
Mentari bersinar disiang ini cukup terik membuat orang-orang yang hobby rebahan malas untuk keluar rumah, lain halnya dengan Dion, pria berusia tiga puluh delapan tahun yang wajahnya sekilas hampir mirip dengan Atar itu, dia nampak sedang tergesa-gesa, mulutnya terlihat terus berkomat-kamit karena sedang ngedumel kesal.
"Ibu sama bapak benar-benar kelewatan mereka malah belain si Atar lagi dan ngerahasiain soal pernikahannya si Atar sama si jani dari gue, untung aja mata-mata gue ada dimana-mana jadi gue tahu semuanya" gerutu Dion terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke samping kiri dan kanan serta kebelakang karena dia terlalu fokus kedepan.
"Awas aja lo Atar! Gue gak akan biarin lo nikah sama si Jani. Otak lo ditaruh dimana sih ko mau-maunya nikahin wanita yang udah punya lima anak, nafkahin merekanya nanti gimana? Gue yakin nanti lo bakal cape sendiri ngurusin mereka" Dion masih tak berhenti ngedumel disepanjang jalan.
"Si Jani nya juga gak tahu diri, enak aja dia mau nyusahin adek gue, si Atar disuruh banting tulang mencari nafkah buat dia dan kelima anaknya, mana si Atar mau-maunya diporotin sama si Jani lagi, belum apa-apa aja udah minta rumah. Awas! Aja gue bakal usir orang-orang itu dari rumah adek gue" gerutu Dion.
Ketika Dion sampai didepan sebuah rumah mewah berlantai dua, dia mendongakan wajahnya keatas memandang bangunan kokoh itu dengan kemarahan yang berapi-api.
"Gila si Atar! Rumah segede gini mau diwakafkan ke orang-orang panti bawaannya si Jani, dari pada buat mereka mending buat gue aja yang jelas-jelas sedarah sama dia. Gue juga ko bisa gak tahu ini rumah si Atar padahal gue sering lewat sini. Ah! Bego banget sih"
Dion lalu mencoba membuka gerbangnya dan menerobos masuk kedalam rumah seraya mengobrak abrik rumah itu hingga membuat gempar seisi rumah, mereka semua lalu berhamburan keluar untuk melihat kekacauan yang sedang terjadi.
"Heh! Brengsek kalian semua! Keluar kalian dari rumah ini, ini bukan rumah kalian ini rumah adek gue, buruan keluar!" pekik Dion sambil mendorong dan menyeret anak-anak untuk keluar dari rumah.
Anak-anak panti yang ketakutan lalu menangis histeris karena ulah Dion. Pak Husen dan Bu Retno yang saat itu sedang ada dirumah mencoba menenangkan Dion yang sedang ngamuk dengan mengajaknya untuk bicara secara baik-baik. Namun pria yang bertampang seperti preman itu tak mau diajak bicara secara baik-baik dia malahan mengusir Bu Retno dan Pak Husen.
"Heh! Orang tua! Bawa semua anak-anak lo keluar dari rumah ini, ini rumah milik keluarga gue jadi kalian tidak berhak tinggal disini buruan keluar! " bentak Dion pada Bu Retno dan Pak Husen seraya melempar barang-barang dan pakaian mereka.
Karena Dion terus ngamuk dan Bu Retno serta Pak Husen tak ingin Dion berbuat kasar pada anak-anak akhirnya mereka menyuruh anak-anak untuk keluar. Mereka semua berkumpul didepan rumah dengan memunguti pakaian dan barang-barang mereka yang dibuang oleh Dion seraya menangis karena sedih dan takut.
"Pergi kalian semua dari sini! Jangan pernah balik lagi kesini!" pekik Dion seraya mengusir mereka.
Dalam keadaan sedih dan bingung mereka semua hendak pergi tapi tak berapa lama berhentilah sebuah mobil didepan gerbang, penumpang dan pengemudinya langsung turun saat melihat kerumunan didepan rumah itu. Jani, Atar, Shabira dan Jidan langsung menghampiri Bu Retno dan Pak Husen.
