Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Misi Shabira


__ADS_3

Meski pun Jani sudah memaafkan Atar tapi lain halnya dengan Gio, Jho dan Azka mereka masih marah pada Atar, Ditempat pekerjaan pun Atar masih dicuekin dan dihindari oleh mereka.


Siang itu Atar hendak memberikan desain bangunan pada Jho karena desain yang dulu sudah dibangun oleh Jho dan anak buahnya.


Sementara ditempat berbeda Jidan dan Shabira baru keluar dari rumah makan setelah membawakan pesanan bahan-bahan makanan yang tertinggal dirumah dan memberikannya pada pak Husen.


Tiba-tiba Shabira pergi ke area kontruksi karena ingin melihat seseorang.


"Shabira kamu mau kemana, nanti bunda nyariin loh kita kan mau berangkat sekolah" teriak Jidan


"Sebentar saja ko, kalau kamu nggak mau ikut ya sudah tungguin bunda saja disini" sahut Shabira seraya pergi.


"Aku ikut sama kamu deh" teriak Jidan sambil berlari mengejar Shabira.


Mereka lalu diam-diam masuk ke area kontruksi sambil mindik-mindik dan bersembunyi agar tak ada yang melihat mereka.


"Ngapain sih kita kesini?" tanya Jidan yang terus mengekori Shabira.


Shabira lalu menghentikan langkahnya ketika sosok yang ingin dilihatnya sudah bisa dilihat olehnya. Sementara Atar menghampiri Jho yang sedang mengatur para pekerja.


"Jho ini desain bangunan yang selanjutnya harus kamu bangun" ucap Atar sambil menyodorkan beberapa kertas rancangannya.


Jho tak menggubris Atar dia malah memanggil anak buahnya.


"Sarip, sarip sini kamu" teriak Jho pada kuli bangunan yang sedang membawa adukan pasir dan semen yang dicampur jadi satu.


Sarip pun menghampiri Jho dan langsung bertanya.


"Ada apa bos memanggil saya?"


"Kamu pergi ambilin saya desain-desain bangunan berikutnya gih" jawab Jho.


"Kemana ngambilnya bos?" tanya Sarip lagi.


"Kemana aja yang penting desain bangunan yang sudah di acc sama pak wiliyam" jawab Jho lagi


Sarip lalu garuk-garuk kepala tak gatal karena kebingungan sebab dia tak tahu harus ngambil dimana yang dia tahu hanya jadi tukang bangunan bukan ngurusin soal itu.


"Cepetan! Bukannya garuk-garuk kepala" bentak Jho pada Sarip.


"Jho ini desain bangunannya kamu tidak usah nyuruh Sarip buat ngambil aku kan sudah mengantarkannya pada kamu" ucap Atar sambil menyodorkan kembali kertas-kertas desainnya.


"Tuh! Bos, pak Atar sudah nganterin kertasnya jadi saya mau lanjutin kerja lagi ya" ucap Sarip


"Kamu ya, saya kan nyuruh ngambilin kertas rancangannya belum juga diambilin malah mau ngerjain yang lain,mau saya pecat kamu" bentak Jho


Atar buru-buru memberikan kertas-kertas desainnya pada Sarip.


"Ini ambil, kasihin sama bos Jho.Ayo! buruan keburu nanti dia marah lagi" titah Atar pada Sarip


Sarip lalu mengambil kertas-kertas itu kemudian memberikannya pada Jho. Jho baru mau menerima desain banguan itu jika bukan Atar yang memberikannya.


"Udah sana kamu kerja lagi" titah Jho pada Sarip setelah rancangan bangunan ada ditangannya.


"Baik bos" Sarip lalu pergi sambil bergumam.


"Apes banget aku kena semprot bos Jho padahal aku nggak punya salah apa-apa"


Sejenak Jho dan Atar saling diam. Jho lalu melihat desainnya.


"Aku tahu kamu masih marah sama aku, Jho. Tapi kamu jangan melampiaskan kemarahanmu pada orang lain" ucap Atar


"Kamu nggak usah nasehatin aku, disini nggak ada yang butuh nasehat dari kamu. Lebih baik kamu pergi, aku muak melihatmu" ketus Jho lalu pergi

__ADS_1


Atar hanya menatap sedih atas kepergian Jho.Tak berapa lama Gio dan Azka datang, mereka nampak serius sedang membicarakan pekerjaan sambil terus berjalan.


"Gio, Azka!" panggil Atar


Mereka lalu melirik ke arah Atar. Atar segera mendekati mereka.


