Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Dikunci


__ADS_3

Jidan memilih semak belukar untuk bersembunyi dengan berjongkok dari kejaran Shabira saat dia melihat gadis kecil itu sudah dekat dengannya. Tiba-tiba ada sekawanan semut rangrang yang merayap dikaki Jidan sontak dia berteriak sambil jingkrak-jingkrak karena kulitnya digigit semut kecil itu.


"Aaawww!!" pekik Jidan.


Teriakannya membuat Shabira berbalik arah dan mendekati sumber suara. Gadis kecil itu lalu menatap tajam dan mematung dihadapan Jidan yang masih mengusir semut-semut yang merayap dikakinya.


Akhirnya Jidan menyadari kehadiran Shabira yang kala itu masih menatapnya sambil menyilangkan kedua tangannya didada. Jidan langsung manyun kemudian dia langkahkan kakinya untuk menghidari Shabira.


Tapi Shabira tak membiarkan Jidan pergi dia lalu menarik ransel dipundak Jidan hingga dia beringsut mundur.


"Lepaskan aku Shabira! Kenapa kamu menahanku?" ketus Jidan.


"Kamu kenapa sih ketus gitu sama aku? Dan kenapa juga kamu pergi sambil bawa ransel gini? Apa ini isinya?" tanya Shabira sambil menggeledah ransel milik Jidan yang masih digendong oleh Jidan.


Jidan hanya pasrah ketika resleting ranselnya dibuka oleh Shabira dan isinya dicek oleh gadis kecil itu.


"Baju! Kenapa kamu bawa baju sebanyak ini? Kamu mau kemana?" tanya Shabira heran.


Jidan mengibaskan tangan Shabira yang masih memegang ransel yang digendong olehnya kemudian dia menatap tajam pada gadis kecil itu.


"Kamu nggak usah ikut campur, terserah aku mau kemana-mana juga ini bukan urusan kamu karena mulai sekarang kamu bukan saudaraku lagi" ucap Jidan dengan tegas.


Peletak!!


"Aaww! Sakit tahu" protes Jidan sambil manyun.


"Kenapa kamu ngomong kaya gitu? Sampai kapan pun kita akan tetap bersaudara Jidan!" Tegas Shabira.


"Itu tidak akan berlaku lagi sejak kamu memilih ikut pulang dengan ayahmu setelah proyek pembangunannya selesai. Aku bukan anaknya om Atar jadi dia tidak akan mengajakku" ucap Jidan langsung murung.


"Hhmm! Jadi gara-gara itu kamu memilih pergi dari panti?" tanya Shabira sambil tersenyum kecut.


Jidan tak menjawabnya dia hanya menampakan wajah tak suka pada Shabira. Gadis kecil itu lalu menggaet leher Jidan untuk mengajaknya kembali pulang ke panti tapi Jidan malah melepaskan tangan Shabira dan tetap melanjutkan niatnya untuk kabur dari panti.


"Aku serius Shabira! Kamu tidak akan bisa menghentikan niatku karena percuma saja aku tinggal dipanti jika saudaraku sendiri tidak peduli denganku dan kamu..." Jidan menggantung kalimatnya sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Shabira.


"Jangan mengikutiku! Biar kan aku pergi sejauh mungkin" lanjut Jidan lalu pergi dengan mempercepat langkah kakinya.


Sepertinya ucapan Jidan itu serius jadi Shabira tak bisa membiarkan Jidan pergi makannya dia terus mengikuti Jidan dan terus membujuknya untuk kembali pulang hingga tak terasa mereka pergi sudah amat jauh dari tempat tinggal mereka.


Di Bogor


Sejak Atar menginjakan kakinya ditanah kelahirannya dia tetap menunggu dengan setia disamping ibunya yang masih belum sadarkan diri.


Tiba-tiba jari jemari ibunya mulai bergerak sontak Atar langsung memberi tahukan itu pada bapaknya yang sedang duduk menunggu didepan kamar pasien.