"Pak ada apa ini, kenapa kalian semua membawa pakaian dan barang-barang sambil menangis?" tanya Atar.
"Kami diusir, Atar! Oleh dia" jawab Pak Husen seraya menunjuk kearah Dion yang masih berdiri didepan pintu rumah dengan pongahnya.
Atar melirik kearah Dion, tiba-tiba tangannya dipegang oleh seorang anak.
__ADS_1
"Om Atar, kalau kami diusir kami akan tinggal dimana? " lirih Andra seraya terisak sedih.
Netra Atar lalu menatap dalam netral bocah itu yang terlihat amat sedih. Atar lalu mengelus pucuk kepala Andra.
"Kamu jangan takut dan sedih ya, Om akan bereskan orang itu"
Andra lalu mengangguk kemudian Atar menghampiri Dion.
"Bang Dion! Kenapa abang mengusir mereka?"
"Biarin aja mereka pergi dari rumah ini, emangnya mereka itu siapanya lo hingga mereka harus tinggal dirumah ini?" kata Dion dengan pongahnya.
"Mereka adalah keluargaku bang, mereka yang sudah menjaga dan merawat anakku selama 9 tahun ini jadi abang tidak boleh mengusir mereka"
Dion lalu menoyor jidat Atar seraya mencacinya, "Bego lo, meski begitu rumah ini tak boleh diberikan pada mereka, keenakan entar mereka. Harusnya lo berikan rumah ini pada ibu yang sudah melahirkan lo dan bapak yang sudah menafkahi lo dari kecil hingga lo bisa cari duit sendiri"
"Aku kan sudah menawarkan sama ibu dan bapak untuk membeli rumah baru tapi ibu dan bapak menolak karena menurut mereka rumah yang ditempati sekarang sudah terlalu banyak menyimpan kenang-kenangan indah dari itu aku lalu merenovasi dan memperbesar rumah itu. Apa itu masih belum cukup bang?"
"Ya tetap saja rumah ini tidak boleh diberikan pada mereka, sayang banget rumah segede ini dikasih kemereka secara cuma-cuma" ceroscos Dion tanpa jeda.
Dion kesal karena merasa diremehkan oleh adiknya sendiri mentang-mentang dia sudah bisa cari uang sendiri jadi dia seenaknya saja bisa bicara seperti itu pada Dion akhirnya emosi Dion semakin meledak-ledak. Berkali-kali Dion menoyor jidat Atar sambil terus mengumpat dengan nada suara tinggi.
"Tolol! Bego lo! Mau-maunya lo dikibulin sama si Jani, dia cuma mau morotin elo doang! Sadar lo Atar, sadar! Dia bakal nendang lo kalau lo udah blangsak! Jadi lo jangan mau dibutain oleh cinta"
Hati Jani amat sakit mendengar fitnah yang dilontatkan Dion pada dirinya tapi dia tidak mau melawan karena tak mau memperkeruh suasana Jani hanya bisa menangis dalam hati dengan kedua mata yang berkaca-kaca seraya merengkuh Shabira dan Jidan dari belakang.
Shabira mendongakan wajahnya menatap sang bunda yang saat itu sedang melihat pertengkaran antara Atar dan Dion. Shabira tahu kalau bundanya ingin menangis tapi dia terus menahannya, kemudian gadis kecil itu memegang kuat tangan bundanya untuk menguatkan hati sang bunda yang sedang merapuh.
Atar yang tak Terima Jani dimaki-maki oleh kakaknya lalu mulai melawan Dion, dia memegang kuat tangan Dion agar berhenti menoyornya, kedua mata Atar menatap tajam pada Dion seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.
"Berhentilah mencaci maki Jani, bang! Abang tidak berhak terus-terusan ikut campur urusan pribadiku, aku yang menjalaninya, aku yang lebih tahu mana yang terbaik untukku. Dari pada abang sibuk ngurusin hidup orang lebiha baik abang urusin hidup abang sendiri saja, berhentilah menjadi sampah yang selalu merepotkan semua orang" ucap Atar dengan tegas dan berapi-api.
