Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Sulit


__ADS_3

Seperti keinginannya Shabira, yang meminta Jani untuk segera baikan sama Atar tak lupa dia juga diminta untuk memberikan stuff roti buatannya untuk diberikan pada Atar. Tak bisa menolak permintaan putrinya akhirnya Jani menuruti keinginan Shabira. Dia lalu menemui Atar.


"Kenapa kamu ngajak aku ketemuan disini?" tanya Atar tanpa basa basi sambil membuang wajahnya dari Jani.


"Apa kamu masih marah karena kejadian di rumah sakit itu?" Jani malah balik bertanya.


"Kenapa harus marah? Aku tidak marah" kata Atar dengan wajah dinginnya.


"Kamu tidak bisa bohong kamu itu masih marah sama aku, sikafmu itu masih dingin padaku" tegas Jani.


Kali ini Atar memilih untuk bergeming, dia hanya menatap wajah Jani dengan sekilas setelah itu dia kembali membuang mukanya dari Jani. Perempuan cantik itu lalu menghela nafas panjang dengan tak mengalihkan pandangannya dari Atar.


"Hulfh...! Aku tahu aku salah, aku minta maaf karena mungkin kamu merasa sakit hati atas penolakanku padamu tapi...." Jani menggantung kalimatnya sambil menundukan pandangannya penuh penyesalan.


"Aku rasa akan banyak cobaan yang melintang kalau kita tetap menjalin hubungan yang spesial, aku harap kamu mengerti" ujar Jani sambil menatap Atar.


Atar masih memasang wajah dinginnya dan terus bergeming.


"Oh iya, Shabira memintaku untuk memberikan stuff roti ini pada kamu. Sepertinya dia sengaja memintaku membuat ini untuk kamu dan... aku tak tahu bagaimana anak itu bisa tahu makanan kesukaan ayahnya" kata Jani sambil menyodorkan kotak makanan berisi stuff roti.


Atar sempat melirik kearah Jani dan kotak makanan itu saat jani berucap seperti itu dalam hatinya berkata "Aku pikir kamu sudah melupakan segalanya tapi ternyata kamu juga masih mengingat apa yang aku suka"


"Ayo! Terimalah" titah Jani karena Atar hanya terus menatap kotak makanan itu tanpa mengambilnya.


Tapi karena rasa gengsi yang masih bertengger di hatinya makannya Atar tak mau mengambil kotak makanan itu meski sesungguhnya dia ingin memakan stuff roti itu. Atar lalu membuang muka kemudian berkata.


"Apa kamu sedang berusaha untuk menyogokku agar tidak marah lagi?" ketus Atar.


"Tidak! Ini benar-benar atas kemauannya Shabira" jawab Jani.


"Oh jadi kamu minta maafnya gak ikhlas? Kalau gak di suruh sama Shabira kamu tidak akan minta maaf?"


"Ya elah, kenapa malah makin panjang sih, orang aku beneran pengen minta maaf ko masih disewotin aja" gumam Jani tapi masih bisa di dengar oleh Atar.


"Tuh! Kan gak ikhlas, ya udah bawa pulang aja lagi aku gak mau" Atar makin ketus sambil membuang muka dari Jani.


Jani lalu membuka kotak makanannya kemudian berkata "Kamu yakin gak mau stuff roti ini? Baunya aja udah enak banget ini, beneran nih gak mau?"


"Nggak aku gak lapar, aku juga udah nggak suka makan yang kaya gitu, udah deh! Nggak usah nyogok" ucap Atar masih ketus.


Jani lalu mengambil sendoknya kemudian mengambil stuff roti itu dan memakannya.

__ADS_1


"Eemmm...Enak banget ini sayang banget ya kamu gak mau" kata Jani sambil mengambil stuff roti lagi dengan sendok yang dipegangnya.


Atar sempat melirik dan menelan salivanya ketika melihat ekspresi wajah Jani saat memakan stuff rotinya. Tiba-tiba kedua netra Jani melihat Jho dari kejauhan.


