Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Suratan takdir


__ADS_3

Hiruk pikuk di sebuah perkantoran dengan banyak aktifitas yang dilakukan oleh para pegawainya masih saja sama seperti hari-hari yang telah berlalu hanya yang berbeda kali ini, CEO dari perusahaan yang bergerak dibidang arsitektur itu telah kembali dari masa dinasnya diluar kota.


Dan kini mereka mulai bekerja di kantor seperti biasa karena mereka baru akan turun sendiri kelapangan jika tender yang mereka tangani bernilai amat besar dan jika tendernya kecil maka mereka akan menyuruh pegawainya yang menangani kelapangan. Hanya saja kali ini terasa ada yang kurang dari mereka. Biasanya mereka berempat tapi kini mereka cuma bertiga.


Azka yang pertama kali merasakan ada yang kurang di kantor ini, tanpa sadar kakinya terus melangkah ke ruang kerja Atar yang sudah tak berpenghuni lagi karena si pemilik sudah resign dari kantor ini.


Atmosfir diruangan itu tetap terasa hangat seolah si pemiliknya masih ada. Deretan berkas yang tertata dengan rapi didalam rak penyimpanan, lukisan dinding yang dibuat sendiri oleh Atar masih tergantung didinding dan meja kerjanya masih terlihat rapi, suasananya masih tetap melekat didalam ruangan ini.


Azka membayangkan Atar sedang duduk di kursi kerjanya yang memiliki roda seraya berkutat dengan alat tempurnya, senyuman khasnya itu selalu terlihat setiap kali ada Azka masuk kedalam ruang kerjanya untuk meminta bantuan Atar mengerjakan pekerjaannya.


Pria pemilik lesung pipi itu selalu ramah dan terbuka untuk ketiga sahabatnya, Atar bahkan sering membantu pekerjaan ketiga sahabatnya jika sedang dikejar deadline. Tapi sekarang semua sudah berbeda semenjak Gio, Jho dan Azka memusuhinya, tak ada lagi seseorang yang selalu membantunya mengerjakan pekerjaan.


Azka merasa rindu akan sahabatnya itu, dia lalu duduk di kursi kerja yang dulu tempat Atar duduk untuk menyelesaikan pekerjaannya. Di sapunya meja kerja itu dengan telapak tangan Azka. Dia lalu memutar kursinya hingga membelakangi meja. Tiba-tiba ada perasaan bersalah dan menyesal yang menyeruak direlung hatinya.


"Atar, sepertinya aku merindukanmu, rindu berkumpul lagi dengan kamu. Aku menyesal karena bersikaf egois padamu, harusnya aku tak menyalahkan kamu sepenuhnya atas apa yang terjadi pada Jani" batin Azka sambil menunduk sedih.


Ketika Azka tengah terhanyut dalam dunianya sendiri tiba-tiba Jho masuk keruangan itu seraya membawa beberapa tumpukan berkas-berkas pekerjaannya.


"Atar, bantuin aku dong ngerjain berkas-berkas ini, aku lagi mumet banget nih" pekik Jho langsung menyimpan berkas-berkasnya dimeja kerja milik Atar.


Suara berat khas seorang pria milik Jho itu bergema diruangan itu hingga membuat Azka memutar kembali kursinya lalu dia berdiri.


"Jho, Atar sudah tidak bekerja disini lagi. Kenapa kamu malah bawa berkas-berkas itu keruang kerja Atar? Apa kamu merindukan Atar?" tanya Azka.

__ADS_1


Jho ternyata saat itu lupa kalau dia sedang memusuhi Atar dan nuraninya malah membawa dia keruang kerja Atar karena ini sudah jadi kebiasaannya yang sering datang ketempat kerja Atar untuk meminta bantuannya.


Tapi karena rasa gengsi yang lebih dominan di hatinya jadi dia memungkiri kata hatinya pada Azka dengan beralibi.


"Enak aja, siapa juga yang merindukan si pengkhianat itu, aku lupa kalau dia udah dikeluarkan di perusahaan ini?" Jho berlaga tak membutuhkan Atar.


"Terus kamu ngapain bawa berkas-berkas itu kesini, bukankah kamu sudah tahu kalau Atar sudah dikeluarkan dari perusahaan ini?" tanya Azka mengulik agar Jho mengakui bahwa dia juga merindukan Atar.


"Aku lupa Azka, dia kan orangnya bisa disuruh-suruh"


Jho tetap bersikekeh pada egonya dengan berkata agak kasar bahwa Atar itu bisa disuruh-suruh padahal kata yang lebih tepat itu bukan orang yang bisa disuruh-suruh melainkan Atar itu terlalu baik dan rajin hingga dia selalu mau membantu menyelesaikan pekerjaan teman-temannya.


Tak mau terus dipojokan oleh Azka, Jho berbalik menuduhnya. "Ah! Jangan-jangan malah kamu yang merindukan Atar buktinya kamu ngapain coba diruangan ini kalau bukan untuk mengenang si Atar?"


