
Azhar menatap Jidan dan Shabira pancaran matanyanya menyiratkan kesedihan dan rasa takut yang tertahan hingga membuatnya terlihat seperti tertekan.
"Kakek itu komplotan penculik anak-anak yang nanti anak-anaknya akan dijual" lirih Azhar dengan netra yang berkaca‐kaca.
"APA! Penculik anak?" pekik serempak Jidan dan Shabira.
Kedua bocah itu saling menautkan pandangan matanya dengan membelalak.
"Shabira, Bagaimana ini aku takut" rintih Jidan.
Gadis kecil itu merotasikan pandangannya ke segala arah berharap ada sedikit cela untuknya agar bisa kabur dari tempat ini, dia lalu mencoba membuka pintu, memeriksa kesekitar kamar dan jendela kali aja bisa terbuka tapi hasilnya nihil.
"Percuma saja kita tidak akan bisa keluar, aku sudah mencoba untuk kabur tapi tidak bisa malah aku ketahuan sama laki-laki yang menyamar jadi kakek tua itu, laki-laki tua itu mengancamku bahkan memukuliku saat aku berontak" tutur Azhar dengan lirih masih sambil duduk di lantai dengan bersidekap diatas lututnya.
Jidan dan Shabira makin panik mendengar ucapan Azhar mereka lalu terus berusaha mencari jalan keluar meski hasilnya nihil.
...****************...
Kulangkahkan kakiku dengan tergesah-gesah menuju ke vila yang letaknya agak jauh dari panti asuhan. Meski gelap menyelimuti malam ini tak sedikit pun menggoyahkan niatku untuk pergi ke sana, untuk mencari anak-anakku.
Aku berharap Shabira ada di tempat ayahnya agar rasa cemas dan khawatir yang menjalar ditubuhku bisa terobati. Saat di depan pintu dengan segera ku tekan bel rumah agar penghuninya keluar untuk menemuiku.
Ting...tong...
Ting...tong...
Ting...tong...
Tak berapa lama Jho membukakan pintu, dia sedikit tercekat melihat kehadiranku di kala hari sudah malam karena ini tak biasanya.
"Jani, tumben malam-malam begini ke sini ada apa?" tanya Jho.
"Jho apa Shabira dan Jidan main ke sini?" tanpa basa-basi lagi segera kutanyakan soal Shabira dan Jidan.
"Nggak mereka nggak ke sini" jawab Jho seraya menggelengkan kepalanya dengan sedikit mengangkat sebelah alisnya.
"Atau, Apa mereka pergi sama si Atar?" tanyaku lagi.
"Nggak mungkin Shabira dan Jidan pergi sama si Atar soalnya udah beberapa hari ini dia nggak ada di vila, dia pulang ke Bogor karena ibunya sakit keras"
"Apa tante Rumi sakit? Sakit apa?"
__ADS_1
kecemasan dan rasa khawatirku makin bertambah saat mendengar tante Rumi yang merupakan ibu dari ayah anakku sakit keras, hatiku merasa terenyuh mendengar itu. Tapi fokusku lebih tertuju pada Shabira dan Jidan yang tak pulang kerumah padahal hari sudah malam.
"Iya tante Rumi, katanya tante Rumi terkena serangan jantung tapi Alhamdulillahnya kata si Atar sekarang sudah mulai membaik"
Kuucap syukur mendengar kabar itu tapi tak lama hatiku kembali gelisah saat memikirkan keadaan Shabira dan Jidan. Karena tak ada di vila kuputuskan mencari ke tempat lain.
Jho yang merasa khawatir terhadap anak-anakku, dia pun ingin ikut mencari keberadan anak-anakku. Akhirnya kami mencari mereka hingga larut malam.
Setelah hilang lewat dari dua puluh empat jam aku melaporkan berita kehilangan pada polisi dengan harapan polisi bisa membantu mencari keberadaan Shabira dan Jidan, hingga waktu terus berlalu.
