Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Jeritan hati


__ADS_3

Disudut lorong rumah sakit yang nampak terlihat sepi terduduk lah seorang anak laki-laki dilantai sambil bersender dengan memeluk kedua betisnya dan membenamkan kepalanya diantara ke dua lututnya.


Dia terus menangis tetisak-isak dalam kesendiriannya tanpa ada seorang pun yang mengetahui hingga disuatu ketika Atar baru saja menemui dokter dan hendak kembali ketempat Shabira dirawat.


Tapi sejurus pandangannya tertuju pada seorang anak kecil yang terus menangis, semakin mendekati anak itu Atar semakin memperlambat langkah kakinya hingga akhirnya dia berhenti tepat dihadapan anak laki-laki itu.


Atar lalu jongkok dan memperhatikan si anak yang tak terlihat wajahnya karena dia terus membenamkan kepalanya diantara dua lututnya, rupanya dia itu adalah Jidan. Kemudian Atar menyentuh bahu Jidan sontak itu membuat Jidan terperanjat kaget, diangkatlah wajahnya untuk menatap seseorang yang sudah menyentuh bahunya itu setelah mengetahui siapa itu dia kembali menunduk sedih.


"Jidan, Shabira kan sudah sadar lalu kenapa kamu masih menangis sedih disini?" tanya Atar sambil terus menatap Jidan.


Jidan enggan untuk menjawab pertanyaan Atar karena dibalik kesedihannya, salah satu penyebabnya adalah karena Atar juga akhirnya Jidan hanya terus diam tanpa berkata apa pun.


Karena tak mau menjawab pertanyaannya dia lalu ikut duduk disamping Jidan, pandangan matanya menatap lurus kedepan yang ada hanya bangku kosong diujung koridor sana, kemudian dengan perlahan dia mencoba menelisik hati Jidan yang masih tetap bersedih meski Shabira sudah kembali sadar.


"Om tahu kamu sangat menyayangi Shabira seperti adikmu sendiri, Om senang dan sangat berterimakasih banyak sama kamu karena kamu sangat menyayangi Shabira tapi bukankah dia sudah berhasil melewati masa kritisnya lalu apa lagi yang membuat hatimu bersedih?" tanya Atar kemudian melirik kearah Jidan.


"Aku...aku sedih karena Shabira harus mengalami semua ini karena aku" jawab Jidan terisak.


"Kenapa kamu menyalahkan dirimu karena musibah ini?"


"Kalau aku tak punya niat untuk kabur dari panti dan Shabira mengejarku mungkin dia tak akan mengalami semua ini" jawab Jidan tanpa berani menatap Atar.


"Kabur! Kenapa kamu ingin kabur dari panti?"


"Karena Om akan membawa Shabira pergi jauh dari panti dan mengajaknya tinggal bersama dengan bunda juga"


Atar sedikit kaget mendengar jawaban terakhir Jidan karena dia baru sadar kalau kesedihan Jidan disebabkan olehnya juga. Kemudian Atar mengelus lembut bahu Jidan yang kala itu masih menunduk sedih.


"Kamu tahu dari mana kalau Om akan mengajak Shabira tinggal bersama Om? Lalu kenapa kamu harus sedih saat Om akan ajak Shabira untuk tinggal bersama Om bukankan dia itu anaknya Om yang telah hilang dan wajar kan kalau Om ingin tinggal bersamanya?"


Sambil terus terisak-isak Jidan lalu menatap Atar. Tatapan mata polosnya terlihat masih berkabut dari air wajahnya masih terlihat ada kesedihan mendalam dihati anak laki-laki itu.


"Aku tahu soal itu Om, aku tahu aku bukan siapa-siapa bagi Shabira tapi kami hanyalah dua anak yang dipertemukan di panti asuhan, tinggal bersama dan hidup seperti keluarga sendiri padahal kami tak ada ikatan darah... " kalimat Jidan tergantung sejenak karena dia menyeka air matanya yang berhasil menggelincir bebas dikedua pipinya.


Sementara Atar hanya menjadi pendengar setia keluh kesah hati anak laki-laki itu.


