
Beberapa tahun kemudian.
Kilauan cahaya mentari di pagi ini ikut mengawali derap langkah anak-anak berseragam putih abu-abu, semenjak gerbang sekolah dibuka para siswa dan siswi mulai memasuki area sekolah. Sebelum jam pelajaran dimulai para siswa dan siswi itu tersebar di berbagai tempat yang ada di SMA itu dengan aktifitas masing-masing.
Ada yang berkumpul dikantin, ada yang didepan kelas, ada yang didalam kelas, ada di perpustakaan, ada di taman dan ada pula yang sedang bermain basket dilapangan basket.
Sementara dari tempat parkir terlihatlah dua orang yang mengendarai motor gede, mereka baru sampai disekolah, si penumpang langsung turun dari motor dengan kelimpungan karena tadi dijalan dia diajak kebut-kebutan oleh si pengendara motor.
"Woy! Balikin helmnya" pekik si pengemudi saat si penumpang hendak melengos pergi dengan langkah kaki yang kelimpungan.
Si penumpang yang merupakan siswa laki-laki itu memutar balik arah dan kembali ke si pengemudi, dia lalu memberikan helm yang tadi dipakainya, wajah siswa laki-laki itu terlihat amat tegang dan ketakutan, nafasnya pun terdengar tidak karuan.
"Nanti pulang sekolah mau bareng lagi?" tanya si pengemudi yang belum melepas helmnya.
Sekilas si pengemudi itu terlihat keren dengan penampilannya yang mengenakan celana abu-abu yang senada dengan warna jaket yang dikenakannya apa lagi dia mengendarai motor gede yang membuat penampilannya semakin keren hanya saja postur tubuhnya kurus dan memiliki tinggi badan yang tak terlalu tinggi.
"Nggak! Aku masih sayang sama nyawaku, aku pulang sendiri aja" tolak siswa laki-laki yang bernama Mario. Pengemudi motor itu langsung tertawa.
"Hahaha...payah kamu! Baru dibawa ngebut segitu saja sudah kapok"
"Bodo amat! Dari pada nyawaku melayang gara-gara tadi kamu hampir mau nabrak mobil tronton lebih baik nanti aku pulang sama Jidan aja, dia lebih normal dari pada kamu" Mario lalu pergi.
"Ini kan cuma percobaan aja, motor baru ini, baru dibeliin sama ayah" pekik pengemudi itu agar Mario mendengar ucapannya.
Tapi siswa laki-laki itu terus berlalu pergi tanpa mempedulikannya lagi, kini tinggalah si pengemudi. Tanpa dia sadari banyak sepasang mata yang menatap kagum pada sosok pengemudi itu, terutama para siswi sebab sosok bertubuh kurus dan agak pendek itu terlihat keren dengan motor gedenya.
"Wow! Siapa tuh! Keren banget, apa dia anak baru?" tanya salah satu siswi yang memperhatikan si pengemudi moge yang baru pertama kali terlihat padahal dia pelajar lama yang dulu kesekolah datang dengan diantar oleh ayahnya. Tapi, karena sekarang dia sudah memiliki motor baru jadi dia ke sekolah dengan menggunakan motornya.
Si pengemudi moge itu mulai membuka helmnya dan seketika itu pula rambutnya yang panjang dan lurus langsung tergerai dan disibakan oleh semilir angin, sontak semua tercengang kaget, mereka pikir si pengemudi itu seorang laki-laki tapi ternyata dia itu seorang perempuan.
Semua siswi yang berkumpul untuk melihat si pengemudi itu langsung bubar karena kecewa setelah melihat dan mengenali wajah si pengendara motor. Tapi si pengemudi terlihat cuek saja, dia terus berjalan menuju kelasnya namun langkahnya terhenti ketika ada seorang guru BP memanggil namanya.
"Shabiraaa! Berhenti kamu!" pekikan guru BP itu menusuk pendengaran gadis remaja itu hingga dia menutup kedua telinganya.
