Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Saling menerka


__ADS_3

Ririn mengejar Shabira yang nampak sangat marah padanya tanpa mempedulikan keempat pria yang menatapnya dengan kebingungan.


"Bunda? Siapa anak kecil itu?" tanya Atar kebingungan.


"Namanya Shabira dia anaknya si Jani" jawab Gio.


"What? Ko bisa? Kapan nikahnya?" serempak Azka, Atar dan Jho bertanya.


"N'tahlah aku masih belum tahu bagaimana Jani bisa punya anak yang sudah berusia 9 tahun" jawab Gio.


"Eh! Tunggu, kenapa Shabira ngatain Jani pembohong? Lalu kenapa Jani harus bilang kalau salah satu dari kita sudah meninggal dunia?" tanya Jho keheranan.


"Kita harus cari tahu tentang semua ini, kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Jani?" saran Azka.


"Iya aku setuju kita harus cari tahu tentang apa yang terjadi dengan Jani" ucap Atar menambahkan.


Ditempat berbeda Ririn terus mencari keberadaan Shabira yang lari n'tah kemana?


"Ya ampun, anak itu pergi kemana sih? Shabira, tolong jangan marah seperti ini pada bunda" lirih Ririn merasa cemas dan khawatir pada Shabira.


Atar, Azka,Gio dan Jho lalu ikut mencari Shabira.


"Jani, Apa Shabira sudah ditemukan?" tanya Jho saat dia berpapasan dengan Rinjani.


Rinjani menggelengkan kepalanya dengan lesu dan sedih.


"Sabar ya, kita akan terus bantu kamu untuk mencari Shabira" ucap Gio menyemangati Jani.


"Terimakasih semuanya, kita mencar aja nyarinya ya biar cepat ketemu" ucap Jani.


Mereka semua mengiyakan dan mulai mencari Shabira dengan berpencar kesegala arah. Ketika semua memilih pergi mencari Shabira sesuai kata hati mereka, Atar memilih mencari Shabira ke tempat pertama kali dia bertemu dengan gadis kecil itu.


"Shabira.. Shabira.. Shabira.. kamu dimana?" teriak Atar.


Namun tak ada sahutan dari gadis kecil itu. Hingga suatu ketika Atar sampai disebuah pohon rindang dia melihat ada anak kecil sedang menangis sambil membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya.


Atar lalu duduk disamping gadis kecil itu, dia menatap kehamparan kebun teh yang menghijau.


"Terkadang hidup memang tak sesuai keinginan kita, karena ada campur tangan sang kholik yang mengaturnya. Namun, percayalah setiap takdir seseorang yang sudah digariskan itu adalah yang terbaik untuknya, kita sebagai hambanya hanya bisa menerima dengan lapang dada meski kadang kita merasa kecewa dan hati menolaknya tapi pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya" tutur Atar tanpa melihat gadis kecil itu.


Shabira mengangkat wajahnya dan menatap Atar dari samping.


"Mau apa Om datang kesini?" tanya Shabira.


"Emang ada larangannya Om tidak boleh datang ke sini?" Atar malah balik bertanya pada Shabira membuat gadis kecil itu jadi manyun.


Hening!


Atar segera mencairkan kembali suasana hening yang menyelimuti kala itu dengan berkata.


"Kenapa sih kamu harus marah-marah pada bundamu sendiri?"

__ADS_1


Shabira lalu menatap lekat pria yang katanya dahulu adalah teman masa kecil bundanya.


"Apakah mungkin dia orangnya? Kalau memang dia orangnya kenapa dia tak berkata apa pun padaku tentang semua itu?" batin Shabira.


"Apa Om tidak merasa kesal kalau dibohongin seumur hidup Om sama orang yang paling Om sayangi?" tanya Shabira.


"Om paham perasaan kamu tapi mungkin bundamu punya alasan kenapa dia berkata bohong, emang bunda kamu bohong apa sama kamu? " tanya Atar.


"Bunda bilang salah satu dari kalian sudah meninggal dunia" jawab Shabira.


