
Jani terduduk dikursi panjang yang terdapat didepan kantor KUA. Otaknya terus berpikir keras mengingat semua peristiwa dimasa lalu. Tak berapa lama Atar datang sambil membawa minuman dingin, dia lalu memberikannya pada Jani.
"Minum dulu nih supaya pikirannya lebih fresh"
Atar lalu duduk disebelah Jani kemudian dia minum. Jani pun minum tapi tetap saja pikirannya masih kacau. Bagaimana tidak, dia masih bingung dengan pernyataan petugas KUA itu yang menyatakan bahwa dirinya sudah menikah dengan Atar sepuluh tahun yang lalu.
"Apa kamu sudah mengingat sesuatu tentang pernikahan kita?" tanya Jani yang sudah frustasi memikirkan semua ini.
Atar pun nampak amat frustasi, dia juga tak bisa mengingat apa-apa soal pernikahan yang terjadi sepuluh tahun lalu itu.
"Ah! Yang benar saja masa kita hanya akan diam seperti ini. Lalu bagaimana dengan pernikahan kita? Masa kita cuma ngadain resepsinya doang tanpa ada ijab kabul, apa kata orang nanti kalau kita tinggal serumah hanya mengandalkan cerita dari petugas KUA itu tanpa ada bukti yang jelas. Ya misalnya adanya surat akte nikah kek biar jika orang bertanya kita bisa nunjukin surat akte nikahnya" tutur Jani masih dengan wajah frustasi.
Ting!
Mendengar ucapan Jani seolah seperti ada lampu pijar diatas kepala Atar. Dia jadi teringat sesuatu yang mungkin itu bisa menjadi bukti pernikahan mereka.
"Jani, Ayo! Kita pergi, sepertinya aku mengingat sesuatu" ajak Atar seraya menarik tangan Jani untuk segera naik ke mobil mereka.
Setelah masuk kedalam mobil Atar segera tancap gas dan membelah jalanan menuju ke suatu tempat yang baru terlintas dipikirannya.
"Kita mau kemana sih?"
"Aku sendiri masih ragu tapi aku ingin memastikan kebingungan kita ini. Jadi sekarang kita akan pergi kesana"
Mendengar jawaban dari Atar, Jani hanya diam dan tak berkomentar apa pun lagi. Dia hanya mengikuti kemana Atar akan membawanya pergi hingga mereka berhenti disebua danau yang ada dikampung sebelah dari tempat tinggal mereka.
"Kenapa kita kesini? Emang ada apa disini?" tanya Jani. Bukannya menjawab Atar malah berujar.
"Syukurlah danau ini masih ada tapi dimana tempatnya ya, karena tempat ini sudah berubah"
Sejenak dia menghentikan langkahnya karena akan mengerahkan pikirannya untuk mengingat kembali memori dimasa lalu. Dia edarkan pandangannya ke sekeliling hingga netranya berhenti di sebuah gundukan batu hitam yang cukup besar. Atar lalu mengajak Jani untuk pergi kesana. Sesampainya didepan batu hitam itu, dia memperhatikan batu itu dengan seksama.
"Jani, Ayo! Bantu aku untuk menggali"
"Buat apa? Dimana menggalinya? Dan mau cari apa?"
"Buat cari sesuatu disekitar batu ini"
Atar dan Jani menggali tanah disekitar batu itu dengan menggunakan sekop yang tadi sempat dibelinya dijalan karena Atar tahu mereka bakal menggali tanah disini hingga meninggalkan lubang yang cukup besar dan memanjang. Tiba-tiba sekop Atar mengenai benda yang sudah usang dan karatan.
"Yes! Aku menemukannya" seru Atar kegirangan.
Dia jadi makin semangat menggali. Jani yang penasaran lalu mendekati Atar. Akhirnya benda usang, karatan dan sudah banyak lubang disetiap penjurunya itu berhasil Atar angkat dari tanah.
"Apa itu? Ko seperti kaleng biskuit yang sudah usang dan lapuk?"
"Pantas saja sudah usang dan lapuk karena ini sudah sepuluh tahun terkubur ditanah" jawab Atar seraya membuka tutup kaleng bekas biskuit itu.
"Allhamdulillah bukunya masih ada meski sudah usang dan kotor"
Atar lalu mengambil buku kecil yang berwarna merah dan hijau tua itu lalu memberikan salah satunya pada Jani.
(Bukunya seperti ini)
"Ayo! Baca buku itu" titah Atar.
