
Mendadak ingatan Rumi kembali ke beberapa waktu yang lalu, dia mengingat kalau belum lama ini sudah bertemu dengan seseorang yang mengaku bernama Rinjani meski Rumi tak mengenalinya karena gadis tomboy itu sudah berubah.
Kedua netral Rumi mendadak berkaca-kaca saat dia mengingat kedua anak yang waktu itu dibawa oleh Rinjani itu karena Rumi baru tahu kalau anak itu adalah cucu kandungnya sendiri tapi saat itu sikaf Rumi tak begitu memperhatikannya karena dia tak tahu kalau anak itu adalah darah dagingnya Atar.
"Ibu kenapa menangis?" tanya Atar saat melihat wajah ibunya yang sedih dan netranya berkaca-kaca.
"Tadi ibu bertemu dengan Jani, dia membawa dua anak satu laki-laki dan satu perempuan. Kalau ibu tahu anak yang dibawa Jani itu adalah cucu ibu, ibu pasti akan memeluknya" sesal Rumi.
"Selama ini Jani tinggal dipanti asuhan, anak laki-laki itu namanya Jidan, dia anak angkatnya Jani. Anak kandungku itu yang perempuan bu, namanya Shabira Nur Arafah. Pak, Apa bapak masih ingat saat aku bertengkar dengan bang Dion dirumah sakit ketika ibu dirawat dirumah sakit?"
"Iya bapak masih ingat, emangnya kenapa?"
"Shabira yang bapak dengar waktu itu bukanlah nama seorang gadis yang kusukai pak, tapi Shabira yang waktu itu adalah anak kandungku, saat Jho menelepon bahwa Shabira kecelakaan aku sangat khawatir makannya aku buru-buru kembali ketempat kerjaku dan meninggalkan ibu yang saat itu masih dirawat dirumah sakit" tutur Atar menjelaskan.
Tak terasa Rumi meneteskan air matanya saat mengingat kembali kalau tadi dia menabrak cucunya hingga dia jatuh.
"Ya Allah, kalau ibu tahu gadis kecil itu anak kamu, Atar. Ibu pasti akan memeluknya" sesal Rumi mendadak ada kerinduan yang menelusup ke dalam relung hatinya terhadap sang cucu.
"Jadi... Bu, Pak. Aku berharap ibu dan bapak bisa menerima anakku dan aku mohon ibu dan bapak merestui ku untuk menikahi Jani" pinta Atar dengan memelas.
"Tentu saja bapak akan merestui kamu Atar, cepat bawalah cucu bapak kerumah ini"
"Ibu juga akan merestui kamu menikah dengan Jani"
"Terimakasih bu, bapak, aku janji akan segera menikahi Jani" ucap Atar merasa bahagia.
Tanpa mereka sadari Dion menguping pembicaran mereka dan Dion yang tak setuju adiknya akan menikah dengan alasan Dion takut kalau Atar akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya lalu menentang keras pernikahan Atar.
Brak!
Dion memukul meja makan dan itu membuat semua kaget, atensi mereka lalu terarah pada Dion.
"Atar! Gue gak setuju kalau lo mau nikah, kalau lo tetap nekad gue bakal acak-acak acara pernikahan lo" ancam Dion dengan tatapan tajamnya.
"Dion! Kamu ini apa-apan? Kamu tidak berhak melarang adikmu untuk menikah apa lagi sekarang Atar sudah punya anak dari gadis yang akan dinikahinya, kamu tidak boleh bersikaf egois Dion" hardik Rumi.
"Bu, aku tidak mau Atar mengalami nasib yang sama denganku gagal menikah karena calon istri ku kabur dengan pria lain"
__ADS_1
"Kamu dan Atar itu beda Dion, gadis yang akan dinikahi Atar itu sudah melahirkan anaknya adikmu jadi dia tidak mungkin lari dengan pria lain, lagian kita semua mengenal baik gadis itu, dia itu adalah Rinjani, teman masa kecilnya Atar, anaknya Hadi"
"Tetap saja bu, aku tidak setuju kalau Atar menikah, kalau pernikahannya tetap dilaksanakan aku tidak akan tinggal diam" ancam Dion lalu dia pergi.