"Kebetulan ada Jho, aku makan stuff rotinya sama Jho aja deh kalau kamu gak mau" ujar Jani yang kala itu memegang kotak makanan dengan tangan kirinya dan sendok yang berisi stuff roti ditangan kanannya.


Sontak Atar langsung menarik tangan Jani yang memegang sendok agar didekatkan kemulutnya lalu dia makan setelah itu kotak makannya direbut oleh Atar. Beberapa saat Jani hanya melongo melihat tingkah Atar yang secara tiba-tiba itu. ketika stuff roti itu sudah habis dimakan Atar barulah Jani berucap kembali.


"Katanya gak mau, katanya gak lapar, katanya gak suka tapi ko abis juga dimakan sendiri" ujar Jani sedikit menyindir pria yang sedang duduk disampingnya itu.


"Dari pada kamu ngasih ke si Jho mending aku abisin aja n'tar yang ada dia kege'eran, merasa diperhatiin sama kamu nanti dia ngiranya kamu ngasih harapan lagi" ujar Atar sambil manyun.


"Harapan apa sih, perasaan aku biasa aja sama Jho"


"Iya kamu nganggapnya biasa tapi Jho bakal ngiranya kamu ngasih harapan, gede rasa nanti dia" kata Atar jadi posesif.


Jani tahu dia seperti itu karena merasa cemburu dan tak rela kalau Jho kege'eran lalu berusaha untuk mendekatinya dari itu Atar jadi lebih posesif.


"Ya udah...terserah kamu aja deh"


...****************...


Sore hari kemudian.


"Ada apa Jho?" tanya Atar.


"Mana dompet kamu?"


Sontak itu membuat Atar kebingungan lalu dia bertanya lagi. Ketiga sahabatnya itu lalu menghampiri Atar.


"Buat apa kamu nanyain dompetku?"


"Udah buruan! Mana dompet kamu" Jho sedikit meninggikan nada suaranya dengan tegas.


Tanpa bertanya lagi akhirnya Atar mengeluarkan dompetnya dengan raut wajah kebingungan. Kemudian Jho menempelkankan benda berbentuk bulat dan kecil didompet Atar setelah itu fia mengembalikan dompetnya pada si pemilik dompet.


"Kamu nempelin apaan didompetku?"


"Itu penyadap biar saat kamu bicara kami bisa mendengar apa yang kamu bicarakan, aku sengaja nempelin didompet karena dompet pasti selalu kamu bawa kemana pun kamu pergi" jelas Jho membuat mimik wajah Atar makin kebingungan.


"Kenapa kalian melakukan ini kepadaku? Buat apa kalian nyadap pembicaraanku?"

__ADS_1


"Kamu udah nggak bisa dikasih hati lagi, kamu udah ngelunjak dikasih hati malah minta jantung" Jho sinis pada Atar.


"Maksud kamu apa Jho, aku masih belum mengerti?"


"Tadi kamu ngapain sama Jani? Ngomongin apa aja sama dia? Kamu udah melakuin apa aja sama dia?"


Atar menatap ketiga sahabatnya yang tengah menatapnya dengan tatapan sinis dan tersirat kemarahan dipancaran mata mereka. Dia lalu menjawab sambil menunduk.


"Aku nggak ngapa-ngapain, aku cuma ngobrol biasa aja"


"Bohong kamu! Kamu pikir aku nggak ngelihat, kamu pegangan tangankan sama si Jani?" sarkas Jhosua.


"Itu...itu...bukan disengaja, Jani ngasih stuff roti padaku karena aku menolaknya dia lalu hendak membuang tapi kan sayang kalau dibuang jadi aku rebut dari tangan Jani" alibi Atar.


"Kenapa tumben-tumbenan Jani ngasih kamu stuff roti?" tanya Gio sinis.


