Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Kehidupan baru untuk ketiga pria


__ADS_3

Sesuai jani Atar pada Bu Retno dan Pak Husen, setelah semua orang-orang panti pindah ke kota kelahiran Atar, mereka lalu diberi tempat tinggal, Atar menjadi donatur tetap dipanti itu, rupanya Azka, Jho dan Gio juga ikut menjadi donatur tetap dipanti itu.


Selain itu Atar juga mencarikan lahan yang strategis untuk tempat usaha orang-orang panti karena walau bagaimana pun juga mereka tetap ingin berusaha untuk memenuhi kebutuhan panti tanpa bergantung 100% pada donatur.


Dan kebetulan ada lahan kosong disamping kantor keempat CEO muda itu. Setelah membangun lestoran disamping kantor, Pak Husen segera membuka lestorannya. Karena masakannya enak dan harganya merakyat, banyak pengunjung yang datang ke lestoran itu.


Para karyawan di perusahan yang bergerak dibidang arsitektur itu banyak yang makan ditempat Pak Husen, termasuk keempat CEO tampan itu. Sama halnya seperti siang-siang yang lalu keempat pria tampan itu makan ditempat Pak Husen. Tapi, seperti biasa Atar hanya memesan minuman lestoran itu karena Atar selalu membawa bekal makan siang yang selalu disiapkan oleh Jani.


"Wah! Bawa bekal lagi kamu, Atar?" tanya Jho.


"Iya Jani selalu membuatkan bekal makan siang buat aku" jawab Atar seraya tersenyum.


"Seneng ya, kalau ada yang selalu memperhatikan kita" ujar Gio, Atar hanya membalas dengan senyuman kecil padanya.


Tiba-tiba Azka membagikan tiga surat pada ketiga temannya seraya berkata, "Ini surat undangan untuk kalian"


"Surat undangan apa?" tanya Gio.


"Aku akan segera menikah dengan seorang gadis pilihan orang tuaku, aku dijodohkan karena orang tuaku ingin aku segera menikah. Setelah aku temui gadis itu aku mulai menyukainya karena dia orang yang baik dan ramah jadi aku menerima perjodohan itu" tutur Azka.


Semua langsung tercengang tak menyangka karena selama ini Azka tak pernah bercerita apa pun tentang perjodohan itu hingga tahu-tahunya sekarang dia akan menikah. Tapi pada akhirnya semua merasa senang karena Azka akan segera mengikuti Atar untuk menempuh bidik rumah tangga.


"Wah! Aku benar-benar tak menyangka kamu akan segera menikah, tapi aku bersyukur akhirnya sahabatku ini nyusul aku juga, selamat ya Azka" ucap Atar merasa bahagia.


Gio dan Jho pun mengucapkan selamat pada Azka.


"Terimakasih ya teman-teman, Gio, Jho aku juga berharap kalian akan segera menyusul kami" ucap Azka.


"Kami juga maunya gitu tapi kan belum ada jodohnya jadi ya begini-gini aja" ujar Jho.


"Eh! Jho, bukankah kamu lagi dekat sama anak magang itu ya, dia cantik kenapa nggak kamu halalin aja, cocok tuh sama kamu yang ganteng" ujar Atar sambil tersenyum.


"Dia kan primadonanya di kantor emang dia bakalan mau sama aku?" tanya Jho merasa pesimis.


"Ya elah, Jho. Dia itu bawahan kamu, kalau pun bersaing juga dengan bawahan kamu kenapa kamu malah minder gitu sih, kamu itu ganteng Jho, udah mapan seorang CEO pula kenapa nggak kamu pepet aja gadis itu" Azka memberi dukungan pada Jho yang kemudian didukung juga sama Atar dan Gio.


Rasa percaya diri Jho kini bertambah saat ketiga temannya mendukung dia. Jho sendiri tak memungkiri kalau anak magang di kantornya itu memang cantik dan kepribadiannya membuat dia menyukai gadis itu, dia lalu memutuskan untuk mendekati gadis itu.