"Dion! Kamu tidak bisa begitu, Atar tetap akan menikah meski kamu melarangnya" teriak Rumi agar didengar oleh putra sulungnya yang terus melangkah pergi menjauhi mereka.
Atar jadi merasa khawatir, dia takut kalau kakaknya akan benar-benar menjadi penghalang baginya untuk bisa menikahi Jani. Rumi yang menyadari ada kegelisahan diwajah putra bungsunya itu lalu meyakinkan dan menenangkan Atar.
"Kamu jangan khawatir kita akan tetap melamar Jani meski kakakmu tidak setuju. Ibu akan membujuk kakakmu agar mengikhlaskan dan meridhoi supaya kamu bisa menikah dengan Jani. Jadi kapan kita akan kerumah Jani untuk membicarakan soal ini?"
"Terimakasih ibu, bapak karena ibu dan bapak merestuiku untuk menikahi Jani. Aku berharap kita menyegerakan ini dan tak menunda lama-lama niat baikku ini"
"Kalau begitu bagaimana kalau besok kita kerumah Jani, bapak dan ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucu kami" ucap Arya.
"Baik Pak, aku akan segera mengabari Jani soal kedatangan kita ke rumahnya"
Setelah mengobrol banyak dengan kedua orang tuanya Atar lalu menelepon Jani untuk mengabari bahwa dia dan kedua orang tuanya akan segera datang kerumah untuk membahas soal pernikahan mereka.
Esok hari kemudian.
Hari minggu pagi ini Atar dan kedua orang tuanya sudah bersiap untuk pergi kerumah Rinjani, saat mobil mereka sampai dihalaman rumah Jani, Atar mematikan mesinnya lalu keluar dari mobil bersama kedua orang tuanya.
Bel rumah pun ditekan dan tak berapa lama penghuni rumah membukakan pintu, dari balik pintu muncullah seorang gadis kecil berambut panjang yang dikucir satu.
"Assalamu'alaikum, Shabira" salam Atar pada putrinya sambil tersenyum.
"Wa'alaikumussalam, ayah!" Shabira sedikit kaget akan kedatangan ayahnya di pagi ini sebab Jani lupa memberitahukan padanya kalau ayah, nenek dan kakeknya akan datang kerumah pagi ini. Shabira lalu mencium tangan ayahnya.
"Shabira, ayah kesini sama nenek dan kakekmu, salim dulu gih sama nenek dan kakek" titah Atar dengan menerbitkan senyuman ramah.
Atar lalu minggir kesamping karena menghalangi kedua orang tuanya, gadis kecil itu sejenak menatap nenek dan kakeknya. Rumi dan Arya lalu tersenyum padanya. Shabira segera mencium punggung tangan nenek dan kakeknya.
Ketika sudah mencium punggung tangan Rumi, gadis kecil itu langsung dipeluk oleh Rumi.
"Cantik, bagaimana kabarmu?" tanya Rumi masih belum melepaskan pelukannya pada sang cucu.
"Alhamdulillah aku baik" jawab Shabira dengan membiarkan tubuhnya dipeluk sang nenek.
__ADS_1
Tak terasa butir bening Rumi berhasil lolos dari pertahanannya, nuraninya merasa sedih, haru dan senang semua bercampur menjadi satu. Sedih karena dia baru bisa bertemu dengan cucunya setelah dia berusia 9 tahun tanpa tahu kapan lahirnya, seperti apa saat dia bayi dan bagaimana tumbuh kembangnya.
Haru dan senang karena Rumi melihat cucunya begitu cantik dan sehat, dia yang sebenarnya sudah sangat menantikan seorang cucu kini keinginannya telah dikabulkan dan itu membuat Rumi amat bahagia.
"Maafin nenek ya, sayang. Nenek baru menemui kamu setelah kamu sudah sebesar ini" ucap Rumi yang merenggangkan pelukannya.
Ketika Rumi terhanyut dalam perasaannya tiba-tiba Hadi datang dan langsung menyambut tamunya. Menyadari yang datang itu keluarga Atar, Hadi langsung mempersilahkan mereka masuk lalu duduk.