Jani menuruti perintah Atar, di bukannya buku kecil itu, dihalaman depan terdapat dua pas foto berukuran 3 x 2 yang dibubuhi stempel KUA diatas fotonya.
"Ini fotonya kaya foto aku dan kamu saat kita masih remaja" Jani lalu membuka halaman berikutnya dan dibaca nama yang tertera dibuku nikah itu.
"Rafatar Alfarasya bin Arya. Rinjani Maharani binti Hadi Himawan. Jadi kita beneran udah nikah nih?" tanya Jani masih meragu.
"Iya ini buktinya, kita nikah saat kita masih remaja berdasarkan tanggal dan tahun pernikahannya berarti saat kita menikah usia kita masih 18 tahun" jawab Atar.
"Ko bisa? Seingatku tak pernah ada pesta pernikahan dirumahku saat kita berusia 18 tahun" Jani masih kebingungan dan merasa tak percaya dengan fakta bahwa dia sudah menikah dengan Atar saat usianya 18 tahun.
Atar yang sudah mengingat semuanya lalu tersenyum pada Jani kemudian dia menceritakan kembali kejadian 10 tahun lalu.
Flash back on
Siang itu Atar masih duduk termangu di halte dengan masih mengenakan seragam putih abu-abunya, wajahnya terlihat amat sedih dan galau sebab kemarin pagi dia dipalak oleh para preman dan uang Atar yang tadinya akan dibayarkan untuk biaya ujian akhir penentuan lulus atau tidaknya dia dari sekolah SMA ini telah raib dari tangannya hingga hari ini dia tidak bisa mengikuti ujian sebab masih ada tunggakan biaya yang belum di bayarnya.
__ADS_1
Ekonomi keluarganya saat itu masih sangat susah jadi Atar tak berani menceritakan soal ini pada orang tuanya, sebenarnya Atar sudah menceritakan soal ini pada kakaknya, Dion. Dion yang saat itu sudah bekerja ditoko bangunan berniat meminjam kasbon pada bosnya untuk membantu Atar membayar uang ujian sekolahnya karena saat itu Dion belum gajian jadi dia kasbon dulu pada bosnya.
Mereka akhirnya janjian tidak jauh dari tempat sekolah Atar karena Dion baru akan pergi ke tempat bosnya. Tapi lama ditunggu bahkan sampai ujian hari ini berakhir Dion tak menampakan batang hidungnya juga, alhasil Atar tak dapat mengikuti ujian hari ini.
"Bang Dion kemana sih, janji pagi ini mau minjam uang ke bosnya tapi udah siang begini bang Dion masih belum muncul juga" gumam Atar galau sambil terus celingukan mencari sosok sang kakak yang lama ditunggu tapi tak muncul juga.
Sementara para siswa dan siswi yang sudah mengikuti ujian lalu kembali pulang. Tak berapa lama terlihatlah Rinjani yang saat itu masih tomboy sedang mengayuh sepedahnya. Dia yang melewati Atar langsung berhenti.
"Atar kamu kemana aja sih, ko saat ujian tadi aku nggak lihat kamu?" tanya Jani.
Dengan wajah sedih remaja laki-laki itu lalu menjawab, "Aku nggak bisa ikut ujian karena belum bayar biaya ujiannya"
"Emang ibumu belum ngasih uang buat bayar ujiannya?"
"Udah sih tapi uangnya raib karena kemarin pagi aku dipalak sama dua preman"
"Kenapa kamu nggak lawan preman itu?"
"Aku mana berani mereka berotot semua aku pasti kalah lah" ucap Atar sambil manyun.
Memang saat usia Atar 18 tahun tubuh Atar sudah tinggi tapi dia masih terlihat kurus, kering ini sangat berbeda jauh dengan Atar saat usianya 28 tahun sebab diumur 28 tahun selain punya tubuh yang tinggi dia juga memiliki tubuh kekar dan lebih berisi.
"Ya elah! Punya teman cowok ko cemen amat. Udah, ayo ikut pulang sama aku biar aku boncengin kamu disepedahku" ajak Jani.
Atar menatap ragu pada sepedah Jani, sebenarnya dia sedikit trauma kalau harus naik sepedah milik Jani sebab sudah dua kali Atar dibawa nyungseb oleh Jani karena sepedahnya tak ada remnya.
"Ada remnya gak?"
"Ada sekarang sudah di betulin sama bapak"
"Awas loh kalau bohong aku tidak mau dibawa nyungseb lagi"
"Ya elah, ini bocah kagak percayaan amat sih sama aku"
"Bocah, bocah, kamu gak nyadar kamu juga masih bocah"
"Hehehe... begitu ya" kata Jani sambil nyengir kuda.
