Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Hal gila yang tak pernah aku dengar


__ADS_3

Didalam Rumi menatap putra bungsunya dan juga menatap Raisa, dia benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa putra bungsunya itu berbuat kesalahan besar seperti ini, seolah Atar tak mempedulikan perasaan istrinya, Rinjani.


Ini terasa begitu menyesakan bagi Rumi tapi dia sadar, dia tak bisa terus diam berlama-lama karena disini ada seorang wanita dengan bayinya yang sedang menunggu pertanggung jawaban dari putra bungsunya itu, sejenak Rumi berpikir tindakan apa yang harus dia lakukan.


Sementara Atar dan Raisa hanya bergeming sambil menunggu keputusan dari Rumi hingga akhirnya ibu dua anak itu mulai bersuara.


"Ibu tidak bisa memutuskan sekarang karena ibu tak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar dari itu beri ibu waktu untuk memutuskan keputusan apa untuk masalah ini" Rumi terdiam sejenak kemudian dia menatap wajah putranya.


"Atar, Apa Jani tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Raisa?"


"Aku belum sempat menjelaskan semuanya bu, Jani keburu marah sama aku dan sekarang dia tak mau menemuiku" jawab Atar sedih.


"Atar, kamu ini adalah seoarang laki-laki, kamu juga seorang suami dan juga seorang ayah bagi anak-anakmu, dari itu kamu harus bersikaf dewasa dan bijaksana. Ini masalahmu kamu harus menyelesaikannya sendiri, terlepas kamu benar atau salah kamu harus tetap berlaku adil, jangan jadi pengecut, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu buat... " kalimat Rumi dipotong oleh Atar.


"Tapi bu, aku tidak berbuat apa-apa dengan Raisa, ini hanya salah paham saja"


Raisa yang tak mau disalahkan dalam masalah ini langsung angkat suara.


"Mas, Kenapa kamu terus menyangkal dan berdusta, kita memang pernah menikah dan pernah tidur satu kamar..." kalimat Raisa dipotong oleh Atar.


"Berhentilah bicara omong kosong, Raisa! Ucapanmu itu seolah-olah kita pernah berbuat yang tidak-tidak, padahal faktanya aku tak pernah menyentuhmu sedikit pun, aku tidak kenal siapa dirimu karena pertemuan kita hanya satu kali, jadi bagaimana bisa kamu terus membicarakan omong kosong itu"


Seketika itu juga Raisa langsung menangis terisak-isak seraya berkata dengan lirih agar Rumi percaya padanya, "Kenapa semua laki-laki itu bregsek, mau enaknya aja, Kenapa perempuan selalu jadi korban kebiadaban laki-laki, Kenapa kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu padaku mas? Apa karena aku seorang wanita lemah yang bisa kau ambil manisnya lalu sepahnya kau buang begitu saja hiks..hiks..hiks"


Atar melongo kaget mendengar Raisa terus memojokannya di hadapan ibunya, dia meremas kedua pahanya dengan kuat karena merasa kesal pada Raisa, Atar lalu menatap ibunya, ada raut kekecewaan diwajah yang kini sudah tidak muda lagi itu. Itu membuat Atar merutuki dirinya sendiri didalam hati karena dia takut ibunya akan percaya pada Raisa.


"Ibu harus percaya sama aku, aku tidak berbuat apa-apa dengan Raisa"


"Mas Atar, bohong bu"


"Raisa...!" Atar menghardik Raisa dengan tatapan tajam.


"Sudah, cukup! Lebih baik sekarang kamu urus Jani dulu, sementara kamu, Raisa! Tinggallah dulu dirumah ibu, biarkan Atar memberi pengertian pada istrinya karena masalah ini pasti sulit diterima oleh Jani" ucap Rumi menengahi mereka.


Raisa akhirnya setuju dengan usulan Rumi kemudian Rumi segera membawa Raisa kerumahnya. Tapi sebelum mereka pergi Atar meminta bicara empat mata dengan ibunya, Rumi pun mengikuti keinginan putra bungsunya itu.

__ADS_1


"Bu, Ibu percayakan sama aku kalau aku tidak berkhianat pada Jani?" tanya Atar dengan memelas.


Rumi lalu menatap netra putra bungsunya itu, seakan wanita tua itu bisa menyelami hati putra bungsunya yang tengah dilanda kegundah gulanaan, Dia lalu meyakinkan Atar dengan berkata.


