Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Kabar gembira


__ADS_3

Di sebuah lestoran dikota itu, terlihatlah seorang ibu muda yang tidak lain adalah Rinjani dengan kedua anaknya Jidan dan Shabira sedang menyantap makanan yang mereka pesan, kedua anak itu terlihat sangat lahap saat sedang makan dan itu membuat Jani terus tersenyum sambil menatap kedua anaknya.


Shabira yang menyadari itu lalu bertanya pada bundanya dengan mulut penuh makanan. "Bunda kenapa cuma lihatin kami makan? Kenapa bunda tak ikut makan dengan kami?"


"Bunda kangen sama kalian makannya bunda mau lihatin kalian terus. Oh iya, selama bunda pergi apa ayah kalian mengurus kalian dengan baik?"


"Ayah terus mikirin bunda, ayah jadi tidak fokus, ayah sering nyariin bunda hingga larut malam bahkan om Jho bilang ayah jadi sering tidak masuk ke kantor gara-gara nyari bunda dan karena itu pula ayah jadi sering lupa kalau dirumah ada kami yang harus diurusnya, kami sering kelaparan gara-gara ayah tak menyiapkan makanan untuk kami" tutur Shabira sambil manyun.


"Ck.. ck.. ck.. Ayah kalian bener-bener ya, gak bisa diandelin buat ngurus kalian, harusnya kemari-kemarin itu bunda bawa kalian pergi. Maafin bunda ya, karena bunda kalian jadi harus mengalami semua ini" sesal Jani merasa bersalah dan amat sedih.


"Bunda jangan sepenuhnya nyalahin ayah, ayah sangat sayang sama bunda hingga ayah tak mau makan dan minum karena mikirin bunda saat bunda pergi dari rumah, karena itu pula ayah sempat dirawat dirumah sakit beberapa hari" Jidan membela Atar ketika melihat bundanya terlihat kesal pada ayah mereka.


"Apa! Dirawat dirumah sakit? Serius ayah dirawat dirumah sakit?" tanya Jani mendadak cemas dan khawatir pada Atar.


"Iya bunda, ayah tidak sadarkan diri selama dua hari, kondisinya sangat lemah tapi ayah terus mengigau menyebut nama bunda" Jidan meyakinkan Jani.


"Terus sekarang keadaan ayah gimana?"


"Sekarang sih sudah seperti sedia kala karena ayah sakit itu sekitar sebulan yang lalu"


Jani lalu berpikir akan kejadian tempo itu dimana Atar sedang berbaring ditempat tidur dan disampingnya ada Raisa. Dia yang saat itu salah paham pada Atar karena dia berpikir saat itu Atar sedang bermesraan dengan Raisa, rupanya prasangkanya itu salah karena saat itu Atar memang sedang sakit.


Jani merutuki dirinya sendiri karena rasa cemburu Jani pada Atar dan kesalah pahaman itu membuat masalah diantara dirinya dan suaminya semakin parah.


Jani akhirnya memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya untuk memperbaiki semuanya. Setelah selesai makan mereka lalu pulang.


...****************...


Sesampainya dirumah mereka bertiga langsung masuk kedalam. Dirumah tak nampak ada orang mungkin Atar masih di kantor dan Raisa, entahlah dia pergi kemana.


Setelah mengganti pakaian sekolahnya Jidan dan Shabira lalu berpamitan pada Jani untuk pergi kerja kelompok dengan teman-teman sekelas mereka dirumah teman mereka.


Ketika hari mulai sore Jani mulai menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Dia sengaja masak banyak karena dia membuat makanan kesukaan suami dan anak-anaknya.


Di luar rumah, Atar baru memarkirkan mobilnya di garasi kemudian dia masuk kerumah tapi saat dia hendak pergi ke kamarnya, hidung mancungnya mengendus ada bau sedap makanan yang semakin lama baunya semakin tajam hingga mengundang rasa lapar diperut.


"Baunya sedap banget, sepertinya bau makanan ini berasal dari dapur. Apa ada yang lagi masak di dapur?" batin Atar penasaran dia lalu pergi kedapur.


Saat diambang pintu Atar terkejut melihat sosok istri yang amat dirindukannya kini ada di dapur rumahnya sedang masak. Kedua netra Atar langsung berkaca-kaca karena terharu dan amat senang sebab istrinya telah kembali pulang. Tanpa mendapat persetujuan dari si pemilik tubuh mungil itu, Atar langsung memeluk wanita itu dari belakang.


Sontak itu membuat Jani jadi kaget, di liriknya sosok yang memeluk dia tanpa izin yang kini sudah menempelkan dagunya dipundak kanan Jani, rupanya dia adalah suaminya Jeni kemudian melanjutkan aktifitas memasaknya tanpa mempedulikan pelukan dari Atar yang tak mau lepas, beberapa saat kemudian Atar baru melepaskan pelukannya kemudian menghadapkan Jani ke hadapannya setelah itu dia memeluk Jani kembali.