Guru BP itu lalu menghampiri Shabira, ditatapnya dari ujung kaki sampai ujung rambut, guru BP itu langsung menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Dia lalu mengarahkan busur penggarisnya kearah celana abu-abu yang dipakai Shabira.
"Ck.. ck.. ck.. kamu ini perempuan atau laki-laki?" tanya guru BP.
Shabira menjawab sambil menundukan kepalanya, "Perempuan pak"
"Lalu kenapa ini celana masih dipake? Peraturan sekolah mengharuskan anak perempuan itu pake rok bukan celana" guru BP itu terlihat kesal pada Shabira karena bukan kali ini saja dia pergi kesekolah dengan menggunakan celana untuk seragam anak laki-laki.
"Ribet pak! Aku datang kesekolah pake motor moge, gak bisa kalau pake rok"
"Kenapa kamu gak minta dianterin aja kesekolahnya oleh ayah atau bunda kamu, atau kalau nggak naik kendaraan umum kek kesekolahnya" saran pak guru BP.
"Nggak bisa pak, ayahku pergi kerja, bunda nganterin adik aku kesekolah, kalau pake kendaraan umum, males ah! soalnya suka ngetemnya lama banget nanti bisa-bisa aku kesiangan datang kesekolahnya"
"Kamu ini ya cari-cari alasan terus, teman-temanmu juga banyak yang datang kesekolahnya dengan menggunakan kendaraan umum, tapi mereka tidak kesiangan tuh"
"Ah! Bapak aku tuh males pake rok" ucap Shabira sambil manyun.
"Ya udah kalau begitu panggil ayah atau bundamu ke sekolah"
__ADS_1
"Mau ngapain pak?"
"Kamu udah diperingati berkali-kali asih aja gak nurut. Jadi panggil bunda atau ayahmu ke sekolah" titah pak guru BP seraya memberikan surat peringatan pada Shabira.
"Yah! Pak, jangan gitu dong nanti aku bisa dimarahin sama bunda" protes Shabira.
"Itu deritamu" kata pak guru BP sambil melengos pergi.
Shabira melongo kaget saat guru BPnya berkata seperti itu, tak lama dia lalu menggeram kesal.
"Iiiihh! Pak guru ko gitu sih?"
Di perpustakaan.
Dari meja pojok tempat para siswa membaca terlihatlah seorang anak laki-laki yang sedang bersedekap diatas meja dengan sebelah pipi yang menempel diatas tumpuan tangannya. Siswa laki-laki itu terlihat memejamkan mata hingga dia tak menyadari ada banyak pasang mata yang dengan sengaja sedang menatap wajah tampan itu. Hingga bel pertanda masuk kelas pun mulai berbunyi
Teng... teng... teng... teng...
Siswa laki-laki itu baru membuka matanya, dia menggeliatkan badannya dan mulai menatap ke sekitar, banyak siswi yang tengah menatapnya sambil tersenyum kagum.
"Kalian sedang apa disini?" tanya siswa laki-laki itu yang tidak lain adalah Jidan.
Semua terlihat gugup saat Jidan bertanya pada mereka, mereka semua segera mengambil buku yang ada dimeja dan berpura-pura membaca buku.
"Kami sedang membaca buku dong" jawab seorang siswi.
"Emang buku terbalik bisa dibaca ya?" tanya Jidan yang mulai menyadari kalau mereka itu semua hanya modus padahal dia tahu mereka seperti itu hanya ingin melihatnya.
Jidan lalu pergi ke kelas karena ini sudah waktunya masuk kelas, setelah Jidan pergi barulah para siswi itu mengikutinya untuk kembali ke kelas masing-masing. Siswa berparas tampan itu terus melangkahkan kakinya.
Saat kakinya hendak masuk kelas, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya karena teman perempuan sekelasnya sedang memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada Jidan. Dia sempat kaget ketika berada diambang pintu kelas karena mendadak dihujani oleh paper cut.
