
Setelah Jani meninggalkan Atar, dia tak lantas pergi kerumah bapaknya sebab Jani masih ingin meluapkan semua beban didalam hatinya. Ujian yang kini sedang menimpa rumah tangganya begitu amat melukai hati Jani hingga membuatnya amat terluka.
Dari itu dia ingin melupakan semua beban didalam hatinya dengan menangis hingga dia sedikit puas karena sudah meluapkannya. Jani lalu pergi ke suatu tempat yang cukup sepi agar tak ada orang yang melihatnya menangis.
Dia lalu duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di sebuah taman yang ada disekitar tempatnya tinggalnya. Seketika itu pula air matanya tumpah meruah membasahi kedua pipinya, dikala bayangan suaminya sedang tidur bersama wanita lain sambil memeluk wanita itu terbayang lagi dipelupuk matanya.
Jani lalu menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya yang selalu diuji dengan kesulitan. Wanita cantik itu menginginkan kebahagian yang haqiqi, namun percintaannya selalu diuji dengan banyak cobaan yang kerap kali membuat hatinya bertambah rapuh.
Disudut berbeda, Gio baru kembali pulang dari Australia karena dia sudah rindu pada keluarganya dan para sahabatnya. Gio sengaja tak memberi kabar akan kepulangannya karena dia ingin memberi suprise pada semua. Tapi, tak disangka dijalan saat dia menuju kerumahnya dia melihat Jani dari kejauhan sedang menangis sendirian.
Gio yang penasaran lalu memarkir mobilnya ditepi jalan dan dia langsung turun dari mobil untuk menghampiri Jani. Tanpa Jani sadari kini Gio sudah ada dibelakangnya. Pria tampan itu kini tengah menatap punggung sahabat perempuannya dan memperhatikan baik-baik Jani yang sedang menangis.
"Jani kenapa menangis sendirian disini? Apa dia sedang punya masalah?" batin Gio.
Gio lalu menyodorkan sapu tangannya dari samping Jani, sontak itu membuat Jani kaget. Buru-buru dia menyeka air matanya dengan tangan dan langsung melirik sosok yang memberinya sapu tangan.
"Gio? Kapan kamu pulang?" pekik Jani.
Gio tersenyum pada wanita itu lalu duduk disampingnya barulah setelah itu dia menjawab pertanyaan Jani.
"Aku baru pulang hari ini dan belum sempat pulang kerumah. Tak sengaja aku lihat kamu disini jadi aku kesini"
"Oh begitu ya" lirih Jani kemudian dia menunduk dan bergeming.
"Aku lihat tadi kamu menangis, apa kamu lagi ada masalah?"
Jani langsung menggelengkan kepalanya karena dia tak mau menceritakan permasalahan rumah tangganya dengan Atar pada Gio.
"Kamu jangan bohong aku tahu tadi kamu menangis. Ayo! Cerita padaku siapa tahu aku bisa membantu kamu"
Jani merasa ragu untuk menceritakan permasalahan rumah tangannya pada Gio, tapi bukan Gio namanya jika dia tak bisa membujuk Jani untuk menceritakan masalahnya pada dia. Pada akhirnya Jani menceritakan semua masalah yang sedang terjadi padanya.
Mendengar langsung masalah itu dari wanita yang pernah dicintai oleh Gio namun dia tak bisa memilikinya karena memang mereka tak berjodoh, sontak itu membuat emosi Gio tersulut. Dia benar-benar marah pada Atar karena sudah menyakiti hari wanita yang pernah dicintainya itu.
Tapi Gio berusaha untuk tetap tenang dihadapan Jani meski emosinya sedang meledak-ledak karena ketidak relaannya pada Atar yang sudah menyakiti perasaan Jani.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya untuk menyelesaikan masalah ini?" tanya Gio sambil terus menatap Jani yang terus menunduk.