"Gak usah ketawa, kamu jelek kalau ketawa" ledek Atar seraya meraup wajah Jani.
Setelah Atar naik ke sepedah Jani dari belakang, Jani mulai mengayuh sepedahnya.
"Udah ganti seragam sekolah dan makan siang kita ketemuan dipos ronda ya. Awas! Kalau kamu gak datang" Jani ngajak janjian ketemu sama Atar.
"Emang mau ngapain?"
"Kita urusin duit buat bayar ujian kamu"
Atar lalu mengangguk. Setelah mengganti seragam sekolah dan makan siang, seperti janji mereka, Atar sudah berada dipos ronda tak lama kemudian Jani datang dengan menaiki sepedahnya.
"Atar, kamu udah lama nunggu aku?" sapa Jani.
"Tidak aku juga baru datang ko. Terus rencana kamu sekarang apa?"
Bukannya menjawab Jani malah balik bertanya, "Kamu dipalak dimana? Kenal gak sama premannya?"
"Tidak jauh dari sekolah kita, kalau premannya aku gak kenal tapi aku sering lihat mereka didesa tetangga kita"
"Kalau begitu ayo kita temuin mereka, kita pinta lagi uang kamunya"
"Nggak ah! Mereka pasti tidak akan mengembalikan uangku nanti yang ada kita dihajar sama mereka"
Jani turun dari sepedahnya lalu dia menyuruh paksa Atar agar segera naik sepedah dan Jani dibonceng olehnya.
"Ayo buruan pergi, tunjukin tempat mereka nongkrong kamu gak usah jadi pengecut, biar aku yang menghajar preman-preman itu kalau tidak mau mengembalikan uangnya"
Sebenarnya Atar malas mengikuti perintah Jani tapi gadis tomboy itu pasti terus memaksanya jadi mau tak mau Atar harus menuruti keinginannya juga sebab gadis tomboy itu selalu melawan atau melabrak orang yang sudah mengusik ketenangannya. Jani yang kali itu memang dikenal sangat pemberani dan suka berantem karena dia pandai bela diri berkat latihan dengan om Toriq, jadi dia tidak punya rasa takut sedikit pun kalau harus melawan preman itu.
Dikampung sebelah
Atar langsung menuju tempat nongkrong para preman itu tapi rupanya mereka tak ada disana. Jani lalu menanyakan keberadaan mereka ke orang-orang sekitar hingga ditemukanlah tempat tinggal mereka. Rupanya mereka tinggal di sebuah kontraknya. Atar dan Jani langsung ke kontrakan itu.
"Nah! Itu kontrakannya tuh" seru Jani. Atar langsung berhenti mengayuh sepedahnya kemudian menatap bangunan semi permanen itu yang nampak sepi.
__ADS_1
"Jani batalin niat kita yuk, kita gak usah cari masalah lah" bujuk Atar agar mereka mengurungkan niatnya menemui preman itu.
"Alah! Nanggung banget sih, kita udah disini masa mau mundur. Kalau kamu takut kamu dibelakang aku aja, biar aku yang menghajar mereka" ujar Jani sambil pergi mendekati kontrakan itu.
"Ah! Jani benar-benar keras kepala, mana bisa aku biarin dia pergi sendirian" gerutu Atar yang mau tak mau akhirnya mengikuti Jani juga.
Didepan pintu kostan si preman itu Jani langsung mengetuk pintu dan tak berapa lama keluarlah seorang pria berambut gondrong.
"Siapa kalian, mau apa datang kesini?" tanya pria berambut gondrong itu.
"Atar apa dia orangnya" bisik Jani sambil mengikuti tangan Atar.
Atar lalu mengangguk dan tanpa basa basi lagi Jani langsung melayangkan bogem mentah kemuka dan perut si preman hingga dia beringsut mundur. Sontak preman itu jadi kaget begitu juga dengan teman si preman. Dan disaat itu juga mereka langsung berkelahi.
Bug!
Bug!
Bug!
Beberapa pukulan sempat mendarat ditubuh mereka berempat, saling lawan, tendang dan saling jotoz tak henti-hantinya. Bogeman yang terus dilayangkan Jani pada si preman itu membuatnya kewalahan juga hingga akhirnya dia tumbang.
"Heh! Brengsek lo, balikin duit teman gue yang lo palak, cepetan!" gertak Jani seraya menginjak perut si preman dengan sebelah kakinya seraya menarik kerah baju si preman.
"Duit apaan sih?"