"Kenapa kamu harus marah hanya karena bundamu berkata seperti itu?"


"Karena itu sangat berarti buatku"


"Seberarti apakah itu? Padahal kamu tak mengenal kami" tanya Atar yang merasa penasaran pada Shabira.


Gadis kecil itu tak lantas menjawab pertanyaan Atar, dia hanya menatap nanar wajah Atar yang terlihat kebingungan dan seolah tak tahu apa-apa.


"Ah! Sudahlah, sepertinya ngomong sama Om tak ada gunanya itu hanya buang-buang waktuku saja" protes Shabira sambil berdiri hendak pergi.


"Shabira! Kamu belum jawab pertanyaan Om" kata Atar sambil memegang tangan gadis kecil itu.


"Lepaskan tanganku Om, aku mau pulang" lirih gadis kecil itu.


"Jawab dulu pertanyaan Om sebelum kamu pergi" desak Atar.


Shabira lalu berbalik arah menghadap Atar, dengan tatapan datar dia lalu menjawab.


Pernyataan gadis kecil itu serasa petir disiang bolong yang menyambar Atar, dia benar-benar kaget setengah mati. Bagaimana bisa ayah biologis dari Shabira itu salah satu diantara sahabatnya dan juga ada kemungkinan dirinyalah ayah dari Shabira? Tapi siapa orang itu?


Atar melepaskan tangan Shabira, gadis kecil itu lalu pergi. Diam-diam Atar mengikuti Shabira sampai kerumahnya hanya untuk memastikan kalau Shabira benar-benar pulang kerumah, setelah itu Atar kembali pulang ke Vila.


Dengan wajah lesu, bingung dan tak bersemangat dia masuk ke dalam rumah, disana sudah ada Azka, Jho dan Gio.


"Atar kenapa mukamu kusut begitu?" tanya Jho.


Bukannya menjawab Atar malah duduk ditengah Jho dan Gio. Dia menatap ketiga temannya dengan penuh tanda tanya sambil menerka-nerka sendiri hingga Gio membuyarkan lamunan Atar.


"Atar ada apa sih! Ko kamu kaya kebingungan gitu?" tanya Gio sambil melambaikan tangannya dihadapan wajah Atar.


"Ada hal yang mengejutkan yang mungkin kalian tidak akan percaya dengan apa yang kusampaikan nanti" ucap Atar membuat semua makin penasaran.


"Emang hal apaan sih?" tanya Azka.


"Mungkin nggak sih! Shabira berbohong padaku, dia mengarang cerita yang tidak-tidak?" tanyanya dengan ragu sebelum menceritakan semuanya.


"Kayanya Shabira tidak mungkin berbohong deh soalnya dia tipe anak yang dingin, kalau ngomong pasti langsung keinti" pendapat Gio.


"Sebenarnya aku sependapat sama kamu Gio, kayanya Shabira nggak mungkin bohong tapi aku masih ragu dengan ucapannya" ujar Atar.


"Ya udah, Jadi kamu mau ngomong apa Atar, nggak usah berbelit-belit deh" protes Jho yang sudah tak sabar ingin mendengar berita yang akan disampaikan oleh Atar.

__ADS_1


"Jani bilang pada Shabira dan Shabira cerita ke aku kalau...." sejenak Atar menggantung kalimatnya karena dia sendiri merasa shock untuk melanjutkannya.


Atar menghela nafas panjang lalu mulai melanjutkan kalimatnya. Ketiga sahabatnya itu terus menatap Atar dengan serius karena mereka menunggu jawaban darinya.


"Kalau ayah kandung Shabira adalah salah satu dari kita"


Sontak Jho yang saat itu lagi ngemil langsung menyemburkan makanan yang ada didalam mulutnya.


"Kaget sih! Kaget tapi nggak usah nyembur juga dong Jho, Jorok kamu" protes Atar yang kena semburan dari mulut Jho.


"Ya aku kaget, gila aja tuh! Ko bisa? Itu serius Shabira ngomong kaya gitu?" tanya Jho masih tak percaya.


