Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Selalu salah


__ADS_3

Di atas tepi sungai Jani menatap berang pada Atar. Perasaan Atar mulai tak enak saat Jani terus menatapnya dengan tatapan seperti itu.


"Atar, bukannya anak-anak disuruh pulang dulu ganti seragam sekolahnya ini kamu malah biarin anak-anak basah-basahan gini? Kalau mereka masuk angin gimana? Tuh! Kan bajunya jadi basah dan kotor gini mana warna putih lagi ini nyucinya pasti susah, lain kali jangan biarin anak-anak basah-basahan gini" hardik Jani tanpa jeda.


"A-aku udah larang mereka ko... " kalimat Atar yang terbata-bata dipotong oleh Jani.


"Dilarang apanya tadi aku lihat kamu juga malah ikutan cipratin air kearah Shabira dan Jidan. Udah gede ko masih main air"


"Tadi... tadi...Jidan kepeleset ke sungai ditolongin sama Shabira. Eh! Dia juga malah ikut nyemplung ke air"


jelas Atar.


"Disini kamu kan yang paling dewasa lalu kenapa bukan kamu yang nolongin Jidan malah nyuruh Shabira" hardik Jani.


"Ya..ya aku juga mau nolongin tapi keburu ditolongin sama Shabira"


"Kamu kurang gercep (Gerak cepat) makannya jadi orang jangan lelet"


"Iya maaf aku emang selalu salah" ucap Atar sambil menunduk karena terus disalahin oleh Jani.


"Anak-anak ayo kita pulang, kalian tidak boleh lama-lama basah-basahan takut masuk angin" ajak Jani sambil menarik tangan Jidan dan Shabira.


Mereka lalu pergi meninggalkan Atar sendirian. Atar membuang nafas kasar sambil menatap punggung wanita itu berlalu pergi.


"Kenapa aku selalu salah sih dimatanya Jani?" keluh Atar merasa kecewa.


Dia lalu pulang ke vila untuk mengganti bajunya yang basah. Di vila dia bertemu dengan Azka yang kebetulan saat itu pulang dulu karena ada sesuatu yang tertinggal. Azka menatap Atar dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Atar, kamu kehujanan dimana? Ko pada basah gini?" tanya Azka keheranan.


"Abis main air disungai" jawab singkat Atar sambil cemberut.


"Astagfirullah. Atar, kamu kaya masa kecil kurang bahagia aja udah dewasa masih main air disungai"


"Shabira cipratin air ke aku. Ya aku ladeninlah biar dia seneng" ujar Atar masih cemberut.


"Oh gitu. Terus itu mulut kenapa masih cemberut gitu?"


"Aku habis dimarahin sama Jani. Kenapa sih, aku tuh selalu salah dimata Jani?" tanya Atar kebingungan.


Seketika gelak tawa Azka pecah, dia terus terkekeh sambil bicara.


"Hahaha... jadi kamu di marahin Jani? Hahaha..."


"Nggak usah ketawa kamu, ini nggak lucu tahu" protes Atar pada Azka.


"Iya.. iya.. Gak ketawa lagi deh. Bay the way kenapa kamu dimarahin Jani?"


"Itu gara-gara Shabira dan Jidan kecebur ke sungai tapi ujung-ujungnya malah main air, sedangkan saat itu mereka baru pulang sekolah dan masih pake seragam, bajunya berwarna putih lagi" jawab Atar.


"Ya elah, pantes aja si Jani marah, kita juga kan dulu waktu kecil suka dimarahin ibu kalau pulang sekolah langsung main tanpa ganti baju dulu, lagian kamu juga sih yang salah bukannya nyuruh anak-anak pulang buat ganti baju dulu, Eh! Kamu malah ikut main air namanya anak kecil ya pasti sukalah kalau gak dilarang sama orang dewasa" kata Azka.


"Ih! Ko kamu malah ikut nyalahin aku sih? Aku udah nyuruh mereka pulang ko buat ganti baju dulu tapi nggak tahulah ujung-ujungnya malah main air"


"Ya udah, terima nasib aja dimarahin Jani" saran Azka sambil nyengir.

__ADS_1


Membuat Atar jadi makin manyun.


"Udah sana! Ganti baju dulu" titah Azka.