"Entahlah, aku tidak tahu, aku juga bingung harus bagaimana. Bapakku menyuruh aku bercerai dengan Atar karena bapak tak mau aku terluka lebih dalam. Tapi, jujur saja saat ini aku masih sayang sama Atar dan aku juga tak mau bercerai darinya karena aku berat terhadap anak-anak" jawab Jani tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aku juga tak mau melihatmu terluka, Jani. Kalau kamu berubah pikiran dan membutuhkan bantuanku, aku akan selalu siap untuk membantu kamu. Jadi kamu jangan ragu untuk mengatakannya padaku, katakanlah apa yang bisa aku bantu, aku akan membantu kamu"
"Terimakasih Gio, kamu memang sahabat aku yang paling baik"
"Sama-sama. Bay the way apa kamu akan tetap disini?" tanya Gio.
__ADS_1
"Aku mau pulang aja aku udah lama disini"
"Ya udah, aku anterin kamu pulang ya"
"Boleh, tapi aku tidak akan pulang kerumahku, aku mau pulang kerumah bapakku saja"
"Baiklah. Ayo! Aku anterin kamu"
Gio dan Jani lalu pergi dari tempat itu.
...****************...
Dibawah pohon rindang yang terdapat sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu, duduklah seorang anak laki-laki sendirian, sedari tadi perutnya terus keroncongan minta diisi. Tapi, dia tak pergi ke kantin untuk membeli makanan seperti anak-anak yang lainnya, dia hanya duduk melamun sambil sesekali memegangi perutnya yang kelaparan.
Dooorr!
Teriak Shabira dari belakang hingga mengagetkan anak laki-laki itu.
"Shabira! Kamu ngagetin aku aja deh" protes Jidan yang jantungnya hampir copot karena ulah jahil anak gadis itu.
Kemudian dia duduk disamping Jidan sambil memakan dengan lahap jajanannya, Jidan melirik Shabira ditatapnya makanan yang sedang dimakan anak gadis itu, dia hanya bisa menelan salivanya ketika Shabira memakan makanan itu karena Jidan tak berani minta pada Shabira.
"Kamu mau? Ini ambil" ucap anak gadis itu dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Jidan hanya menggelengkan kepalanya kemudian menunduk.
Jidan lalu menatap Shabira dalam hatinya dia berkata, "Uang sakuku diambil semua sama mama Raisa jadi aku tak bisa jajan"
Shabira lalu melambaikan tangannya didepan wajah Jidan yang saat itu terus melamun.
"Wooy! Malah melamun, aku lagi nanya loh, Jidaaaan!"
"Eh! Iya, tadi pagi aku udah jajan banyak banget jadi uang sakuku abis" jawab Jidan berbohong.
Shabira menyernyitkan kedua alisnya karena merasa aneh. "Jajan? Kapan? Bukankah tadi pagi kamu terus sama aku, lalu kenapa uang sakumu bisa abis? Uangnya kamu pake beli apaan sih?"
"Eeee... itu tadi aku beli... aku beli... itu aku jajan dikantin sebelum bel sekolah berbunyi" jawab Jidan gelagapan.
Tapi entah kenapa Shabira merasa Jidan sedang berbohong dan sedang menyembunyikan sesuatu yang Jidan tak ingin Shabira mengetahuinya.
"Aku tak bisa cerita soal ini pada Shabira, Bisa-bisa mama Raisa marah padaku dan menghukum aku jika Shabira tahu soal ini" batin Jidan.
...*************...
Sudah dua hari ini Jani tak kembali pulang kerumah bahkan Atar dan Jani sampai lost contact. Sebenarnya Atar merasa tak tenang dengan keadaan ini tapi mau bagaimana lagi Jani tak mau dihubungi olehnya jadi Atar menahan diri untuk tak menghubungi Jani.
__ADS_1
Semenjak Jani tak ada dirumah dialah yang menyiapkan keperluan anak-anak dan menyiapkan makan untuk mereka karena Raisa tak pernah masak atau pun menyentuh pekerjaan rumah dengan alasan bayinya mau terus digendong jadi Raisa tak bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti yang selalu dilakukan oleh Jani.