"Aku tahu aku tidak berhak mengatur hidup Shabira karena aku bukan siapa-siapa dia tapi, hanya bunda dan Shabira keluarga yang aku punya, hanya bunda dan Shabira yang menyayangiku dengan sepenuh hati seperti keluarga sendiri, banyak cinta dan kasih sayang yang aku terima dari mereka yang tidak aku dapat dari kedua orang tuaku yang sudah meninggal dunia hiks... hiks... hiks... " Jidan tak kuasa lagi menahan kesedihan yang sudah menggondok dihati akhirnya pecah sudah tangisannya.


Atar lalu memeluk Jidan kemudian menepuk bahunya dengan lembut untuk menenangkan hati Jidan yang tengah diliputi rasa sedih yang menghujam batinnya.


"Menangislah hingga semua beban kesedihanmu berkurang, Jidan" lirih Atar.


Jidan makin menjadi setelah mendengar ucapan Atar, air matanya tumpah meruah hingga bendungan air matanya surut barulah dia berhenti menangis dan Atar melepas pelukannya.


"Jika Om membawa bunda dan Shabira dariku aku akan amat sedih karena tak ada orang yang akan menyayangiku sepenuh hati seperti bunda dan Shabira" lirih Jidan dengan masih terisak dan menunduk murung.


"Owh... jadi karena itu kamu terus bersedih meski sekarang Shabira sudah sadar?" tanya Atar meyakinkan.

__ADS_1


"Aku mohon Om, jangan ambil Bunda dan Shabira dari hidupku" pinta Jidan dengan sepenuh hatinya sambil mengangguk.


Wajahnya terlihat memelas pada Atar membuat Agar tak tega melihatnya, lalu dia tersenyum sambil berkata.


"Jika Om ajak kamu juga untuk tinggal bersama Om, Bunda dan Shabira apa kamu masih akan bersedih?"


Sontak Jidan tercekat kaget, merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya lalu Jidan bertanya untuk meyakinkan hatinya.


"Apa Om serius akan mengajakku tinggal bersama Om, Shabira dan Bunda?"


Atar lalu mengulas senyuman hangat sehangat mentari di pagi hari sambil mengangguk pertanda mengiyakan pertanyaan Jidan. Dan itu berhasil membingkai senyuman kebahagian disudut bibir anak laki-laki itu, matanya pun berbinar-binar dan penuh semangat mendengar pernyataan Atar.


"Kamu tidak usah sedih dan khawatir lagi ya karena kita semua bisa tinggal bersama kalau perlu sama semua penghuni panti juga. Tapi Om butuh waktu untuk mewujudkan itu semua jadi kamu mohon bersabar ya karena masih ada masalah yang harus Om selesaikan terlebih dahulu"


Jidan lalu mengangguk penuh semangat dengan tersenyum senang. Atar lalu membalas senyuman Jidan dengan tatapan penuh makna karena di dalam pikirannya sedang merencanakan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.


Dua minggu kemudian


Sejak Shabira diizinkan untuk pulang kerumah karena kondisinya sudah membaik dan dia ingin kembali pada rutinitas sedia kala seperti dulu tapi kali ini dia tidak bisa bebas melakukan apa yang dia inginkan karena sejak kecelakaan itu Shabira jadi tidak bisa berjalan atau berlari seperti dulu sebab tulang kakinya yang patah akibat ditabrak mobil masih belum sembuh dan masih terasa sakit jika dibawa berjalan tanpa menggunakan alat bantu.


Kesekolah pun dia selalu menggunakan kursi roda yang nantinya akan dibantu didorong oleh Jidan saat mereka ada dilingkungan sekolah. Sebenarnya Shabira merasa sedih dengan kondisinya tapi dia tak mau membebani siapa pun.


Tapi meski begitu tetap saja dia seorang anak yang rapuh yang terkadang merasa iri saat teman-temannya bermain sambil lari-larian, Shabira juga kerap kali dihinggapi rasa putus asa tentang, Apakah dia akan bisa kembali berjalan lagi seperti dulu atau tidak. Tapi dia terus menyembunyikan perasaannya pada semua orang termasuk juga pada Jidan.