Saat Azka akan kembali pergi ke tempat kontruksi dan Atar hendak ke kamarnya tiba-tiba Atar memutar balik arah dia lalu memanggil Azka.


"Azka, tunggu dulu!"


Azka menghentikan langkahnya lalu melirik ke arah Atar, Atar segera menghampiri dia.


"Ada apa lagi?" tanya Azka.


"Besok anterin aku ke swalayan ya, aku mau beliin seragam buat Shabira dan Jidan. Tadi saat Jani marah dia bilang itu seragam Shabira dan Jidan pasti susah dicucinya jadi aku mau gantiin seragam kotor mereka. Aku nggak tahu soal beli seragam jadi bakal butuh saran kamu. Anterin aku ke swalayan besok ya" pinta Atar dengan sedikit memelas.


"Iya, iya udah aku mau kembali ke tempat kontruksi"


Setelah itu Azka baru pergi sementara Atar pergi ke kamarnya.


...****************...


Saat sudah larut malam perkampungan itu kini terlihat sepi dan lengang karena para penghuninya sebagian sudah tidur dan sebagian bersiap untuk tidur.


Sama halnya dengan Jho, dia pun sedang bersiap untuk tidur tapi tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk seseorang.


Tok...tok...tok...


"Masuk"


Tak berapa lama muncullah Atar dari balik pintu. Dia lalu masuk kedalam kamar Jho kemudian Atar tiduran disamping Jho yang sudah berbaring di tempat tidurnya.


"Ada apa tiba-tiba kamu masuk ke sini malam-malam gini?" tanya Jho.


"Nanya apaan?"


"Beberapa hari ini aku terus berpikir, aku merasa bingung, aku juga ingin merasakan itu tapi aku tak bisa merasakannya makannya aku mau nanya sama kamu, Jho"


"Udah nggak usah berbelit-belit to the point aja kamu mau nanya apa?"


"Kamu kan bisa ngerasain ikatan batin saat pertama kali ketemu sama Shabira, ko kamu bisa gitu sih padahal kamu bukan ayahnya Shabira. Aku aja yang ayahnya Shabira gak bisa ngerasain itu jadi gimana Jho, caranya supaya aku bisa merasakan ikatan batin sama Shabira?" tutur Atar.


"Itu tentang perasaan, kamu harus mengasah perasaanmu lagi biar lebih peka, kalau hatimu sudah peka mungkin kamu bisa ngerasain itu tapi mungkin aku bisa ngerasain itu karena aku dan Jani satu ibu persusuan hingga ke Shabira juga udah kaya keponakan sendiri, tapi aku juga nggak tahu perasaan itu datang begitu saja, kamu jangan nanyain gituan ah! Aku bukan pakarnya tanya saja sama ibu kamu sana!" jawab Jho.


"Ya elah, sama aja itu kaya bunuh diri. Aku belum cerita soal Shabira sama ibu, pasti shock banget ibuku kalau tahu soal itu, sementara aku ada disini dan ibu ada di tempat jauh sana, aku pasti kepikiran ibu terus, terus kalau gitu kerjaanku disini gimana?"


"Terus kamu maunya gimana?" tanya Jho.


"Nggak tahu aku bingung, tapi suatu hari nanti aku pasti akan kenalin Shabira ke keluargaku dan aku juga akan minta maaf pada keluarga Jani terutama sama om Hadi" ucap Atar seketika langsung menunduk murung karena perasaan bersalahnya.


"Kalau gitu ceritanya yang ada nanti ujung-ujungnya kamu dan Jani pasti dinikahkan sama keluarga kalian, kalau gitu jadinya terus gimana dengan perasaan kami, dengan persahabatan kita?" tanya Jho agak kesal.


Atar menatap Jho dengan sedih kemudian dia menunduk murung sambil berkata dengan lirih.


"Aku tidak tahu, aku cuma ingin menebus kesalahanku saja pada Jani dan Shabira, aku juga ingin jadi ayah yang baik buat Shabira"


"Udah ah! Aku nggak mood buat bicarain soal ini, lebih baik kamu cepat kembali ke kamarmu aku mau tidur" usir Jho.

