
Sudah beberapa kali Gio pergi ke sekolah tempat dia bertemu dengan bidadari bersayap dongkrak, tapi sang pujaan hati yang dinantikannya tak kunjung dia temukan.
Ya, memang beberapa hari ini Ririn tak mengantar jemput anak-anak karena dia ada urusan pulang pergi ke kota yang membutuhkan waktu seharian jadi untuk urusan antar jemput anak-anak panti ke sekolah untuk sementara diurus oleh pak Husen yang merupakan suami dari bu Retno pemilik panti asuhan Mutiara Bunda.
Karena Gio tak putus asa dan tak menyerah begitu saja, akhirnya penantiannya tak sia-sia. Gio melihat ada sebuah mobil yang tak asing baginya, mobil itu berhenti di tempat biasa pengemudinya menunggu anak-anak pulang sekolah.
Ririn lalu keluar dari mobil untuk menunggu anak-anak pulang sekolah. Dengan wajah sumringah Gio lalu mendekati Ririn.
"Hai! Ririn, selamat siang" sapa Gio.
Ririn menoleh karena namanya disebut.
"Si... Siang. Kamu! Yang waktu itu ban mobilnya kempes kan?" tanya Ririn.
Gio langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Ririn.
"Namaku Gio, nama kamu Ririn kan?"
"Iya, ko kamu bisa tahu perasaan kita belum kenalan deh?" tanya Ririn kebingungan.
"Aku dengar namamu saat adikmu memanggil namamu" jawab Gio.
Ririn lalu mengangguk paham kemudian dia bertanya "Kamu sedang apa disini?"
"Aku sedang ada urusan kerja aja disekitar sini, tiba-tiba ngelihat kamu, ya udah, aku kesini aja dulu" alibi Gio padahal dia sengaja kesini hanya untuk bertemu dengan Ririn.
"Oh, gitu ya. Emang kamu kerja apa?" tanya Ririn.
"Aku bekerja dibidang Arsitektur bersama teman-temanku tapi aku kebagian pemasok bahan materialnya. Kamu pernah mendengar pembangunan parawisata di bukit xxxx?" tanya Gio.
"Oh itu, tentu saja aku tahu karena aku tinggal disana" jawab Ririn.
"Ya elah, jauh-jauh aku nyari Ririn kesini tahunya dia tinggal ditempatku tinggal sekarang ini" batin Gio.
"Pembangunan tempat parawisata itu aku dan teman-temanku yang mengelola pembangunannya" ujar Gio.
__ADS_1
"Aku pernah mendengar sedikit tentang para Arsitek muda dibalik pembangunan tempat parawisata itu, kudengar mereka orang-orang hebat yang sudah membangun banyak tempat-tempat keren dan bagus tapi aku tak menyangka bisa bertemu dengan orangnya langsung" ujar Ririn.
"Ahahaha...kurasa itu terlalu berlebihan kami tak sehebat yang kamu dengar" ucap Gio dengan rendah hati.
"Kurasa aku tak berlebihan, kalian memang hebat"
Mereka terlalu keasyikan ngobrol hingga tak menyadari kalau anak-anak sudah pulang. Saat Ririn dan Gio asyik ngobrol, Shabira hanya menatap mereka dengan tatapan tajam dengan wajah dingin.
"Bunda, Apakah bunda masih lama ngobrolnya? Kami ingin segera pulang" ucap Jidan yang tak sabar menunggu Ririn lama-lama ngobrol dengan pria asing yang terus tersenyum padanya.
Sontak itu membuat Gio tercengang kaget, disaat anak-anak yang lain memanggilnya kakak tapi kenapa anak laki-laki itu memanggil Ririn dengan panggilan Bunda.
Ririn lalu tersenyum pada Jidan sambil mengelus lembut rambutnya dia lalu berkata
"Jidan, kamu dan yang lainnya masuk kemobil dulu ya, bunda mau pamitan dulu sama teman bunda ini tidak lama ko"
"Iya bunda" jawab Jidan lalu masuk.
Ririn hendak menyentuh Shabira sambil tersenyum tapi gadis kecil yang dingin itu seolah enggan disentuh oleh Ririn karena sebelum dia disentuh Shabira sudah masuk duluan kedalam mobil, dia duduk didepan bersama si pengemudi nantinya.
"Ririn, yang lain memanggilmu kakak lalu kenapa anak laki-laki itu memanggilmu bunda? Apa kamu sudah punya anak?" tanya Gio penasaran.
"Iya, aku sudah punya anak, aku sangat menyukai anak-anak makannya dari itu aku mengangkat beberapa anak panti sebagai anak angkatku, Jidan itu adalah salah satu anak angkatku"
"Oh cuma anak angkat ternyata, kupikir Ririn beneran sudah punya anak kandung" batin Gio bisa bernafas lega.