Meski hingga kini Shabira dan Jidan masih belum ketemu tapi Jho, Azka, Gio dan Jani bersepakat untuk tidak memberi tahu Atar dulu sebab dia pasti sangat mengkhawatirkan putrinya sementara dia pulang karena ibunya sakit. Atar pasti merasa dilema karena itu makannya mereka memutuskan untuk tidak memberi tahu Atar dulu mengenai masalah ini.
Tentunya masih dengan dipantau bagaimana perkembangan tante Rumi kalau sekiranya sudah boleh pulang dari rumah sakit barulah mereka akan memberi tahu soal berita kehilangan Shabira dan Jidan pada Atar.
...****************...
Masih di bumi yang sama namun di bagian bumi yang lainnya, pagi ini Atar baru keluar dari rumah rencananya dia akan pergi ke rumah sakit setelah meeting dengan klien. Dia menunggu kedatangan pak Wilya disebuah caffe sambil terus memainkan layar pipihnya dengan ditemani secangkir kopi panas.
"Kenapa tiba-tiba aku kepikiran sama Shabira ya? Anak itu gimana kabarnya ya" batin Atar seraya menatap foto putrinya didalam layar pipih.
Tak berapa lama pak Wilyam datang bersama asisten pribadinya. Mereka bersalaman lalu duduk kemudian mulai membahas soal pekerjaan.
"Jadi bagaimana soal pembangunan castilnya pak Atar, saya dengar ada sedikit masalah?" tanya pak Wilyam.
"Itu urusan mereka, saya tidak mau tahu soal itu yang saya mau castilnya dibangun didepan agar terlihat dari jalan" sergah pak Wilyam.
"Iya makannya dari itu saya kesini untuk menemui bapak karena saya ingin menawarkan alternatif lain yang mudah-mudahan ini tak merugikan semua pihak"
"Alternatif apa yang ingin anda tawarkan pak Atar?"
Atar lalu memberikan sebuah map yang isinya gambar rancangan castil terbaru buatannya.
"Ini adalah denah rancangan terbaru dari saya, ukurannya diperkecil agar bisa muat dilahan yang ada dan agar tak merubah wahana-wahana yang sudah kita bahas sebelumnya yang akan dibuat didalam castil ini jadi saya akan membuat castil ini menjadi tiga tingkat. Bagaimana menurut bapak, apa bapak setuju dengan saran dari saya?"
Pak Wilyam lalu melihat-lihat rancangan terbaru dan membandingkannya dengan rancangan yang lama yang masih dia simpan ditas kerjanya.
"Saya rasa rancangan yang baru ini terlihat lebih sumpek karena ukurannya yang kecil jadi saya mau rancangan yang dulu yang dipakai" tolak pak Wilyam.
Atar menghela nafas berat karena dia gagal membujuk pak Wilyam untuk tidak menggusur rumah makan milik pak Husen. Tapi dia tak patah arang dia mencoba planing B, semoga kali ini berhasil.
"Baiklah pak saya akan mencoba membicarakan soal ini lagi pada pemilik lahan tapi bagaimana jika kita tetap menggusur lahan itu dengan menawarkan pada pemilik lahan untuk tetap membuka warung makan ditempat parawisata itu dengan catatan beliau harus membayar sewa tempat agar bisa membuka usaha ditempat itu, apa lagi itu tempat parawisata saya rasa dia pun aku meraup keuntungan yang banyak jika berjualan ditempat parawisata" bujuk Atar.
__ADS_1
"Makanan seperti apa yang dijual oleh si pemilik lahan itu?" tanya pak Wilyam sebelun menerima tawaran dari Atar.
"Mereka menjual menu khas dari daerah itu" jawab Atar.
"Tidak bisa, saya tetap ingin rancangan yang dulu yang dipakai, saya harap anda dan teman-teman anda segera menggusur lahan itu bagaimana pun caranya kalian harus bisa" ucap pak Wilyam dengan tegas, dia lalu melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Waktu saya sudah habis, saya harus meeting ditempat lain, saya harap pak Atar segera menyelesaikan masalah ini. Saya akan memberikan waktu kurang dari sembilan puluh persen pembangunan tempat parawisata, castil itu harus segera dibangun" titah pak Wilyam lalu berdiri dan pamitan pada Atar kemudian dia dan asistennya pergi.
