Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Terharu


__ADS_3

Ketiga mobil itu berhenti tepat digerbang sebuah rumah berlantai dua. Tak lama seorang pengemudinya keluar dari mobil yang kemudian diikuti oleh semua orang, ketika mereka semua sudah berkumpul didepan gerbang Atar lalu bicara pada mereka.


"Bapak, ibu, Jani, mbak, inilah rumahku yang akan kita tinggali bersama"


Atar lalu membuka gerbang dan mempersilahkan semua untuk masuk kedalam. Halaman rumah bertingkat dua itu tidak seluas yanga ada dipanti asuhan dulu, meski begitu tatanannya sangat apik dan minimalis.


Disana terdapat beberapa pohon palem yang menjulang tinggi, ada sebuah taman kecil dengan macam-macam bunga yang berwarna-warni dan kolam ikan hias yang diisi dengan berbagai macam ikan hias. Disana juga terdapat sebuah garasi untuk mobil dan kursi panjang yang ada di taman.


"Wah! Ada ikan hiasnya. Apa rumah ini sudah kamu tempati?"


"Tidak, aku cuma nyuruh orang aja buat bersihin sebab aku masih tinggal dirumah orang tuaku. Ini kan tadinya buat rumah masa depanku dengan istri dan anakku tapi sekarang akan aku mewakafkan pada panti asuhan milih Pak Husen. Nanti aku akan cari rumah lagi buat kita, ya Jani" jawab Atar.


"Aku tidak masalah tinggal dimana pun jadi kamu tidak perlu merasa terbebani karena harus mencari rumah lain buat kita nanti" ucap Jani.


Atar lalu tersenyum sambil mengelus rambut Jani, dia merasa pilihannya untuk menjadikan Jani sebagai istrinya adalah hal yang paling tepat karena Jani sudah termasuk calon istri idamannya, setelah itu mereka masuk kedalam rumah.


"Disini masih terdapat ruangan kosong jadi itu bisa dibuat kamar, jadi pilih saja kamar yang ingin ditempati" jelas Atar.


Setelah melihat-lihat semua ruangan yang ada dirumah berlantai dua yang cukup besar ini dan ukurannya lebih besar dari pada rumah panti yang dulu, mereka memutuskan untuk beristirahat dulu sebelum membereskan dan memilih kamar masing-masing sebab mereka sudah terlalu lelah setelah menempuh perjalanan sangat jauh.


Dua Jam kemudian. Jani yang kala itu duduk di lantai bersama yang lainnya dengan beralaskan karpet lalu berkata pada Atar yang saat itu duduk disamping Jani.


"Aku kangen sama bapak, aku ingin segera menemui bapak"


"Ya udah. Ayo! Kita temui bapakmu sekarang aku akan antar kamu sekalian kita ceritakan semua tentang Shabira, aku juga ingin minta restu dari bapak kamu"


Jani lalu mengangguk. Mereka lalu bangkit dari duduknya dan mengajak Shabira untuk menemui kakeknya.


"Shabira, Ayo! Kita pergi ke rumah kakek" ajak Jani.


"Iya bun" ucap Shabira sambil bangun dari rebahannya bersama anak-anak lain.


"Jidan, Apa kamu mau ikut kerumah kakek, kalau mau ikut ayo" ajak Jani.


"Nanti saja bun, sekarang aku ngantuk aku mau tidur siang dulu" jawab Jidan.


Jani, Atar dan Shabira akhirnya pergi kerumah Pak Hadi tanpa anak laki-laki itu. Sepanjang jalan Jani terus berceloteh karena melihat kampung halamannya yang sudah banyak berubah setelah sepuluh tahun berlalu. Tapi netranya menangkap sebuah pemandangan yang terasa tak asing lagi baginya.


"Atar, Apa itu pos ronda yang dulu biasa dijadikan tempat nongkrong kita buat malam mingguan?"


Atar lalu tersenyum seraya mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Jani, sontak mata Jani langsung berbinar-binar.


"Wah! Aku tidak menyangka kalau pos ronda itu masih tetap ada disaat semua sudah berubah"


"Iya, pos ronda itu masih digunakan buat ngeronda, banyak juga para remaja penerus kita yang suka nongkrong disana" tutur Atar seraya fokus menyetir sambil sesekali melirik kearah Jani.


Ketika mobil yang mereka tumpangi melewati sekolah taman kanak-kanak, Jani langsung menunjukan jarinya kearah bangunan itu.


"Apa itu sekolah TK yang dulu tempat kita bersekolah?" tanya Jani yang kemudian diiyakan oleh Atar.


Tiba-tiba Jani malah cekikikan sendiri karena memori ingatannya kembali menjelajah kemasan lalu.


"Kamu kenapa ko cekikikan gitu?" Atar keheranan seraya melihat Jani.