"Gio, Azka, aku mau bicara sama kalian" kata Atar


Gio tak menghiraukan Atar dia malah melirik ke arloji yang melingkar ditangannya.


"Azka, aku telat nih hari ini ada janji sama pemilik toko matrial aku pergi dulu ya" ujar Gio


"Gio, aku ikut ya soalnya hari ini aku harus pergi ke ATM" kata Azka yang juga mau menghindari Atar.


Mereka lalu buru-buru pergi meninggalkan Atar sendirian. Atar kembali tertunduk lesu, hatinya amat sedih karena semua teman-temannya masih marah dan menghindarinya.


Disisi lain Shabira yang melihat itu lalu berkata dengan lirih.


"Kenapa Om Atar terlihat sangat payah sekali hingga sekarang dia masih belum baikan juga sama teman-temannya" ujar Shabira.


"Shabira kenapa kamu masih memanggilnya Om bukannya dia itu ayahmu?" tanya Jidan.


"Selama dia belum menyatakan dirinya sebagai ayah padaku dia tetaplah orang asing bagiku" jawab Shabira lalu pergi keluar dari tempat kontruksi.


Jidan hanya bisa membuang nafas kasar akan sikaf Shabira, dia tak akan berkomentar apa pun karena dia sudah paham betul sifat Shabira.Mereka lalu menunggu Jani membawa mobil bersama anak-anak panti lain untuk pergi ke sekolah.


...****************...


Disekolah Shabira terus memikirkan cara agar Atar dan ketiga temannya baikan lagi karena walau bagaimana juga dia tak ingin melihat ayahnya terus dicuekin sama teman-temannya.


Waktu terus berputar detik, menit hingga beberapa jam akhirnya tiba saatnya Shabira dan Jidan pulang sekolah. Kali ini dia tak menunggu bundanya menjemput, Shabira memilih pulang duluan karena ada sesuatu yang harus dikerjakannya.


Jidan yang tak pernah ketinggalan tentu saja terus mengikuti kemana pun Shabira pergi.


"Kamu bawel ih! Kalau kamu tidak mau ikut ya udah, tungguin aja bunda" ketus Shabira sambil melengos pergi meninggalkan Jidan.


"Gini nih! Kebiasaan, dia suka bertindak sesuka hatinya tanpa menjelaskan apa pun padaku, bikin khawatir aja. Sebenarnya Shabira mau ngapain sih?" gumam Jidan akhirnya dengan terpaksa dia mengikuti Shabira karena khawatir dia akan berbuat yang tidak-tidak.


Shabira dan Jidan lalu pergi ketempat biasa Atar menyendiri sambil melamun. Ternyata perkiraan Shabira benar Atar ada disana sedang melamun seperti kemarin-kemarin.


"Ih! Udah tahu lagi ada masalah sama teman-temannya bukannya nyari cara buat baikan ini malah ngelamun disini kalau gini caranya gimana mau cepat baikan" kata Shabira merasa geram melihat tindakan Atar yang terlihat lelet.


Shabira lalu menatap Jidan sambil berkata.


"Jidan kamu tunggu disini ya, aku akan ke tempat kontruksi nanti aku kembali lagi kalau nanti aku sudah datang kamu pura-pura sakit perut ya, akting kamu harus bagus awas! Aja kalau gak bagus" kata Shabira dengan nada mengancam pada Jidan sambil membulatkan kedua netranya dengan sempurna.


"Iya, iya, tapi nggak usha ngancam gitu juga kali" kata Jidan agak manyun.


Sebelum Shabira pergi dia menjelaskan dengan detail tentang apa yang harus dilakukan oleh Jidan nanti, setelah itu dia pergi ke tempat kontruksi. Sementara Jidan menunggu ditempat itu sambil sesekali melihat Atar yang masih setia dengan lamunannya.


Ditempat kontruksi


Shabira celingukan mencari Jho, Azka dan Gio, seharusnya mereka sudah keluar karena ini sudah waktunya jam makan siang tapi hingga detik ini Shabira masih belum melihat mereka keluar. Tak berapa lama kemudian.


"Nah! Akhirnya keluar juga, aku samperin deh" gumam Shabira.


Dia berlari mendekati ketiga pria itu, dengan pura-pura nafas ngos-ngosan dan membungkukan setengah badannya seolah-olah sedang mengatur nafas agar tenang kembali karena sudah lari cukup jauh.


"Om tolong om, tolongin aku om" kata Shabira.


"Shabira, ada apa?" tanya Azka.


