
Malam itu Jani sedang duduk ditempat tidurnya sambil melamun, pintu kamarnya yang sedikit terbuka memberi cela pada setiap orang yang melewati kamarnya untuk bisa melihat Jani.
Shabira tak sengaja melewati kamar Jani dan melihat bundanya sedang melamun karena penasaran gadis kecil itu lalu masuk kekamar Jani setelah mengetuk pintu kamar.
Dia lalu duduk disamping Jani yang masih duduk melamun, ditatapnya wajah sendu sang bunda, ada butir bening yang menggelincir bebas dipipi mulus sang bunda.
Shabira lalu menghapus air mata bundanya dengan tangan kecilnya itu, sontak itu membuat Jani tersadar dari lamunannya.
"Shabira?!" lirih Jani
Gadis kecil itu lalu tersenyum seolah ingin menghibur sang bunda agar dia berhenti bersedih.
"Bunda kenapa menangis?" tanya Shabira
Jani lalu membelai lembut pipi gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, dia sunggingkan senyuman dibibirnya meski matanya tak menyiratkan kebahagiaan.
"Bunda tidak apa-apa sayang, bunda hanya kemasukan debu saja jadi mata bunda berair" jawab Jani
"Bunda tidak perlu berbohong padaku karena aku bisa membaca ada kebohongan dimata bunda, katakan padaku kenapa bunda bersedih?" tanya Shabira.
Jani lalu mengalihkan pandangannya dari Shabira, dia tak berani menatap netra gadis kecil itu karena bingung harus berkata apa. Dia lalu menghela nafas berat suasana pun menjadi hening untuk sesaat hingga Jani mulai berkata.
"Apa kamu bahagia dengan kehidupan kita yang sekarang? Apa kamu merasa ada yang kurang dari hidupmu atau tidak? Apakah masih ada hal yang belum bisa bunda berikan padamu yang kamu inginkan? Katakanlah pada bunda Shabira,bunda akan mencoba memenuhinya,Apakah bunda masih kurang baik padamu, sayang? " tanya Jani
"Bunda sudah jadi bundaku yang terbaik, semua keinginanku selalu bunda penuhi, aku hanya ingin selalu bersama bunda selamanya tak ada lagi yang aku inginkan selain itu" jawab Shabira.
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu, sayang? Apa kamu yakin tidak menginginkan sosok seorang ayah seperti teman-teman sekolahmu?" tanya Jani dengan mata berkaca-kaca.
Gadis kecil itu langsung terdiam murung, dia nampaknya enggan untuk menjawab pertanyaan Jani karena tak mampu membohongi hatinya, bahwa dia juga menginginkan sosok seorang ayah.
"Katakanlah pada bunda Shabira, kalau kamu menginginkannya bunda akan berusaha memenuhi keinginanmu itu" lirih Jani dengan air mata yang hampir menjebol pertahanannya.
Shabira lalu menatap netra sang bunda, ada kesedihan yang mendalam yang tersirat dari pancaran matanya meski tak diungkapkan.
"Kalau bunda tidak bisa mengatakannya dan memenuhinya aku tidak akan memaksa, aku hanya ingin bunda bahagia tanpa merasa terbebani oleh itu" ucap gadis kecil itu.
Seketika Jani langsung memeluk Shabira, air matanya kini tumpah meruah karena sudah tak tertahankan lagi.Sebelum dia melepas kembali pelukannya, dia menghapus air matanya terlebih dahulu setelah itu baru melepaskan pelukannya.Ditatapnya netra gadis kecil itu dalan-dalam.
"Apa kamu yakin kita bisa bahagia tanpa sosok ayah? Apa kamu yakin kita mampu meneruskan hidup tanpa seorang ayah?" tanya Jani merasa ragu.
__ADS_1
Gadis kecil itu menunduk kembali dan masih setia dengan gemingnya.Jani makin ragu akan keputusannya untuk tetap hidup seperti ini dia pun tak ingin egois kalau Shabira menginginkan sosok seorang ayah dihidup mereka, meski rasa takut, rasa cangggung, kecewa, marah dan semua perasaan itu bercampur menjadi satu membuat Jani dihinggapi perasaan galau luar biasa.
Shabira mengangkat wajahnya lalu menatap bundanya kembali.
"Aku yakin kita mampu hidup dengan cara seperti ini bunda tapi.... " Shabira menggantung kalimatnya sejenak.
"Tapi apa sayang?" tanya Jani.
"Meski kita tidak bisa bersama tapi aku hanya ingin tahu dan ingin melihat wajah ayah seperti apa?" ucap gadis kecil itu sambil menunduk pilu.
"Maafkan bunda Shabira, bunda terlalu egois padamu,maafkan bunda karena tak bisa memperkenalkanmu secara langsung tapi bunda yakin kamu sudah melihatnya dan mungkin kamu pernah ngobrol dengannya" ujar Jani sambil menunduk sedih.
"Benarkah seperti itu bunda? Benarkah aku sudah pernah melihat dan ngobrol dengannya?" tanya Shabira kegirangan.
Jani mengangguk sambil menyunggingkan senyuman disudut bibirnya.
"Apakah ayahku itu salah satu dari sarjana yang kini sedang membangunan tempat parawisata dikampung kita ini?" tanya Shabira amat penasaran.
Jani menatap wajah Shabira lalu dia mengangguk pertanda dia mengiyakan pernyataan Shabira.Tapi tiba-tiba gadis kecil itu murung kembali.