"Jidan, aku sayang sama kamu" ucap Nafisa dengan senyuman yang terbingkai diwajah manisnya.
"Jidan, mau kah kamu jadi pacarku? Jika kamu menerimanya maka ambil mawar merah ini jika kamu menolak maka ambil mawar putih ini" lanjut Nafisa sambil menyodorkan dua bunga ditangan kanan dan kirinya.
Jidan menggaruk kepalanya yang tak gatal, ini bukan kali pertama dia ditembak oleh cewek, minggu kemarin pun dia ditembak cewek hanya saja dia menolaknya karena dia dan Shabira selalu memegang prinsif yang sama. Mereka tidak akan berpacaran karena itu tak dibenarkan dalam agama mereka.
Jika mereka sudah lulus sekolah dan mereka mulai menyukai lawan jenisnya maka mereka akan langsung menikah tanpa harus berpacaran terlebih dahulu. Saat Jidan masih asyik dengan pikirannya sendiri tiba-tiba Shabira datang. Dia terpaksa menghentikan langkahnya karena terhalang oleh Jidan yang masih berdiri diambang pintu.
"Ada apa ini?" bisik Shabira sambil menepuk bahu Jidan. Jidan pun menoleh kearah Shabira.
Dia tak menjawab pertanyaan Shabira, dia malah menarik lengan Shabira lalu menggandengnya.
"Maaf Nafisa, aku tidak bisa menerima kamu soalnya aku udah punya pacar, ini pacar aku, Shabira" ucap Jidan sambil tersenyum. Teman-teman mereka sebenarnya tak ada yang tahu kalau Jidan dan Shabira bersaudara dan tinggal satu rumah jadi orang akan percaya kalau Shabira itu pacarnya Jidan walau faktanya itu bohong.
Seketika netra Shabira langsung membulat sempurna karena kaget tapi pada akhirnya dia menarik garis lengkungan disudut bibirnya pada Nafisa sambil berkata dalam hati.
"Ah! Jidan, kebiasaan deh jadiin aku tumbal buat nolak cewek, entar kalau ada yang ngelabrak aku gimana?"
Mendengar pengakuan dari Jidan membuat Nafisa jadi kecewa dan amat malu karena ditolak oleh Jidan, apa lagi Nafisa nembaknya di depan kelas yang tentunya itu disaksikan oleh semua teman-temannya.
Saking malunya Nafisa, cewek itu langsung berlari keluar kelas dan pergi entah kemana. Tak lama setelah itu guru datang, semua anak langsung duduk ditempat masing-masing termasuk Jidan dan Shabira, pelajaran pun dimulai.
__ADS_1
...****************...
Sepulang sekolah Jidan dan Shabira langsung main kerumah teman mereka, sementara Jani sedang melipat pakaian sambil menemani Eril main.
"Eril, kamu main sendiri dulu ya, bunda mau nyimpen pakain kakak-kakak kamu dan ayah kamu kekamar" ucap Jani sambil menjinjing keranjang yang berisi pakaian.
"Iya bunda" jawab Eril tanpa melihat Jani karena dia asyik dengan mainannya.
Dikamar Shabira, Jani menyimpan pakain dilemari dengan rapih, tak sengaja netranya melihat sebuah surat dengan cap dari sekolahnya, dia yang penasaran lalu mengambil surat itu dan membacanya.
Matanya mulai berselancar disetiap kalimat yang tertulis di secarik kertas itu, seketika wajah Jani jadi merah padam setelah membaca suratnya.
"Shabira, masalah apa lagi yang dia buat hingga mendapatkan surat pemanggilan orang tua ini, anak itu benar-benar ya, minggu kemarin aku sudah dipanggil ke sekolah gara-gara Shabira bikin anak orang jadi semaput, sekarang aku dipanggil lagi. Shabiraaa!" geram Jani kesal sambil mengepalkan kedua tangannya.
Jani lalu kembali ketempat Eril bermain, belum lama dia duduk disofa tiba-tiba terdengar bel rumah bunyi.