Dan seperti biasa pagi ini pun Atar yang menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anaknya. Saat mereka semua hendak sarapan Raisa baru keluar dari kamarnya dan ikut bergabung dengan mereka untuk sarapan.
"Yah, bunda mana ko sudah dua hari aku tak melihat bunda?" tanya Shabira ditengah-tengah makan pagi mereka.
"Bunda ada dirumah kakek Hadi setelah sarapan ayah akan jemput bunda untuk segera pulang" jawab Atar.
Dalam hatinya dia merasa kesal karena ulah Raisa, Jani jadi pergi dari rumah. Gadis kecil itu lalu mengangguk. Setelah sarapan selesai Jidan dan Shabira segera pamit untuk berangkat sekolah. Sementara Atar minta izin tak masuk kerja hari ini karena dia ingin menemui Jani dan membujuknya untuk kembali pulang kerumah.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Raisa ketika Atar hendak keluar dari rumah.
"Kamu nggak usah ikut aku mau menjemput Jani supaya kembali pulang kerumah ini" jawab Atar sambil menghentikan langkahnya.
"Buat apa sih mas, ngejemput mbak Jani? Rumah ini sudah tenang tanpa adanya dia. Kan ada aku disini yang akan melayani kamu sebagai istrimu jadi kamu tidak membutuhkan mbak Jani, mas"
"Tutup mulutmu Raisa! Jangan berani-beraninya kamu ngomong seperti itu, Jani pergi gara-gara kamu dan yang seharusnya pergi bukanlah Jani tapi harusnya kamu yang pergi. Dirumah ini tak pernah ada yang mengharapkan kamu ada disini. Cuma Jani yang bisa menjadi istri yang baik untukku sementara kamu setiap hari hanya malas-malasan pantas saja Reza meninggalkan wanita sepertimu" hardik Atar.
Tentu saja perkataan pedas Atar membuat Raisa sakit hati dan tak terima dikatain seperti itu lalu dia membela dirinya.
"Mas ko tega ngomong kaya gitu sama aku. Siapa yang bilang selama ini aku malas-malasan? Aku juga suka beresin rumah kalau Alif sedang tidur. Iya kemarin-kemarin aku memang jarang masak karena Alif lagi rewel dan mau digendong terus. Coba saja kalau kamu mau bergantian menggendong anak kita aku pasti bisa melakukan semua pekerjaan rumah. Tapi, apa? Kamu tak pernah sayang sama Alif, kamu tidak pernah menggendong Alif, padahal dia juga anak kamu, mas"
"Alif bukan anakku karena aku tak pernah menyentuh kamu, Raisa! Jadi bagaimana bisa dia jadi anakku? Aku muak melihatmu sebaliknya kamu angkat kaki dari rumah ini" ucap Atar dengan tegas lalu melengos pergi.
"Mas!" teriak Raisa.
Atar memutar balik tubuhnya lalu dia berkata dengan tegas sambil mengarahkan telunjuknya pada Raisa.
"Berhenti kamu disana jangan ikuti aku!"
"Tapi mas"
"Aku bilang berhenti ya berhenti!" bentak Atar membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
Atar lalu pergi. Saat dia berada didepan rumah tiba-tiba Gio muncul didepan rumahnya.
"Gio! Kapan kamu pulang? Sudah sangat lama sekali kita tak bertemu, aku kangen sama kamu, Gio" ucap Atar sambil mengulas senyuman disudut bibirnya akan kedatangan sahabatnya itu.
Bug
Bug
Bug
Tanpa terduga Gio malah melemparkan tiga bogeman mentah yang mendarat di wajah dan perut Atar hingga membuat pria bertubuh tinggi itu jadi tumbang dan tersungkur dilantai teras rumahnya. Masih dalam kebingungan Atar menyeka hidungnya yang mengeluarkan darah segar dengan menggunakan tangannya, kemudian dia bertanya pada Gio, "Gio, Kenapa kamu memukulku?"
__ADS_1
Bersambung