
Atar lalu kembali ke kamar rawat Shabira. Ketika dia sampai didepan pintu dia menghentikan langkahnya, dia termenung sejenak kemudian dia memilih duduk dikursi yang ada didepan kamar Shabira, hatinya terlalu menciut untuk bisa menghadapi Rinjani yang baru saja menolaknya, akhirnya dia hanya duduk melamun dengan perasaan yang sangat kacau.
Rasa sedih sudah amat jelas tergambar diraut wajahnya, hatinya yang kacau membuat dia tak bisa berpikir ketika keinginan lagi-lagi tak sejalan dengan kenyataan. Atar lalu membuang nafas dengan kasar.
"Hulfh! Kenapa jadi begini sih, ini membuatku putus asa. Ya Allah, Apa yang harus aku lakukan?" gumam Atar sambil menunduk sedih.
Tanpa dia sadari Jidan yang akan hendak keluar tapi tidak jadi karena melihat Atar sedang duduk sambil menunduk sedih, dia terus memperhatikan Atar.
"Om Atar kenapa ya, ko kelihatan sedih gitu? Dan kenapa juga dia malah duduk diluar tanpa masuk ke kamar rawat Shabira?" gumam Jidan.
Dia lalu melirik kearah Jani yang sedang duduk sambil menatap Shabira yang masih tertidur. Tak berapa lama Shabira terbangun dari tidurnya.
"Shabira, kamu sudah bangun sayang" tanya Rinjani.
"Iya bunda" jawab Shabira sambil tersenyum.
"Shabira, kamu sudah bangun? Gimana keadaan kamu?" ucap jidan dengan setengah berteriak hingga suaranya terdengar sampai keluar kamar.
Tak sengaja Atar mendengar suara Jidan yang cukup keras akhirnya dia beranjak dari duduknya kemudian dia masuk keruangan Shabira dirawat. Didalam Atar langsung menanyakan kabar putrinya itu dengan cemas.Gadis kecil itu lalu membalas dengan senyuman sambil berkata.
"Keadaanku sekarang sudah jauh lebih baik"
"Syukurlah kalau begitu, ayah sangat khawatir ketika tahu kamu sakit tapi maaf ya ayah baru kesini soalnya ayah baru tahu kamu sakit sekarang ini kalau ayah tahu kemarin-kemarin mungkin ayah sudah datang dari kemarin-kemarin juga" ucap Atar penuh sesal.
"Tidak apa-apa ayah, meski ayah datang telat tapi aku sangat senang karena ayah menjengukku" ujar Shabira.
Atar lalu tersenyum sambil mengelus lembut rambut putrinya.
...****************...
Setelah mejenguk Shabira dirumah sakit Atar lalu pulang. Di vila dia langsung masuk kerumah dan tak sengaja berpapasan dengan Gio, dia lalu menyapa Atar.
"Atar, abis dari mana kamu ko baru pulang?"
__ADS_1
Atar menghentikan langkahnya lalu dia menatap Gio dengan tatapan sinis. Jujur dia masih kesal pada Gio karena dia tak memberitahukannya tentang Shabira yang dirawat dirumah sakit padahal Gio tahu dari awal. Tak berapa lama Atar lalu melengos pergi tanpa sepatah kata pun membuat Gio jadi keheranan.
"Atar kenapa ya ko jadi dingin begitu sama aku?" batin Gio sambil mematung ditempatnya dengan masih menatap berlalunya sipemilik punggung kekar dan bertubuh tinggi itu.
Saat Atar hendak menaiki anak tangga dia berpapasan dengan Azka yang baru turun dari lantai dua.
"Atar, kamu baru pulang ya?" sapa Azka.
"Iya" jawab singkat Atar.
"Makan malam bareng yuk kita semua pada mau makan nih" ajak Azka.
"Kalian bertiga aja yang makan tadi aku udah makan dijalan saat mau pulang, sekarang aku mau mandi" tolak Atar dengan halus.
"Oh ya udah"
Azka lalu ketempat makan sedangkan Atar pergi kekamarnya sementara Gio yang dari tadi masih mematung ditempatnya makin keheranan atas sikaf Atar padanya.
"Atar kenapa sih sama Azka aja dia jawab pertanyaannya lah aku yang nanya ko dicuekin? Ah! Udahlah"
Pagi hari kemudian.
Seperti biasa pagi ini keempat pemuda tampan itu berkumpul ditempat makan untuk sarapan pagi bersama sebelum mereka memulai aktivitas seperti biasa. Tapi rupanya Atar masih kesal pada Gio jadi sikafnya masih dingin pada Gio, itu sangat terlihat jelas dari perlakuan Atar padanya dibandingkan dengan sikafnya terhadap Azka dan Jho yang terlihat lebih ramah sementara pada Gio sikaf Atar masih dingin.
Hal itu makin membuat Gio penasaran sementara Gio sendiri masih belum bisa menyadari kesalahannya pada Atar. Akhirnya Gio menanyakan penyebab Atar terus bersikaf dingin padanya. Tanpa basa basi lagi Atar langsung menjawab.
"Aku tidak mau bicara dengamu Gio, kamu itu pengkhianat yang menusukku dari belakang?"