__ADS_1


Ketika semua sedang tertawa bersama karena membahas masa depan mereka, Gio hanya ikut tersenyum sebab sejujurnya Gio memang sudah mengikhlaskan Jani untuk Atar tapi rupanya hati Gio belum bisa move on dari Jani, meski perasaannya itu hanya bisa dipendam sendiri dengan rapat-rapat.


"Guys! Aku sudah memikirkan baik-baik lebih baik kita terima saja kerja sama kita dengan Mr Steven, sepertinya itu akan sangat menguntungkan buat kita" ujar Gio tiba-tiba membahas pekerjaan.


"Tapi kan Gio, kalau kita kerja sama sama Mr Steven otomatis harus ada perwakilan dari kita untuk menjalankan bisnis di Australia dan harus menetap disana, sepertinya aku tidak bisa kalau harus tinggal diluar negri" ujar Atar.


"Tenang aja Atar, aku tidak akan merekomendasikan kamu, Azka dan Jho buat pergi, biar aku aja yang pergi. Sepertinya aku lagi butuh suasana baru jadi aku saja yang pergi ke Australia" ucap Gio dengan senyuman simpul.


Entah kenapa ketiga pria itu merasa sedih jika Gio harus pergi jauh. Tapi Gio paham akan perasaan sedih mereka kemudian Gio menunjukan senyum cerianya dan meyakinkan mereka bahwa dia akan baik-baik saja diluar negri sana meski sesungguhnya hati Gio sedih dan sakit tapi dia tak mau menunjukan perasaan itu di hadapan mereka.


"Hey! Kenapa kalian menatapku seperti itu? Ini hanya sebuah bisnis, aku tidak akan pergi untuk selamanya, ini hanya sementara jadi please deh, jangan menampakan wajah sesedih itu" ucap Gio dengan wajah seceria mungkin.


Tapi Atar melihatnya berbeda, meski Gio tak mengatakannya Atar merasa Gio pergi hanya untuk menghindar, Atar jadi merasa bersalah pada Gio. Mungkin Gio memutuskan untuk pergi karena dirinya.


"Apa kamu yakin, kamu pergi karena alasan bisnis bukan karena alasan lain?" tanya Atar yang meragu pada Gio.


Gio yang saat itu duduk di samping Atar lalu menepuk bahu Atar seraya berkata, "Atar, percayalah padaku aku pergi memang karena urusan bisnis bukankan itu bagus jika kita merambat bisnis sampai keluar negri"


Atar tak berkata apa pun lagi meski hatinya merasa bertentangan dengan apa yang diucapkan oleh Gio tapi Atar berpikir lagi mungkin Gio butuh waktu untuk menyendiri, untuk melupakan semua perasaannya pada Jani dan jika ini sudah menjadi keputusan Gio, Atar tidak bisa berkata apa-apa lagi dia hanya akan menerima keputusan Gio.


...****************...


Sesampainya dirumah dia sengaja tak membangunkan orang dalam karena dijam segini mereka pasti sudah tidur dan Atar tak mau membangunkan tidur mereka. Untungnya Atar selalu membawa kunci cadangan rumahnya jadi meski pun rumahnya dikunci dari dalam dia tetap bisa masuk kedalam.


Lampu di ruangan rumahnya sudah banyak yang di matikan, Atar jadi semakin yakin kalau istri dan anak-anaknya sudah pada tidur. Dia langsung hendak masuk kedalam kamarnya tapi didepan kamar terlihat Jani masih belum tidur dia nampak sedang menyetrika pakaian yang terlihat menggunung. Atar lalu memberi salam pada Jani kemudian dia duduk disamping Jani yang masih setia dengan pekerjaannya.


"Assalamu'alaikum, Jani ko kamu belum tidur ini kan udah malam"


"Wa'alaikumussalam, aku nungguin kamu" jawab Jani lalu mencium punggung tangan suaminya kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Atar lalu menyanggakan dagunya dipundak Jani sambil memeluknya dari belakang.