Arya yang mendengar langsung memanggil Dokter untuk memeriksa istrinya. Tak lama Dokter pun datang lalu memeriksa Rumi. Mereka bersyukur ketika Dokter menyatakan bahwa Rumi sudah melewati fase keritisnya kini dia hanya tinggal pemulihan saja.


Saat kesadarannya sudah sepenuhnya kembali ditatapnya wajah putra bungsunya yang kini sedang duduk disampingnya dengan perasaan yang bercampur aduk antara sedih, khawatir dan senang karena wanita yang sudah melahirkannya itu kini telah kembali siuman.


"A-Atar...!" ucap Rumi dengan terbata-bata.


Atar segera mencium punggung tangan ibunya, sambil memegangi tangan sang ibu yang sudah terlihat ada sedikit kerutan karena usianya yang sudah 50 tahun, Atar lalu berkata.


"Iya bu, ini aku Atar. Bagaimana keadaan ibu?"


Rumi mengembangkan senyuman disudut bibirnya sambil mengelus lembut pucuk kepala putra bungsunya itu dengan tangan sebelahnya lagi masih sambil terbaring lemah ditempat peraduannya.


"Ibu sudah lebih baikan nak. Kapan kamu kembali kesini?"


"Kemarin malam bu, setelah bang Dion meneleponku mengabarkan padaku bahwa ibu sakit aku langsung pulang karena mencemaskan ibu" jawab Atar masih memegangi sebelah tangan ibunya.


"Maafkan ibu sudah membuatmu cemas hingga kamu harus pulang padahal tempat kerjamu sangat jauh lalu kalau kamu kesini bagaimana pekerjaanmu disana?" lirih Rumi dengan lemahnya karena baru sadar dari masa keritisnya.


"Tidak apa-apa bu, ibu jangan hiraukan pekerjaanku disana kan ada Azka, Gio dan Jho yang ngurus. Ibu lebih penting dari pada pekerjaanku aku pasti kesini kalau ibu kenapa-kenapa" ujar Atar.


Rumi lalu tersenyum karena merasa bahagia mempunya putra seperti Atar yang sangat sayang dan perhatian pada ibunya sendiri, dia juga bertanggung jawab pada hidupnya, tidak pernah merepotkan kedua orang tuanya dan selalu membuat orang tuanya bangga.

__ADS_1


Beda halnya dengan putra sulungnya yang tak bisa diandalkan, pengangguran dan suka bikin onar tapi meski begitu kedua putranya sangat disayangi oleh Rumi.


...****************...


Cahaya jingga mulai menghiasai langit, kedua anak itu masih terus berjalan dan saling diam hingga Shabira menarik tangan Jidan dan memintanya untuk berhenti karena lelah sudah berjalan sejauh ini.


"Jidan aku cape berhenti dulu yuk"


Sebenarnya Jidan juga merasa lelah hanya saja dia merasa gengsi untuk mengungkapkannya pada Shabira karena dia masih dalam mode ngambek pada gadis kecil itu. Akhirnya dia ikut duduk ditrotoar jalan bersama Shabira.


Krucuk...krucuk...krucuk...


Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan minta diisi oleh pemiliknya. Jidan lalu membuka ranselnya dia hendak mencari makanan atau uang untuk membeli makanan. Tapi rupanya dia tak bawa makanan atau pun uang diranselnya akhirnya Jidan hanya menghela nafas kecewa.


Shabira yang menyadari itu lalu berdiri kemudian dia berkata dengan meledek Jidan


"Kabur ko gak bawa uang"


"Nggak usah ngomong kamu, terserah aku dong mau bawa uang atau tidak" ketus Jidan.


Shabira lalu berkacak pinggang sambil berdecak heran karena Jidan yang masih ketus padanya dikeadaan seperti ini.


"Ck...ck...ck...Apa kamu masih tidak mau menyerah untuk kabur dan ketus sama aku?" tanya Shabira.