__ADS_1


"Aku jadi ingat masa lalu saat pertama kali masuk sekolah, kamu pernah ngompol dicelana gara-gara kebelet pipis"


Atar jadi panik mendengar jadi menceritakan hal memalukan dulu di hadapan putrinya.


"Ssstttttt... Jani, kamu jangan buka kartuku di hadapan Shabira kenapa, malu aku" bisik Atar sambil manyun.


Bukanya menurut, Jani malah semakin meledeki Atar, dia malah makin sengaja menceritakan aib Atar dimasa lalu mereka pada putri mereka. Shabira tak berkomentar dia hanya tersenyum dan Atar bisa melihat putrinya tersenyum dibalik kaca spion yang ada diatas tengah mobilnya.


"Shabira, tahu gak ayah kamu ini suka ngompol dicelana loh saat masih sekolah TK" kata Jani sambil menoleh pada Shabira yang saat itu duduk di kursi belakang.


"Jangan percaya sama bunda kamu, Shabira. Ayah gak suka ngompol ko itu cuma sekali aja ngompolnya itu juga gara-gara bunda kamu pipisnya berdiri, ayah kan jadi kaget karena setahun ayah dulu bunda kamu itu seorang perempuan" Atar membela dirinya di hadapan Shabira.


"Ya terus sekarang aku bukan perempuan gitu?" tanya Jani sambil melototi Atar.


"Itu kamu sendiri yang bilang loh, bukan aku"


Jani jadi dongkol dan manyun karena perkataan Atar. Sementara Shabira hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum kecut karena tingkah kedua orang tuanya yang terlihat berdebat seperti anak kecil.


"Bagiku kamu sudah menjadi seorang wanita yang utuh, Jani. Itu karena kamu bisa melahirkan anakku" bisik Atar ditelinga Jani dan itu sudah sukses membuat kedua netral wanita cantik itu membelalak.


Tak berapa lama sampailah di sebuah rumah yang terlihat sederhana, Atar lalu memarkirkan mobil dihalaman rumah sederhana itu. Saat mesin mobil sudah mati keluarlah seorang laki-laki yang usianya sekitar kepala empat. Dia keluar dengan seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluh lima tahunan. Seketika netra Jani berkaca-kaca melihat sosok pria itu.


"Om Irwan, aku kangen sama Om Irwan" lirih Jani.


Atar lalu memegang tangan Jani dan mengajaknya untuk segera keluar dari mobil, setelah itu Atar turun dari mobil duluan kemudian membukakan pintu mobil untuk Jani. Saat dia hendak menutup pintu mobilnya Atar juga mengajak Shabira untuk segera turun dari mobil.


"Shabira, ayo turun. Kita sudah sampai"


"Apa kamu benar-benar yakin akan menunggu disini?" tanya Atar sekali lagi.


Gadis kecil itu lalu mengangguk dengan penuh keyakinan. Akhirnya Atar dan Jani menemui keluarga Jani duluan. Irwan yang saat itu hendak mencuci motor maticnya dengan ditemani oleh sang istri sedikit merasa heran saat Atar tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Assalamu'alaikum, Om Irwan" sapa Atar.


Irwan langsung berdiri dan menghentikan aktifitas mencuci motornya, netral Irwan dan istrinya langsung menatap ke arah Atar.


"Wa'alaikumussalam, Atar bukannya kamu sedang pergi keluar kota? Ada apa tiba-tiba datang kesini?" Irwan menjawab salam dari Atar lalu dia bertanya.


"Iya betul om tapi aku sudah pulang, aku datang kesini membawa seseorang yang selama ini om dan keluarga ini rindukan"


"Maksud kamu siapa?" Irwan tak mengerti.


Atar yang dari tadi terus menggenggam tangan Jani dari belakang tubuhnya lalu menarik Jani untuk keluar dari persembunyiannya dibalik tubuh Atar yang tinggi dan kekar. Wanita berparas cantik itu lalu menampakan wajahnya seraya menatap nanar wajah omnya yang begitu dirindukan oleh Jani.


"Kamu siapa?" lirih Irwan yang masih menatap Jani kebingungan karena tak mengenali wajah cantik yang telah bertansformasi itu.


"Aku keponakan om, aku Rinjani putrinya bapak Hadi" ucap Jani dengan air mata haru yang seketika membanjiri kedua pipinya.


Irwan yang tak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya kemudian dia mencubit kedua pipi Jani dengan lembut.


"Jani, apa ini beneran kamu? Om sedang tidak bermimpikan?" Irwan masih meragu.


"Beneran om ini Jani, keponakan om"

__ADS_1


Seketika Irwan yang sangat merindukan dan merasa bersalah atas hilangnya Jani 10 tahun lalu kemudian memeluk keponakannya.


"Om masih tak percaya kalau kamu itu Jani, karena keponakan om yang dulu itu orangnya tomboy lalu sekarang kamu berubah, kamu sangat cantik, Jani" ucap Irwan seraya memeriksa Jani yang sekarang sudah berubah total.