__ADS_1


Atar lalu pergi dengan perasaan sedih. Esok harinya sesuai dengan perjanjian Atar dan Azka, mereka akan pergi ke swalayan untuk membeli seragam sekolah anak-anak, disana mereka milih-milih seragam, penjaga tokonya langsung menghampiri mereka.


"Mas ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko.


"Iya mbak saya mau cari seragam buat anak SD" jawab Atar.


"Buat cewek apa cowok mas?"


"Cewek sama cowok"


"Pakaiannya ukuran berapa?"


"Ukuran berapa ya? Aska, kira-kira buat Shabira sama Jidan ukuran berapa ya"


"Mana aku tahu aku kan gak pernah beliin seragam buat anak-anak" jawab Azka.


"Ya terus kamu gunanya aku ajak ke sini buat apa kalau ditanya gak bisa jawab?" Atar agak kesal.


"Dih! Anak-anak siapa malah nanya ke aku, kamu kan bapaknya harusnya kamu tahu dong ukuran berapa baju mereka" protes Azka.


"Ya, aku juga gak tahu kan kamu juga tahu sendiri kalau aku ketemu sama mereka baru sekarang ini" Atar membela diri.


"Ya, kamu gerak cepat dong cari tahu tentang anakmu, nomor bajunya berapa kesukaannya apa, pokoknya cari tahu semua tentang Shabira" titah Azka.


Mereka terus berdebat hingga akhirnya pelayan toko itu menghentikan perdebatan mereka.


"Mas, mas, gini aja deh. Anaknya kelas berapa nanti saya yanga akan cari ukurannya?"


Bukannya menjawab Atar malah menatap Azka dengan penuh tanda tanya, Azka langsung membuang mukanya karena dia tahu Atar sedang kebingungan dengan menatapnya, dia berharap Azka bisa membantu menjawab pertanyaan pelayan toko itu.


Tapi karena Azka juga tidak tahu apa-apa tentang Shabira akhirnya dia menghindari tatapan mata Atar yang penuh tanya. Mengetahui Azka sedang menghindari kebingungan Atar, akhirnya Atar menatap bingung pelayan toko itu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Seolah mengetahui bahasa isyarat Atar akhirnya pelayan toko itu melontarkan pertanyaan lain yang mungkin bisa di jawab oleh Atar.


"Umur berapa anaknya mas?"


Kali ini Atar mengetahui jawabannya dengan sigap dia langsung menjawab.


"Sembilan tahun mbak"


"Baiklah mas, saya akan carikan dulu pakaiannya untuk anak usia 9 tahun"


"Iya silahkan mbak" ujar Atar lalu menunggu pelayan toko mencarikan pakaian.


"Azka, sebenarnya aku juga mau beliin buat anak-anak panti lainnya tapi kan mereka ada yang masih kecil ada yang udah besar aku nggak tahu ukuran bajunya jadi gimana ya aku jadi bingung?" tanya Atar.


"Nggak usah bingung-bingung kasih aja duitnya ke Jani, dia pasti lebih tahu soal anak-anak panti itu biar Jani aja yang beliin baju buat mereka" jawab Azka.


Atar langsung tersenyum pada Azka sambil berkata "Iya juga ya, ko aku nggak kepikiran sih"


Azka langsung berdecak sambil berkata "Ck..ck..ck..lah kamu, kapan mikirnya sih udah jadi seorang ayah juga masih gini-gini aja nggak tahu melulu"


"Ya ini terlalu dadakan Azka, gimana aku nggak kaget tiba-tiba aku jadi ayah mana anaknya udah umur 9 tahun lagi, ini terlalu instan, aku juga kan butuh waktu buat belajar jadi ayah yang baik buat Shabira" Atar melakukan pembelaan diri.


Azka hanya menyeringai sambil geleng-geleng kepala akan kelakuan sahabatnya itu karena tak mau berkomentar lagi dan dia tahu Atar itu terlalu lelet dalam bertindak sebab ketidak tahunnya yang harus berbuat apa ditambah lagi dia tak bisa peka dengan hati seseorang, jadi Azka memilih diam dan tak mau berdebat lagi dengan Atar.

__ADS_1


Tak berapa lama pelayan toko itu kembali sambil membawa pakaian seragam anak untuk cewek dan cowok, Atar lalu membayar setelah selesai mereka kembali pulang.


Bersambung


__ADS_2