Jidan tak membalas dia malah memalingkan wajahnya dari Shabira.


"Ya udah kalau itu mau kamu, aku akan tetap mengikutimu kemana pun kamu pergi"


"Kamu tunggu dulu disini aku akan beli roti untuk mengganjal perut kita" pinta Shabira.


Jidan pura-pura acuh padahal dia ingin menunggu Shabira yang akan membeli roti karena Jidan sudah merasa sangat lapar. Tak lama Shabira kembali dia memberikan beberapa roti pada Jidan kemudian dia duduk disamping Jidan.


"Udah ambil nggak usah so gengsi gitu aku tahu kami lapar" ujar Shabira seraya memberikan roti itu ke tangan Jidan.


Dengan ragu dan gengsi awalnya Jidan hanya ngelihatin saja tapi lama-lama rasa gengsinya berhasil dikalahkan oleh rasa lapar yang mendera akhirnya kedua bersaudara tak sedarah itu memakan rotinya. Shabira menyunggingkan senyuman dengan mulut penuh makanan pada Jidan yang kala itu masih belum bersahabat karena masih dalam mode ngambek.


Hari mulai gelap kedua bocah itu masih duduk ditrotoar jalan dengan diterangi lampu jalanan yang remang-remang.


"Kamu aja sendiri yang pulang aku akan tetap disini, panti bukan rumahku lagi aku akan mencari orang tua yang mau mengadovsiku" tolak Jidan.


"Kamu masih marah gara-gara ayahku akan ngajak aku dan bunda pulang untuk tinggal bersama?"


Lagi-lagi Jidan tak menjawab dia memilih bungkam sambil membuang muka.


"Oke kalau itu mau kamu aku akan tatap disini sama kamu biar kamu yakin aku tidak akan pergi tanpa kamu Jidan"


Hening!


Mereka akhirnya saling diam untuk waktu yang cukup lama hingga tiba-tiba ada seorang kakek yang menghampiri mereka.


"Hi nak. Kenapa kalian duduk disini padahal hari sudah malam?" tanya si kakek.


"Kami hendak pulang kek, disini kami sedang menunggu angkot tapi angkotnya belum ada terus" jawab Shabira.


"Oh begitu ya..." ucap si Kakek tapi tiba-tiba kakek itu mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya.


Sontak Jidan dan Shabira langsung memburu kakek itu.


"Kakek kenapa?" tanya Jidan.


"Dada kakek sakit" jawabnya dengan lemah.


Shabira celingukan berharap dia menemukan sosok orang dewasa yang bisa menolong si kakek tapi harapannya kandas karena tak ada siapa pun ditempat itu kecuali mereka bertiga. Dari raut wajahnya yang terus meringis sambil terduduk lemas dijalan kakek tua itu terlihat makin kesakitan membuat kedua bocah itu merasa iba dan khawatir pada si kakek.


"Aduh! Bagaimana ini? Apa yang bisa kami bantu kek?" tanya Shabira cemas.


"Tolong antar kakek pulang saja, dirumah kakek punya obatnya ko"

__ADS_1


"Baik kek. Jidan, Ayo bantu kakek berdiri" titah Shabira.


Jidan dan Shabira lalu membantu si kakek berdiri. Dengan langkah gontai mereka memapah si kakek untuk sampai kerumahnya.


Di tempat lain.


Rinjani mulai panik ketika menyadari Shabira dan Jidan tak ada dirumah dan kedua bocah itu belum kembali pulang. Jani lalu mencari kesekeliling rumah tapi mereka tak ditemukan juga hingga dia bertemu dengan bu Retno.


"Bu Jidan dan Shabira tak ada dirumah apa ibu tahu mereka ada dimana? Atau apa mungkin mereka dirumah makan sama bapak?" tanya Jani pada bu Retno.