Atar tak mungkin menceritakan semuanya dengan jujur kalau dirinya lagi marahan sama Jani gara-gara cinta Atar ditolak sama Jani lalu Jani minta maaf dan memberinya stuff roti kesukaannya, hal itu akan membuat urusannya makin runyam akhirnya Atar sedikit berbohong.


"Itu permintaanya Shabira, karena Jani sangat menyayangi putrinya jadi dia menuruti keinginan Shabira"


"Alah! Pasti itu modus kamu saja, kami tahu kamu pasti menggunakan Shabira untuk menutupi niat terselubungmu" sarkas Gio.


"Aku nggak bohong Gio, itu beneran" Atar membela diri.


"Kami tidak bisa percaya begitu aja sama kamu, kamu harus diawasi dengan amat ketat, apa pun alasannya meski itu bersangkutan dengan Shabira mulai sekarang kamu tidak boleh menemui Jani tanpa sepengetahuan kami, kalau kamu dan Jani akan membahas soal anak kalian kamu harus laporan dulu sama kami, sekali aja kamu melanggar peraturan ini maka tak akan ada kata maaf lagi buat kamu. Sejak saat itu pula kami akan menganggapmu pengkhianat dan kami tidak mau berteman lagi dengan kamu kalau kamu melanggarnya Atar. Camkan ucapanku itu ATAR!!" Jho memperingati Atar dengan tegas.


Atar jadi menunduk sedih dia tak menyangka kalau sahabatnya sendiri yang akan menjadi penghalang baginya untuk bisa dekat dengan anak dan wanita yang sudah melahirkan anaknya. Setelah itu Jho dan Gio pergi kekamar masing-masing yang kemudian disusul oleh Azka.


Tapi sebelum Azka pergi Atar memegangi tangan Azka untuk tidak pergi karena dia ingin bicara pada Azka. Dia pun berhenti lalu menatap Atar dengan tatapan datar.


"Azka apa kamu juga akan memperlakukan aku seperti ini? Apa kamu juga akan tega misahin aku sama Shabira? Apa kamu akan tega menjadi pembatas antara aku dan putriku sendiri?" tanya Atar sedih.


Azka lalu melepaskan tangan Atar yang menggenggam tangannya.


"Aku tahu semua masalah ini berasal dari kesalahanku, aku tahu kalau bukan karena kesalahanku kamu dan Jani tidak akan punya Shabira tapi maaf Atar..." Azka menggantung kalimatnya.


Azka membuang muka dari Atar karena dia tak mau melihat wajah memelas Atar padanya, Azka terus berusaha menutup mata, hati dan telinganya agar tak merasa iba pada Atar demi ego yang amat tinggi dihati Azka karana cintanya pada Jani.


"Kalau soal urusan Jani aku setuju pada Jho dan Gio, aku tidak rela jika Jani memilihmu untuk jadi suaminya karena kamu adalah ayah dari anaknya Jani. Jika Jani boleh memilih pasti dia lebih berat padamu karena anaknya pasti membutuhkan kamu makannya makannya kita bertiga tidak akan dipilih oleh Jani dari itu aku setuju jika diantara kita berempat tidak ada yang boleh menikahi Jani biar jadi adil, biar kita semua merasakan sakit yang sama" ujar Azka lalu pergi meninggalkan Atar.


Hati Atar semakin meraung-raung sedih. Iya, semuanya memang merasakan sakit hati karena cintanya ditolak oleh Jani. Tapi rasa sakit yang dirasakan oleh Atar lebih sakit lagi karena ada pembatas baginya untuk bisa menyayangi darah daginya sendiri.

__ADS_1


Sedangkan seorang anak itu pastilah membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya sementara tindakan Atar akan selalu dibatasi dan diawasi demi menjaga hati ketiga sahabatnya itu. Kalau seperti itu Atar pasti tidak akan bisa menjadi ayah yang baik bagi putrinya.


Bersambung


__ADS_2