"Kenapa kamu murung lagi?" tanya Jani keheranan.
"Maafkan bunda sayang, ini semua salah bunda. Ayahmu tak tahu kalau dirinya punya anak secantik kamu makannya dia tak menyapamu" sesal Jani.
Akhirnya Shabira paham kenapa ayahnya tak datang menemuinya sebagai ayahnya.
"Hulfh... ya sudahlah, kita jalani saja hidup kita yang seperti ini. Aku ngantuk mau tidur" kata Shabira dengan lesu lalu dia pergi kekamarnya.
Sebenarnya Jani merasa sedih dengan rasa kecewa Shabira padanya meski tak dia tunjukan secara langsung tapi, ego Jani masih tinggi dan masih ada rahasia didalam hatinya yang tak ingin Jani ungkapkan sekarang ini. Akhirnya dia hanya bisa menangis dalam kesendiriannya.
...****************...
Hari-hari terus berlalu dengan sekelumit cerita kehidupan insan yang masih tersimpan menjadi sebuah rahasia didalam relung hati yang terdalam. Namun, hidup masih terus berlanjut meski masih ada rahasia kehidupan yang kini masih menjadi misteri yang belum terjawab.
Sejak mengetahui dengan pasti bahwa ayah kandungnya adalah salah satu dari keempat pria tampan itu, setiap kali Shabira bertemu dengan mereka dia selalu menatap lekat mereka dengan penuh tanda tanya meski tak dia ungkapkan secara langsung.
Seribu pertanyaan yang terus menggelayuti pikirannya tak mampu ditepis oleh Shabira karena rasa ingin tahunya terlalu kuat untuk mengalahkan kegemingannya itu.Tapi tetap saja meski begitu bibirnya terlalu kelu untuk bertanya langsung pada mereka.
Siapa ayahku yang sebenarnya?
__ADS_1
Akhirnya hanya rasa penasaran yang berkelumit dihati tanpa ada satu kepastian yang jelas.
Dan karena Jani tak kunjung mau berkata jujur pada keempat pria itu hingga membuat mereka penasaran dan tak tahan lagi kalau harus tetap berdiam diri tanpa mencari tahu akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan tes DNA secara diam-diam tanpa sepengetahuan Jani atau pun Shabira.
Meski begitu mereka membutuhkan sempel dari Shabira,akhirnya Jho mengajak Shabira ketemuan lalu ngobrol panjang lebar dan saat waktu yang tepat Jho mengambil beberapa helai rambut Shabira secara diam-diam untuk dijadikan sempel agar tes DNA mereka berjalan dengan lancar.
"Om mau ngapain sih ngajak aku kesini?" tanya Shabira pada Jho.
"Om pengen mengenal kamu aja lebih dalam lagi, kamu kan tahu sendiri bunda kamu itu adalah sahabat Om dari masih kecil, kamu tahu nenekmu meninggal dunia saat melahirkan bundamu dari itu ibunya Om sering jagain bundamu saat masih bayi karena ayahnya atau kakak kamu harus bekerja" tutur Jho menceritakan masa kecilnya dengan Jani pada Shabira.
"Bundamu juga sering minum ASI di ibunya Om jadi Om dan bundamu sudah seperti saudara kandung sendiri, kamu tahu nggak bundamu itu sangat nakal waktu kecil, dia sering bikin Om Atar nangis tapi meski begitu Om Atar tak pernah bosan untuk jadi temannya bundamu"
"Lalu bagaimana dengan Om Gio dan Om Azka?" tanya Shabira
"Sama saja mereka juga sering dijailin sama bundamu, hanya saja pada Om Azka bundamu sedikit takut, takut nggak dijajanin sama Om Azka karena diantara kami dialah orang yang paling berada, uang jajannya selalu paling besar diantara kami karena orang tuanya Om Azka itu orang kaya dikampung kami" tutur Jho lagi sambil membayangkan masa kecilnya dulu.
Diam-diam gadis kecil itu tersenyum mendengar cerita dari Jho.
"Oh iya, Om punya sesusatu nih buat kamu" kata Jho sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Shabira hanya melihat tanpa berkomentar apa pun hingga Jho memberikan sesuatu itu padanya.
"Om tidak tahu kamu bakal suka atau tidak, tapi Om pikir kamu akan terlihat makin cantik kalau pake iket rambut yang lucu ini"
"Makasih Om, ini bagus" ucap Shabira.
"Boleh tidak kalau Om mengikat rambutmu dengan ikat rambut ini?"
Shabira mengangguk kemudian dia membelakangi Jho agar Jho bisa mengikat rambut panjang gadis kecil itu. Jho lalu melepas ikat rambut yang dipakai Shabira dan menggantinya dengan yang dia berikan pada gadis kecil itu.
Diam-diam Jho menyiapkan tisu lalu mengambil beberapa helai rambut Shabira yang tertinggal diikat rambut milik Shabira, kemudian Jho buru-buru memasukan tisu itu kesaku celananya.
"Nah! udah selesai, maaf ya kurang rapih Om baru pertama kali mengikat rambut gadis cantik seperti kamu" ucap Jho.
Shabira hanya tersenyum dalam hatinya berkata "Kenapa Om Jho ini baik banget sama aku? Apa dia ini ayahku?"
Setelah ngobrol cukup lama akhirnya Jho berpamitan pada Shabira dengan alasan ada urusan lain yang harus segera diurusnya. Mereka akhirnya berpisah.
Bersambung
__ADS_1