Pancaran wajah Atar terlihat kecewa karena gagal membujuk pak Wilyam tapi sebenarnya Atar masih punya rencana C hanya saja dia masih butuh persetujuan dari banyak pihak untuk menjalankan rencananya itu akhirnya dia tak mengutarakan rencana C pada siapa pun kecuali setelah mendapat persetujuan dari banyak pihak.
Atar segera membereskan berkas-berkasnya dan memasukan kedalam tas setelah itu dia bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjaga ibunya. Baru beberapa langkah dari caffe itu dia terpaksa menghentikan langkahnya saat netranya tiba-tiba menangkap sosok yang sudah tak asing lagi baginya.
"Bang Dion?! Lagi apa disini? Kayanya dia bikin rusuh deh, aku harus menghampirinya" gumam Atar.
Dia lalu mendekati Dion yang dari tadi ngomong ngelantur gak jelas sambil menarik-narik tubuh seorang wanita muda, dia terlihat mencaci maki wanita yang terlihat ketakutan itu karena Dion membawa senjata tajam dalam keadaan mabuk berat.
Tubuhnya sempoyongan akibat pengaruh obat itu, dia juga terus menodongkan senjata kearah orang-orang yang akan menolong wanita itu membebaskan diri dari cengkraman Dion.
"Dasar wanita j*l*ng kau pantas mati karena beraninya mencampakanku" bentak Dion sambil menjambak rambut wanita itu.
Melihat kekacauan ini Atar diam-diam menyergap Dion dari belakang agar senjata tajam yang runcing dan mengkilap itu tak sampai melukai orang lain.
Dengan sekali sergapan dia berhasil memelintir tangan Dion ke belakang tubuhnya hingga pisau itu terjatuh ke lantai.
Prank!
Sontak itu membuat Dion tak bisa melakukan perlawanan karena dia sedang lengah. Setelah itu dia membawa Dion ke mobilnya, Dion disuruh masuk ke mobil dan Atar segera mengunci semua pintu mobil dari luar.
Dia lalu kembali ke dalam caffe dan meminta maaf pada semua orang atas kekacauan ini, Atar juga mengganti rugi atas kekacauan yang sudah disebabkan oleh Dion. Setelah itu dia kembali kedalam mobil. Atar lalu duduk dikursi kemudi dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Breng*s*k lo Atar! Kenapa lo halangin gue buat ngehabisin wanita j*l*ng itu!" bentak Dion seraya hendak menerkam Atar yang duduk disampingnya.
Tapi karena sabuk pengaman yang menghalangi tubuh Dion jadi dia tak bisa menerkam Atar.
"Bang, wanita tadi bukan mbak Mala mantan tunanganmu, dia wanita berbeda jadi abang tak boleh menyakitinya" ujar Atar dengan kedua ekor mata yang melirik kearah Dion lalu kembali fokus kedepan jalan.
"Alah! Semua wanita itu sama aja, Brengsek!" umpat Dion setengah sadar akibat minuman beralkohol yang diminumnya.
Atar hanya diam dan tak mau menanggapi kakaknya lagi karena dia tahu suasana akan makin keruh kalau dia meladeni kakaknya yang sedang mabuk.
Ya, semenjak Dion gagal menikah karena pas dihari pernikahannya itu calon istrinya kabur dengan pria lain akhirnya Dion jadi frustasi, hidupnya jadi kacau dan berantakan hingga sekarang. Dia juga tidak pernah percaya lagi dengan cinta dan wanita karena hatinya amat terluka ketiak keluarga besarnya datang kerumah untuk meminang pujaan hatinya tapi mereka harus kembali secara mentah-mentah sebab calon istrinya kabur dengan pria lain.
__ADS_1
Bersambung