
Hari minggu pagi yang cerah, Jho sengaja berjalan kaki ketempat pemberhentian kendaraan umum karena dia ingin jalan-jalan pagi sambil menghirup udara pagi yang segar. Tiba-tiba dijalan dia melihat ada penjual bandrek.
"Minum bandrek pagi-pagi gini kayanya enak tuh! Aku beli ah!" batin Jho lalu mendekati penjual bandrek.
Dia lalu membeli bandrek satu gelas kemudian membayarnya, ketika akan memasukan dompet kesaku celana belakang Jho tak sadar kalau dompetnya tak masuk kesaku tapi malah jatuh ketanah, dia lalu berlalu pergi.
Shabira yang akan pulang kerumahnya dengan berjalan kaki setelah dari warung tak sengaja melihat dompet Jho jatuh, dia lalu buru-buru berlari kearah jatuhnya dompet kemudian memungutnya setelah itu dia berlari mengejar Jho.
"Oomm! Ooomm! Tunggu! Ooomm! Tunggu!" teriak Shabira.
Tapi Jho terus berlalu karena dia pikir gadis kecil itu bukan memanggilnya hingga akhirnya shabira berhasil mengejar Jho. Dengan nafas ngos-ngosan gadis kecil itu menghadang Jho dengan merentangkan kedua tangannya.
"Berhenti Om" cegat Shabira lalu dia membungkuk sambil menenangkan nafasnya yang masih ngos-ngosan.
Jho hanya diam mematung sambil terus memperhatikan gelagat gadis kecil itu.
"Cepat banget sih, Jalannya Om sampai-sampai aku harus berlari untuk mengejar Om. Om budeg ya aku panggilin ko gak nyahut" protes Shabira ketika nafasnya sudah kembali normal.
"What! Anak kecil ini ngatain aku budeg? Anak siapa sih nih?" batin Jho sambil celingukan tak percaya.
"Ya Om kira kamu bukan manggil Om, jadi Om jalan aja terus. Emang kenapa kamu manggil Om?" tanya Jho.
"Apa ini dompet Om?" tanya balik Shabira sambil menyodorkan sebuah dompet.
Jho lalu mengambil dompet ditangan gadis kecil itu kemudian melihat isinya.
"Oh iya, ini dompet Om. Makasih ya kamu udah kembaliin dompet Om yang mungkin saat itu terjatuh" ucap Jho.
"Iya sama-sama Om, lain kali Om harus hati-hati jangan sampai ceroboh seperti itu, Gimana kalau yang nemuin dompetnya bukan aku tapi orang lain. Eh! Dompetnya malah dibawa pulang bukannya dikembaliin sama Om" Shabira memperingati Jho.
"Iya dek, maafin Om Ya, lain kali Om akan lebih hati-hati lagi dan Om ucapin makasih sekali lagi karena kamu udah nemuin dan mengembalikan dompet Om" ucap Jho.
"Iya Om sama-sama"
Jho lalu menatap lekat wajah gadis kecil itu n'tah kenapa wajahnya terasa familiar bagi Jho padahal dia tak mengenali gadis kecil itu. Shabira lalu pamit pulang.
"Om aku pulang dulu ya karena aku sudah ditunggu sama ibu dirumah tadi ibu nyuruh aku beli ini kewarung" ucap Shabira sambil mengangkat tinggi-tinggi katong plastik yang dibawanya lalu dia melengos pergi.
"Dek, dek tunggu dulu" panggil Jho mencoba menghentikan langkah anak kecil itu.
Shabira lalu menghentikan langkahnya kemudian berbalik arah sambil bertanya.
"Ada apa lagi Om?"
"Apa kamu sudah sarapan pagi?" tanya Jho.
Shabira lalu menggelengkan kepalanya pertanda dia belum sarapan pagi.
__ADS_1
"Om juga belum sarapan, bagaimana kalau kita sarapan pagi bersama kebetulan itu ada tukang bubur ayam, Om tlaktir deh ini sebagai pertanda ucapan terimakasih Om pada kamu sambil kita ngobrol sebentar" ajak Jho.