"Atar, ibu percaya sama kamu kalau kamu tidak mungkin selingkuh dari Jani. Tapi, ibu tidak bisa berpihak padamu sebum ada bukti yang jelas dan kuat yang menyatakan bahwa kamu benar-benar tidak selingkuh. Meski pun Raisa bukanlah anak ibu tapi ibu harus berlaku adil pada wanita yang sedang menuntut keadilan untuk hidupnya dan juga bayinya. Jadi buktikanlah pada ibu dan semua kalau kamu memang tidak selingkuh"


Atar lalu mengangguk dengan penuh keyakinan, Rumi lalu menepuk bahu putranya sambil menyemangati Atar. Raisa yang terus memperhatikan mereka dari jauh lalu bergumam, "Apa yang mereka bicarakan? Apa mas Atar sedang mempengaruhi ibunya untuk tidak mempercayaiku? Ini tidak boleh dibiarkan aku harus membuat ibunya mas Atar mendukungku dan mempercayaiku"


Setelah itu dia pulang kerumahnya bersama Raisa.


...****************...


Sejak kejadian tadi pagi Jani masih tak mau bicara dengan Atar, dia masih bersikaf dingin pada suaminya itu. Meski begitu Jani tetap memperhatikan anak-anaknya dengan menyiapkan makan malam untuk semua, setelah selesai Jani kembali mengurung diri dikamar. Kali ini dia pergi ke kamarnya karena tak mau mengganggu tidur putrinya.


Wanita cantik itu kini telah meringkuk diatas tempat tidurnya meski sebenarnya dia belum tidur karena masih belum ngantuk dan karena dia terus kepikiran akan wanita yang mengaku sebagai istri dari suaminya itu.


Tak berapa lama Atar pun masuk kekamar dan langsung duduk disamping Jani yang kini meringkuk membelakanginya. Atar pikir inilah waktu yang tepat untuk menceritakan semua tentang semua yang terjadi antara dirinya dan Raisa.


"Jani, aku ingin bicara sama kamu, aku ingin menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi antara aku dan Raisa, agar tak ada lagi kesalah pahaman antar aku dan kamu"


"Jani, tolonglah percaya sama aku, aku sangat mencintai kamu, aku tidak mungkin berkhianat" bujuk Atar namun Jani memilih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena tak mau mendengarkan Atar.


"Baiklah kalau kamu tak mau memaafkan aku, aku akan terima jika kamu amat marah dan tak mau bersamaku lagi, meski berat hati aku juga akan menerimanya tapi asalkan kamu mau mendengarkan penjelasanku satu kali saja, setelah kamu mendengarkan penjelasanku apa pun keputusan kamu, aku akan menerimanya. Jadi tolong dengarkanlah aku bicara" pinta Atar dengan memelas.


Akhirnya Jani membuka selimutnya, dia duduk sambil menatap Atar dengan tatapan sinis. "Baiklah, aku akan memberimu satu kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Jika alasanmu atau penjelasanmu tidak masuk akal aku tidak akan memaafkanmu" ujar Jani.


Kedua netra Atar terlihat berbinar-binar ketika Jani akhirnya mau mendengarkan penjelasannya. Atar lalu mulai menceritakan kejadian sepuluh bulan yang lalu.


Flashback On POV Rafatar


Saat itu aku ditugaskan untuk pergi ke Banyuwangi untuk meeting dengan Pak Wiguna, dia adalah orang yang akan menggunakan jasa perusahaan kami untuk proyek pembuatan hotelnya. Hari Rabu sore aku baru sampai di Banyuwangi aku langsung memboking penginapan untuk aku tidur di malam hari.


Sebenarnya jadwal meeting kami itu hari Jumat, aku sengaja datang lebih awal ke Banyuwangi karena aku mendengar anak laki-laki Pak Wiguna akan menikah dihari Kamis, meski tak diundang aku berencana menghadiri pernikahan putranya, ini sebagai caraku untuk menjalin hubungan baik pada beliau.


Lalu pada hari Kamis pagi aku menelepon Pak Wiguna untuk menanyakan lokasi pernikahannya dilangsungkan dimana, berkali-kali ku telepon namun tak ada jawaban hingga aku putuskan untuk meneleponnya kembali nanti siang.

__ADS_1


Saat aku selesai sarapan pagi tiba-tiba aku dapat pesan via Whatsapp yang isinya Pak Wiguna mengirim lokasi pernikahan dengan sherlock, aku segera mendatangi lokasi itu. Saat berada di lokasi yang dikirim oleh Pak Wiguna, aku merasa heran pasalnya ditempat itu tak ada tenda, pelaminan atau pun tamu undangan.