"Serius Jho" Atar meyakinkan mereka semua.


Mereka berempat lalu saling memandang satu sama lain dengan tatapan saling mengintimidasi. Mereka kemudian memutar kembali ingatan mereka ke masa lalu, mengingat setiap jengkal kejadian saat bersama Jani, kali aja ada hal mencurigakan yang bisa meyakinkan mereka kalau Shabira adalah anak dari salah satu dari mereka.


Namun, mereka tak bisa mengingat apa pun hingga mereka merasa ragu pada diri mereka sendiri.


"Apa mungkin ini alasan kenapa Jani tiba-tiba menghilang 10 tahun yang lalu dengan begitu saja tanpa jejak?" tanya Gio sedih.


"Bisa jadi seperti itu tapi kira-kira siapa yang sudah membuat Jani kabur gara-gara hal ini?" tanya Azka sambil menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan menuduh.


Tapi mereka semua tak ada yang bisa menjawab karena mereka tak bisa mengingat apa pun, mereka hanya bisa menunduk sambil merenung dan saling menyalahkan diri sendiri. Suasana menjadi hening untuk sejenak hingga Gio mencairkan semuanya kembali.


"Aku dengar seorang anak itu ibarat buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, jadi si anak pasti mewarisi sifat orang tuanya. Jangan-jangan Shabira itu anakku soalnya dia kan agak pendiam, dingin dan dia itu sangat cerdas aku pernah melihat dia sangat pandai menghitung tanpa harus pake alat hitung saat dia jadi kasir dirumah makan pak Husen, jadi dia menghitung udah kaya diluar kepala, itu kan sama seperti aku yang cukup cerdas" terka Gio.


"Tapi Gio, Shabira itu sangat pandai menggambar, gambarnya sangat bagus sama kaya aku yang punya bakat menggambar, bisa jadi kan dia itu anakku yang mewarisi bakat menggambar dariku" sangkal Atar pada pernyataan Gio.


"Gio, Atar kalian bisa saja salah, yang lebih kuat itu adalah ikatan batin dan aku merasakan hal itu saat pertama kali melihat Shabira jadi bisa saja Shabira itu anakku" ucap Jho yang mematahkan pernyataan Gio dan Atar.


Tak mau kalah Azka pun ikut berkomentar walau diawal komentarnya agak asal-asalan.


"Kalau aku apa ya" Azka berpikir sejenak lalu dia melanjutkan kembali kalimatnya.


"Matanya, hidungnya, bibirnya Shabira miripkan sama aku iya dia sangat mirip denganku"


Jho langsung meraup wajah Azka membuat Azka jadi protes padanya.


"Apaan sih! Kamu Jho?"


"Kamu nggak usah ngayal pengen diakui sama Jani dan Shabira gara-gara kamu suka sama Jani, jelas-jelas Shabira itu mirip banget sama Jani waktu masih kecil udah kaya pinang dibelah dua jadi dia gak ada mirip-miripnya sama kamu" jawab Jho mematahkan pernyataan Azka.


"Eh! Eh! Tapi tunggu dulu, aku baru inget kejadian waktu divila itu kita semuakan mabuk dan yang terakhir mabuk itu aku dan Jani jadi bisa sajakan saat mabuk itu aku dan Jani melakukan hubungan terlarang itu" kata Azka.


"Ya ampun kenapa baru terpikir olehku sekarang setelah 10 tahun berlalu" lanjut Azka.


Wajah Azka kala itu terlihat frustasi dan amat bersalah, sepertinya dugaan dia itu benar terjadi meski masih ada sedikit keraguan didalam hati Azka tapi, sebenarnya siapa ayah biologis dari Shabira semua hanya bisa menduga tanpa ada kepastian yang akurat.


Tentu saja yang tahu soal ini hanyalah Jani lalu apakah Jani akan mengatakan fakta yang sebenarnya pada keempat pria itu? Benarkah salah satu dari mereka adalah ayah biologis dari Shabira?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2