"Maaf Om, aku menolong Om tanpa berharap balas budi aku ikhlas ko jadi Om tidak usah repot-repot mentlaktir aku" tolak Shabira.
"Ya, sebenarnya bukan karena itu sih, Ada yang membuat Om penasaran sama kamu, n'tah kenapa kamu itu terlihat familiar bagi Om padahal Om tidak kenal kamu, Kamu itu kaya mengingatkan Om pada seseorang jadi bisakah kita ngobrol sebentar saja sambil sarapan pagi"
Shabira merasa tertarik dan penasaran akan ucapan Jho akhirnya dia menerima tawaran Jho untuk sarapan bersama sambil ngobrol. Setelah itu mereka pergi ketukang bubur ayam, Jho kemudian memesan dua mangkuk bubur ayam lalu dia duduk berhadapan dengan Shabira.
"Oh iya, Kita belum kenalan. Kenalan dulu ya, nama Om Jhosua, kamu panggil saja Om Jho. Lalu nama kamu siapa?"
"Namaku Shabira" jawab singkat Shabira yang terlihat cuek.
"Rumahmu dimana?"
"Dikampung ini ada satu-satunya panti asuhan, disitulah aku tinggal"
"Oh dia nggak punya ibu dan ayah ya, makannya tinggal dipanti asuhan" gumam Jho sambil membuang muka.
Tanpa Jho sadari Shabira mendengar ucapan Jho, gadis kecil itu merasa tersinggung atas ucapan Jho barusan.
"Om jangan sembarangan ngomong ya, meski aku tinggal dipanti asuhan bukan berarti aku tidak punya orang tua, aku punya bapak ko, aku juga punya satu ibu dan satu bunda jadi Om tidak berhak mengecap aku sebagai anak yang tak punya orang tua" kata Shabira dengan nada suara meninggi.
"Wah! Sensitif juga ini anak" batin Jho.
"Iya, iya maaf dek, Om salah ngomong Om janji tidak akan ngomong seperti itu lagi" ucap Jho penuh sesal.
"Udah dong jangan ngambek terus, itu bubur ayamnya dimakan sayang kan kalau bubur udah dibikinin tapi tidak dimakan" bujuk Jho agar gadis kecil itu tak marah lagi.
Shabira lalu menatap bubur ayamnya kemudian dia menatap Jho.
"Langsung aja pada pokok permasalahannya, aku penarasan kenapa Om merasa familiar melihat wajahku, seperti Om mengingatkan pada seseorang yang Om kenal, lalu siapa orang itu?" tanya Shabira sambil menatap tajam wajah Jho dengan menyilangkan kedua tangannya didada.
"Kamu ini mengingatkan Om pada teman perempuan Om yang hilang 10 tahun lalu tanpa meninggalkan jejak apa pun, kami sudah mencarinya kemana-mana tapi tak bisa menemukannya sampai detik ini dia masih belum ditemukan..." Jho menggantung kalimatnya sambil membayangkan sosok Jani yang amat dirindukannya.
"Dari kecil hingga kami remaja kami selalu bersama, dia adalah sosok sahabat yang sangat berarti buat Om, Om sangat merindukannya tapi hingga detik ini Om masih belum bisa menemukanya" sambung Jho sambil menunduk sedih.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Shabira penasaran.
"N'tahlah Om tidak tahu, tapi wajahmu sangat mirip dengan sahabat Om waktu kecil, dan N'tah kenapa Om merasa Om seperti punya ikatan batin dengan kamu" ujar Jho.
Shabira bingung harus berkata apa akhirnya dia memilih diam tanpa berkomentar apa pun. Suasana hening kembali untuk sejenak sampai Jho menyuruh Shabira untuk memakan bubur ayamnya. Akhirnya mereka makan bubur ayam hingga habis lalu mereka berpisah karena ada urusan masing-masing.
Jho lalu pergi ke pasar swalayan untuk belanja kebutuhan sehari-hari dengan menaiki bus agar bisa sampai ke pasar swalayan yang letaknya ada dikota. Setelah beberapa jam berbelanja akhirnya dia kembali pulang dengan menaiki bus.