"Ibu baru saja dari sana tapi disana tidak ada Jidan dan Shabira" jawab bu Reno ikut panik.


"Apa! Mereka tidak ada disana? Kalau begitu mereka dimana?"


Perasaan Jani makin tidak enak saat semua orang-orang panti tidak ada yang tahu kemana perginya kedua bocah itu. Akhirnya Jani, bu Retno, mbak Tari, pak Husen dan beberapa anak panti yang sudah besar membantu mencari keberadaan kedua bocah itu.


Dirumah kakek.


"Ini rumah kakek, mari masuk nak" ajak si kakek.


Kedua bocah itu merotasikan pandangannya kesekeliling rumah yang terlihat seperti sebuah vila yang jauh dari para tetangga. Mereka semua lalu masuk.


Didalam rumah kakek itu mengambil obatnya lalu meminumnya dihadapan kedua bocah itu dan tak berapa lama kondisi si kakek mulai membaik. Shabira dan Jidan lalu duduk disofa yang ada diruang tamu.


"Terimakasih ya kalian sudah menolong kakek" ucap kakek tua itu.


"Iya sama-sama kek" serempak Shabira dan Jidan berucap.


"Ini sudah malam bagaimana kalau kalian bermalam saja dulu disini besok baru pulang" kakek itu menawari Shabira dan Jidan.


Jidan yang sejatinya tak ingin pulang kerumah karena masih dalam mode protes terhadap Shabira, dengan cepat langsung menerima tawaran sang kakek.


"Iya kek aku nginep dirumah kakek" kata Jidan.


Shabira langsung menyikut anak laki-laki itu, kedua ekor matanya langsung mengisyaratkan ketidak setujuannya pada tindakan Jidan, tapi anak laki-laki itu tak peduli dia malah terlihat acuh pada Shabira.


Hingga pada akhirnya mau tak mau Shabira terpaksa harus menginap dirumah sang kakek. Karena dirumah ini kamarnya cuma ada dua terpaksa Shabira dan Jidan tidur dikamar yang sama.


"Nah! Ini kamarnya. Maaf ya kalian harus tidur dikamar yang sama tapi kalian tidak usah khawatir tempat tidurnya ada dua ko bekas cucu kakek dulu" ujar si kakek saat berada didepan pintu kamar.


"Iya tidak apa-apa kek" kata Jidan.


Kakek itu langsung mempersilahkan Shabira dan Jidan untuk masuk ke dalam kamar ketika kuncinya sudah terbuka. Kedua bocah itu pun langsung masuk ke kamar.


Dan tanpa aba-aba lagi si kakek langsung menutup pintu dan mengunci mereka didalam kamar sontak itu membuat Jidan dan Shabira bertanya-tanya.


"Jidan, kenapa kakek itu mengunci pintunya?" tanya Shabira.


"Aku juga tidak tahu" jawab Jidan sambil mencoba membuka handle pintunya.


Ceklek!


Ceklek!


Ceklek!


"Kek buka pintunya kek. Kenapa kami dikunciin kek!" teriak Shabira dan Jidan.


Tapi tak ada sahutan dari luar meski mereka terus berteriak hingga tiba-tiba ada seseorang yang menyahut pada mereka.


"Percuma kakek itu tidak akan membukakan pintu untuk kalian sekencang apa pun kalian berteriak padanya"


Mendengar itu Jidan dan Shabira langsung berbalik untuk melihat si pemilik suara. Di lihatnya bocah berusia 9 tahunan sedang duduk dilantai dengan bersedekap tangan diatas kedua lututnya.Shabira dan Jidan langsung mendekati anak laki-laki itu.


"Kamu siapa? Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Shabira sambil jongkok dihadapan anak itu.


"Namaku Azhar, aku pun sama seperti kalian dikunciin di kamar ini, kakek itu tidak akan membiarkan kita keluar dari kamar ini" jawab Azhar.

__ADS_1


"Kenapa begitu?"


Bersambung


__ADS_2