
Shabira masuk kerumah dengan wajah ceria sambil menenteng dua kantong plastik besar. Jidan yang melihat langsung berlari menghampiri Shabira.
"Shabira, kamu kemana aja sih seharian ini aku nyariin kamu kemana-mana tahu" ucap Jidan
"Alah! Kamu bohong katanya nyari kemana-mana ko kerumah makan gak dicariin padahal seharian ini aku disana bantuin bapak" sangkal Shabira
Jidan lalu tersenyum sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Hehehe... tahu aja kamu, habisnya itu kejauhan jadi aku malas kesana"
"Lagian kamu mau ngapain nyariin aku?"
"Ya aku nggak ada teman main aja. Eh! Ngomong-ngomong kamu bawa apa itu banyak amat?"
"Ini camilan, kamu mau?"
"Mau,mau.Eh! Tapi ko kamu bisa beli camilan sebanyak ini dapat uang dari mana?"
Shabira lalu tersenyum sambil melengos pergi dan Jidan mengikutinya.
"Ini ayah yang beliin" jawab Shabira
"Eh! Eh! Tunggu, kamu bilang tadi ayah? Apa Om Atar sudah mengakui padamu kalau dia adalah ayah kandungmu?" tanya Jidan penasaran.
Shabira lalu tersenyum pada Jidan sambil mengangguk. Mereka lalu memakan camilan itu tapi sebelumnya Shabira memberikan satu kantong plastik pada saudara-saudaranya yang lain yang tinggal dipanti sementara yang satu kantongnya lagi buat dia dan Jidan.
...****************...
Sejak pembicaraan kelima insan itu kini hubungan mereka balik lagi seperti semula, tak ada kemarahan dan saling nyuekin lagi,Atar juga mulai mendekati Shabira untuk menunjukan rasa perhatian dan rasa sayangnya pada gadis kecil itu.
Siang itu, Atar mengajak Jani untuk bertemu karena ada yang ingin dibicarakan mengenai Shabira. Dia pun datang menemui Atar ditempat mereka janjian. Disana sudah ada Atar yang sedang duduk menunggu kedatangan Jani.
"Apa kamu sudah lama menungguku?" tanya Jani yang langsung duduk disamping Atar, di bangku panjang.
"Tidak ko, aku juga baru datang" jawab Atar.
Seketika rasa canggung mulai menyelimuti mereka hingga mereka hanya saling bergeming untuk sesaat. Jani terus menunduk tanpa berani menatap Atar, sementara Atar sendiri, sesekali menatap Jani dari samping.Untuk mengusir rasa canggung itu dia menghirup nafas panjang lalu mengeluarkan dengan perlahan kemudian dia mulai bicara.
"Jani, aku minta maaf karena tak bisa berbuat banyak untuk menebus kesalahanku padamu dan Shabira,aku terpaksa mengikuti persyaratan dari Gio, Jho dan Azka karena aku bingung harus bagaimana lagi agar mereka tak marah padaku"
"Ya sudahlah ikuti saja mau mereka, lagian aku juga tidak akan minta apa-apa dari kamu" ujar Jani tanpa menatap Atar
"Kamu jangan begitu, tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku padamu jadi kalau kamu dan Shabira butuh apa-apa kata kan saja padaku aku akan memenuhinya" ucap Atar sambil menatap Jani.
__ADS_1
"Saat ini kami tidak butuh apa-apa" kata Jani
Atar lalu mengeluarkan amplop berwarna coklat dari tas selempangnya kemudian dia memberikan itu pada Jani.
"Apa ini?" tanya Jani baru menatap Atar.
"Mulai sekarang setiap bulan aku akan memberikan uang padamu untuk kebutuhan Shabira dan kamu, kalau kurang kamu minta aja lagi ke aku"
Jani lalu mengembalikan amplop itu pada Atar.
"Kenapa dikembalikan?" tanya Atar.
"Aku masih mampu membiayai hidupnya Shabira"
"Kamu ko gitu sih, apa kamu tak mau memberiku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik yang bertanggung jawab pada anaknya sendiri?"