Karena kalau cuma sekedar anak angkat Gio bisa menerimanya lain halnya kalau Ririn beneran sudah punya anak kandung sepertinya harapan Gio untuk mendekati Ririn akan kandas ditengah jalan karena dia tak mungkin merebut Ririn dari suaminya tapi garis takdir seseorang siapa yang tahu bisa saja Ririn itu memang sudah punya suami.
Gio lalu mengangguk paham, setelah itu Ririn pamitan pulang duluan karena anak-anak sudah ingin cepat pulang kerumah. Mereka pun akhirnya berpisah.
Dijalan Shabira terus menatap Ririn dengan tatapan dingin.
"Kamu kenapa ko menatap bunda seperti itu?" tanya Ririn pada Shabira.
"Siapa pria tadi? Apa hubungan bunda dengannya? Kenapa dia terus menatap bunda dengan tatapan mencurigakan seperti itu?" tanya balik Shabira dengan mengintimidasi Ririn
__ADS_1
"Dia orang baru yang bunda kenal, kami cuma berteman tidak lebih, dan soal pertanyaanmu yang ketiga itu, bunda tidak tahu tapi sepertinya dia tak seburuk yang kamu pikirkan, Shabira"
"Aku hanya tidak ingin bunda berteman dengan orang yang salah" ucap gadis kecil itu lalu terdiam
"Terimakasih kamu sudah mengkhawatirkan bunda, bunda akan hati-hati sayang" ucap Ririn sambil mengelus rambut Shabira lalu dia fokus kembali pada kemudi setirnya.
...*************...
Ditempat pembangunan
Atar pergi ketempat pembangunan untuk melihat sejauh mana pembangunan yang sudah jadi sambil terus membawa kumpulan gambarnya.
"Si Jho gimana sih ini, investornyakan minta pembuatan castile dipindah kesini tapi kenapa belum dibikin juga, mana lagi dia? " gerutu Atar lalu mencari Jho.
Rupanya Jho sedang berdiskusi dengan Azka, Atar lalu menghampiri mereka.
"Jho, kamu gimana sih, aku kan udah bilang ke kamu dua minggu yang lalu kalau pembangunan castilenya jadi dipindah kedepan tidak jauh dari tempat penjualan tiket masuk biar saat orang-orang lewat dijalan umum dapat melihat castile ini hingga mereka tertarik untuk mengunjungi tempat ini" protes Atar pada Jho.
"Itu lagi diusahakan untuk segera direalisasikan, Ataaaarr...! Tapi masalahnya kalau ukuran yang kami buat harus tetap mengikuti ukuran didenah yang kamu buat, itu ngga muat, dibelakangnya sudah terlanjur dibuat water park, masa water parknya harus dirubuhkan lagi, coba saja kalau didalam castilenya tidak terlalu banyak wahana yang dibuat, kami bisa saja membangun castilenya dengan ukuran lebih kecil" jawab Jho membela diri.
"Ya gak bisa Jho. Nggak ada yang bisa dikurangi didalam castile itu harus ada salju dan permainannya seperti Sky, bikin boneka salju, rumah iglo dan lain-lainnya biar nuansanya serasa benar-benar dimusim salju, walau pun diIndonesia tidak ada musim salju tapi dengan masuk ke castile ini udah seperti kaya ngerasain langsung musim salju, kita harus propesional dong jangan sampai mengecewakan keinginan investor" tutur Atar.
"Ya ini aku lagi diskusiin soal lahannya sama Azka" kata Jho.
"Sebenarnya kita bisa saja ngegeser kesebelah sana tapi masalahnya si pemilik lahan tidak mau menjual lahannya karena disana ada warung nasi, aku udah nyuruh anak buahku untuk mengurus itu tapi gagal terus aku datangin langsung ke si pemilik lahan dan mencoba menawar dengan harga tinggi tapi dia masih menolak" ujar Azka.
.
"Apa tidak ada cara lain selain memaksa si pemilik lahan untuk menjual lahannya?" tanya Atar.
"Itu cara satu-satunya nggak ada cara yang lain" jawab Jho.
"Ya udah, kalau gitu kita semua datangin si pemilik lahan kita bujuk dia untuk mau menjual lahannya" ucap Atar.
Sejak saat itu keempat pemuda itu membujuk si pemilik lahan untuk mau menjual lahannya tapi si pemilik lahan tetap tak mau menjual dengan alasan itu adalah mata pencarian keluarga satu-satunya yang dimiliki jadi si pemilik lahan itu bersikukuh tetap tak mau menjual lahannya.
__ADS_1
Ketika Gio dan Jho tahu rumah makan itu milik keluarganya Ririn mereka sedikit menentang keinginan Atar dan Azka yang tetap ingin membeli lahan itu.
Bersambung