"Enak aja, aku juga nggak ngerinduin dia, aku kesini karena pengen suasana baru aja, aku bosan diruang kerjaku" sangkal Azka tak mau kalah dari Jho.


"Atar, aku minta tanda tangan kamu dong" ceplos Gio.


Tiba-tiba dia terdiam dan kaget ketika melihat diruangan itu ada Jho dan Azka, netra kedua pria itu langsung tertuju kearah Gio.


"Kalian sedang apa disini? Bukankah ini ruang kerjanya Atar dan dia sudah tidak kerja disini lagi kan?" tanya Gio tanpa sadar seolah memejokan mereka padahal dirinya sendiri juga mencari Atar.


Tentu saja kedua pria itu tetap mempertahankan egonya dan berpura-pura seolah tak merindukan Atar. Hal itu membuat Gio tertawa geli karena mereka kelihatan banget pura-puranya.

__ADS_1


"Hahaha... ya ampun kalian berdua ya, munafik padahal kalian kelihatan banget lagi kangen sama si Atar"


"Eh! Gio, apa kamu tidak sadar kalau kamu juga lagi kangen sama si Atar buktinya kamu mau minta tanda tangan sama dia padahalkan kamu sudah tahu kalau dia tidak kerja disini lagi" pekik Jho mulai membalas Gio.


Itu membuat Gio jadi mati kutu karena dia sendiri juga merasa kangen sama Atar sebab mereka selalu bersama tapi karena keegoisan mereka sekarang Atar dimusuhi oleh mereka. Suasana pun jadi tegang dan canggung. Azka lalu mencairkan suasana dengan menurunkan egonya.


"Sudahlah lebih baik kita saling jujur kalau kita semua merindukan Atar. Aku sempat berpikir, ternyata kita ini sangat egois pada Atar, hanya karena perasaan kita masing-masing kita malah mengorbankan Atar, Jani dan juga Shabira. Atar membuat kesalahan karena aku, tak seharusnya aku memusuhi dia karena kesalahan ini tak sepenuhnya salah dia" Sejenak Azka menghentikan ucapannya untuk merenung.


"Sepertinya memusuhi si Atar itu adalah hal yang salah deh, harusnya kita biarin Atar bertanggung jawab pada Jani dan Shabira. Kalau kita melarang Atar menikahi Jani, itu sama saja kita jahat sama Jani karena walau bagaimana juga Jani pasti ingin kejelasan status, pasti sangat berat bagi Jani menyandang status belum menikah tapi sudah punya anak. Apa kata orang kalau begitu, pasti orang-orang akan mencemooh Jani karena statusnya yang tidak jelas" ucap Azka seraya menatap kedua sahabatnya dan berusaha meyakinkan mereka kalau keputusan mereka memusuhi Atar itu sangat salah.


"Bisa saja si Atar lari dari tanggung jawab lalu menikah dengan wanita lain kalau dia mau, karena seorang pria itu tidak akan kelihatan kalau dia sudah punya anak. Beda halnya dengan perempuan, secantik apa pun dia tetap saja fisiknya tidak akan bisa berbohong kalau Jani pernah hamil dan melahirkan jadi meski ditutup-tutupi bakal ketahuan juga"


Gio dan Jho mulai merenungkan ucapan Azka yang memang ada benarnya. Selama ini mereka menutup mata, hati dan telinganya untuk tak melihat jeritan hati Jani dan Shabira, kalau mereka itu sangat membutuhkan Atar untuk memperjelas status mereka.


"Terus kita harus bagaimana?" tanya Jho yang mulai bisa menerima garisan takdir ini.


"Kita harus maafin si Atar dan membiarkan dia menikahi Jani, kita biarkan Atar bergabung lagi di perusahaan ini" saran Azka.


"Tapi aku masih sakit hati, Azka. Aku masih tidak rela kalau Atar menikahi Jani karena mereka punya Shabira. Padahal demi persahabatan ini aku rela memendam perasaanku pada Jani selama belasan tahun, aku merasa aku sudah ditikung sama si Atar" lirih Gio merasa sedih dan dilema.


"Aku tahu perasaan kamu sangat sedih, Gio.


Tapi kamu tahu kan setiap orang rezeki, maut dan jodohnya sudah diatur dari sebelum dia dilahirkan. Mungkin saja selama ini kita tidak sadar kalau Jani itu hanya digariskan untuk Atar. Mungkin saja kan Jani itu diciptakan dari tulang rusuknya Atar. Lalu kalau sudah seperti itu apa yang bisa kita lakukan?" ujar Azka.

__ADS_1


Gio maupun Jho jadi terdiam, mereka kini sedang berperang dengan hati dan pikirannya sendiri, mencoba merenungkan dan membuka hati mereka untuk menerima dan mengikhlaskan suratan takdir yang sudah digariskan ini.


Bersambung


__ADS_2