"Aku hanya tidak mau merepotkan kamu Atar"
"Ini kan sudah jadi kewajibanku sebagai seorang ayah yang menafkahi anaknya sendiri,jadi tolong diterima ya.Ini untuk biaya sekolahnya Shabira, uang sakunya dia dan tolong belikan juga pakaian baru untuk Shabira, aku nggak tahu seleranya Shabira seperti apa jadi kamu aja yang beliin ya"
Jani menatap netra Atar, ada ketulusan yang tersirat dipancaran matanya akhirnya Jani menerima uang itu. Tapi tiba-tiba Atar mengeluarkan satu amplop lagi.
"Aku lihat Shabira sangat dekat dengan Jidan, sepertinya anak laki-laki itu sangat baik pada Shabira..." kata Atar
"Dari itu tolong berikan juga pakaian baru untuk Jidan ya,kalau ada sisanya kamu bisa pakai buat keperluan Jidan yang lainnya"
"Kamu nggak usah repot-repot, Jidan itu urusan aku"
"Aku lagi ada rezeki lebih makannya aku mau bersodaqoh, aku dengar Jidan itu anak yatim piatu kan? Makannya dari itu aku pilih memberikan sebagian rezekiku pada Jidan,jadi diterima ya uang ini juga buat Jidan" kata Atar sambil tersenyum.
Karena alasan itu Jani pun akhirnya menerima uang itu untuk Jidan. Atar lalu menatap Jani lagi sementara Jani terus memandang kedepan tanpa melihat lawan bicaranya.
"Jani, aku masih penasaran bagaimana bisa kita melakukan itu lalu kamu memilih untuk pergi, bisakah kamu menceritakan semua itu padaku karena aku benar-benar tidak bisa mengingat apa pun?"
Jani lalu menunduk sedih tapi pada akhirnya dia bercerita juga agar Atar tak penasaran lagi, sementara Atar hanya mendengarkan dengan setia sambil terus menatap Jani yang terus menunduk sedih.
"Aku juga tidak ingat apa-apa saat itu. Ketika aku bangun dipagi hari tiba-tiba aku melihat ada kamu,kita tidur diranjang yang sama, satu selimut dan..." Jani menggantung kalimatnya karena merasa berat untuk mengatakannya.
"Dan...tanpa pakaian, aku sangat kaget dan takut saat itu,aku terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi saat itu, berbagai pikiran negatif terus menghantuiku, aku mencoba menepis semuanya dan berusaha berpikiran positif bahwa tak terjadi apa pun diantara kita tapi..." Jani tak kuasa menahan bendungan air matanya
"Saat aku bangun untuk mengambil pakaianku yang ada dilantai aku melihat ada bercak darah diseprai bekas aku tidur, aku jadi semakin yakin kalau sudah terjadi apa-apa diantara kita, seketika aku merasa sangat hancur saat itu. Aku takut bapak marah padaku karena aku gagal mempertahankan kesucianku sampai aku menikah padahal bapak selalu mewanti-wanti aku agar menjaga diriku"
Air mata Jani seketika mengalir deras dikedua pipinya dia lalu menghapus air matanya. Hati Atar merasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri, kalau saja waktu bisa diputar kemasa lalu ingin rasanya dia memperbaiki semua ini agar Jani tak merasakan penderitaan atas kesalahan ini.
__ADS_1
"Aku tak ingin membuat bapak kecewa sama aku,aku takut bapak marah padaku akhirnya aku putuskan untuk pergi sejauh mungkin,aku terus berjalan mengikuti langkah kakiku tanpa mau melihat kebelakang karena aku terlalu takut"
"Mungkin karena aku kelelahan aku pingsan dijalan, pak Hasan dan bu Retno yang saat itu tak sengaja lewat lalu nolongin aku,mereka yang akan pulang setelah mengikuti acara diluar kota lalu membawaku pulang ke panti karena saat aku ditanya tempat tinggalku aku selalu menangis tanpa menjawab apa pun..." Jani menggantung kalimatnya lagi karena menghapus air matanya yang terus menetes.