"Kamu kemana aja sih? Aku kangen banget sama kamu, kamu sudah seperti nafas bagiku jika tak ada kamu aku sangat kesulitan untuk bernafas, jadi tolong jangan pernah tinggalkan aku lagi" pinta Atar dengan sungguh-sungguh.


Jani bisa melihat ada penuh cinta dan ketulusan disorot mata Atar saat dia berucap seperti itu. Setelah itu dia menelusupkan wajahnya didada bidang milik suaminya, ada kehangatan yang menentramkan jiwa Jani ketika berada dalam dekapan hangat suaminya dengan irama detak jantung Atar yang teratur semakin membuat Jani terlena dalam pelukan sangat suami.


"Aku sangat menyayangi kamu, Jani. Tolong, kamu jangan pernah tinggalkan aku lagi. Apa yang kamu lihat waktu itu, semua hanya salah paham, aku dan Raisa tidak pernah melakukan apa pun, tolong beri aku kepercayaan lagi" ucap Atar dengan sepenuh hatinya.


"Sebenarnya aku juga tidak bisa percaya pada Raisa, kalau pun kamu benar-benar melakukan sesuatu dengannya, aku yakin itu pasti karena ulahnya Raisa"


"Jadi apa kamu percaya sama aku kalau... "Kalimat Atar segera dipotong oleh Jani.


"Kalau Raisa itu seorang penipu yang sedang berusaha menghancurkan rumah tangga kita. Apa itu yang ingin kamu katakan padaku?" Atar segera menganggukan pertanyaan Jani.

__ADS_1


"Aku percaya kamu sayang sama aku, maafkan aku karena sudah membuatmu sakit hingga harus dirawat, saat itu aku tidak tahu kalau kamu sakit kalau aku tahu pasti aku akan merawat kamu" ucap Jani.


Atar merenggangkan pelukannya lalu menatap Jani sambil tersenyum dan mengangguk setelah itu dipeluk erat kembali tubuh mungil itu seolah Atar begitu tak rela kalau Jani harus pergi jauh lagi dari dirinya. Sangat lama Atar memeluk Jani hingga Jani protes pada Atar.


"Apa kamu akan terus memelukku seperti ini? Ini sudah sangat lama loh, aku udah pegal dalam posisi ini lagian aku juga harus mematikan kompor dan mengangkat sup yang sudah matang"


Atar lalu mematikan kompornya tanpa melepaskan pelukannya pada Jani setelah itu dia berkata, "Aku sudah matiin kompornya jadi kamu jangan minta aku untuk melepaskan pelukanku karena aku sangat amat sangat merindukanmu, aku tak rela jika kamu harus pergi lagi kalau perlu aku akan ikat kamu dengan tali pada tubuhku agar kamu tidak bisa pergi lagi"


"Kamu lebay deh, udah lepasin aku pegal banget ini, kalau nanti ada yang lihat kita pelukan lama banget gak lepas-lepas gimana?"


"Biarin aja orang lihat emang salahnya dimana? Aku kan suami kamu jadi wajar dong kalau aku peluk kamu"


"Iiiih! Kamu bener-bener ya, sumpah ini udah pegel banget, buruan lepasin aku Rafatar!" protes Jani sambil meronta-ronta minta dilepaskan.


"Oke aku akan lepasin kamu tapi kita lanjutin dikamar ya, ditempat tidur biar gak pegal" ujar Atar sambil tersenyum nakal.


"Nggak ah! Ini masih siang tahu"


Tanpa menggubris protes dari Jani, Atar lalu membopong tubuh mungil itu dan membawanya kekamar.


...****************...


Satu bulan kemudian


Sang surya masih didalam peraduanya bahkan cahaya jingganya pun masih belum terlihat tapi Jani sudah bangun dari tidurnya meski kali ini dia tak langsung mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya sebab dari bangun tidur hingga detik ini dia terus bolak balik kekamar mandi karena perasaan ingin muntah yang begitu mendesak.


Owek... owek... owek...


"Itu Jani kenapa muntah-muntah terus ya? Apa dia salah makan?" gumam Atar lalu dia beranjak dari tidurnya kemudian pergi ke kamar mandi untuk melihat Jani.


Atar menghampiri istrinya dan memijat bagian punduk Jani yang saat itu masih muntah, Jani lalu menyalakan keran air diwestafel.


"Kamu kenapa ko muntah terus?" tanya Atar cemas.


Jani tak menjawab dia malah menunjukan benda pipih kecil dengan dua garis merah ditengahnya, Atar menerima itu dengan wajah bingung penuh tanda tanya.


"Apa ini? Maksudnya apa?"


"Itu testpack ada dua garis merah ditengahnya itu artinya aku hamil" jawab Jani.


Atar hanya mebulatkan matanya dengan sempurna dia masih merasa seperti mimpi atas pernyataan Jani.


"Hamil? Kamu hamil lagi? Itu adiknya Shabira?" Jani mengangguk mengiyakan pertanyaannya Atar.


"Kamu hamil anaknya aku?" celetuk Atar membuat Jani kesal.