"Itu Jidan tolongin om Jidan sakit dia gak bisa jalan karena kesakitan aku nggak bisa bawa dia pulang karena dia berat" jawab Shabira.

__ADS_1


"Sakit apa?" tanya Gio terlihat panik.


"Nggak tahu, ayo! Om tolongin Jidan" ajak Shabira sambil menarik satu persatu ketiga pria itu untuk pergi mengikutinya.


Azka, Jho dan Gio lalu mengikuti Shabira. Ditempat berbeda, cukup lama Jidan menunggu kedatangan Shabira sambil celingukan dan akhirnya dia datang juga bersama tiga pria.


Sesuai dengan perintah Shabira saat mereka mulai mendekati Jidan, Jidan berpura-pura sakit perut, dia meringis sambil memegangi perutnya.


"Jidan kamu kenapa?" tanya Jho sambil jongkok.


"Aduuuuh... perutku sakit" keluh Jidan berpura-pura.


"Apa perlu kita kedokter?" tanya Azka.


"Anterin aku pulang aja Om nanti biar orang-orang dirumah yang ngurusin aku" jawab Jidan.


Saat Gio mau mengangkat tubuh Jidan, Shabira menghentikannya sejenak.


"Om, om, tunggu dulu deh! Bukankah itu Om Atar ya" tunjuk Shabira pada Atar yang masih melamun sambil menyenderkan kepalanya.


Azka, Jho dan Gio lalu melirik kearah yang ditunjuk oleh Shabira.


"Kenapa Om Atar ngelamun terus disana ya? Aku udah beberapa hari lihat dia disana sambil melamun terus, kayanya dia lagi punya masalah gitu" ucap Shabira memancing pembicaraan.


"Kami tidak tahu dia kenapa" kata Jho agak malas membahas soal Atar.


Lalu Shabira berkacak pinggang sambil berdecak.


"Ck..ck..ck..Kalian ini gimana sih, bukankah kalian ini temannya Om Atar, kalian ini tinggal satu rumahkan sama Om Atar tapi kenapa ada temannya yang punya masalah kalian tidak tahu, teman macam apa kalian ini? Bukannya saling membantu tapi malah cuek sama teman sendiri" ledek Shabira membuat ketiga pria itu tercengang tak percaya.


"Jani, Jani, ko bisa kamu punya anak yang so dewasa padahal dia masih kecil" batin Jho sambil geleng-geleng kepala.


"Ya Om Atarnya gak cerita sama kita jadi kita nggak tahu dia punya masalah apa" Gio membela diri.


"Ya kalau gitu, sekarang kalian datangin dia tanyain apa masalahnya terus bantuin Om Atar menyelesaikan masalahnya jangan cuma diam aja, jadilah sahabat yang baik untuk yang lainnya, harusnya Om, Om ini kasih contoh yang baik buat kami yang masih anak-anak bukannya terus diam dan tak peduli dengan temannya sendiri" tutur Shabira memancing mereka agar mau bicara sama Atar dan tak menghindarinya lagi.


"Nyamperin Om Atar?" tanya Azka ragu.


"Ya iyalah. Ayo! Buruan samperin Om Atar" desak Shabira sambil mendorong ke tiga pria itu untuk mendekati Atar.


"Guys ini beneran kita mau nyamperin si Atar?" bisik Gio sambil menyikut tangan Jho dan Azka.


"Sebenarnya Aku malas tapi aku gengsi juga terus dikatain sama Shabira" bisik Jho.


"Heran aku kenapa bisa Jani punya anak kaya Shabira?" bisik Azka.


"Kamu kaya gak hapal aja Jani dulu kaya gimana, itu Shabira nurunin sifat ibunya" bisik Jho.


"Terus sekarang kita gimana dong?" tanya Gio.


"Ya udah dari pada turun harga diri kita dihadapan anak kecil, kita samperin aja si Atar ini juga kepaksa" bisik Jho.


"Ih! Om ini ko malah bisik-bisik bukannya cepetan samperin Om Atar" kata Shabira.


"Iya, iya, ini juga kami akan nyamperin dia tapi ini Jidan urusannya gimana?" tanya Azka.


"Aku nggak usah dipikirin Om, sakit perutku udah nggak kerasa lagi ko" ucap Jidan.


"Jidan biar aku aja yang ngurus Om, Om samperin Om Atar aja sana" kata Shabira.


Mereka akhirnya pergi menemui Atar.


Shabira dan Jidan tersenyum karena misi mereka berhasil membuat Jho, Gio, dan Azka untuk tak mengabaikan Atar lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2