"Duit teman gue yang ini yang lo palak kemarin buruan balikin" bentak Jani sambil menunjuk kearah Atar.
"Ya nggak ada lah duitnya udah abis"
"Gue gak mau tahu buruan balikin"
Preman itu hanya bergeming untuk sesaat seraya memberi kode pada temannya untuk segera kabur. Mengerti dengan kode itu, si preman yang diringkus oleh Atar lalu tanpa aba-aba melakukan perlawanan hingga dia bisa membebaskan diri dari Atar, dengan secepat kilat dia mengambil benda tumpul lalu memukul kepala Jani dari belakang.
Sontak itu membuat Jani pusing berkunang-kunang tak lama kemudian dia terkulai pingsan. Atar yang mencemaskan Jani langsung menghampirinya sementara kedua preman itu lari keluar tapi sebelum mereka meninggalkan kontrakan Jani dan Atar dikunciin dari luar dikontrakan itu.
Atar masih mencoba membangunkan Jani yang masih belum sadarkan diri sementara si preman sudah kabur. Ditempat berbeda ada sebuah mobil satpolpp yang akan menggerebek sebuah kontrakan yang diduga sedang terjadi pesta miras dan narkoba.
Dan rupanya kontrakan yang didalamnya kini ada Jani dan Atar ternyata ikut dirazia oleh satpolpp. Tapi karena pintu kontrakan itu terkunci petugas satpolpp mendobrak dan memergoki Atar yang sedang menggoyang-goyangkan tubuh Jani karena dia belum sadar dari pingsannya.
"Jangan bergerak angkat tanganmu" seru petugas satpolpp.
Agar yang kaget dan tak tahu menahu soal kedatangan satpolpp yang dadakan itu langsung mengangkat tangannya masih dengan posisi jongkok.
"Apa yang kamu lakukan dikamar ini berduaan?"
"Sa.. saya tidak ngapa-ngapain pak" jawab Atar sambil mengangkat kedua tangannya.
Tak berapa lama Jani mulai tersadar dari pingsannya, dia langsung duduk dengan kepala yang masih terasa pusing, tapi berapa kagetnya dia ketika banyak petugas satpolpp yang mengelilinginya. Petugas satpolpp itu langsung meminta KTP Jani dan Atar.
Karena usia mereka sudah 18 tahun jadi mereka sudah punya KTP. Di KTP itu tertulis jelas nama, jenis kelamin dan status mereka yang masih pelajar.
"Dasar anak-anak jaman sekarang ya, masih berstatus pelajar tapi sudah berani berbuat mesum"
Mendengar itu Atar langsung menyangkal tuduhan petugas satpolpp, "Nggak pak, nggak kami tidak berbuat mesum kami ada disini karena sedang berkelahi dengan preman"
"Kamu udah ketangkap basah ya masih mengelak lagi, disini tidak ada preman tadi cuma ada kalian berdua. Kalau kalian tidak berbuat mesum lalu kenapa pintunya meski dikunci segala"
"Itu bukan kami yang melakukannya pak, kami dikunciin"
"Kalian jangan mengelak, meski kami tidak melihat perbuatan kalian tapi lihat pakaian kalian itu acak-acakan, coba kalian habis ngapain berduaan dikontrakan dengan pintu dikunci dan pakaian kalian acak-acakan?"
Atar lalu melihat pakaiannya sendiri dia juga melihat pakaian Jani yang acak-acakan karena tadi habis berkelahi dengan si preman, seketika wajah Atar langsung bingung dan Frustasi, dia tidak tahu harus mengelak dengan cara apa lagi sementara bukti memberatkan mereka.
"Sudah jangan mengelak lagi. Ayo! Kalian ikut kami, kalian harus dihukum"
Petugas satpolpp itu langsung menggiring Jani dan Atar.
"Pak jangan bawa kami, kami mohon nanti bapakku bisa marah besar kalau tahu aku kena razia gara-gara ini, tolong pak jangan bawa kami" pinta Jani sambil meronta-ronta minta dilepaskan.
"Justru itu bapakmu akan semakin marah kalau anaknya tiba-tiba hamil di luar nikah makannya dari itu kami akan bawa kamu kebalai desa kampung ini karena disini lagi ada acara nikah masal, kalian harus menikah"
Atar dan Jani makin frustrasi mendengar mereka akan dinikahkan padahal mereka masih sekolah SMA dan belum lulus ujian. Tapi mereka tidak bisa kabur karena terus diseret dan digiring oleh petugas satpolpp untuk segera naik ke mobil.
__ADS_1
Bersambung