
Pintu rumah saat itu sedikit terbuka dan menyisakan cela hingga orang yang didalam rumah bisa melihat apa yang terjadi diluar sana. Raisa yang melihat Atar dipukul hingga dia tersungkur, dia langsung panik lalu dia lari berhamburan menghampiri Atar dan membantu membangunkannya.
"Mas apanya yang sakit? Ayo! Aku bantu kamu untuk berdiri lagi" ucap Raisa.
Tapi Atar menolak bantuan dari Raisa dengan menepiskan tangannya.
"Aku bisa bangun sendiri"
Melihat kehadiran wanita itu emosi Gio makin memuncak karena teringat kembali pada wanita yang dicintainya yang sudah dikhianati oleh Atar.
"Oh jadi wanita ini selingkuhan kamu, Atar?" tanya Gio penuh kemarahan yang sudah mendidih dan siap meletus kapan saja.
"Tidak Gio, kamu salah paham, ini semua tidak benar" bantah Atar seraya menggelengkan kepalanya.
"Mas aku kan istrimu kenapa kamu... " kalimat Raisa dipotong oleh bentakan dari Atar.
"Diam, kamu! Jangan coba-coba memperkeruh keadaan" bentak Atar membuat Raisa bergeming.
"Tuh kan, apa aku bilang dia memang selingkuhan kamu. Berani banget kamu menyakiti perasaan Jani, masih banyak orang yang mencintai dia lalu kenapa kamu yang terpilih malah melukai perasaannya hingga air mata yang tak seharusnya mengalir dari mata Jani malah mengalir?"
"Gio, tolong jangan membuat keadaan makin rumit, aku juga saat ini sedang memperbaiki kesalah pahaman ini jadi tolong beri aku waktu untuk menyelesaikan masalahku dengan Jani"
"Kesalah pahaman apanya? Semua sudah jelas kamu mengkhianati Jani dan membuatnya menangis, aku tak rela melihat dia terluka. Aku sudah relakan dia bersama kamu agar kamu menjaganya dengan baik meski hatiku harus terluka tapi kamu sudah menyia-nyiakan kepercayaan dan pengorbananku, kalau tahu akan begini sudah dari dulu kubawa lari istrimu, Atar!" bentak Gio.
Atar merasa sakit ketika sahabatnya sendiri dengan terang-terangan berkata seperti itu, dia tak menyangka kalau Gio akan melontarkan ucapan seperti itu padanya.
"Aku akan menjaga dia dan tak akan pernah membuatnya terluka. Jadi lebih baik akhiri saja hubunganmu dengan Jani karena aku akan membawa lari istrimu jika kamu tetap dengannya. Kamu tidak pantas untuk Jani"
"Tidak, Gio! Sampai kapan pun Jani akan tetap menjadi milikku. Takdir sudah menggariskan dia jadi milikku jadi kamu jangan coba-coba mengambilnya dariku karena aku pun tidak akan tinggal diam. Terima saja takdirmu kalau kamu tak pantas untuknya" tegas Atar yang tak terima dengan ucapan Gio.
Ucapan Atar itu semakin menyulut emosi Gio, dia yang amat kesal dan marah pada Atar lalu melayangkan lagi bogeman mentah ke arah wajah Atar. Pukulan keras itu meninggalkan jejak kebiruan disudut bibir Atar yang terkena bogeman mentah dari Gio.
Bug
Kemarahan Atar pun semakin mendidih karena dia tak terima sudah mendapat perlakuan kasar dari Gio kemudian dia membalas Gio dengan melemparkan bogeman.
Bug
__ADS_1
Bug
Bug
Mereka berdua lalu berkelahi dengan saling jotos Raisa yang melihat itu lalu melerai mereka.
"Hentikan! Hentikan! Kalian tidak boleh berkelahi!" pekik Raisa sambil menengahi mereka.
Bug
Bug
"Akhhh!" ringis Raisa yang menjadi sasaran bogeman tak sengaja mereka hingga dia terdorong dan tersungkur.