Yang terlihat dari luar hanya suasana sepi, ku pikir dirumah itu tak ada orang yang bisa kutanyai. Tapi, saat aku berada didepan pintu rumah, pintunya terbuka cukup lebar hingga aku bisa melihat kedalamnya. Disana aku melihat ada dua pasang suami istri yang sudah tak muda lagi, yang salah satunya sudah aku kenali. Ya, dia adalah Pak Wiguna.


Aku pun mengetuk pintu sambil memberi salam, mereka lalu menjawab ku dengan penuh antusias, aku disambut bak seorang raja yang amat dihormati kemudian aku dipersilahkan untuk duduk. Perasaanku saat itu masih biasa saja hingga mereka mulai menunjukan sisi kelamnya dengan terus menatapku penuh harap.


Sebelum memulai pembicaraan Pak Wiguna memperkenalkan istri dan calon besannya padaku, aku pun menyambut mereka dengan senyuman.


"Sebelumnya saya minta maaf biar lebih enak bicaranya bagaimana kalau kita bicara biasa saja jangan terlalu formal karena saya mengundang Pak Atar kesini bukan untuk membicarakan pekerjaan" ucap Pak Wiguna.


"Oh iya Pak, tidak apa-apa lagian saya juga kesini untuk menghadiri pernikahan putra bapak, bukan untuk membicarakan pekerjaan. Tapi, ngomong-ngomong ko disini sepi ya, tamu undangannya, tenda sama pengantinnya mana, ko nggak ada?" tanyaku.


"Acaranya digelar dirumah saya nak Atar, rumah saya ada didesa tetangga" jawab besan Pak Wiguna.


Dari sini aku mulai menangkap ada kejanggalan dari mereka. Kalau memang acaranya dilangsungkan dirumah pengantin wanita lalu kenapa mereka ada dirumahnya Pak Wiguna, aku pun langsung menanyakan kejanggalan itu pada mereka. Tapi tanpa tak terduga mereka berempat tiba-tiba sujud padaku sambil menangis agar aku membantu mereka.


Pikiranku masih belum bisa mencerna tentang kegentingan yang terjadi pada mereka hingga akhirnya Pak Wiguna menjelaskan kalau anaknya lari dari pernikahan karena tak mau menikahi perempuan yang sudah dihamilinya, yang kini usia kandungannya sudah mencapai empat bulan.


"Lalu hubungannya dengan saya apa? Bapak dan ibu ingin saya membantu apa?" tanyaku.


"Nak Atar, tolong gantikan anak saya Reza untuk menikahi Raisa" pintar Pak Wiguna dengan memelas.


"Apa? Saya menikahi Raisa?" tanyaku tak percaya dan amat kaget.


Bagaimana bisa mereka memintaku untuk menikahi seorang wanita yang sudah hamil duluan sementara aku sendiri sudah beristri dan punya anak, ini adalah hal gila yang pernah aku dengar, tentu saja permintaan mereka langsung ku tolak mentah-mentah.


"Tolonglah kami nak Atar, kami tak bisa membuat Raisa menanggung aib ini sendirian, kasihan dia, dia sudah hamil duluan sekarang malah ditinggal kabur sama anak kami yang sudah menghamilinya" bujuk Pak Wiguna.


"Saya tidak bisa Pak, saya sudah punya istri dan anak jadi saya tidak bisa menikahi Raisa" tolakku.


"Ini keadaannya sudah sangat mendesak, kalau kami harus mencari Reza dulu ini tidak mungkin karena acara ijab kabulnya akan dilaksanakan pukul sebelas siang ini, tolonglah nak Atar, gantikan Reza melakukan ijab kabul tapi menggunakan nama Reza, setelah acara ijab kabulnya selesai kamu boleh kembali kepada istri dan anakmu karena kami tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi sebab setelah Reza ketemu Reza lah yang akan menjadi suaminya Raisa bukan kamu" pintar Pak Wiguna.


Walau begitu tetap saja hal ini adalah hal paling gila yang pernah aku dengar. Bagaimana bisa aku menipu penghulu untuk melakukan ijab kabul dengan nama orang lain untuk mewakili pria yang bernama Reza itu. Aku tak pernah mendengar ada pengantin pria yang mewakilkan pada pria lain untuk melakukan ijab kabul dan ini sangatlah bertentangan dengan hatiku, aku tak mau melakukan hal gila ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2