...****************...


Tanpa sepengetahuan Jani dan teman-temannya, Diam-diam Jho berniat mendekati Jani dengan memanfaatkan situasi, bukan cuma Atar yang memperhatikan Shabira tapi Jho pun ikut melakukan pendekatan pada Jani dan Shabira dengan lebih memberi perhatian lebih pada Shabira.


Ternyata usaha Jho itu membuat Jani tersentuh hatinya, Jani berpikir kalau Jho itu baik pada Shabira karena perasaan tulus dan tanpa ada keinginan lain dibalik sikaf baiknya Jho terhadap dirinya dengan putri kesayangannya.


Hingga disuatu hari ketika Jani dan Jho sedang berdua tiba-tiba Jho menyatakan perasaan cintanya pada Jani secara langsung meski Jani sudah tahu kalau Jhosu menyukainya tapi dia merasa kaget kalau Jho akan menembaknya secara langsung.


Jho menatap Jani dengan penuh cinta, di genggamnya kedua tangan Jani dengan lembut meski wanita cantik itu merasa risih dengan sikaf manis dan lembut dari seorang Jhosua.


"Jani aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap Jho sambil mengulas senyuman yang menampakan lesung pipinya.


"Lepaskan tanganku Jho, kalau kamu mau bicara ya bicara saja tidak perlu memegang tanganku" kata Jani minta dilepaskan dan tanpa mau melihat wajah Jho yang terus menatapnya dengan penuh pesona.


Tapi pria itu tak mau melepaskannya dia malah memaksa Jani untuk menatap kedua matanya.


"Jani tolong tatap mataku"


"Buat apa Jho, kamu mau ngapain sih?" serah Jani karena merasa amat tidak nyaman dan risih akan sikaf Jho padanya.


"Jani aku sangat menyukai kamu, tak bisa kah kamu membalas cintaku dan mengabaikan si Atar, Aku benar-benar tulus mencintai kamu, aku akan menerima kamu apa adanya, aku juga akan menganggap Shabira sebagai anakku sendiri jadi aku mohon terimalah cintaku ini Jani"


Jani menghempaskan tangan Jho lalu dia membuang muka dengan perasaan marah Jani lalu berkata "Maaf Jho aku tidak bisa menerima kamu bukan kah kita semua sudah sepakat untuk tak menjalin hubungan lebih selain persahabatan"

__ADS_1


Tanpa mereka sadari Shabira dan Jidan baru kembali setelah jalan-jalan, saat melihat bundanya dengan Jho sedang berbicara, Shabira meminta Jidan untuk berhenti mendorong kursi rodanya karena dia penasaran dengan pembicaraan mereka yang terlihat sangat serius akhirnya mereka menguping pembicaraan Jho dan Jani dibalik semak-semak.


"Siapa yang peduli dengan kesepakatan itu jika hati kita saling mencintai, kalau kamu menerimaku dan bisa membalas cintaku, kita akan nekad untuk melanggar kesepakatan itu"


"Jadi kamu mengajakku untuk berkhianat?"


"Iya kenapa tidak, aku mencintaimu dan Shabira butuh sosok ayah, aku siap menjadi ayah sambung baginya"


"Maaf Jho aku tidak bisa meski kamu terus memintaku"


"Kenapa Jani? Apa kamu tidak mencintaiku? Apa kamu lebih mencintai si Azka, Gio atau... si Atar brengsek itu?"


Jani tak mau menjawab pertanyaan Jho karena dia sudah menjawab dengan jelas pertanyaannya kalau dia tidak mau berkhianat pada persahabatannya dengan ke empat pria itu.


Jho berpikir kalau Jani lebih menyukai Atar dibandingkan dirinya karena Atar merupakan ayah dari anaknya makannya dari itu dia amat kesal dan marah. Kenapa bukan dirinya saja yang menjadi ayah Shabira?


"Apa kamu menolakku karena kamu menyukai si Atar sebab dia ayah dari anakmu?"