Atar duduk disofa sendirian, Shabira duduk di tengah-tengah nenek dan kakeknya sementara Hadi duduk di sofa lain yang posisinya menghadap kearah Atar. Setelah itu Hadi memanggil Jani yang saat itu ada didapur, dia di suruh membuatkan minuman untuk tamunya.
Jani merasa amat gugup ketika dia akan menemui kedua orang tua Atar padahal ini bukanlah kali pertamanya bagi Jani untuk bertemu dengan mereka. Dahulu waktu dia kecil dan remaja dia sering main kerumah Atar dan juga bertemu dengan kedua orang tua Atar.
Mungkin kali ini perasaannya berbeda karena sekarang kedua orang tua Atar akan menjadi mertuanya jadi Jani amat gugup, rasanya seperti anak gadis yang didatangi calon mertuanya untuk meminang Jani untuk anaknya.
Jani lalu mengumpulkan keberaniannya untuk menemui mereka, kakinya mulai melangkah menuju ke ruang tamu meski perasaannya sedang menciut. Diruang tamu dia terus menunduk malu sambil membagikan minuman kepada semua orang. Setelah itu Jani duduk disamping bapaknya.
Entah mengapa Atar merasa gemas memandang Jani yang terlihat malu-malu, ini seperti bukan Jani yang dikenalnya. Tanpa menunda-nunda lagi Arya sebagai orang tuanya Atar lalu membuka pembicaraan.
"Eeee... kita langsung saja ya. Hadi, mungkin kamu sudah tahu maksud kedatangan kami ke mari ini untuk apa"
"Iya Arya saya sudah tahu, Jani sudah memberitahukan saya"
"Iya sebelumnya kami selaku orang tuanya Atar dan juga Atar ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Jani, kamu Hadi dan juga keluargamu atas kesalahan yang sudah dibuat oleh Atar pada Jani hingga kalian terpisah begitu lama. Seperti yang sudah kita tahu tentang Jani, Atar dan juga cucu kita Shabira dari itu kami kesini mau melamar Rinjani secara langsung dan tanpa mau menunda lama-lama lagi kami ingin Rafatar dan Rinjani agar segera menikah, Apakah kamu merestui anak kami menikahi putrimu, Hadi?" tanya Arya.
Hadi mengulas senyuman dibibirnya seraya berkata "Jani, saya dan keluarga kami sudah memaafkan kesalahan yang sudah Atar buat dan dari itu juga saya selaku bapaknya Rinjani akan merestui pernikahan antara Jani dan Atar"
Keluarga Atar lalu mengucap puji syukur, mereka lalu membahas tentang tanggal pernikahan Atar dan Jani hingga ditetapkanlah tanggal pernikahannya sesuai kesepakatan bersama. Terhitung dari sekarang hingga hari H mereka mempunyai waktu sebulan untuk mempersiapkan acara pernikahannya.
"Baiklah kita sepakat pernikahan Jani dan Atar akan dilaksanakan sebulan lagi. Tapi sebelumnya kami minta bantuanya pada semua, tolong jangan ceritan dulu tanggal pernikahan Jani dan Atar pada Dion, kakaknya Atar sebab dia tidak setuju kalau adiknya akan melangkahi dia dengan menikah duluan alasannya karena Dion tak ingin Atar mengalami nasib yang sama seperti dirinya yang pernah gagal menikah karena calon istrinya kabur sama pria lain. Padahal kami percaya Jani tidak akan seperti itu pada Atar"
"Oh iya kalau begitu kami tidak akan menceritakan itu pada siapa pun hingga mendekati hari H"
"Sekali lagi kami mohon maaf ya, karena kami merepotkan kalian, kami janji akan membujuk Dion dan memberi pengertian padanya hingga dia merestui adiknya menikah duluan" kata Arya.
"Iya tidak apa-apa, kami akan memaluminya" ucap Hadi seraya mengulas senyuman di bibirnya.
Setelah mendapatkan kesepakatan antara dua keluarga hingga ditetapkannya tanggal pernikahan mereka, mereka kemudian mengobrol banyak hal hingga lupa waktu.
__ADS_1
Bersambung