Pernyataan Atar itu membuat semua yang ada disitu langsung mengalihkan pandangannya pada Atar.
"Kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu padaku, emang apa salahku padamu?" tanya Gio.
Atar langsung mencibir karena Gio masih berlaga merasa tak bersalah.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kamu bertanya seperti itu, jelas-jelas kamu itu punya salah padaku. Kamu sudah tahu dari awal kalau Shabira dirawat dirumah sakit tapi kenapa kamu tidak bilang padaku? Apa kamu sengaja seperti itu karena ingin diam-diam mendekati jani dibelakang kami dengan alibi pura-pura menjenguk Shabira biar kamu makin dekat dengan Jani?" tuduh Atar sambil menatap sinis pada Gio.
Kata 'Mendekati Jani' itu sangat sensitif terhadap keempat pria itu hingga membuat Jho dan Azka yang dari awal cuma menyimak saja pembicaraan Atar dan Gio sambil terus makan, kini mereka menghentikan aktivitasnya lalu pandangan mereka langsung menatap kearah Gio.
Gio yang menyadari ada ketegangan disuasana sarapan pagi mereka lalu mencairkan kembali suasana dengan tertawa kecil sambil membela dirinya dari tuduhan Atar.
"Hahaha,,,jadi dari kemarin sikafmu dingin ke aku gara-gara soal ini?"
"Nggak usah ketawa! Kamu pikir ini lucu?" bentak Atar membuat Gio diam tak berkutik untuk sejenak.
"Kamu tahu selama ini aku tidak pernah ada untuk Shabira karena kita dipisahkan oleh keadaan dan sekarang kita dipertemukan lagi dengan keadaan seperti ini, setidaknya aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya meski kita tidak bisa bersama tapi kamu yang katanya sahabat aku malah jadi penghalang semuanya demi ambisimu yang ingin mendekati Jani" sambung Atar.
"Atar, bukan aku tak mau ngasih tahu kamu tapi kan beberapa hari ini kita semua sibuk, kamu sibuk dan aku juga sibuk. Setiap kali aku mau bilang ke kamu tentang Shabira, kalau pagi kamu sudah berangkat duluan atau kalau nggak aku yang berangkat duluan, kalau siang aku kan selalu pergi keluar dan tidak bisa standbay ditempat konstruksi jadi tidak bisa ketemu sama kamu dan malam kita juga tidak bertemu karena kamu sudah tidur jadi kapan aku bisa bilang ke kamunya?" ujar Gio.
"Kalau tidak bisa ngasih tahu langsung harusnya kamu ngabarin aku lewat WA atau telepon kek tapi ini mana? Nggak ada sama sekali" ketus Atar.
"Aku pikir saat itu rasanya lebih baik ngomong langsung ke kamu dari pada harus lewat WA ataupun telepon rasanya nggak etis kita kan tinggal satu rumah jadi mending ngomong langsung" kata Gio.
"Tapi kan ngomong langsung buktinya kamu nggak bisa ngasih tahu aku jadi kenapa tidak lewat WA atau telepon saja"
"Iya, iya aku minta maaf aku salah tidak mencoba seperti yang kamu inginkan kamu jangan marah lagi ya aku janji tidak akan kaya gitu lagi ko" ucap Gio minta maaf dengan tulus.
Atar lalu berdiri hendak pergi sambil berkata.
"Iya aku maafin tapi aku nggak bisa percaya sama kamu kalau ada apa-apa sama Shabira kamu bakal langsung ngasih tahu aku, kalau gini ceritanya lebih baik aku tinggal dipanti asuhan aja sama Shabira biar kalau ada apa-apa sama dia aku langsung cepat tanggap gak lelet kaya sekarang"
Sontak kata itu membuat Jho, Azka dan Gio langsung berdiri menghadang Atar sambil berkacak pinggang dengan tatapan tajam yang membuat Atar keheranan. Awalnya Atar tak peduli tapi ketika dia akan pergi dan ketiga sahabatnya itu terus menghalangi jalan Atar lalu Atar bertanya.
"Kalian kenapa sih ko ngehalangi jalan aku terus?"
"Langkahi dulu mayat kami kalau kamu berani tinggal dipanti asuhan dengan alasan apa pun yang membawa nama Shabira" ancam Jho.
"Aku tahu itu cuma modus kamu aja padahal aslinya kamu kaya gitu biar bisa dekat sama Rinjani kan? Kamu menyalahkan Gio yang memanfaatkan Shabira untuk mendekati Jani, tapi kamu sendiri melakukan hal yang sama. Itu artinya kamulah pengkhianat sesungguhnya Atar!" kata Azka dengan tegas.
__ADS_1
Atar tak bisa berkata-kata lagi ketika dia melihat ketiga netra sahabatnya yang mengancamnya dengan benar-benar serius dan itu artinya jika dia benar-benar tak mau jadi pengkhianat dipersahabatan mereka, dia harus bisa menepati kesepakatan bersama yang mentidak bolehkan dirinya untuk menikahi Rinjani meski itu sangat bertentangan dengan nuraninya.
Bersambung