Ting... tong... ting... tong...
Jani pun segera membuka pintu rumahnya, terlihatlah seorang ibu yang berdiri didepan pintunya.
"Ibu siapa ya? Dan ada perlu apa datang kesini?" tanya Jani kebingungan.
"Saya ibunya Nafisa, anakmu harus bertanggung jawab sama anak saya" ketus ibu Nafisa.
"Anak saya yang mana? Dan tanggung jawab apa maksudnya?" wajah kebingungan itu ter gambar jelas diwajah Jani.
"Siapa lagi kalau bukan Jidan, dia udah bikin anak saya nangis terus, bahkan dia gak mau keluar kamarnya"
"Emangnya Jidan sudah berbuat apa hingga Nafisa nangis?"
"Saya juga tidak tahu karena setiap Nafisa ditanya dia selalu nangis, sekarang dia terus mengurung dirinya dikamar, katanya dia tak mau keluar kamar dan tak mau bertemu orang karena dia merasa malu atas perbuatan Jidan pada Nafisa" tutur ibu Nafisa dengan ketus.
"Ma... malu, malu kenapa? Emang apa yang sudah diperbuat anak saya pada anak ibu?" Jani sedikit gelagapan, pikirannya yang masih tak paham dengan duduk permasalahannya, langsung berkelana ke hal yang tidak-tidak.
"Harusnya kamu mengerti meski tidak saya jelaskan, intinya anak saya sangat merasa malu atas perbuatan anakmu, jadi saya minta anakmu harus bertanggung jawab" ceroscos ibu Nafisa dengan kesal.
Perasaan Jani mulai tak enak dan dia mulai berpikir yang tidak-tidak tentang anak laki-lakinya yang kini sudah menginjak remaja, mengingat pergaulan anak zaman sekarang lebih meresahkan dari zaman dulu.
Belum hinga rasa shock gara-gara kedatangan ibu tadi tiba-tiba datang lagi beberapa ibu yang mengadukan soal Jidan, karena ketampanan anak laki-laki itu anak gadis ibu-ibu itu banyak yang patah hati hingga membuat para ibu-ibu itu dibuat repot oleh anak gadisnya yang lagi patah hati.
Mereka semua berebut untuk mengadukan permasalahan masing-masing pada Jani hingga membuat kepala Jani hendak meledak karena masalah yang ditimbulkan oleh putra tampannya itu. Belum selesai masalah yang satu, kini masalah lain datang lagi.
Kali ini ada seorang ibu yang membawa anak laki-lakinya yang terlihat babak belur, dia mengadukan soal anaknya yang berkelahi dengan Shabira hingga dia babak belur, ibu itu ingin minta pertanggung jawaban dari Shabira, Seketika itu dada Jani mendadak sesak dan kepalanya terasa pening. Bagaimana bisa kedua anak remajanya membuat kekacauan yang tak henti-hentinya.
Jani yang sudah tak tahan lagi merasa ingin lari dari semua ini, untungnya Atar yang baru pulang kerja langsung membantu Jani menangani ibu-ibu itu.
"Ada apa ini bun, ko rame banget?" tanya Atar pada istrinya.
"Ah! Kebetulan ayah pulang, coba tolong tangani ibu-ibu ini, bunda akan pergi cari Jidan dan Shabira dulu, biar mereka yang menyelesaikan masalahnya sendiri. Bunda udah pusing menghadapi masalah mereka" ujar Jani lalu melengos pergi.
"Hah!" Atar kebingungan, dia yang baru pulang kerja langsung dihadapkan oleh permasalahan ini.
Kemudian dia menatap wajah ibu-ibu itu yang sedang menunggu pertanggung jawaban atas perbuatan kedua anaknya, ibu-ibu menatap Atar dengan tatapan tajam dan ganas seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya, nyali Atar mendadak menciut melihat mereka semua. Dia lalu menyunggingkan senyuman seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Bersambung.