
Ketika Jani, Azka, Gio, Atar dan Jho disatukan dalam kelas yang sama sejak saat itulah mereka berteman disekolah mau dilingkungan rumah, sekolah dan kemana pun mereka pergi, mereka selalu bersama.
Karena Jani dibesarkan oleh para laki-laki dirumahnya ditambah teman sekolah dan teman sepermainannya itu laki-laki semua membuat gadis kecil itu tumbuh menjadi gadis tomboy. Dia lebih suka berpenampilan seperti laki-laki dari pakaian hingga gayanya semua hampir mirip seperti laki-laki.
Dari itu juga jani jadi tak pernah merasa canggung dengan keempat sahabat laki-lakinya itu demikian juga dengan keempat anak laki-laki itu mereka sudah menganggap Jani seperti anak laki-laki bukan seperti anak perempuan.
Saat menginjak bangku sekolah dasar kenakalan anak-anak itu mulai terlihat, mereka sering membuat masalah disekitar lingkungan tempat tinggalnya salah satunya adalah sering mecahin kaca jendela orang saat main bola.
Ya, kelima anak itu sangat suka main bola bahkan ketika mereka pergi main, mereka selalu membawa bola sepak agar mereka main bola dimana saja baik itu dilapangan bola, jalanan, depan rumah dan tempat-tempat yang mereka datangi untuk bermain.
Meski Jani seorang anak perempuan tapi dia juga sangat suka dan sangat mahir main bola mungkin kalau dia mengikuti turnamen bola sepak sepertinya Jani akan sering mencetak gol.
Disuatu hari yang cerah, kelima anak itu bermain didepan sebuah rumah milik orang sambil main bola, mereka terlihat begitu ceria dan semangat saat memainkan bola hingga disuatu ketika Jani menendang bola hingga memantul cukup jauh dan mendarat disebuah kaca jendela rumah orang hingga pecah.
PRANG!!
Kaca pecah itu pun berserakan dibawah jendela dan sempat didengar olah pemilik rumahnya.
"Wah! Gawat kaca jendelanya pecah" seru Jani.
"Hayoo! Jani gimana tuh! Kacanya pecah" Gio menyalahi Jani.
Seketika wajah Jani sedikit galau. Azka si pemilik bola itu lalu menyuruh Jani untuk mengambil bolanya.
"Jani kamu kan mecahin kaca jendelanya jadi kamu juga yang harus mengabil bolaku. Ayo! ambil buruan sebelum pemilik rumah keluar" titah Azka seraya mendorong maju tubuh Jani.
"Iya, iya aku ambil, sabar dong" kata Jani.
Lalu dia diam-diam mengambil bola sambil mindik-mindik takutnya si pemilik rumah keluar. Sementara keempat anak laki-laki itu menunggu Jani dari kejauhan. Setelah dekat bola itu langsung diambil oleh Jani ketika akan kembali langkahnya sempat terhenti karena mendengar suara teriakan si pemilik rumah.
"Heh! Siapa itu yang mecahin kaca jendela saya" seru seoarang laki-laki paruh baya didalam rumah.
Laki-laki itu segera keluar sementara Jani langsung mengambil langkah seribu untuk menghampiri keempat temannya. Ketika sampai bola itu langsung diberikan pada Atar sementara Jani langsung kabur.
Gio, Azka dan Jho yang langsung cepat tanggap lalu mengikuti Jani dengan berlari sementara Atar masih mematung ditempatnya sambil memegang bola dengan raut wajah kebingungan.
"Ih! Ko pada lari" gumam Atar sambil menoleh kearah teman-temannya yang sedang berlari menjauh hingga mereka sudah tak terlihat lagi dipandangan mata.
Tiba-tiba telinga Atar dijewer oleh sipemilik rumah yang kaca jendelanya pecah oleh Jani.
"Nah! Ketahuan ya, rupanya kamu yang mecahin kaca jendela rumah saya" hardiknya yang memergoki Atar sedang memegang bola.
"Aaaaawww! Sakit paman! Bukan aku yang mecahin itu kacanya pecah oleh teman aku" ujar Atar membela diri.
"Teman kamu yang mana? Orang disini tidak ada siapa-siapa kamu jangan ngeles ya, barang bukti sudah ada ditangan kamu" tuduh pria sipemilik rumah.