"Ya iyalah masa anak orang, emang kamu pikir suami aku siapa pake nanya kaya gitu?" ketus Jani lalu menjitak kepala Atar.


Pletak!


"Auh! Sakit Jani! Iya, iya aku minta maaf. Tapi ini serius kan, aku lagi gak sedang mimpikan?"


"Iya serius ini aku di testpack hasilnya positif walau aku belum periksa ke Dokter karena aku yakin aku sedang hamil sebab aku sudah terlambat datang bulan"

__ADS_1


Seketika itu wajah Atar jadi berbinar-binar karena senang sebab Jani sedang mengandung anak mereka yang kedua, Atar langsung memeluk Jani dengan penuh kebahagian.


"Terimakasih Jani kamu sudah hamil lagi akhirnya sekarang aku bisa mendampingi kamu dimasa kamu lagi hamil terimakasih Jani" ucap Atar amat bahagia sebab kali ini Atar bisa ada disamping Jani dan mendampinginya dikala dia sedang hamil beda halnya saat Jani mengandung Shabira, Atar bahkan tak tahu kehamilannya Jani kala itu.


Atar langsung mengecup kening Jani lalu dia memeluknya.


"Mulai sekarang kamu jangan sampai kecapean kamu harus banyak istirahat dan jangan sampai banyak pikiran aku takut itu akan berpengaruh pada janin yang ada didalam rahim kamu" ucap Atar sambil mengelus perut Jani yang masih terlihat rata karena kandungannya baru memasuki trimester pertama.


"Gimana bisa aku gak banyak pikiran kalau dirumah ini masih ada Raisa" gumam Jani sambil membuang muka dari Atar. Meski suaranya pelan tapi Atar masih bisa mendengar suara Jani.


"Kamu jangan khawatir aku akan segera mengusir Raisa asal kamu tetap memberiku kepercayaan dan dukungan penuh padaku untuk bertindak agar dia segera keluar dari rumah ini demi calon bayi kita, calon adiknya Shabira dan Jidan" Atar meyakinkan Jani sambil menggenggam kedua tangan Jani.


"Aku berharap kamu tak ingkar janji dan segera menepati janjimu padaku"


Atar langsung mengangguk sambil tersenyum kemudian dia membantu memapah Jani untuk beristirahat ditempat tidur. Karena ini adalah kabar bahagia Atar tak mau menyimpan ini sendirian dia ingin semua orang tahu termasuk Jidan dan Shabira.


Dia lalu berteriak memanggil Jidan dan Shabira sambil berlari kekamar mereka hingga membuat kegaduhan disaat matahari belum menampakan wajahnya.


"Jidaaaann...! Shabiraaaaa...!" teriak Atar lalu dia masuk kekamar Jidan.


Atar lalu membangunkan anak laki-laki itu yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Jidan, Jidan bangun sayang bunda kamu hamil lagi sebentar lagi kamu akan punya adik" ucap Atar dengan sumringah.


Tapi nampaknya nyawa Jidan belum terkumpul sepenuhnya hingga dia tak bisa mencerna apa yang disampaikan oleh ayahnya. Setelah Atar keluar dari kamar Jidan, anak laki-laki itu kembali terlelap tidur. Atar lalu berteriak memanggil Shabira sambil berlari kekamarnya hingga Raisa terbangun dan melihat apa yang terjadi.


"Shabira, Shabira, bangun sayang ayo bangun"


"Hhmmm... apain sih ayah aku masih ngantuk tau" keluh Shabira sambil manyun.


"Shabira bunda kamu hamil lagi sebentar lagi kamu akan punya adik" ujar Atar dengan kebahagian yang terpancar disorot matanya.


"Ayah serius bunda hamil lagi? Sebentar lagi aku punya adik?" tanya Shabira tak percaya.


"Serius sayang ayah tak bohong"


Shabira juga amat senang saat mendengar kabar gembira ini tanpa mereka sadari Raisa menguping pembicaraan mereka.


"Apa! Mbak Jani hamil lagi? Sekarang aja aku belum bisa meluluhkan hati mas Atar, mbak Jani malah hamil lagi kalau begitu perhatian mas Atar pasti lebih berfokus pada mbak Jani dan calon bayinya, ini gak bisa dibiarin" gerutu Raisa dalam hatinya.


Atar masih duduk ditempat tidur Shabira sambil melihat kebahagian yang terbingkai diwajah Shabira tapi perlahan kebahagian itu memudar dan berubah jadi amarah.


"Apa ayah akan tetap disini dan tak kembali kekamar ayah?" tanya Shabira dengan tatapan tajam.


"Emangnya kenapa kalau ayah disini?"


"Masih nanya lagi, hari masih gelap aku masih ngantuk aku mau tidur, Ayah!" pekik Shabira membuat Atar menutup telinganya.


"Eh! Iya, iya ayah akan segera keluar dari kamar kamu" Atar lalu pergi dengan tunggang langgang.


"Ya ampun, anak gadisku galak banget sih" Atar membatin sambil menutup pintu kamar putrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2