesini, kamu harus bertahan ya sayang. Kamu kuat Shabira, kamu harus bertahan" lirih Gio dengan mata berkaca-kaca karena sangat mencemaskan keadaan Shabira.


Sesampainya diruang UGD Gio, Jidan dan Azhar disuruh menunggu didepan ruangan UGD mereka menunggu dengan harap‐harap cemas. Lama ditunggu dokter yang menangani Shabira tak kunjung keluar.


Gio yang baru teringat pada Jani dan teman-temannya lalu segera menghubungi mereka agar mereka datang ke rumah sakit. Jani yang mendengar kabar buruk ini tanpa pikir panjang lagi segera ke rumah sakit bersama beberapa orang penghuni panti.


Di rumah sakit


Jani dan orang-orang panti sudah sampai di rumah sakit begitu juga dengan Azka dan Jho, mereka semua langsung menanyakan kronologinya hingga Shabira bisa masuk ke rumah sakit. Gio lalu menceritakan semuanya dengan detail.


Di tambah dengan tuturan dari Jidan, hal itu membuat hati Jani serasa dicabik-cabik karena merasa tak tega buah hatinya harus mengalami hal buruk seperti itu. Tak terasa butir beningnya menggelincir dengan deras, seketika itu pula Jani langsung menangis sesegukan.


Bu Retno langsung menenangkan Jani agar dia bersabar menerima cobaan ini dan mendoakan Shabira agar dia bisa lolos dari maut yang mengintai.

__ADS_1


"Hiks...hiks...hiks...hiks...Shabira kenapa mesti kamu yang mengalami hal buruk ini, kenapa tidak bunda saja yang menggantikan kamu, bunda tidak mau melihat kamu kesakitan seperti ini hiks...hiks...hiks..." Jani terus menangis sambil menunduk sedih.


Bu Retno menepuk-nepuk lembut pundak Rinjani untuk menenangkannya sambil berkata "Jani, kamu yang sabar ya, ibu percaya Shabira anak yang kuat dia pasti bisa melewati semua ini kita doa kan saja agar dia bisa cepat melewati masa kritisnya, bisa sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kita"


Jani lalu menatap bu Retno dengan pilu meski berulang kali bu Retno melontarkan kalimat penyejuk hati agar bisa menenangkan Jani tetap saja naluri alaminya sebagai seorang ibu tidak bisa tenang dan tak tega melihat putrinya tengah berjuang untuk tetap bertahan agar dia bisa tetap hidup di tengah kondisinya yang kritis.


Tak berapa lama ke luarlah Dokter dari ruangan UGD, semua langsung memburu sang Dokter untuk menanyakan kondisi Shabira.


"Dok, Bagaimana keadaan putri saya? Apa dia bisa melewati masa kritisnya?" tanya Jani dengan amat cemas dan khawatri.


"Shabira mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya berdasarkan analisa kami luka itu di dapat dari kecelakaan mobil dan seperti telah terjadi kekerasan fisik pada tubuhnya, dia juga mengalami patah tulang di kakinya karena itu Shabira banyak mengeluarkan darah hingga dia kekurangan darah dan harus segera mendapat transfusi darah" jawab Dokter itu.


Pantas saja Dokter berkata seperti itu, mengingat sebelum dia tertabrak mobil dia sempat menerima kekerasan fisik akibat melawan para penjahat itu.


"Masalahnya di rumah sakit ini tak mempunyai stok darah yang di miliki oleh Shabira, kami juga sudah menanyakan ke berbagai rumah sakit lain dan juga PMI tapi mereka semua tak memiliki stok darah yang di miliki oleh Shabira, kita akan sangat sulit mendapatkan darah itu karena darah yang ada di tubuh Shabira itu darah langka" sambung Dokter itu.


"Emang golongan darahnya itu apa Dok?" tanya Jani.


"Golongan darah Shabira itu golden blood (Darah emas)/Runull blood. Apa di antara kalian ada yang memiliki darah yang sama seperti darahnya Shabira?"


Jani langsung tertunduk lesu dan sedih karena golongan darah itu AB jadi dia tidak akan bisa mendonorkan darahnya pada Shabira.


"Jani maafkan aku ya, aku tidak akan bisa mendonorkan darahku karena golongan darahku itu A" ucap Gio sambil menepuk pundak Jani.


"Tidak apa-apa Gio" lirih Jani


"Jani aku juga minta maaf karena tak bisa mendonorkan darahku pada Shabira karena golongan darahku itu O" sambung Jho.


"Sama Jani, aku juga tidak akan bisa karena darahku golongan B, kalau saja golongan darahku itu golden blood aku pasti mendonorkan darahku pada Shabira" tambah Azka.


"Tidak apa-apa semuanya, aku hanya minta doanya saja pada kalian semua semoga kita segera mendapatkan pendonor darah untuk Shabira" ujar Jani dengan perasan yang amat sedih.


Dengan air muka pilu Jidan menghampiri Jani, dia memegangi tangan Jani sambil berkata dengan perasaan merasa amat bersalah.


"Bunda, aku mau mendonorkan darahku untuk Shabira. Ayo! Ambil darahku bun"


Jani menatap sendu wajah yang kini sedang memelas padanya, dia lalu mengusap lembut pucuk kepala Jidan tanpa berkata sepatah kata pun.


"Maaf dek, adek tidak bisa mendonorkan darah adek karena usia pendonor itu minimal harus tujuh belas tahun sampai enam puluh tahun dengan catatan si pendonor harus dalam keadaan sehat walafiat" imbuh Dokter itu.


Seketika Jidan lalu tertunduk murung dan tanpa bisa ditahan lagi bendungan air matanya menggelincir bebas di kedua pipi anak laki-laki itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2