"Raisa!" spontan Atar berucap kaget ketika melihat wanita itu terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Atar karena merasa bersalah sudah memukulnya sebab sejatinya Atar bukanlah tipe pria kasar yang akan memukul seorang wanita sekali pun wanita itu dibenci olehnya.
Melihat sikaf Atar pada Raisa semakin meyakinkan Gio bahwa Atar memang mempunyai perasaan khusus pada wanita itu hingga menjadikannya madu bagi Jani.
"Bukan begitu Gio, aku hanya merasa bersalah pada Raisa karena sudah kena pukulanku, meski aku tak menyukainya karena dia perusak rumah tangga ku dengan Jani tapi aku bukanlah tipe pria kasar yang akan memukul seorang wanita" Atar membela dirinya.
"Alah! Banyak alasan kamu, akui saja kalau kamu menyukai dia" sarkah Gio.
"Sudah berhenti! Jangan bertengkar lagi! Apa kalian akan terus bertengkar dan jotos-jotosan hingga kalian babak belur?" hardik Raisa ketiak kedua pria itu terlihat hendak melanjutkan kembali perkelahian mereka.
Tapi untungnya mereka mengurungkan kembali niat mereka.
"Ingat baik-baik perkataanku ini, Atar! Segera ceraikan Jani agar dia bisa terbebas dari pengkhianat sepertimu. Jika tidak kau ceraikan maka aku akan bawa kabur istrimu" ancam Gio dengan sungguh-sungguh.
Atar tak berucap dia hanya menatap Gio dengan tatapan sinis dan tajam. Setelah itu Gio pergi meninggalkan Atar dan Raisa.
...****************...
Atar lalu melanjutkan niat awalnya untuk menjemput Jani kerumah bapaknya. Butuh keberanian yang amat besar bagi Atar agar bisa menemui bapak mertuanya setelah masalah ini terjadi. Sebenarnya Atar tak punya muka untuk menemui bapak mertuanya tapi dia tak mau Jani berlama-lama menghindarinya dengan tetap tinggal dirumah bapaknya.
Akhirnya Atar menemui bapak mertuanya kerumah beliau meski dia amat malu dan merasa tak punya muka untuk meminta kembali anak perempuan dari bapak kandungnya untuk kembali tinggal dengannya.
__ADS_1
Diruang tamu itu duduklah dua pria beda generasi yang kala itu masih saling terdiam, suasana dingin dan tak bersahabat begitu lekat dirasakan oleh Atar. Dia tahu bapak mertuanya sangat marah pada dirinya, tapi dengan segenap keberanian Atar, Atar harus tetap meminta kembali putri Hadi agar tinggal serumah lagi dengan dia demi keberlangsungan rumah tangganya dengan Jani. Dan tanpa kedua pria itu sadari Jani menguping pembicaraan mereka ditempat persembunyiannya.
"Pak, aku tahu bapak pasti sangat marah padaku karena masalah ini tapi aku mohon izinkan aku untuk membawa Jani kembali pulang kerumah kami pak" ucap Atar dengan memelas tanpa berani menatap wajah bapak mertuanya yang terlihat amat dingin dan tak bersahabat pada Atar.
"Tidak bisa! Jani tidak boleh kembali padamu"
"Tolong pak, jangan begitu padaku. Aku tak bisa hidup tanpa Jani. Aku sangat mencintai dan menyayangi Jani, pak. Tolong beri aku kesempatan lagi untuk bisa membahagiakan Jani demi anak-anak kami juga pak, mereka terus menanyakan bundanya jadi tolong biarkan aku membawa pulang Jani kerumah kami, Pak" Atar memelas pada Hadi dengan amat sungguh-sungguh.