"Akhirnya pak Husen dan bu Retno memintaku untuk tinggal dipanti asuhan, aku pun mengiyakan karena aku tak ingin kembali pulang aku ingin menghindari masalahku, alih-alih aku terhindar dari masalahku ternyata masalah yang lebih besar menantiku..."
"Awalnya aku tak bisa merasakan apa pun tapi lama-lama ada perubahan dalam tubuhku, aku mulai merasakan ada pergerakan kecil didalam perutku, aku yang tak tahu apa-apa saat itu lalu bertanya pada bu Retno, bu Retno tak banya bicara dia malah membawaku ke dokter..."
"Disana aku diperiksa, dokter bilang aku hamil sudah 5 bulan,seperti disambar petir disiang bolong aku sangat kaget saat itu, hatiku benar-benar hancur,sepulang dari dokter aku terus menangis karena tak bisa menerima kehamilanku ini..."
"Aku ingin menggugurkan kandunganku karena aku tak mau menerima bayi dalam kandunganku tapi bu Retno terus menenangkanku dia menceritakan semua kisah anak-anak dipanti ini yang dibuang oleh orang tuannya,aku merasa miris dengan kisah itu akhirnya aku putuskan untuk tetap mempertahankan kandunganku dan berusaha menerima bayi itu..."
"Setelah dia lahir aku merasa sangat bersalah karena dulu sempat berpikir untuk membunuhnya dengan menggugurkan kandunganku, aku pun menangis dan menyesali semua itu dari itu aku berjanji akan membesarkannya dengan sebaik mungkin, aku juga akan menyayangi dan berusaha untuk selalu membahagiakannya,seperti itulah yang terjadi padaku saat itu" Jani mengakhiri cerita masa lalunya yang kelam.
Atar lalu memegang kedua tangan jani sambil menatap netranya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh dia kemudian berkat sambil menangis.
"Aku minta maaf,Jani.Karena sudah menorehkan luka menganga dihatimu,aku minta maaf karena membuatmu merasa hancur, tertekan, takut dan sedih aku minta maaf, kalau aku tahu dari dulu aku tidak akan biarkan kamu menanggung semuanya sendirian aku minta maaf Jani hiks... hiks... hiks"
"Kamu tidak perlu minta maaf terus, aku tahu kamu juga tak sengaja melakukannya,semua sudah terjadi jadi kita ikuti saja alurnya" kata Jani
"Shabira selalu ingin tahu sosok ayahnya seperti apa, aku merasa kasihan setiap kali menjawab rasa ingin tahunya dengan ketidak pastian. karena sekarang kamu juga sudah tahu kalau Shabira itu anak kandungmu jadi maukah kamu mengaku pada Shabira kalau kamu ini adalah ayah kandungnya?" tanya Jani
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, seolah-olah aku tak mau mengakui Shabira sebagai anak kandungku?" Atar malah balik bertanya.
"Ya...aku hanya ingin kamu mengaku saja pada Shabira kalau kamu ini ayahnya"
Atar tersenyum pada Jani, dia mengatakan bahwa Jani tak perlu khawatir karena Atar sudah mengakui itu pada Shabira.
"Kamu serius sudah bilang itu pada Shabira?"
Atar lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana reaksi dia?"
"Biasa saja"
"Ko bisa? Bukannya dia sangat penasaran sama sosok ayahnya"
"Ternyata Shabira sudah tahu cukup lama bahwa aku ini ayahnya hanya saja dia memilih diam.Aku bangga sama dia, meski dia masih kecil tapi pikirannya seperti orang dewasa, dia sangat bijaksana,suka menolong, prihatin dan sangat pintar.Terima kasih Jani, terima kasih karena kamu sudah membesarkan anak kita sebaik itu" ucap Atar merasa bangga.
Jani hanya tersenyum tanpa berkata apa pun.
Bersambung
__ADS_1