Tak berapa lama bus pun berhenti dihadapan Jho setelah dia melambaikan tangan untuk menghentikannya. Dia masuk kedalam bus diikuti oleh beberapa orang yang juga ingin naik bus dijurusan yang sama seperti Jho. Dia lalu mencari tempat duduk kedepan bus yang masih kosong, ternyata bus itu sudah penuh oleh muatannya jadi dia tak kebagain tempat duduk.
Sama halnya dengan beberapa orang yang sudah terlanjur duluan masuk kebus tapi tidak kebagian tempat duduk mereka pun terpaksa harus berdiri sambil berpegangan ke tempat pegangan khusus penumpang yang berdiri.
__ADS_1
Tak sengaja Jho melihat ada noda merah dipakaian belakang seorang gadis, tak ingin membuat gadis itu dipermalukan oleh banyak orang Jho lalu membuka jaketnya kemudian mengikatkan jaket itu dipinggang si gadis.
Sontak itu membuat si gadis kaget dan berpikiran negatif pada Jho yang tiba-tiba mengikatkan jaket dipinggangnya tanpa izin.
"Eh! Jangan macam-macam ya mas" ancam si gadis itu.
"Maaf mbak, saya tidak punya niat buruk pada mbak hanya saja, ada noda merah dipakaian belakang Mbak" bisik Jho pada gadis yang lebih pendek darinya.
Sontak itu membuat si gadis langsung menciut dan malu bukan kepalang, seketika wajahnya yang putih menjadi memerah seperti udang goreng.
"Ya ampun, ini sangat memalukan, sepertinya tembus aku kan lagi datang bulan" batin gadis itu sambil memejamkan matanya karena merasa sangat malu.
Dia bahkan tak berani menatap wajah Jho dia hanya ingin berlari sejauh mungkin lalu bersembunyi dilubang semut kalau dia bisa melakukannya, sayangnya kaki dia terasa kaku seoleh terpaku hingga dia tak bisa berjalan atau pun berlari.
Gadis itu lalu mengumpulkan segala keberaniannya untuk meminta maaf pada Jho karena sudah berprasangka buruk padanya.
"Ma..ma.. maafkan saya mas, saya malah berprasangka buruk pada masnya, saya tidak tahu kalau masnya mau menolong saya supaya saya tidak dipermalukan" ucap gadis itu sambil menunduk malu.
Jho lalu tersenyum padanya "Tidak apa-apa ini juga salah saya, harusnya saya minta izin dulu pada mbaknya tapi saya malah langsung memakaikan jaket saya dipinggang mbak, pantas saja kalau mbaknya berprasangka buruk pada saya. Saya juga minta maaf ya mbak"
"Nggak apa-apa mas, saya juga ucapin makasih banyak pada masnya karena udah bantuin saya" ucap gadis cantik itu.
"Iya sama-sama mbak" ucap Jho sambil tersenyum.
Mereka lalu saling diam, sebenarnya gadis itu merasa canggung berdiri disamping Jho tapi dia tak bisa menghidari Jho, akan terasa tidak sopan jika bersikaf tidak baik pada orang yang sudah membantunya. Sementara Jho hanya bersikaf biasa saja.
30 Menit kemudian.
Akhirnya gadis itu turun dia halte sebuah kampung tanpa gadis itu menyangka ternyata Jho juga turun di pemberhentian yang sama.
"Masnya turun disini juga?" tanya gadis itu.
"Iya, saya tinggal di Vila yang ada ditengah-tengah kebun teh" jawab Jho.
"Oh begitu, kapan-kapan saya akan mampir kesana untuk mengembalikan jaket mas, kebetulan saya juga tinggal dikampung ini, tepatnya dipanti asuhan"
"Oh iya tentu saja boleh"
"Kalau begitu saya duluan ya mas" pamit gadis itu.
Mereka lalu berpisah di halte itu untuk kembali pulang kerumah masing-masing.
Visual Ririn
__ADS_1
Bersambung