__ADS_1
Emosi Dion makin menjadi-jadi ketika adiknya sendiri berani mengatainya hanya karena seorang wanita. Dion yang sudah terbakar oleh emosi yang menggebu-gebu lalu menampar pipi Atar dengan amat keras hingga meninggalkan jejak merah dipipi Atar, Setelah itu Atar didorong oleh Dion hingga dia tersungkur dan terduduk dilantai.
"Berani lo ngatain gue sampah, gak sadar diri lo, lo itu lebih hina dari pada sampah karena sudah berbuat zina sama perempuan murahan itu" umpat Dion sambil menunjukan jari telunjuknya kearah Atar dengan tatapan tajam setajam silet.
Wajah Jani dan Atar seketika berubah jadi merah padam karena merasa sudah dipermalukan oleh Dion dihadapan orang-orang panti. Tubuh Jani langsung bergetar hebat saking malunya tapi Shabira yang merasakan apa yang dirasakan bundanya langsung menguatkan bundanya dengan memegang erat tangannya.
Atar lalu menatap kerah Jani. Dia melihat kalau Jani sedang berusaha untuk tegar meski sebenarnya dia rapuh. Dia lalu bangkit dan menghampiri Jani.
"Kamu jangan dengerin apa yang dikatakan bang Dion, karena kamu tidak seperti yang dia ucapankan" Atar menguatkan Jani, lalu Jani mengangguk.
Dion yang merasa jijik pada Atar dan Jani lalu dia mencibir kemudian dia melangkahkan kakinya mendekati orang-orang panti. Dion yang masih kalang kabut terus membuat kekacauan dengan terus mengusir mereka, mendorong, menyeret paksa mereka bahkan dia hendak memukul anak-anak yang masih kekeh tak mau pergi dari rumah ini.
"Berengsek lo! Pergi dari sini kalau nggak gue gampar lo!" bentak Dion seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi hendak memukul anak-anak itu.
Tapi Tari yang baru pulang dari pasar bersama Alsa segera berlari dan menghalangi Dion agar anak-anak itu tak kena pukulan dari Dion dengan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk anak-anak.
"Jangan pukul anak-anak! Pukul saja saya!" pekik Tari seraya menunduk takut.
Sontak itu membuat Dion menghentikan aksinya karena tiba-tiba ada seorang wanita berkerudung putih panjang yang menutupi sampai perutnya seperti kerudung segi empat anak-anak pesantren di pondok. Masih dengan tangan yang menggantung tinggi diudara, Dion menatap lekat si pemilik wajah yang masih menunduk ketakutan di hadapannya.
Menyadari tak ada pukulan pada tubuhnya, Tari lalu mendongakan wajah pada Dion yang tubuhnya lebih tinggi dari Tari. Dengan memelas lalu dia berkata, "Tolong jangan pukul anak-anak, jangan sakiti mereka, kalau mas mau memukul pukul saja saya"
"Siapa kamu?" tanya Dion pada Tari.
"Saya bagian dari mereka" jawab Tari wajah cantik dan anggunnya terlihat amat ketakutan pada Dion.
Dion terus menatap wajah anggun itu tanpa berkedip sedikit pun, tapi entah kenapa perlahan dia mulai menurunkan tangannya. Setelah itu Dion pergi tanpa sepatah kata pun. Kini semua akhirnya bernafas lega karena si perusuh itu sudah pergi. Atar lalu menyuruh mereka semua untuk kembali kerumah.
...****************...
Disepanjang jalan Dion terus memikirkan perempuan berkerudung putih itu. Begitu banyak pertanyaan yang menggelayuti pikirannya namun tak ada satu pertanyaan pun yang berhasil dijawab oleh Dion.
__ADS_1
"Siapa perempuan itu? Kenapa dia bisa bersama mereka? Kenapa juga gue malah gak jadi mukulin mereka gara-gara dihalangi perempuan berkerudung putih itu? Lah, ko gue malah mikirin perempuan itu terus? Aaaahh... pikiran gue mulai kacau ini" ucap Dion sambil mengacak rambutnya, kemudian dia melangkah kembali menjauhi rumah milik adiknya itu.
Bersambung