"Ini beneran aku om, kurasa masalah mendewasakanku hingga aku menjadi seorang wanita yang seutuhnya"


"Iya, Iya, om sangat senang akhirnya kamu bisa kembali lagi. Bapak kamu, bapak kamu harus tahu kalau kamu sudah pulang karena dia sangat merindukanmu Jani, bapak kamu sangat sedih dan terus murung saat mengetahui kamu hilang di vila waktu itu. Tunggu ya, om akan segera panggilin bapak kamu"


Jani mengangguk lalu Irwan bergegas masuk kedalam rumah seraya berteriak memanggil Hadi.


"Bang! Bang Hadi! Buruan keluar diluar ada Jani"


Hadi yang saat itu sedang menyuapi bapaknya yang sakit stroke dan duduk di kursi roda lalu bertanya pada Irwan.


"Kamu ngomong apa sih Irwan, ngomong itu yang benar coba jangan sambil nafasmu tersengal-sengal gitu"


"Jani bang, Jani sudah pulang"


"Jani?! Putriku?" tanya Hadi tak percaya.


"Iya bang, Rinjani anak abang sudah kembali pulang sekarang dia ada diluar"


Hadi yang merasa kaget dan tak percaya tanpa terasa sudah menjatuhkan mangkuk bubur untuk kakek Muiz, tanpa pedulikan apa lagi Hadi langsung berlari keluar rumah untuk menemui putrinya yang telah lama menghilang.


Toriq yang kala itu sedang berada di dapur langsung menghampiri Irwan dan bapaknya karena mendengar suara mangkuk terjatuh hingga pecah.


"Irwan, Ada apa ini?" tanya Toriq.


"Jani kembali pulang bang"


Toriq yang penasaran lalu keluar rumah dengan tak lupa mendorong kursi roda kakek Muiz karena meski beliau stroke, beliau pun merindukan cucunya, Rinjani dan beliau juga ingin segera bertemu dengan Rinjani. Saat Hadi keluar Jani langsung memburu bapaknya, mencium punggung tangan bapaknya lalu memeluknya.


"Bapak, Jani kangen sama bapak. Maafin Jani karena Jani pergi tanpa berpamitan hiks... hiks..."


Berkali-kali Hadi mencubit pipinya karena merasa tak percaya putrinya akan kembali pulang setelah 10 tahun menghilang tanpa jejak ditambah wanita cantik itu kini sudah bertransformasi dari perempuan tomboy menjadi perempuan seutuhnya. Meski Jani telah berubah tapi Hadi tetap mengenali darah dagingnya sendiri tidak seperti Irwan yang merasa pangling pada Jani.


Tangisan haru biru pun kini membahan diudara, ketika Hadi, Irwan, Toriq bertemu kembali dengan Rinjani bahkan kakek Muiz yang sudah tak bisa bicara karena penyakit strokenya pun ikut menitihkan air mata saat bisa melihat Jani kembali. Betapa tidak, pertemuan yang tak terduga ini bahkan keluarga Hadi sudah menganggap Rinjani meninggal dunia setelah tak ada kabar apa pun tentang dirinya itu tapi tiba-tiba dia kembali ke sisi mereka.


"Jani bapak sangat merindukan kamu, selama ini kamu pergi kemana? Apa yang terjadi sama kamu nak" tanya Hadi seraya menyentuh lembut kedua pipi putrinya itu.


Jani menatap lekat wajah tua yang kini sudah banyak memperlihatkan garis kerutannya itu, tak tahan dengan sesak dihatinya wanita cantik itu lalu menumpah ruahkan air matanya hingga kedua pipi Jani makin banjir.


Atar yang sejak tadi hanya terdiam haru seraya menyaksikan pertemuan haru biru yang mempertemukan antara seorang anak dengan bapaknya yang selama 10 tahun telah terpisah karenanya, akhirnya Atar mulai buka suara.


"Om Hadi! Aku minta maaf karena Jani menghilang disebabkan oleh kesalahan yang sudah kubuat" ujar Atar dengan sedih.


Seketika atensi Hadi berotasi pada Atar, Jani lalu minggir kesamping bapaknya kemudian dia menghadap ke arah Atar. Atar segera menubruk kaki Hadi seraya menangis dengan penuh sesal, sontak Hadi jadi kaget dan tak mengerti hingga dia beringsut mundur tapi Atar merangkak dan terus meminta maaf pada Hadi.


"Om tolong maafin kesalahanku, aku sungguh-sungguh menyesal dan bersedia menerima hukuman dari Om. Tapi tolong maafin aku Om" isak Atar masih bersujud dikaki Hadi.


"Atar, ayo bangun! Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini?" Hadi masih kebingungan akan sikaf Atar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2