"Tadi temanku yang ngasih bola ini paman"
"Kamu nggak usah ngeles, sekarang tunjukin dimana rumah kamu? Orang tua kamu harus ganti rugi kaca jendela saya yang kamu pecahin" kata pria itu masih menjewer telinga Atar.
Meski Atar terus mengelak tetap saja pria itu tak percaya dia tetap ingin menemui orang tua Atar.
Dirumah Atar
Tok..tok..tok..
__ADS_1
Tak berapa lama pintu rumah pun dibuka dan terlihatlah ibunya Atar.
"Atar!? Ini ada apa ya?" tanya Rumi tak mengerti.
"Ini anakmu udah mecahin kaca jendela rumah saya pake bola ini nih! Saya mau minta ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan anakmu" jawab pria itu sambil menunjuk ke bola yang dipegang oleh Atar.
Rumi lalu menatap putranya dengan penuh tanda tanya.
"Atar kenapa kamu pecahin kaca jendela rumah bapak ini?"
"Bukan aku bu, yang mecahin itu Jani"
"Dia bohong, orang tadi dirumah saya cuma ada dia doang sambil megangin bola ini" tuduh pria itu pada Atar.
Rumi membuang nafas kasar lalu dia jongkok sambil memegang kedua bahu Atar dan berkata sambil menatap kedua netra Atar.
"Nak kamu nggak boleh bohong sama ibu, ibu tidak akan marah kalau kamu tidak sengaja melakukannya. Justru ibu mau kamu jujur, mengakui kesalahanmu dan kamu harus minta maaf, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab jangan jadi pengecut yang melarikan diri dari masalah" nasehat Rumi pada Atar.
"Baik bu, aku minta maaf" ucap Atar sambil menunduk.
"Eh! Bu ini gimana urusannya sama saya?" tanya pria itu.
Rumi lalu berdiri dia kemudian meminta maaf pada pria itu dan berjanji akan mengganti kerugiannya.
Ditempat berbeda. Keempat anak itu lalu berhenti dengan nafas ngos-ngosan karena cape setelah berlari.
"Teman-teman! Atar mana ya, ko gak kelihatan?" tanya Azka.
"Jangan-jangan dia masih ditempat itu lagi" terka Jho.
"Dasar si Atar lemot bukannya ikut lari malah diam aja, pasti dia ditangkap tuh! Sama pemilik rumah" terka Jani.
Azka yang baik dan setia kawan lalu kembali ke tempat tadi.
"Azka kamu mau kemana?" tanya Gio.
"Aku mau kembali ke tempat tadi, kasihan Atar ditinggal sendiri" jawab Azka sambil berlalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
"Udah! Biarin Azka nyusul Atar kita pergi aja yuk jangan ikuti dia nanti kalau kita ikut ditangkap kan urusannya jadi ribet" ajak Jani sambil menggaet bahu Jho dan Gio yang saat itu Jani berada ditengah–tengah mereka.
Jani, Jho dan Gio lalu pergi. Sementara Azka kembali ke tempat tadi saat Jani memecahkan kaca jendela orang tapi disana tak ada Atar. Azka lalu mencari kerumahnya. Sesampainya dirumah Azka lalu memanggil Atar.
"Atar! Atar! Atar!" teriak Azka didepan pintu rumah Atar.
Dari dalam rumah terdengar suara seseorang yang menyeret sandalnya dengan malas dan tak berapa lama terlihatlah Atar yang membuka pintu dengan wajah lesu.
"Azka! Ada apa?" tanya Atar agak malas karena masih kesal atas kejadian tadi.
"Wajah kamu kenapa merengut gitu?" Azka malah balik bertanya.
"Aku masih kesal gara-gara Jani aku ditangkap sama paman itu, dia minta tanggung jawab sama ibuku kasihankan ibu jadi harus mengganti atas kesalahan Jani" jawab Atar.
"Kamu nggak usah sedih, aku punya tabungan nanti aku ganti uang yang udah ibumu kasihkan ke paman itu ya" tutur Azka.
"Kamu serius?" tanya Atar ragu.
__ADS_1
"Aku serius" jawab Azka meyakinkan Atar sambil tersenyum.