"Ini kan sudah malam harusnya kamu tidur aja, kamu jangan nungguin aku, aku kan udah bilang hari ini aku bakalan lembur"


"Setrikaan aku udah banyak kalau gak dikerjakan sekarang nanti makin menggunung"


"Aku gak mau lihat kamu kecapean ngurusin aku, ngurus anak-anak kita dan ngurus rumah. Aku cariin asisten rumah tangga buat bantuin pekerjaan kamu ya"

__ADS_1


"Nggak usah aku masih bisa ngerjain semuanya sendiri, kalau kamu nyariin asisten rumah tangga buat aku nanti kerjaan aku dirumah apa? Aku bosen kalau harus rebahan terus" tolak Jani masih sambil melakukan aktifitasnya tanpa mempedulikan Atar yang masih memeluknya dari belakang.


"Istriku ini bandel ya kalau dikasih tahu. Tapi terserah kamu aja deh pokoknya aku tak mau ngelihat kamu sakit gara-gara kecapean"


"Tenang aja paksu, istrimu ini orang yang kuat, aku tidak akan gampang sakit" ucap Jani sambil melirik ke Atar yang masih menempelkan dagunya dipundak Jani seraya memberikan senyuman termanisnya pada suaminya itu.


Atar lalu melepaskan pelukannya kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Jani.


"Kita dapat surat undangan dari Azka, dia akan segera menikah" ucap Atar yang sukses mengalihkan atensi Jani hingga dia menghentikan aktifitasnya lalu membuka surat undangan itu.


"Ko kamu gak bilang-bilang sih kalau Azka dekat sama seseorang, tahu-tahu dia udah mau nikah aja"


"Aku, Gio sama Jho juga baru tahu sekarang, orang Azka juga gak pernah cerita apa pun soal calon istrinya pada kami. Kenapa ko kayanya kamu kepo banget sama urusan percintaannya si Azka, Jangan-jangan kamu masih ngarepin dia ya... " kalimat Atar langsung dipotong oleh Jani sambil meraup wajah Atar yang terlihat cemberut.


"Apaan sih kamu, gak jelas deh. Ah! Jangan-jangan kamu cemburu ya?"


Atar tak menjawab dia memilih bergeming seraya menampakan wajahnya yang cemberut.


"Kamu beneran cemburu?" tanya Jani tak percaya tapi Atar masih tetap diam dengan wajah yang masih cemberut.


"Ya elah, kamu masih posesif aja, aku itu sudah jadi milik kamu seutuhnya Rafatar! Lagian si Azka juga sebentar lagi akan menikah jadi apa yang harus membuatmu cemburu padanya?"


"Aku gak mau kehilangan kamu dengan cara atau alasan apa pun" lirih Atar tanpa melihat Jani.


Jani menggelengkan kepalanya dan membuang nafas kasar lalu kedua tangan Jani menyentuh pipi kiri dan kanan Atar dan menghadapkan wajah Atar kepada wajahnya lalu dia berkata seraya menatap dalam-dalam netra suaminya.


"Percayalah sama aku, Atar. Aku juga sangat mencintai dan menyayangimu jika ada perempuan yang mendekatimu aku akan sangat marah dan cemburu jadi kamu juga jangan coba-coba bermain api denganku" ucap Jani dengan nada mengancam.


Bukannya Atar merasa takut akan ancaman Jani tapi dia malah merasa senang sebab kekhawatirannya tidak benar karena Jani juga mencintai dan menyayanginya. Atar lalu mencabut setrikaannya.


"Ko dicabut aku belum selesai nyetrikanya ini" protes Jani.


"Nyetrika bisa dilanjut besok sekarang kita tidur yuk" ajak Atar sambil memboyong Jani tanpa izin.


"Eh! Eh! Kamu mau apa?" tanya Jani sambil gelonjotan.


Atar tak menjawab pertanyaan Jani, dia hanya melemparkan senyuman nakal pada istrinya itu. Jani lalu dibaringkan ditempat tidur kemudian Atar mengunci pintu kamar mereka setelah itu dia kembali mendekati Jani dengan menyeringai seolah dia akan segera menerkam mangsanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2