Jani terus membuang muka dan tetap setia dalam gemingnya dan itu lagi-lagi membuat keyakinan Jho semakin yakin kalau Jani mencintai Atar.


"Kenapa harus si Atar, Jani? Tolong buka mata dan hatimu, disini ada aku yang tulus mencintaimu. Berhentilah menyukai si Atar dia hanyalah pria brengsek yang sudah menghancurkan hidupmu, membuatmu menderita karena harus mengandung benihnya yang tak seharus dilahirkan kedunia ini hingga kamu harus menanggung aib ini sendirian... " kalimat Jho dipotong oleh Jani yang merasa tersinggung karena tanpa Jho sadari dia sudah menghina Shabira.


Jani menatap Jho dengan tatapan Smirk, kedua tangannya di kepalkan dengan kuat karena menahan emosi kemudian Jani berkata dengan penuh penekanan.


Dan tanpa mereka sadari Shabira mendengar perkataan Jho seketika dia jadi amat sedih, air mata pun berhasil menggelincir tanpa pertahanan.


"Ternyata kelahiranku ini sumber penderitaannya bunda, aku ini aib bagi ayah dan bunda, aku jadi semakin yakin kalau ayah dan bunda tak pernah menikah dan mereka tak saling menyayangi, kelahiranku adalah sebuah kesalahan yang terpaksa harus bunda terima. Ternyata aku hanya anak yang tak diinginkan, anak yang tak berguna apa lagi sekarang aku tak bisa jalan pasti ini sangat merepotkan bunda" batin Shabira merasa tertampar oleh kenyataan.


Air mata gadis kecil itu terus menetes membasahi kedua pipinya, Jidan yang memahami perasaan Shabira lalu segera mendorong kursi roda Shabira karena tak ingin gadis kecil itu semakin terluka mendengar fakta kelahirannya.


"Apa kamu bilang barusan Jho? Jadi menurutmu Shabira tak pantas dilahirkan karena dia aib bagiku? Itu maksud kamu Jho?"


Wajah Jani berubah jadi merah padam dan tatapan tajamnya yang mengintimidasi membuat Jho menciut apa lagi ucapanya yang keceplosan tanpa sadar itu sudah menyulut emosi Jani.


"Bu..bu.. bukan itu maksud aku Jani..a.. aku..aku minta maaf Jani, aku tidak ada maksud..." ucap Jho lalu menunduk dengan penuh sesal dan tak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Dengarkan aku baik-baik JHOSUA! Aku tidak pernah menyesal karena sudah melahirkan Shabira. Terlepas bagaimana pun caranya Shabira bisa terlahir kedunia ini aku...RINJANI MAHARANI..sebagai ibu yang sudah melahirkannya akan tetap menyayangi dia sepuluh jiwaku. Dan kamu Jho! Kamu tidak berhak menghinanya.... " Jani menggantung kalimatnya karena ingin mencoba mengendalikan perasaan sedih dan marah yang sedang meluap-luap dihatinya.


"Asal kamu tahu Jho, sebelum aku menolakmu aku akan terlebih dahulu menolak Atar tak peduli sekali pun dia ayah kandungnya Shabira, aku tidak akan pernah menerima dia sebagai suamiku puas kamu Jho!" sergah Jani.


Suasana menjadi hening saat semua terdiam karena Jho merasa malu dan amat menyesal karena mulutnya yang sudah lancang berkata seperti itu pada Jani. Sementara Jani terus mencoba menenangkan dirinya dari rasa marah yang menggebu-gebu dengan memukul-mukul pelan dada sebelah kanannya. Matanya terlihat berkaca-kaca karena terus menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Jani aku minta maaf" ucap Jho penuh sesal sambil hendak menyentuh wanita cantik itu.


Tapi Jani menepis tangan Jho, dia tak ingin Jho menyentuh karena dia masih marah. Jani akhirnya pergi meninggalkan Jho karena terlalu muak dengan sikaf dan ucapan Jho yang sudah menyakiti hatinya. Akhirnya pria itu hanya bisa menatap berlalunya punggung wanita cantik itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2