"Makasih Azka" ucap Atar sambil tersenyum senang. Azka langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Nah! Gitu dong senyum, biar kamu makin senang aku tlaktir kamu makan ya" ajak Azka.
Atar lalu mengangguk sambil tersenyum, mereka pun kemudian pergi karena Azka akan mentlaktir Atar. Ketika mereka sedang asyik makan tiba-tiba Jho, Gio dan Jani lewat mereka yang melihat Azka dan Atar lalu menghampiri Azka dan Atar.
"Wih! Asyik nih! Ada yang lagi makan-makan bagi dong" pinta Jho yang celamitan.
"Nggak boleh ah! Kamu, kamu dan kamu nggak setia kawan malah ninggalin Atar sendiri" ujar Azka sambil menunjuk kearah Jani, Jho dan Gio.
Ketiga anak itu langsung menunduk murung. Tiba-tiba Atar berdiri sambil membawa makanannya mendekati ketiga temannya.
"Kalian mau? Kita makan bersama ya, sini biar aku suapain. Ayo! Buka mulut kalian aaaaaaa...!" kata Atar sambil membulatkan mulutnya hendak menyuapi ketiga temannya.
Jani, Jho dan Gio lalu membuka mulut dan menerima suapan dari tangan Atar dengan senang hati, mereka pun langsung tertawa dan makan bersama. Melihat kemurahan hati Atar meski sudah didzolimi teman-temannya tapi dia tetap baik hati membuat Azka tergugah hatinya akhirnya dia mentlaktir semua temannya. Mereka semua lalu minta maaf pada Atar.
...****************...
Sepulang sekolah kelima anak itu, seperti biasa mereka selalu main bersama. Kali ini mereka main petak umpet dan yang ke bagian Jaga itu adalah Jho. Saat keempat temannya bersembunyi Jho mengintip ke mana arah teman-temannya bersembunyi agar dengan mudah dia bisa mencari temannya.
Ketika hitungan sudah berakhir barulah Jho mencari mereka dan berhasil menemukan semua teman-temannya dengan mudah. Kini permainan dimulai kembali dan kali ini Gio yang kebagian jaga.
Keempat anak itu lalu bersembunyi ditempat yang sama. Setelah Gio selesai berhitung barulah dia mencari teman-temannya.
Tiba-tiba tukang es krim langganan mereka lewat. Azka, Atar, Jani dan Jho yang mau makan es krim dengan spontan berlari mengejar tukang es krim yang sudah pergi jauh.
"Eh! Tukang es krimnya pergi kemana ya?" tanya Jani.
"Itu, itu tukang es krimnya belok ke gank" tunjuk Jho sambil loncat-loncat kecil saat melihat tukang es krim.
Akhirnya tukang es krim itu berhenti hingga bisa dikejar oleh ke empat bocah itu. setelah membeli es krim mereka lalu makan bersama dan malah melupakan Gio yang kini masih mencari mereka.
Pukul 19.00 malam kemudian.
Gio yang mulai menyerah mencari teman-temannya lalu duduk di pos ronda sendirian sambil bergumam.
"Azka, Atar, Jho dan Jani sembunyi di mana ya, ko susah banget dicarinya?"
Dari kejauhan tiba-tiba terdengar samar-samar suara yang memanggil Gio, semakin lama suara itu semakin jelas hingga tak berapa lama Yuni dan suaminya mulai terlihat diujung gank.
Mereka yang melihat Gio tengah termangu duduk sendiri dipos ronda lalu mendekati Gio.
"Gio kenapa kamu nggak pulang malah duduk melamun disini sendirian? Ibu sama bapak nyariin kamu tahu" tanya Yuni yang khawatir pada anaknya.
"Aku lagi main petak umpet bu sama Jani, jho, Atar dan Azka" jawab Gio.
"Main petak umpet ko sampai malam gini, sampai kamu lupa pulang?"
"Habisnya mereka belum aku temukan bu, jadi aku terus mencari mereka"
"Ya ampun! Gio, teman-teman kamu itu sudah pada pulang kerumah masing-masing. Terus kenapa kamu masih disini aja?"
"Mereka nggak bilang kalau mau pulang" ucap Gio dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Yuni hanya geleng-geleng kepala saat mendengar cerita anaknya. Akhirnya dia mengajak putranya untuk segera pulang kerumah.
Bersambung