"Atar, kamu harus tegas menjadi seorang pria. Jani tak bisa dimadu olehmu, kamu harus memilih satu diantara Jani dan wanita itu. Jika kamu memilih wanita itu maka tinggalkan Jani, Jika kamu memilih Jani maka tinggalkan wanita itu. Soal anak-anak bawa saja mereka kerumah ini, bapak masih sanggup membiayai hidup mereka" tegas Hadi.
"Tentu saja aku lebih memilih Jani, pak. Jadi tolong izinkan aku membawa Jani pulang kembali kerumah kami" pinta Atar dengan sungguh-sungguh.
"Kalau begitu buktikan dulu perkataanmu jika memang kamu benar-benar memilih Jani maka ceraikan wanita itu dan suruh dia meninggalkan rumah kalian"
"Dia bukan istriku pak, hanya saja dia bermuka tebal hingga tak punya rasa malu tetap tinggal dirumah kami meski aku sudah mengusirnya dia tetap tak mau pergi"
"Itu masalahmu yang bapak ingin kamu segera menyuruh wanita itu keluar dari rumah kalian agar kamu bisa membawa Jani kembali kerumah kalian karena bapak tidak akan memberikan Jani padamu sebelum kamu berhasil mengusir wanita itu dari rumah kalian"
"Tolong pak, jangan begitu aku tak bisa pulang tanpa membawa Jani, izinkan sekarang aku menemui Jani dan membawanya pulang, pak" lirih Atar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak bisa! Sebaiknya sekarang kamu pulang dan urus saja wanitamu itu, bapak tak akan mengizinkanmu membawa Jani" bentak Hadi seraya mengusir Atar.
"Pak tolong, izinkan aku membawa Jani pulang" ucap Atar sambil menubruk kaki Hadi tapi pria tua itu merasa tak sudi disentuh oleh menantunya itu.
"Pergi dari rumah bapak sekarang juga Atar! Bapak tak sudi melihatmu sebelum kamu berhasil mengusir wanita selingkuhanmu itu" tegas Hadi dengan suara meninggi.
Meski Atar terus memelas tapi laki-laki tua itu tetap tak mau memberikan putrinya pada Atar, dia tetap mengusir Atar hingga akhirnya Atar pun terpaksa pulang dengan tangan kosong. Jani yang melihat dan mendengar itu langsung meneteskan air mata karena sedih sebab rumah tangganya harus hancur seperti ini karena kehadiran orang ketiga.
Saat Atar kembali pulang dia berjalan dengan gontai karena tak semangat dan amat sedih sebab dia tak berhasil membawa Jani pulang. Tiba-tiba dia berlutut, ditundukannya kepala dia, Atar lalu meremas dadanya yang terasa amat sakit ketika begitu banyak pengorbanan yang dia lakukan untuk wanita yang amat dicintainya tapi harus berakhir dengan seperti ini.
"Kenapa hati ini sakit banget ya Allah, aku sudah tak kuat menahan semua ini, aku tahu Jani pun terluka karena kecerobohanku tapi hatiku jauh lebih sakit ketika aku tak mampu membersihkan nama baikku dari fitnah ini" lirih Atar dengan air mata yang menetes begitu saja tanpa izin dari pemiliknya.
"Aku... hiks... hiks... hiks... aku sangat sayang sama kamu Jani. Kamu sudah seperti nafas bagiku tanpamu aku sangat kesulitan untuk bernafas tapi kenapa ujian ini terus menjauhkan aku dari kamu hiks... hiks... hiks... " lirih Atar mulai terisak-isak sambil terus memukuli dadanya yang terasa amat sakit karena suratan takdir ini.
Tanpa Atar sadari Jani yang mengikutinya secara diam-diam terus memperhatikan dan menguping ucapan Atar. Ada rasa kasihan yang terbersit dihati Jani pada suaminya itu, tapi ego Jani mengalahkan semua hingga dia tak mau menghampiri Atar yang sedang menangis karena hatinya juga terluka dan dia juga tak mau mengulurkan tangannya untuk membangkitkan Atar yang sedang terpuruk.
Bersambung
__ADS_1